Thursday, 14 February 2013
Bleach - Tarot
Angin
bertiup kencang malam ini, seolah semakin meniup dalam kegalauan hati
seorang gadis berambut hijau panjang yang tengah menyusuri jalanan gelap
dan basah. Neliel Tu Oderschvank. Gadis itu berjalan pelan, menembus
hujan deras yang turun saat ini, seolah semakin menusuk luka dalam
hatinya. Padahal tubuhnya sudah bergetar hebat karena kedinginan, tapi
ia tetap bertahan. Pikirnya, lebih dingin dan sakit hatinya daripada
tubuhnya saat ini.
Akhirnya
gadis itu terhenti di depan sebuah rumah—yang cukup besar—dan memencet
bel di depan gerbangnya. Satu kali. Tak ada respon dari si empu rumah,
gadis itu merapatkan tangan di depan dadanya—kedinginan. Dua kali.
Tedengar suara pintu yang digeser di dalam, gadis itu hanya memandang
pagar di depannya dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, seorang
pemuda berambut biru terang keluar.
"Nel?" mata birunya membulat sempurna.
***
Grimmjow
mengocok kartu di depannya perlahan sambil memperhatikan gadis di
hadapannya. Neliel tengah duduk di sofa, memakai jaket tebal berwarna
biru muda sambil merendam kakinya ke dalam ember yang berisi air hangat.
Grimmjow mulai menyebar teratur kartu—yang barusan ia kocok—di atas
meja.
"Dia menyakitimu lagi?" tanya Grimmjow.
Neliel
menggeleng. Grimmjow mengambil tiga kartu dihadapannya secara acak,
sekali lagi sambil memperhatikan gadis berambut hijau itu. Tadi Grimmjow
sendiri yang membimbing Neliel masuk ke dalam rumahnya, Grimmjow juga
yang memberikan pakaian ganti dan jaketnya untuk menghangatkan Neliel.
Pemuda itu membuka kartu paling kiri, paling pertama. Death.
"Dia menyakitimu," pertanyaan Grimmjow berubah jadi pernyataan.
Neliel
menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk, memandang kakinya. Ia tidak
salah datang ke sini, karena mungkin ini adalah satu-satunya tempat ia
akan diterima saat seperti ini, saat ia dicampakkan oleh tunangannya
sendiri, Nnoitra Jiruga. Grimmjow membuka kartu kedua. The Lovers.
"Nel," panggil Grimmjow.
"Dia bilang, aku tidak hamil karena aku tidak becus."
"Nel?" alis Grimmjow bertaut.
"Mungkin aku mandul, atau memang aku tidak mampu."
"Neliel Tu Oderschvank!"
"Grimm,
kau tak usah menghibur—hmmp!" karena sibuk memperhatikan ke bawah,
Neliel tak sadar kalau sedari tadi Grimmjow sudah mendekatinya.
Grimmjow
mencium bibir Neliel lembut—awalnya, tapi lama kelamaan ciuman itu
semakin mengganas. Neliel sama sekali tak melawan, hanya menempelkan
tangannya ke dada bidang Grimmjow yang masih di tutupi kemeja putihnya.
"Nel," bisik Grimmjow setelah melepaskan ciumannya dan mengecup telinga Neliel lembut.
"Grimm, jangan..." desah Neliel.
"Kenapa?"
"Aku sudah bertunangan," jawab Neliel, tetapi tangannya tak beranjak dari dada Grimmjow.
"Apa
tunanganmu memperlakukanmu selembut ini?" tanya Grimmjow sambil meremas
lembut buah dada Neliel yang tertutupi oleh kemeja Grimmjow—yang tadi
dipinjam.
"Ssh, ahh... Tidak, dia selalu memaksa," desah Neliel lagi.
"Apa tunanganmu akan membuatmu tersenyum?" Grimmjow memberikan kiss mark di leher Neliel.
"Asshh... Tidak, tidak. Grimmjow, jangan..." kali ini Neliel mendorong pelan tubuh Grimmjow.
Grimmjow
tersenyum menyeringai, lalu kembali berjalan ke deretan kartu yang tadi
ia pegang. Tinggal kartu terakhir yang belum ia buka. Grimmjow membuka
kartu itu, lalu tersenyum. Victory.
"Siapa yang kau ramal?" tanya Neliel.
"Kau."
"Apa kata kartunya?"
"The
Lovers. Kau tahu apa arti kartu ini, Neliel? Kebahagiaan," jawab
Grimmjow sambil memperlihatkan kartu kedua, lalu mendekati Neliel lagi.
"Tapi, aku tidak merasa bahagia," keluh Neliel.
"Hm?" Grimmjow mengecup bibir Neliel lagi, sebenarnya Neliel ingin melawan, namun tangan kekar Grimmjow telah menahan tangannya.
Grimmjow
menggigit lembut bibir Neliel, membuat Neliel mendesah, lalu membuka
mulutnya. Grimmjow pun semakin liar, memainkan lidahnya di dalam mulut
Neliel, mengabsen satu persatu gigi-gigi Neliel. Lidah mereka saling
bertemu, bertukar saliva. Akhirnya, ciuman itu terhenti saat keduanya
membutuhkan pasokan udara.
"Grimmjow. Jangan..." lagi-lagi Neliel menolak.
"Aku akan membahagiakanmu, dan membuatmu mengandung anakku."
"Grimmjow? Ssshhh..."
Grimmjow
menciumi setiap jengkal dari leher Neliel, perlahan-lahan turun menuju
dada gadis itu. Memberikan kiss mark disana sini, Grimmjow menggigit,
lalu menjilatnya kembali dengan lembut. Grimmjow pun perlahan membuka
satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Neliel, lalu benar-benar
membuka semuanya, dan melemparkan kemeja itu ke sudut sofa. Saat yang
sama, Neliel menyingkirkan ember berisi air hangat di kakinya.
Bra
Neliel masih basah. Pasti tadi gadis itu tidak menggantinya—karena
memang tidak ada lagi. Grimmjow memeluk Neliel, lalu membuka pengait bra
itu pelan-pelan, dan tentu saja melepas bra gadis itu. Tentu saja
langsung terlihat kedua payudara Neliel yang menantang, namun terlihat
menyedihkan dengan cakaran di atasnya.
"Dia benar-benar menyakitimu, Nel. Ini bukan kiss mark, tapi cakaran."
"Ia bilang, dadaku terlihat lebih indah dengan luka darinya," jawab Neliel sambil menangis.
"Tidak, Nel, harusnya bukan begini saat bercinta, kau juga seharusnya merasakan kenikmatannya."
Belum
keluar sepatah kata pun jawaban dari Neliel, Grimmjow sudah melahap
puting kanan Neliel dan mempermainkan payudara kirinya. Tentu saja
membuat Neliel bereaksi dengan cara meremas rambut biru muda Grimmjow.
"Ssh... Ahh... Grimmy..." Neliel mendesah hebat.
Grimmjow
malah tersenyum menyeringai dan semakin cepat mempermainkan puting
kanan Neliel dengan lidahnya, dan memijat puting kiri Neliel dengan
telunjuk dan jempolnya. Tentu saja setelahnya payudara Neliel mengeras
dan gadis itu semakin mendesah hebat.
"Ahh, Grimmy... Ssshh... Ahhh..." Neliel semakin keras meremas rambut Grimmjow.
Grimmjow
menghentikan permainannya, lalu memandang wajah Neliel yang sepertinya
sudah terangsang dengan sentuhannya. Grimmjow mengecup bibir Neliel
lagi, sementara tangan kanannya tetap meremas payudara Neliel, tangan
kirinya bergerilya menuju ke celana yang digunakan oleh Neliel, perlahan
membuka retsletingnya. Neliel terus mendesah, namun tiba-tiba Grimmjow
benar-benar menghentikan aksinya. Sepertinya bukan di waktu yang tepat,
ketika tubuh keduanya sudah semakin memanas dan sudah bertukar peluh,
Grimmjow malah berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Neliel polos.
