Sunday, 10 February 2013
Ibu Guru Jadi Budak Murid
Perkenalkan namaku Tommy, aku sekarang sedang sekolah ternama di
Ibukota negara ini. Orang tuaku adalah orang terkaya di negeri ini.
Bahkan sekolah tempat aku belajar dimiliki oleh orang tuaku, yang
kemudian diberikan pada aku. Sehingga aku adalah pemilik sekolah ini.
Sekolah
ini mempunyai banyak sekali murid-murid, terutama dari orang-orang
kaya. Orang tua mereka sangat senang mengingingkan anak mereka untuk
sekolah di sini. Mereka ingin agar anak mereka kenal dengan aku, dengan
harapan posisi mereka atau usaha mereka dapat terus berkembang, dengan
bantuan aku.
Banyak
sekali teman-teman aku, yang sangat baik dengan aku, mereka ingin agar
jabatan orang tua mereka dapat naik pangkat, atau usaha orang tua mereka
dapat berkembang terus. Banyak sekali siswi-siswi yang sengaja yang
mendekatiku agar keluarga mereka dapat ditingkatkan perekonomiannya.
Banyak siswi yang sengaja mengajakku tidur, tentu saja aku hanya memilih
yang cantik-cantik saja. Dan setiap kali mereka tidur dengan aku,
keesokkan harinya orang tuanya naik jabatan.
Tahun Ajaran Baru
Hari
ini adalah adalah hari pertama sekolah, kini aku sudah kelas 3 IPA.
Banyak sekali siswi-siswi baru, yang baru masuk kelas 1. Aku mengincar
mereka siapa tahu ada yang cantik dan seksi.
Aku melihat ada siswi cantik yang bernama Heni, langsung saja aku coba mendekatinya.
“Heni.. dipanggil oleh Tommy”, temanku Ken berkata pada Heni.
“Oh Tommy pemilik sekolah ini yah”, Heni menjawab dengan senang.
Tentu saja ia senang karena itulah tujuan dia sekolah disini.
Pada
jam istirahat, aku memanggil Heni ke sebuah ruangan kosong. Disana aku
merayu Heni, dan mencoba berkenalan dengan dia. Dan akhirnya aku mencoba
mencium dia.
“Tommy..”, balas Heni sambil menciumku juga.
Aku
mencoba memasukkan tanganku kedalam baju dia. Astaga susunya kenyal
sekali, rasanya tanganku seperti memegang karet saja, kenyal sekali. Aku
meremas – remas susunya.
“Ahh..”, desah Heni.
Tiba-tiba pintu terbuka, aku menengok dan melihat guru baru.
“Hei apa yang kalian lakukan, cepat kembali ke kelas”, teriak guru tersebut.
Astaga
baru kali ini ada yang memarahi aku, guru tersebut tidak mengetahui
posisiku di sekolah ini, bahwa aku sebagai raja di sekolah ini. Dengan
rasa dongkol aku kembali ke kelas.
Aku
memberitahu Ken temanku agar menghukum guru tersebut. Kemudian Ken
menghubungi Kepala Sekolah agar mereka bertemu. Kemudian Kepala Sekolah,
Ken dan guru tersebut yang bernama Cindy bertemu. Kepala Sekolah
menyampaikan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Tommy di sekolah, dan
guru tersebut harus dihukum. Jika tidak mau dihukum, maka keluarga
Cindy akan dihancurkan perekonomiannya, mereka akan menjadi gelandangan.
Cindy yang baru berumur 18 tahun dan sedang kuliah Kedokteran dan
menjadi guru honorer di sekolah ini dengan terpaksa menyetujuinya.
Hukuman Hari Pertama
Hari
ini adalah hukuman untuk guru cantik bernama Cindy. Pada jam pertama
ini, aku belajar biologi diajar oleh Cindy. Ketika ia masuk, Ken
memberitahu bahwa ia harus mengajar tanpa pakaian. Tadinya ia tidak mau
dan ingin keluar dari sekolah ini, tapi karena diancam keluarganya akan
menjadi gelandangan ini mau menuruti. Dengan berurai air mata, ia
melepas blazer dan roknya. Terlihat bahwa tubuhnya dengan tinggi 166 cm
dan berat 47 kg, mempunyai kulit yang putih sekali.
“Bu Cindy, lepas BH dan Celana dalamnya”, teriak Ken.
Dengan
ragu-ragu ia melepas BH yang berukuran 34B dan celananya, terlihat ia
memiliki susu yang tidak terlalu besar tetapi putih sekali dan rambut
kemaluan yang hitam tapi tidak terlalu lebat.
Dengan
malu-malu ia mengajar kami selama 2 jam pelajaran dengan bugil. Tentu
saja perhatian anak-anak cowok tidak pada pelajarannya, tetapi
mengaggumi tubuh bugilnya. Cindy mengajar dengan kacau balau, sambil
menerangkan ia mencoba menutupi tubuhnya, tentu saja tidak bisa, karena
ia harus mencatat di papan tulis dan harus menerangkan. Beberapa anak
laki-laki mencubit tubuhnya, ketika melewati mereka. Cindy hanya bisa
menerangkan sambil terisak-isak.
