Tuesday, 12 February 2013
Bonus Ngintip Tante
Sejak
tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal
duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado,
namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi
agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah
desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan
nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat
orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya
yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya
yang bener-bener medok.
Akupun
langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor.
Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya
keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing,
lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah
dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup
besar untuk menyembul dari balik daster.
Pikiran
kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex
seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan
merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya.
Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan
bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua
wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya
dengan sedikit pujian dan rayuan.
Dirumah,
nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku
perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena
ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi
dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku
sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah,
biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan,
aku bersusaha meyakinkan.
Setelah
nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal
aku, Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom
berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita
menjuurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu
ingin menyetubuhi Tante Wine, malamnya aku coba mengintip saat dia
mandi. Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana
mengintip dari lubang ventilasi.
Hari
mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang
dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi.
Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan
menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai
apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini
terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk
wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus
lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang
besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam
kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang
indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan
dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan
melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah
menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan
mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan
spermaku terbang jauh melayang.
Dalam
beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika
kubuka mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah
ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar
mandi Tante Wine memanggilku lirih.
“Andy, nggak baik mengintip,” kata tante Wine.
“Ma ma maafin,” jawabku gagap.
“Nggak
apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Wine lagi sambil
tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.
Aku
paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku
langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah
stand by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok
sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi
terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk
ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas
terlihat, putih dan sangat menggairahkan.
“Kamu pake ngitip aku segala,” ujar Tante Wine.
“Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha,” balasku.
Tante
Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan
busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas
dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo
Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang
desa atau kota ya.
Sekali
sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih
jauh dari jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku.
Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap
Mr. happy yang sudah tegak kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali
rasanya. Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin disinilah
letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Bebrapa detik kemudian setelah puas
mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik
wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah
diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk
dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi
erangan keluar dari mulut Tante Wine.
“Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu,” cerocos Tante Wine.
“Emangnya Tante Wine tau?” jawabku disela aktifitas menjilat.
“Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh,” balas Tante Wine.
Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.
“Sedari
awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan
kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku
belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin
yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.
Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.
Masih
dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke
vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan
batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung
dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah
puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi
dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet.
Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi
ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami
berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar
masuk.
Puas
dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style.
Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari
belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang
Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk
pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti
kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.
Dalam
beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai
kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak
bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara
kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki
mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy,
sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak.
Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine
sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya
menguat.
Lama
kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan
kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak
tiba-tiba raut mukanya berubah rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.
“Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.
Dalam
hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih
dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa
mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia
mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang
dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya
sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan
irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.
Dibalik
erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami
sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini,
bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak
dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun
mandi bersama.
Selesai
mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah
tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul
kemudian. Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine
langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih
telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan
babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu
membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri
heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde
terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi
orgasme tetap jadi sensasi.
Selama
2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku
dengan Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine
tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain
cinta. Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante
Wine. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus
melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku
juga menikmatinya





0 comments:
Post a Comment