"Di awal tadi, kau bilang 'jangan', kan? Aku tak ingin memaksakan jika kau tak mau melakukannya."
"Grimmjow, kumohon..."
Grimmjow
tersenyum menyeringai lagi, lalu membuka kancing kemejanya satu
persatu. Ia menyelimuti bagian atas tubuh Neliel, lalu beranjak menuju
ke meja tempat tadi ia meletakkan kartu.
"Walaupun
kartu masa lalumu adalah Death, anggap saja dia telah mati. Nnoitra,
dia tak pernah membahagiakanmu," Grimmjow meletakkan kartu itu lagi.
Neliel
memandang pria bermata biru itu dengan lembut, setidaknya wajah
Grimmjow cukup menenangkan hatinya yang sedang galau. Pemuda itu
mendekati Neliel lagi, sepertinya ia suka sekali mempermainkan gadis
itu. Neliel tersenyum tipis, membiarkan Grimmjow melanjutkan aksinya.
Pemuda berambut biru itu makin senang, dibukanya pelan celana jeans yang
digunakan oleh Neliel, lalu melemparnya ke sudut sofa, bersama kemeja
yang tadi digunakan Neliel. Saat ini yang digunakan gadis itu hanya
celana dalam berenda dengan warna hijau tosca.
"Kau curang," kata Nel.
"Kenapa?"
"Kau masih memakai celanamu."
"Oh, baiklah kalau kau meminta, Nel-hime."
Grimmjow
membuka celananya, dan kini ia hanya memakai celana dalam berwarna
coklat susu. Neliel hanya tersenyum geli melihat 'adik kecil' Grimmjow
sudah menegak sempurna.
"Kukira sejak tadi ia biasa saja," goda Neliel.
"Tch, aku tak mungkin tahan mendengar desahanmu."
"Baiklah, ini saatnya aku memuaskanmu."
Neliel
berjongkok diantara kedua kaki Grimmjow, lalu membuka celana dalam pria
itu. Neliel langsung mengulum penis Grimmjow dan membuat pemuda itu
mendesah pelan, merasakan kenikmatannya. Sesekali ia menekan-nekan
kepala Neliel, berharap gadis itu dapat mengulum batangnya lebih dalam
lagi.
"Hnn... Nheell... Ssshhh... Cukuphh..." Grimmjow menjauhkan wajah Neliel dari 'adik kecil'nya.
Gantian Neliel yang tersenyum menyeringai, gadis itu seolah sudah terbiasa melakukan hal tadi. "Buat aku mengandung anakmu, Grimmjow."
Grimmjow
hanya menghela nafas panjang, lalu kembali mengulum payudara Neliel.
Kali ini dengan tangan kanannya yang bergerilya menuju ke celana dalam
Neliel, lalu membukanya. Jari Grimmjow masuk ke dalam vagina Neliel,
pertama satu, lalu lama kelamaan tiga jari masuk ke dalam sana.
"Sssh... Nggghhh... Ahhh... Ghriiim..."
"It's show time! Tenang, Nel."
Grimmjow
menjilati setiap jengkal dari payudara Neliel, lalu ke perut gadis itu,
membuat Neliel menggelinjang geli karenanya. Grimmjow memberikan kiss
mark di pinggang Neliel, lalu ciumannya semakin turun ke paha, dan
lama-lama menuju ke vagina gadis itu.
Grimmjow
memasukkan lidahnya ke sana, mempermainkan clistoris milik Neliel,
tentu saja desahan gadis itu semakin keras dan menggoda. Ya, seperti nyanyian melodi indah yang mengalun di telinga Grimmjow.
"Ngghh... Ahhh! Ghriimmm... Oh!"
Cairan
bening dan lengket keluar dari dalam vagina Neliel, ya, gadis itu telah
mencapai klimaks. Grimmjow tersenyum puas, dan menelan semua cairan
itu. Baginya, itu manis.
"Nel, kumasukkan sekarang, ya?"
Neliel
tak menjawab, tapi wajahnya menunjukkan kalau ia setuju. Grimmjow pun
perlahan memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel yang sudah basah
karena cairannya sendiri. Sempit. Tapi Grimmjow tetap berusaha
memasukinya.
"Ng..." Neliel menggigit bibir bawahnya.
"Tenang sayang, ini takkan menyakitimu. Kau sudah biasa melakukannya, bukan?"
"Sssh... Hhh..." Neliel mengangguk pelan.
Grimmjow
memasukkan batangnya lebih dalam lagi ke dalam vagina Neliel, lalu
menghentaknya. Tentu saja Grimmjow tahu kalau Neliel sudah tidak
'virgin' lagi, ini karena tunangannya sering sekali memaksanya untuk
bercinta.
Neliel
mencoba menyesuaikan ukuran penis Grimmjow di dalam vaginanya. Setelah
dirasa sudah, ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, tanda siap untuk
digenjot Grimmjow.
"Nel, aku tahu ini salah—"
"Hhh, aku tahu, Grimmhh..."
"—tapi kau adalah dosa termanisku."
Grimmjow
mulai memaju mundurkan pinggulnya, membuat gadis di hadapannya mendesah
semakin hebat dan kencang, tangannya nyaris mencakar punggung Grimmjow.
Neliel menutup matanya untuk merasakan kenikmatan bercinta yang tidak
pernah ia rasakan dari Nnoitra.
"Oh... Ahhh... Ahhh... Ssshhh..."
"Buka matamu, Nel. Jangan ditutup. Nggghh..." Grimmjow turut mendesah pelan.
Neliel
menurut dan membuka matanya kembali. Grimmjow mencoba membuat Neliel
mendesah semakin keras dengan mengulum kembali puting kiri Neliel,
sementara kedua tangannya menumpu di samping gadis itu.
"Ahhh... Grimmhh! Ohh... Aku sampai..."
"Aku belum," Grimmjow tersenyum mengejek sambil menggigit pelan leher Neliel, membuat kiss mark di sana.
"Grimmhhh... Ngghhh..."
Grimmjow
akhirnya merasa liang kewanitaan Neliel semakin menjepitnya, lalu ia
menghentakkan sekali 'adik kecil'nya untuk semakin ke dalam dan
mengeluarkan jutaan spermanya disana.
"Ngghhh..." keduanya mendesah bersamaan.
Alhasil,
Grimmjow ambruk di atas tubuh Neliel. Pemuda itu mencium telinga kanan
Neliel—yang terdekat, lalu berbisik, "Aishiteru, Nel."
"Grimm..."
"Aku sudah punya tunangan," ejek Grimmjow.
"Gomen."
Grimmjow
mencoba sekuat tenaga untuk bangun, lalu perlahan mencabut penisnya
dari vagina Neliel. Neliel mendesah pelan, lalu memperhatikan pria yang
baru saja bercinta dengannya, kali ini Grimmjow kembali berkutat dengan
kartunya.
"Pilihlah aku dan kau akan mendapat ini. Victory. Kartu kebahagiaan," ucap Grimmjow lesu sambil merapikan kartunya.
"Kau bisa apa, Grimmjow? Apa kau bisa melunasi hutang-hutang ayahku pada Nnoitra?"
"Nel..."
"Atau apa kau bisa menjamin kehidupanku di masa datang?"
"Neliel!"
"Kehidupanmu sama seperti ramalanmu! Tidak selalu pasti dan—hmmmp!"
Kali
ini Grimmjow seakan menerjang tubuh Neliel hingga gadis itu kembali
terlentang di atas sofa. Grimmjow kembali mengulum bibir Neliel yang
sudah memerah karena perlakuannya tadi.