Rasanya
dua jam pelajaran berlangsung cepat sekali, berikutnya pelajaran
matematika yang membosankan oleh Pak Ginanjar. Aku membisikan Ken,
hukuman selanjutnya.
“Bu Cindy, dua jam pelajaran ini, harus mengulum punya Tommy”, kata Tommy kepada Cindy.
Ketika
Pak Ginajar mulai menerangkan, dengan ragu-ragu Cindy jongkok
dihadapanku. Kemudian ia membuka reseleting celanaku, dan mulai
mengeluarkan penisku. Ia kemudian memegang kemaluanku, rasanya hangat
sekali tangan Cindy. Ia mulai mengulum penisku yang panjangnya 17 cm. Ia
memaju mundurkan mulutnya, rasanya enak sekali, sambil mendengarkan
pelajaran matematika, sambil diurut penisku oleh mulut guru muda yang
cantik ini. Sampai suatu kali rasanya ingin mengeluarkan sesuatu. Aku
menarik rambut Cindy, agar kepalanya bergerak lebih cepat.
“Ah..”, desahku sambil mengeluarkan air mani kedalam mulutnya sebanyak mungkin.
“Oupch..”, terdengar suara Cindy yang kehabisan nafas, harus menelan air maniku sambil menangis.
Hukuman Hari Kedua
Hari ini aku memberi tahu Ken hukuman Cindy.
“Bu
Cindy, hari ini harus masuk lagi ke kelas 3, sambil menerangkan tentang
hubungan seks, sambil diperagakan dengan Tommy”, kata Ken kepada Cindy.
“Apa..”, teriak Cindy.
“Bu, ingat keluarga Ibu”, ancam Ken.
Akhirnya Cindy menyetujuinya. Pada jam pelajaran kelima, Cindy masuk ke kelas 3.
Anak laki-laki berteriak, “Buka.. buka.. buka..”.
Dengan gemetar Cindy kembali membuka seluruh pakaiannya.
“Anak-anak, Ibu sekarang mau menerangkan tentang hubungan seks” kata Cindy sambil gemetar.
“Tommy tolong kesini” kata Cindy.
Aku lalu maju kedepan, lalu Cindy membuka celanaku.
“Pertama-tama
dilakukan pemanasan dulu”, kata Cindi sambil meletakan tanganku pada
susunya. Langsung aku meremas-remas dengan keras, enak sekali pikirku.
Tampak Cindy kegelian. Lalu Cindy meremas penisku.
Setelah
beberapa lama, aku mulai tak sabar, lalu dengan cepat aku mencoba
memasukkan penisku ke vagina Cindy. Cindy berusaha menghindar sambil
menangis. Aku menyuruh anak-anak cewek agar memegangi tubuh Cindy,
sambil dipegang oleh 4 orang anak cewek, aku memamasukkan penisku
kedalam vaginanya. Astaga rasanya sempit sekali, aku merasa ia masih
perawan. Lalu dengan cepat aku mengocok penisku didalam vaginanya.
“Bu ayo.. teruskan menerangkannya”, kataku pada Cindy.
“Beginilah caranya bersenggama anak-anak”, Cindy menerangkan sambil menangis.
Aku
terus mengocok penisku di dalam vagina cindy. Dari posisi berdiri kami
melakukannya, tidak puas dengan posisi ini aku mencabut penisku dari
vaginanya, lalu mencoba posisi doggi style. Aku memasukkan penisku ke
dalam vaginanya, sementara itu tanganku meremas-remas susunya dari
belakang. Rasanya empuk sekali, sementara itu penisku digoyangkan terus.
Tiba-tiba
Cindy mengejang, dengan meremas penisku dengan kuat, ternyata ia
mengalami orgasme. Teman-temanku pada tertawa melihatnya. Tak lama
kemudian aku juga mengeluarkan air maniku di dalam vaginanya dengan
kuat. Terlihat wajah Cindy yang kaget dan ketakutan menerima sperma di
dalam vaginanya. Semua teman-teman bersorak melihatnya.
Hukuman Hari Ketiga
“Bu
Cindy hari ini harus mengumpulkan dua liter sperma dari seluruh
laki-laki di sekolah ini”, kata Ken kepada Cindy sambil memberikan botol
berukuran dua liter.
Dengan
bugil, Cindy masuk ke kelasku. Sementara guru yang lain mengajar, Cindy
mengocok penisku dengan cepat agar cepat mengeluarkan air maniku. Tidak
tahan akan kocokan Cindy yang cepat, aku mengeluarkan sperma ke dalam
botol tersebut. Cindy berpindah ke setiap anak laki-laki yang ada di
kelasku dan mengocok penis mereka agar cepat mengeluarkan sperma. Dua
jam sudah berlalu, seluruh laki-laki sudah mengeluarkan spermanya, dan
ternyata hanya ada seperempat liter.