"Grimm!" Neliel mencoba mendorong pelan Grimmjow.
Neliel
tahu, kali ini Grimmjow melakukannya bukan dengan cinta, tapi penuh
dengan amarah. Grimmjow pun melepaskan ciumannya dengan Neliel, lalu
memukul kencang sandaran sofa di dekatnya.
"Nel, aku kecewa mendengar itu. Kau! Apa Nnoitra membuatmu jadi gila harta?"
"Grimm..."
"Aku hanya peramal, Grimmjow Jeagerjaques. Tapi aku peramal terkenal!"
"Grimmjow. Aku..."
"Nel, aku tahu aku salah mencintaimu. Aku tahu meski ia menyakitimu, tapi kau terlanjur jatuh cinta padanya."
"Grimmjow..." Neliel memeluk pemuda di depannya dengan erat.
"Nel, kalau kau tak mau..."
"Aishiteru. Aishiteru, Grimmjow..." air mata Neliel perlahan meleleh.
"Kalau begitu tetaplah disampingku."
Neliel
mengangguk pelan, lalu mengecup lembut telinga Grimmjow. Selanjutnya
kecupan itu berlanjut dengan gigitan kecil di leher Grimmjow. Malam itu pun berlalu dengan desahan-desahan yang kembali terdengar.
***
Neliel
membuka matanya tatkala fajar mulai menyingsing dan sinar matahari
mulai melalui kisi kisi jendela. Tubuhnya sudah tertutupi oleh selimut
putih tipis di atas sofa. Neliel menggeliat, lalu mengerjapkan matanya,
di depannya ada Grimmjow yang sudah berpakaian kembali, sedang duduk
sambil menekan tombol handphone.
"Sudah bangun?" tanya pria itu.
"Nghh," Neliel mengangguk kecil.
"Ada
yang tahu tentang perbuatan kita semalam," Grimmjow menunjukkan kartu
The Tower yang ada di tangan kirinya sambil tersenyum sendu.
"Jadi?"
"Ya, mungkin aku akan merebutmu dengan cara apapun."
Grimmjow meletakkan handphonenya di atas meja dekat sofa, lalu beranjak menuju dapur.
From : Ulquiorra
Baiklah. Kita siapkan semuanya dalam waktu singkat. Jaga Nel dalam waktu 1x24 jam. Kami akan datang tepat waktu.
Dan masalah baru dimulai...
***
Grimmjow
memasakkan sepiring nasi goreng untuk sarapan Neliel. Gadis berambut
hijau panjang itu baru saja selesai mandi pagi. Ini bukan kali pertama
Neliel bertandang ke rumahnya. Sejak Neliel bertunangan dengan Nnoitra
dan tinggal dengan tunangannya itu, Neliel jadi sering ke rumahnya.
Awalnya Neliel hanya mencurahkan isi hatinya pada Grimmjow, atau hanya
datang untuk bersembunyi selama beberapa hari, tapi kejadian semalam tak
pernah terbesit di benak Grimmjow.
Ia
tahu Neliel sudah menjadi milik orang lain, ia tahu jelas itu.
Masalahnya, Grimmjow sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis itu jauh
sebelum Neliel akhirnya 'terpaksa' bertunangan dengan Nnoitra. Grimmjow
hanya bisa menghela nafas jika mengingat kebodohannya dan keraguan
hatinya akan Neliel.
"Kau tidak makan?" tanya Neliel saat melihat Grimmjow yang sibuk dKnGan kartunya di meja makan.
"Tidak lapar."
"Makanlah sedikit, nanti kau sakit, loh," terang Neliel.
"Memangnya kau perduli kalau aku sakit?" tanya Grimmjow ketus
"Grimmjow..."
"Bercanda. Aku sudah kenyang," jawab Grimmjow sambil mengacak rambut Neliel.
Neliel
hanya bisa cemberut, sementara Grimmjow kembali berkutat dengan
kartunya. Ia membuka kartu pertama, The Tower. Lagi-lagi kartu ini yang
keluar, sepertinya ia harus menuruti kata-kata Ulquiorra untuk menjaga
Neliel. Memang, dari awalnya, ia yang membuat masalah, bercinta dengan
Neliel, gadis yang sudah memiliki tunangan—yang menurut Grimmjow adalah
orang freak.
Grimmjow
membuka kartu kedua, namun tidak lebih baik, The Moon. Rintangan.
Grimmjow menghela nafas panjang, membayangkan apa yang akan dilakukan
Nnoitra untuk menghukumnya. Neliel baru menghabiskan separuh nasi
gorengnya ketika akhirnya gadis itu meletakkan alat makannya, lalu
meringis.
"Kenapa?" tanya Grimmjow.
"Sakit," keluh Neliel sambil memegangi pipinya.
"Coba buka mulutmu," pinta Grimmjow.
Neliel
menurut, lalu membuka mulutnya lebar. Grimmjow dapat melihat jelas luka
di dinding bagian dalam mulut Neliel. Entah mengapa tadi malam ia tidak
melihatnya, apalagi merasakannya. Atau, apa mungkin ia sendiri yang
membuat luka itu?
"Luka? Apa aku yang membuatnya, Nel?"
"Bukan, tapi Nnoitra."
"Ya, aku tak heran."
"Ng..." Neliel menunduk.
"Sudahlah. Ngomong-ngomong, aku jadi memikirkan kata-katamu kemarin. Kalian baru bertunangan, kan? Kenapa ia ingin kau hamil?"
"Itu..." Neliel malah semakin menundukkan kepalanya.
Grimmjow
hanya menghela nafas, lalu membuka kartu terakhir dari deretan
kartunya. Wheel Of Fortune. Kartu keberuntungan yang tak terduga.
Grimmjow tersenyum menyeringai, lalu mengalihkan pandangannya pada
Neliel—yang masih tertunduk. Saat itu, muncul pikiran jahilnya, pemuda
itu mengecup pipi Neliel cepat.
"Grimm," pipi Neliel memerah.
"Habisnya kau suka sekali murung. Aku tanya juga tidak menjawab."
"Nnoitra ingin aku hamil karena katanya, perempuan akan lebih cantik ketika mengandung."
"Sebentar," alis Grimmjow bertaut, "Alasannya tidak masuk akal?"
"Awalnya juga aku berpikir begitu, tapi dia merebut kehormatanku malam itu."
"Kau... ng, diperkosa?"
"Ya, boleh dibilang begitu."
"Kapan?"
"Malam ketiga saat aku datang ke sini, aku sudah tidak sucilagi."
Grimmjow
mengingat-ingat malam itu, malam ketiga ketika Neliel datang ke
rumahnya. Oh ya, pemuda itu ingat saat itu, Neliel datang ke rumahnya
dengan pakaian lusuh dan acak-acakkan. Grimmjow hanya menolong Neliel
dengan mengobati luka-luka di sekujur tubuh gadis itu dan membiarkannya
bermalam di rumahnya selama yang Neliel mau.
"Tapi saat itu kau hanya bilang kalau kau dipukuli?"
"Apa aku tak boleh berbohong untuk melindunginya?"
"Oh. Baiklah," tanggap Grimmjow sambil merapikan kartu tarotnya.
"Grimm..."
Ingatan Neliel kembali ke hari itu, hari dimana kehormatannya sebagai seorang gadis terambil.
***
Flashback
Neliel
baru saja pulang kuliah ketika matahari mulai beranjak turun dan sore
mulai menjelang. Rumahnya—dan Nnoitra—sepi sekali, seperti tidak ada
orang. Neliel hanya tersenyum tipis, itu artinya hari ini ia akan
beristirahat sebentar dari penderitaan. Gadis itu mulai berjalan menuju
ke kamarnya—lantai bawah, paling dekat dengan tangga.
Dugaan
Neliel salah besar, ternyata Nnoitra sudah berada di dalam kamarnya,
sedang duduk di pinggir tempat tidurnya. Pria berambut hitam panjang itu
hanya tersenyum menyeringai kala Neliel datang dan kini tengah berdiri
di depan pintu kamar. Neliel memberengut ketakutan sambil memeluk buku
tebal yang sedang ia pegang.
"Kenapa?" tanya Nnoitra.
"A-Apa?" tanya Neliel balik, terbata karena ketakutan.
"Kenapa pulang terlambat?" Nnoitra kini mendekati tunangannya.
"A-Ada tambahan t-tadi," keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori Neliel.
"Tambahan?" Nnoitra memegang dagu Neliel.
"I-Iya."
"KAU TAHU KALAU AKU TAK SUKA ALASAN APAPUN!" amarah Nnoitra meledak dan menjambak rambut Neliel.
"Akh! M-Maaf," Neliel kesakitan.
"KAU
INGAT PERATURAN RUMAH INI, NELIEL? KAU TIDAK BOLEH PULANG TERLAMBAT!
INGAT?" Nnoitra sama sekali tidak mengecilkan volume suaranya, malah
jambakannya di rambut Neliel semakin erat.
"Akh! S-Sakit, Nnoitra-sama," mata Neliel mulai berkaca-kaca.
"GADIS SAMPAH!" Nnoitra memukul Neliel—tepat di wajah.
Neliel
ambruk ke lantai, buku yang dipegangnya tadi saja terpental jauh entah
ke mana. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah, tapi Nnoitra tidak
peduli, ia malah semakin senang. Pemuda itu menjambak rambut Neliel
lagi, memaksa agar Neliel kembali berdiri.
"A-Ampun, Nnoitra-sama... Akh!" Neliel meringis kesakitan.
"Ampun? Oh, baiklah, Neliel. Aku akan mengampunimu dengan satu syarat."
"Ya?" Neliel bersyukur ketika Nnoitra akhirnya melepas jambakan di rambut hijaunya.
"Kau harus mengandung anakku."
"Apa?" Neliel terkejut bukan main. Nnoitra baru menjadi tunangannya satu bulan, tapi sudah berani meminta macam-macam.
"Kau tidak tuli, kan?"
"M-Maaf, Nnoitra-sama. Tapi kenapa?"
"Kenapa? Akan kujawab itu nanti," Nnoitra mulai mendorong tubuh Neliel ke atas tempat tidur.
"Nnoitra-sama, ja—hmph"
Nnoitra
mulai mencium bibir Neliel dengan paksa, tentu saja Neliel sekuat
tenaga menahan diri agar tidak membuka mulutnya. Nnoitra tidak menyerah,
tangannya mulai bergerilya menuju ke dada Neliel, lalu meremasnya
kencang, membuat tunangannya itu memekik dan—mau tak mau—membuka
mulutnya.
Nnoitra
puas, lidahnya mulai menjelajahi rongga mulut Neliel, satu persatu ia
absen gigi-gigi Neliel, lalu merangsang lidah Neliel agar bergerak.
Neliel hanya bisa pasrah mendapat perlakuan itu dari Nnoitra, melawan
pun percuma, meski pria yang sedang menahannya ini lebih kurus darinya,
tapi Neliel tidak lebih kuat dari Nnoitra.
Nnoitra
akhirnya melepaskan ciumannya kala kehabisan pasokan udara. Meski
nafasnya masih terengah-engah, Nnoitra mulai menjelajahi rahang Neliel
dengan lidahnya, tak lupa membuat kiss mark di sana sini, daerah rahang,
juga lehernya.
"Nghh..." desah Neliel tertahan, ia menggigit bibir bawahnya.
Nnoitra
sepertinya kurang puas dengan suara desahan Neliel yang tertahan itu.
Pria itu pun mulai menjelajahi setiap jengkal dari tubuh Neliel, semakin
ke bawah. Lidahnya mulai menemukan buah dada Neliel yang masih
tertutupi kaus putih gadis itu.
"Pengganggu," Nnoitra merobek baju Neliel, lalu melepas bra gadis itu—tentu saja dengan paksa.
"N-Nnoitra-sama ja—akh!" Neliel tak bisa menahan jeritannya ketika Nnoitra mencakar bagian atas buah dadanya.
"Kau berisik!"
"Sssh... Sakit," Neliel hanya bisa menangis, bukan saja dadanya yang perih, tapi juga hatinya.
"Dadamu tampak lebih indah dengan luka ini. Lagipula, aku tak perduli denganmu. Puaskan aku!"
Nnoitra mulai membuka celana panjangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mulai mempermainkan buah dada Neliel.
"Nghh... Mmm..." Neliel sekuat tenaga menahan desahannya, semakin kuat juga ia menggigit bibir bawahnya hingga tampak berdarah.
Setelah
berhasil membuka celananya, Nnoitra mengarahkan penisnya ke mulut
Neliel. Neliel semakin merapatkan mulutnya, membuat Nnoitra kesal, lalu
lagi-lagi meremas kencang payudara tunangannya.
"Ak—hmbb."
Neliel nyaris tersedak karena Nnoitra memasukkan penisnya begitu dalam. Pria itu mulai memaju mundurkan pinggulnya, sesekali menekan-nekan kepala Neliel untuk semakin mengulum penisnya. Neliel merasa dinding dalam mulutnya terluka—sakit sekali—dan kembali menangis.
"Ohh, lakukan dengan benar Neliel. Nghh..." Nnoitra mendesah.
Neliel
hanya pasrah saat lengannya dipegang Nnoitra, dan pria itu mengarahkan
tangan tunangannya ke sisa penisnya yang tidak dapat masuk ke mulut
Neliel. Neliel refleks menggenggam 'benda asing' yang tersentuh olehnya.
"Sssh... Bukan begitu, bodoh! Nghh..."
Nnoitra membimbing tangan Neliel untuk memijat penisnya itu, tentu saja setelah Nnoitra mengeluarkannya dari mulut Neliel.
"Nghhh... Ahhh... Beginhii..."
Neliel
hanya bisa terdiam melihat Nnoitra yang sepertinya sudah berada di
ambang kenikmatan. Nnoitra akhirnya melepaskan tangan gadis itu, lalu
membuka paksa celana Neliel.
"Nnoitra-sama."
"DIAM! Bicara lagi selain mendesah, kubunuh kau!"
Neliel
akhirnya diam seribu bahasa, bahkan ketika Nnoitra benar-benar sudah
membuat mereka berdua tidak menggunakan apapun, polos. Nnoitra
tersenyum, lalu mengarahkan wajahnya ke vagina Neliel—yang sudah
basah—lalu memainkan lidahnya di sana.
"Akh! Ahh..." Neliel menggelinjang geli menerima rangsangan itu.
"Nikmat bukan, Neliel? Tapi aku takkan membuatnya nikmat, kau yang harus memuaskan aku, bukan sebaliknya."
Nnoitra mengarahkan penisnya ke belahan payudara Neliel, lalu menggeseknya pelan. Neliel berulang kali menahan desahannya, bahkan sampai darah benar-benar mengalir dari bibir bawahnya.
"Oh... Ahh, Neliel," Nnoitra mendesah.
"Ng... Mmm..."
Setelah
dirasa cukup karena ada cairan yang memaksa untuk keluar, Nnoitra
cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel. Sempit. Ini pertama kalinya Neliel bercinta dengan dirinya.
"Ss-Ssakit, Nnoitra-sama. Sungguh."
"Aku tahu! Ini adalah pertama kali kau melakukannya. Diam!"
"Nghh... Sakith..."
"Neliel, alasanku hanya satu. Perempuan yang sedang mengandung itu terlihat lebih cantik, apalagi jika itu adalah anakku."
Nnoitra
tetap memaksakan penisnya untuk masuk terus ke dalam vagina Neliel, dan
selaput itu sobek. Selaput darah milik Neliel. Saat itu juga Neliel
kehilangan kehormatannya dengan cara yang amat menyakitkan.
***
"Hei," Grimmjow mengecup pipi Neliel lagi.
"Grimmjow!" Neliel berkacak pinggang.
"Hahaha... Kau suka sekali melamun, ya?" Grimmjow terkekeh.
"Huh!"
"Hei, Nel. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Jalan-jalan?" Neliel seakan tak percaya dengan usulan Grimmjow.
"Iya. Jalan-jalan. Kau sudah lama tidak keluar, kan? Bagaimana?"
"Oh, baiklah," jawab Neliel lesu.
"Jawab yang betul. Mau ku cium lagi, nih?" Grimmjow tersenyum menyeringai.
"TIDAK!" sergah Neliel cepat.
Grimmjow
tertawa lepas, lalu mengacak rambut hijau Neliel dengan lembut. Neliel
hanya memegang lengan kekar Grimmjow, lalu menjauhkan dari kepalanya.
Grimmjow malah tampak senang, lalu balik memegang lengan Neliel dan
mengecupnya.
***
"Grimmjow, lihat! Lucu sekali, kan?"
Entah
sudah toko ke berapa yang disinggahi Neliel, di setiap toko, mata
Neliel selalu tertuju pada satu barang dan mengatakan itu 'lucu'. Oh,
baiklah, itu kan memang naluri belanja dari seorang wanita, tapi
Grimmjow sungguh salut pada Neliel. Mereka berangkat ke mall pukul
sebelas pagi, dan hingga jam di tangan Grimmjow menunjukkan angka empat,
Neliel sama sekali tak kelihatan lelah.
"Grimmjow! Kok tidak menjawab?" Neliel mendengus sebal.
"Iya, iya. Lucu."
"Huh!"
"Nel, sudah yuk! Aku lapar!"
"Lapar? Oh iya ya! Kau kan belum makan dari pagi."
"Ya, ya. Ayo kita makan, Nel-hime."
"Hihihi..." Neliel tersenyum, lalu menarik lengan Grimmjow keluar dari toko yang mereka singgahi tadi.
Grimmjow
hanya dapat mengikuti tarikan lengan Neliel dengan pasrah. Neliel
tersenyum ceria sekali hari ini, dan Grimmjow sudah tak pernah
melihatnya sejak Neliel bertunangan dengan Nnoitra. Laki-laki itu telah
merenggut semuanya dari Neliel. Kebahagiaan, senyum Neliel, hari-hari
indahnya, bahkan hingga kehormatan Neliel. Melihat Neliel yang tengah
ceria, muncul ide nakal Grimmjow, pemuda itu sengaja pasang tampang
murung.
"Grimm kenapa?" tanya Neliel.
"Tidak."
"Grimm ngambek, ya? Atau capek?" Neliel malah semakin serius memperhatikan wajah Grimmjow, membuat pemuda itu gemas.
"Tidak, Nel," Grimmjow membuang pandangannya.
"Kalau begitu, ayo senyum!" diluar dugaan, Neliel mencubit pipi Grimmjow.
"Aduh, aduh. Sakit, tahu!"
"Habis kau cemberut terus."
"Boleh kalau mau melihat aku tersenyum. Tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Kau tak boleh menolak loh!"
"Eh? Memang apa?"
"Pokoknya janji dulu!"
"Ng? Ya sudah. Iya, deh!"
"Cium aku," bisik Grimmjow nakal.
"GRIMMJOW!"
Gadis
berambut hijau panjang itu pun memukul-mukul tubuh Grimmjow dengan
semangat. Pemuda berambut biru disebelahnya pun hanya tertawa sambil
meringis pelan, dan berusaha menghindari pukulan Neliel.
"Hei, hei, sudah dong. Sakit nih!" protes Grimmjow.
"Habisnya kau jahil!"
"Pokoknya ku tagih, ya! Aku sudah tertawa, nih."
"Tidak mau!" Neliel melipat tangan di depan dadanya.
"Hihihi... Ayo kita, makan," Grimmjow merangkul bahu Neliel dan mengecup rambut gadis itu.
Sejak
pertama mereka saling mengenal di bangku SMA dulu, Neliel memang
menganggap Grimmjow sebagai sahabat baik sekaligus kakak baginya.
Sahabat baik yang selalu ada untuknya, tertawa bersama saat senang, dan
membuatnya lega saat sedih. Kakak yang baik, selalu melindunginya kapan
pun Neliel butuh, meski kadang membuat sebal.
"Master Jeagerjaques!" seorang remaja wanita histeris begitu melihat Grimmjow.
"Ng? Maaf?"
"Master!
Apa boleh aku minta foto bersama? Aku sangat suka ramalan Master
Jeagerjaques di majalah," gadis lain yang melihat Grimmjow langsung
menghampiri.
"Ah? Hanya foto? Baiklah..."
"Ahh! Aku juga mau!"
Beberapa
menit kemudian, Grimmjow sudah dikerubungi oleh fans girlnya. Neliel
hanya bisa menjauh beberapa langkah, lalu menunggu Grimmjow selesai
dengan urusan fansnya. Melihat ketenaran Grimmjow sekarang, Neliel
bersyukur bahwa pria itu masih mau menerimanya di rumah, dan bahkan
mendengar keluh kesahnya kapan pun itu.
"Ng, maaf ya, semua. Saya masih ada urusan," ujar Grimmjow, lalu menarik lengan Neliel lembut.
"Grimm..."
"Shht, aku lapar, nih!"
"Hihihi... Enak ya, punya banyak fans?"
"Kau cemburu, eh?"
"Tidak!"
"Bilang saja kalau cemburu."
"Huh!"
Grimmjow
hanya menyeringai nakal sambil mempercepat langkahnya, berharap tak ada
seorang wartawan pun yang melihat ia dengan Neliel. Masalahnya, bukan karena gosip untuknya, tapi keselamatan Neliel di tangan Nnoitra.
***
Pukul
tujuh tepat, mobil Grimmjow sudah terpakir rapi di garasi pemuda itu.
Neliel dan Grimmjow turun bersamaan dari dalam mobil. Neliel tampak
lelah sekali, gadis itu meregangkan badannya, lalu berjalan ke arah
Grimmjow.
"Masuklah, Nel."
"Aku tak mau sendirian."
"Huh, kau ini, sudah seperti ibu hamil yang inginnya diperhatikan terus."
"Siapa tahu?" Neliel menjulurkan lidahnya.
"Jangan menggoda, mungkin aku tak tahan dengan godaanmu."
Neliel
memukul lengan Grimmjow, yang disambut senyum menyeringai Grimmjow.
Selanjutnya, mereka berdua masuk ke dalam rumah Grimmjow. Neliel duduk
di sofa, sementara Grimmjow beranjak ke arah kamar.
"Grimm," suara Neliel menahan langkah Grimmjow.
"Ada apa?"
"Aku senang sekali hari ini, rasanya nggak ingin berakhir. Tapi, Nnoitra-sama..." Neliel menundukkan kepalanya.
"Tenanglah, lebih baik sekarang kau—"
"GRIMMJOW! KELUAR KAU! NELIEL! WANITA JALANG!"
"—sembunyi, Neliel."
Grimmjow
menarik lengan Neliel menuju ke sebuah lemari kecil dekat kamar.
Grimmjow membuka lemari itu—yang ternyata masih ada ruangan rahasia di
dalamnya. Neliel lagi-lagi hanya menurut dan bersembunyi di sana.
"Aku janji, kau tak akan merasakan sakit lagi," Grimmjow mengecup lembut bibir Neliel.
"Hati-hati, Grimmjow."
"Percayalah padaku."
Grimmjow
menutup ruangan itu dengan cepat, lalu buru-buru mengunci pintu lemari
itu. Lemari itu mudah di dobrak, tapi ruangan di dalamnya tak mudah di
temukan.
BRAK!
Terdengar
suara keras dari depan. Entah apa yang dilakukan oleh Nnoitra dan
kawanannya—mungkin mendobrak pagar rumah Grimmjow. Pemuda berambut biru
itu hanya tersenyum, lalu mengambil seperangkat kartu tarot yang ia
letakkan di atas meja, dan mengocoknya.
"GRIMMJOW!" terlihat sekali kalau Nnoitra sangat murka, ia membawa sepasukan algojo.
"Kau berisik, Nnoitra."
"Mana Neliel?" Nnoitra mulai menurunkan volume suaranya.
"Kenapa tanya padaku?"
"Kutanya sekali lagi, mana Neliel?"
"Dia sudah pergi."
"BOHONG! CARI DIA!" perintah Nnoitra pada algojonya.
Grimmjow
mulai mengambil kartu yang barusan ia kocok, tiga buah. Sudah terlihat
emosi ketakutan campur marah di wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap
tenang sambil membuka satu persatu kartu yang barusan ia pilih.
"Nnoitra-sama, ini baju Neliel."
"Nah, kau mau mengelak apalagi, Grimmjow?" Nnoitra tersenyum penuh kemenangan.
"Dia sudah pergi."
"JANGAN BOHONG! NELIEL MEMANG KE SINI, TAPI IA BELUM KELUAR, BODOH! JANGAN BOHONGI AKU!"
"Cari saja kalau kau bisa!"
Nnoitra geram sekali, ia menggertakan giginya, mengepalkan tangannya, lalu memberi kode agar para algojonya memukuli Grimmjow.
BRUK! PRANG!
Meja
makan yang digunakan Grimmjow tadi dijatuhkan oleh seorang algojo,
tentu saja piring makan Neliel tadi ikut jatuh. Sekarang kedua tangan
Grimmjow dipegangi oleh dua orang algojo bertubuh kekar.
"Kesempatan terakhir, Jeagerjaques. Dimana Neliel?"
"Kubilang, dia sudah pergi!"
"Pukul dia, kalau perlu, bunuh dia!" perintah Nnoitra, sungguh murka.
Tentu
saja beberapa detik kemudian, Grimmjow sudah menerima pukulan dari
seorang algojo—yang sangat ia kenali—bernama Barragan Luisenbarg.
Barragan adalah bawahan Ulquiorra tadinya, namun ia berkhianat dan
menjadi bawahan Nnoitra. Tunggu, Ulquiorra? Ia bukan siapa-siapa, hanya
teman baik Grimmjow yang merupakan kepala mafia.
"Hanya 12 jam Grimmjow? Well, well, Barragan. Sudah nakal kau, rupanya," suara itu, tak asing lagi. Dia!
***
"Hanya 12 jam Grimmjow? Well, well, Barragan. Sudah nakal kau, rupanya."
Suara
seorang pemuda menghentikan aktifitas Barragan yang baru saja menghajar
bagian perut Grimmjow dan membuat ia muntah darah. Suara itu, Grimmjow
jelas sekali mengenalnya. Itu adalah suara milik seorang pemuda berambut
kuning panjang. Tentu saja ia tidak sendiri, ada seorang pria bermata
hijau yang sedikit lebih pendek dari pemuda berambut kuning itu—sikapnya
tenang sekali.
"Hirako-sama? Schiffer-sama?" Barragan terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang itu.
"Masih
ingat padaku rupanya. Bagaimana jika aku ingatkan kembali akan luka
diwajahmu itu?" pria bernama Hirako Shinji itu mengambil pisau kecil
dari dalam sakunya.
"SIAPA KALIAN?" bentak Nnoitra geram pada dua tamu itu, Grimmjow—yang masih dipegangi—malah tertawa menyeringai.
"Hei, bisakah kau tenang sedikit?" protes Shinji.
"DIAM! KALIAN! TANGKAP MEREKA!" perintah Nnoitra pada sisa kawanan algojonya.
Alhasil,
tiga orang—yang tersisa—berusaha menangkap Shinji dan Ulquiorra.
Sayangnya, menangkap kedua pria itu tak semudah menangkap kucing-kucing
yang penurut. Ulquiorra licin seperti belut, ia dengan mudah mengecoh
ketiga algojo Nnoitra. Shinji pun sama, mudah berkelit, bahkan terpaksa
menggunakan tendangannya.
"Kau
pikir, semudah itu menangkap wakil dari Ulquiorra Schiffer sepertiku?
Oh, jangan bercanda," Shinji menjulurkan lidahnya saat berhasil mendarat
di sofa.
"BODOH! MENANGKAP MEREKA SAJA, KALIAN TIDAK BECUS!" Nnoitra semakin geram.
"Ayolah,
bukan salah mereka, kok. Aku tahu siapa saja mereka. Barragan
Luisenbarg, Zommari Leroux, Kensei Muguruma, ahh, halo, Yammy Rialgo!
Itu Hachigen Ushouda dan Marechiyo Oomaeda," Shinji mengabsen satu
persatu algojo suruhan Nnoitra.
"Kau!"
"Ah? Apa kau sendiri tidak mengenal mereka?"
"H-Hirako-sama," seorang algojo bernama Yammy—yang memegangi Grimmjow—tampak ketakutan.
"Tenang, tenang, kalau kau melepaskan si rambut biru itu, aku takkan menyentuhmu seujung kuku pun."
"Percuma banyak bicara, Shinji," Ulquiorra akhirnya angkat bicara.
"Oh iya, aku hanya menyelamatkan klien saja."
"Hhh, Grimmjow. Bersyukurlah kau sempat menghubungiku," Ulquiorra mendekati Barragan.
"Bisa cepat, Ulqui? Rasanya aku ingin muntah darah lagi karena dipukul barusan."
"Baiklah," Ulquiorra melirik Shinji.
Shinji
hanya menunjukkan ekspresi bosan, lalu mereka berdua memulai perlawanan
mereka. Ulquiorra mulai memelintir tangan Barragan dan menendang kaki
pria besar itu, sementara Shinji mulai dengan menendang perut Oomaeda.
Grimmjow yang saat itu dipegangi oleh Oomaeda dan Yammy langsung jatuh
ke lantai. Tepat seperti yang ia katakan, selanjutnya, pria berambut
biru itu muntah darah lagi.
"Ups, maaf, Grimmy. Bukankah kami agak terlambat?"
Lagi.
Setelah Ulquiorra dan Shinji, datang Szayel dan Yylfordt—kakak beradik
yang juga bawahan Ulquiorra—untuk membantu. Baiklah, anggap saja ini
adalah surat kematian untuk Nnoitra, karena yang turun tangan langsung
adalah petinggi-petinggi di kalangan mafia. Bukan melebih-lebihkan,
memang kenyataan, pria-pria berbadan kecil itu sanggup mengalahkan para
algojo suruhan Nnoitra.
Shinji, dengan wajah santai dan cenderung mengejek, menghadapi dua lawan sekaligus. Ulquiorra,
dengan tenang dan tidak banyak gerakan, melumpuhkan dua lawan. Yylfordt
dan Szayel? Oh, baiklah, masing-masing menghadapi satu lawan, tapi
tetap saja mereka berdua terlihat hebat. Melumpuhkan enam algojo
berbadan besar bukanlah hal yang begitu sulit. Nnoitra yang terpojok
memutuskan untuk kabur, namun...
"Bergerak sedikit, kubunuh kau," Grimmjow menodongkan pisau ke leher pria kurus itu.
"Tch!"
"Well, well, ternyata Grimmy sudah mulai berani, ya? Habisi saja!" seru Shinji setelah menghabisi dua algojo.
"Apa maumu, heh?" Nnoitra terdengar menantang.
"Aku ingin kau merasakan apa yang Neliel rasakan."
"Ap—akh!"
Grimmjow menjambak rambut Nnoitra, lalu menusuk kaki kanan pria itu. Tentu
saja darah langsung mengalir deras dari kaki pemuda itu. Ulquiorra
hanya menatap Grimmjow tanpa ekspresi, begitu pun Shinji. Szayel lebih
tertarik dengan tarot Grimmjow yang tergeletak di atas meja, sementara
Yylfordt mencari Neliel dan menyuruh gadis itu keluar.
"Ahh, gadis manis. Bagaimana kalau kau ikut menyiksa?" tawar Yylfordt.
"N-Nnoitra-sama?" Neliel tertegun melihat pemandangan di depannya.
"Ne—Akh!"
Grimmjow
menusuk kaki kiri Nnoitra, dan sekarang pria berambut hitam itu jatuh
tersungkur. Neliel hanya terpekik, semua rasa bercampur dalam hatinya,
sakit, kasihan, dan lega.
"Nel, apa perlu ku bunuh orang ini?" tanya Grimmjow.
"Grimm..." ujar Neliel lirih.
"Neliel! Tolong!" jerit Nnoitra.
"Pengecut, rupanya. Minta tolong pada seorang perempuan. Cih!" ejek Szayel.
"Kumohon, Grimm—" mata Neliel berkaca-kaca.
"Nel? Kenapa?" Grimmjow terlihat bingung.
"—lakukan sesukamu," Neliel tersenyum.
"Baiklah," Grimmjow tersenyum menyeringai.
Jleb.
Pisau Grimmjow tepat menusuk dada Nnoitra, membuat Nnoitra berteriak
kencang karena kesakitan. Neliel hanya bersembunyi di balik punggung
Yylfordt, menangis lega. Sreet. Pisau itu melukai pipi Nnoitra, perlahan
bergeser dan membuatnya berdarah.
"Arrghh!" Nnoitra memekik kesakitan, nafasnya sudah memburu.
"KENAPA KAU SAKITI NEL? BAGAIMANA JIKA KAU RASAKAN SAKIT YANG NEL RASAKAN?" Grimmjow terlihat kesal, tatapannya menakutkan.
Grimmjow
menusukkan pisau itu ke badan Nnoitra bertubi-tubi, lagi dan lagi. Di
mata Grimmjow, Nnoitra hanya sebuah boneka yang ia gunakan untuk
pelampiasan kekesalannya saja.
"Argh! Akhh!"
Suara
pekikan Nnoitra malah makin membuat Grimmjow senang. Tusukan terakhir
Grimmjow tepat mengenai perut laki-laki itu, dan dengan sengaja Grimmjow
tidak mencabutnya kembali.
"Kau merebut segalanya dari Nel! Kau harus membayar dengan nyawamu," Grimmjow membersihkan darah di wajahnya.
"Boleh kubereskan?" tanya Shinji semangat.
"Biarkan saja ia mati menderita begitu," Grimmjow menghampiri Neliel dan memeluk gadis itu.
"Manisnya," Yylfordt berjalan menghampiri adiknya—yang masih asik dengan kartu tarot.
"Maaf membuatmu takut."
"Grimm," Neliel menangis sejadinya di pelukan Grimmjow.
"Bagaimana jika racun ini kusuntikkan?" tawar Szayel sambil menunjukkan cairan dalam botol kecil.
"Racun baru, eh?" tanya Shinji.
"Ya. Boleh?"
"Terserah. Buat ia lebih menderita."
"Kau takkan menyesal, Grimmy," Szayel memasukkan cairan itu ke dalam suntikkan.
"Argh! Jangan!" Nnoitra berusaha menghindar.
"Takkan sakit, kok. Sedikit," Szayel tersenyum menyeringai.
"Grimm," Neliel semakin membenamkan kepalanya.
"Aarggghh!"
"Shhtt..." Grimmjow membelai rambut Neliel lembut, lalu mengecupnya, membuat darah di tangan Grimmjow menempel di sana.
Entah
racun apa yang dimasukkan oleh Szayel, namun memang membuat pria itu
benar-benar menderita sebelum kematiannya. Kejang, lalu bola matanya
menjadi begitu putih. Semua penderitaan Neliel yang dibuat oleh Nnoitra
pun terasa berakhir ketika laki-laki itu akhirnya meninggal.
"Selesai, Nel."
"Grimm," Neliel masih gemetar.
"Ssshht..."
"Biar kami yang selesaikan semuanya, Grimm," kata Ulquiorra.
"Ya."
"Larilah! Shinji, tolong mereka!" perintah Ulquiorra.
"Ya, ya. Ayo!"
Grimmjow membimbing Neliel yang masih gemetar untuk mengikuti Shinji. Pria
berambut biru itu hanya sempat mengambil kartu tarotnya, lalu segera ke
depan rumah. Shinji pun sudah bersiap dengan mobil sedan hitamnya,
lalu, Grimmjow dan Neliel masuk ke dalam mobil itu.
"Kita ke mana, Shinji?" tanya Grimmjow saat mobil mulai berjalan.
"Yah, tentu saja jauh dari sini. Repot juga ya membawa peramal terkenal," ejek Shinji.
"Hahaha... Sudahlah."
"Yah, setidaknya nona manis di sana tidak terluka lagi," Shinji melirik Neliel dari kaca di tengah mobil.
"Shinji!" tegur Grimmjow, memberikan deathglarenya.
"Woo, dia siapamu, Grimm? Kekasih? Aku tak yakin pengecut sepertimu bisa mendapatkan nona cantik itu."
"Yah, mungkin," Grimmjow menjulurkan lidah.
Neliel
hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang
Grimmjow. Pria itu hanya menghela nafas, lalu membelai rambut Neliel.
"Hei, hei, aku iri, nih! Bayaranku tidak termasuk menjadi penonton loh!"
"Aku saja tak membayarmu, Hirako-sama."
"Oh, sudahlah. Ramal saja apa yang terjadi selanjutnya, Jeagerjaques-sama."
Grimmjow
hanya tertawa lepas, lalu mengambil kartu tarot di dalam saku
celananya. Neliel merebutnya, lalu mengocok tumpukan kartu itu, yang
disambut senyuman Grimmjow.
"Mau jadi peramal juga, Nel?"
"Tidak juga."
"Kalau begitu, cukup mengocoknya."
Grimmjow
menyebar teratur kartu—yang barusan dikocok Neliel—di sampingnya.
Selanjutnya, ia memilih tiga kartu dan mulai merapikan sisanya. Grimmjow
membuka kartu itu satu demi satu, lalu tersenyum saat melihatnya.
"Apa kata kartu itu?"
"Kartu pertama, Ten Of Swords. Keterpurukanmu akan segera berakhir, Nel."
"Lalu?"
"Kartu kedua, Le Soleil. Akulah teman yang akan membahagiakanmu."
"Dan kartu terakhir?"
"Kartu terakhir, Ten Of Cups. Kebahagiaan yang dari awal aku janjikan, pasti ku tepati," Grimmjow meletakkan kartunya kembali.
"Grimm..."
"Will you marry me?"
"Oh, Kami-sama... Neliel, terima saja lah lamaran orang itu!" seru Shinji yang mulai tak tahan dengan adegan romantis itu.
"Carilah pasangan, Hirako-sama! Kau berisik!" protes Grimmjow.
"Oh, baik baik, Jeagerjaques-sama, aku takkan mengganggu lagi. Tapi, izinkan aku untuk agak mengebut, bagaimana?"
"Pegangan, Nel. Dia gila," Grimmjow memeluk Neliel dengan erat.
Shinji tersenyum menyeringai, lalu mulai menaikkan kecepatan mobil yang dibawanya. Jam
menunjukkan pukul sepuluh malam saat itu, dan kota Karakura sudah mulai
sepi. Memang ada beberapa kendaraan yang berlalu, namun—seperti kata
Grimmjow—Shinji memang gila kalau sudah mengebut.
"Grimm," Neliel menggenggam baju Grimmjow.
"Tak apa, kita aman."
"Aku takut..."
"Nel, kau aman di dekatku. Aku janji, tapi ku mohon kau juga berjanji selalu di sisiku."
"Ya, lindungi aku, Grimm..."
"Berjanjilah."
"Aku janji akan selalu ada di sisimu," Neliel memejamkan matanya ketika Shinji menambah kecepatan.
"Be my wife."
"Grimm! Kau sama tidak romantisnya dengan Shinji," omel Neliel.
"Ya, nona. Romantis itu memuakkan," sambar Shinji.
"Aishiteru," Grimmjow memeluk Neliel dan menenangkan gadis itu.
"Aishiteru yo," Neliel tampak lebih tenang dari pada tadi.
"Woo hoo! Grimm, selamat datang ke dunia biasamu. Selamat tinggal master Jeagerjaques! Selamat datang, Grimmjow!" ujar Shinji.
"Ya, selamat datang."
Grimmjow
memandang ke luar jendela mobil, kota Karakura, tempatnya dikenal oleh
orang banyak. Tempat ia dielu-elukan dan bahkan diidolakan oleh banyak
fans. Sekarang, itu tidak penting lagi, yang terpenting, Neliel ada di sampingnya. Bagi Grimmjow, itu sudah lebih dari cukup.
***
Five month later...
Minggu
pagi, Neliel baru saja terbangun dari tidurnya ketika ia melihat tempat
tidur disampingnya sudah kosong. Ia mengelus perutnya yang semakin
membuncit itu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ya,
Grimmjow tidak ada di dalam kamar itu. Wanita berambut hijau panjang itu
akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur, tepat ketika
pintu kamar terbuka.
"Sudah bangun, sayang? Selamat pagi," sapa pria berambut biru yang baru saja masuk—Grimmjow.
"Pagi. Ukh," Neliel memegangi perutnya yang agak sakit, terduduk di pinggir tempat tidur.
"Kenapa?"
"Nggak, cuma bayi kita nendang perutku," Neliel mengelus perutnya.
"Bayinya nakal, ya?" goda Grimmjow sambil berlutut di dekat Neliel.
"Sayang..."
"Hihihi... Iya, iya. Bercanda."
"Aku bahagia bisa mengandung anak kamu."
"Aku bahagia, bisa punya kamu, dan—"
"Dan?"
"—anak kita."
"Ya. Terima kasih, sayang."
"Harusnya aku yang berterima kasih, dan maaf, karena aku, kita harus tinggal di tempat seperti ini."
"Dibahas lagi, deh," Neliel mencubit pipi Grimmjow.
"Hmm..." Grimmjow mengecup perut Neliel, lalu menempelkan telinganya di sana, "Selamat pagi anakku."
Hening. Tak ada jawaban, hanya, Grimmjow dapat merasakan tendangan dari kaki-kaki kecil di dalam sana. Sejak
lima bulan lalu, Ulquiorra memberinya rumah di pinggir kota Hueco
Mundo, sebut saja Las Noches. Karirnya sebagai peramal pun sudah
Grimmjow tinggalkan, dan namanya perlahan mulai dilupakan, bahkan
tenggelam. Kasus besar tentang pembunuhan Nnoitra Jiruga juga tidak
berkembang besar di media karena Ulquiorra. Ya,
teman baiknya sejak SMA itu memang selalu mengerjakan semuanya dengan
rapi. Grimmjow sekarang menikmati kehidupannya sebagai orang biasa yang
bekerja di sebuah perusahaan kecil di Las Noches. Semuanya kembali
seperti dulu, saat Grimmjow belum terkenal.
"Nel."
"Hmm? Rasanya sudah lama kamu nggak manggil nama aku, Grimm."
"Yah, aku hanya iseng saja."
"Iseng atau ada maunya?" Neliel memegang kedua belah pipi suaminya.
"Gitu sih sebenernya," Grimmjow tersenyum menyeringai, mulai mengecup tangan Neliel.
"Hmm? Bahaya nggak ya untuk si kecil?" Neliel tampak cemas.
"Nggak, kok. Aku nggak akan menyakiti anakku," Grimmjow mulai menyibakkan rambut di bahu Neliel.
"Emmhh," desah Neliel saat Grimmjow mulai memberi kiss mark di leher Neliel.
Grimmjow
berhenti mengecup leher istrinya, lalu beralih mencium ke bibir mungil
Neliel. Tangannya tidak diam, mulai meremas lembut dada Neliel yang
masih di tutupi oleh baju tidurnya. Ciuman pasangan itu terhenti kala
keduanya membutuhkan pasokan udara.
"Ukurannya lebih besar dari lima bulan lalu, Nel," goda Grimmjow.
"Grimm," Neliel memelototi suaminya.
"Hihihi... Biar kau yang diatas, Nel. Repot juga karena perutmu sudah membesar."
Neliel
mengangguk, lalu melepaskan pakaiannya, begitu pula yang dilakukan oleh
Grimmjow. Pria berambut biru itu pun mulai merebahkan tubuhnya ke atas
tempat tidur. Selanjutnya, Grimmjow membimbing Neliel untuk berjongkok
di atasnya—dengan kedua tangan berada di dada bidang Grimmjow—, lalu
mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel.
"Ssh... Sakit."
"Baru lima bulan, tapi kenapa sempit sekali jadinya, ya?"
"Grimmhh... Ssshh..." Neliel mendesah hebat kala penis Grimmjow sudah masuk seluruhnya.
"Tenang, ya," Grimmjow mulai membimbing Neliel untuk menaik turunkan pinggulnya.
"Ooh... Nghhh..."
Keduanya bergantian mendesah, merasakan kenikmatan yang selama lima bulan ini mereka tunda. Neliel
menaik turunkan pinggulnya berirama, membuat payudaranya bergoyang dan
menggoda untuk Grimmjow. Kini, pria berambut biru itu mulai meremas
payudara wanita yang sedang bercinta dengannya.
"Nghh... Grimmhhh..."
Desahan
Neliel bagai pemacu semangat untuk Grimmjow, ia semakin senang
mempermainkan payudara istrinya itu, dan mulai melahapnya. Neliel
mendesah semakin kuat dan meremas dada bidang Grimmjow.
"Grimmhhh, aku... sampai..."
"Nel..."
Keduanya
klimaks bersamaan, dan dengan cepat, Grimmjow mengubah posisi mereka.
Untungnya ia sempat mencabut penisnya, dan memindahkan tubuh Neliel ke
sampingnya sebelum akhirnya kehabisan tenaga. Neliel mengatur nafasnya,
lalu merebahkan kepalanya ke dada Grimmjow. Grimmjow membelai rambut
hijau panjang istrinya itu.
"Terima kasih, sayang..."
"Ya. Terima kasih juga sempat menjaga bayi kita," Neliel tersenyum.
"Aihiteru, sayangku, Nel," Grimmjow mengecup rambut istrinya.
"Aishiteru yo."
***
Karakura Airport, 10.00
"Selamat datang, Tesla-sama," seorang wanita berkuncir dua menyambut seorang pria berambut blonde.
"Ah yaa, Loly. Terima kasih."
"Tesla-sama, ke mana tujuan anda?"
"Oh ya, tentu saja mencari pembunuh kakakku. Grimmjow Jeagerjaques. Si keparat itu."





0 comments:
Post a Comment