“Bu Cindy, cepat kocok penis anak laki-laki di kelas lain juga” kata Ken.
Akhirnya
Cindy berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya, untuk mengumpulkan
sperma. Setiap kelas kelas yang dimasuki Cindy, terdengar suara riuh.
Banyak anak laki-laki yang dikocok penisnya, juga menggerayangi
tubuhnya.
Akhirya jam sekolah
selesai, dengan tangan yang lelah dengan muka yang penuh sperma, karena
ada beberapa orang yang sengaja menyemprotkan spermanya ke mukanya.
Cindy datang kepada aku dan Ken sambil memberikan dua liter sperma.
“Bu Cindy, tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang” kata Ken.
“Tidak tahu” kata Cindy.
“Minum sperma tersebut”, kata Ken.
“..”, Cindy tampak lemas sekali dan tertunduk.
Tiba-tiba kelasku dipenuhi banyak siswa dari kelas lain.
“Minum.. minum.. minum..” teriak mereka.
Akhirnya
Cindy sedikit demi sedikit meminum sperma tersebut, beberapa kali
muntah, tapi kami minta agar sperma tersebut dijilati. Setelah lima
belas menit habislah sperma tersebut.
Hukuman Hari Keempat
Hari
ini ada upacara bendera, Bu Cindy sudah disuruh oleh Ken agar menjadi
pemimpin upacara. Tentu saja dengan tidak mengenakan pakaian apapun
juga. Semua anak di sekolahku sudah berkumpul di lapangan upacara.
Ketika pemimpin upacara memasuki lapangan upacara, tampak Cindy berjalan
dengan tanpa pakaian apapun ke tengah-tengah lapangan. Tampak susunya
bergoyang-goyang sesuai dengan langkahnya. Seluruh anak-anak berteriak
membahana melihatnya.
“Upacara
siap dimulai”, teriak cindy ditengah lapangan dengan mengacungkan
tongkat upacara. Tampak Cindy berlinang air mata, karena ditatap oleh
ratusan murid.
Ketika upacara
dimulai, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Ken, ia mulai memasukkan
tongkat upacara kedalam vaginanya. Murid-murid kaget dan tertawa
melihatnya. Cindy terus memasukkan dan mengeluarkan tongkat tersebut
sambil ditatap oleh seluruh murid di sekolah ini.
“Hayo Bu terus”, teriak beberapa anak.
Cindy
tampak pucat sekali dan lemas sekali, beberapa saat kemudian dia mulai
merasa akan orgasme, Cindy berusaha bertahan tidak mau terlihat orgasme
sambil ditatap oleh ratusan murid.
Tapi lama kelamaan dia tidak tahan, dan mulai mendesah “Ahh”, tentu saja semua anak menyorakinya.
Kemudian
Kepala Sekolah mengumumkan beberapa siswa berprestasi maju ke depan.
Dipanggil oleh Kepala Sekolah Anton, Herman dan Rinny maju ke depan.
“Bu Cindy silakan memberikan hadiah kepada siswa siswi yang berprestasi ini”, kata Kepala Sekolah.
Dengan
gemetar Cindy mendekati Anton, lalu membuka celana Anton. Lalu ia
mengocok penis Anton. Setelah penis Anton mengeras, lalu ia merebahkan
Anton, lalu Cindy duduk di atas Anton, lalu ia mulai mJmasukkan penis
Anton ke dalam vaginanya. Ratusan anak menahan nafas melihat adegan
tersebut. Melihat tatapan banyak anak, Cindy mencoba mengeluarkan
vaginnya, tetapi Anton cepat-cepat menarik rambut Cindy, sehingga dengan
sekali tarik, amblaslah semua penis Anton ke dalam vagina Cindy.
“Aww”, teriak Cindy.
Sambil mengoyang-goyangkan penisnya, Anton meremas-remas susu Cindy dengan keras.
“Aww”, terdengar teriakan Cindy, setiap kali Anton menjepit puting Cindy.
Ketika
Cindy berusaha mengurangi rasa sakit di vagina dan susunya, tiba-tiba
ia merasa ada yang membuka anusnya. Ketika ia menengok ke belakang
tampak Herman sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam anus Cindy.
Dengan sekali tancap, masuklah seluruh penis Herman ke dalam anusnya.
“Ahh”, Cindy melolong kesakitan, tapi Herman tidak peduli, terus memaju-mundurkan penisnya di dalam anus Cindy.
Setelah
beberapa lama Anton mengeluarkan penisnya dari vagina Cindy, lalu
memasukkan penisnya kedalam mulut Cindy. Tampak Cindy sambil bergaya
anjing, dimasuki dari anus dan mulut oleh Herman dan Anton.
Tiba-tiba
Rinny menghampiri sambil membawa pisang yang berukuran besar sekali.
Lalu pisang tersebut dimasukkan ke dalam vagina Cindy.
“Jangan..”, teriak cindy.
Tapi
Rinny tidak peduli, lalu terus memasukkan ke dalam vagina Cindy, tampak
vagina mulai sedikit robek dan berdarah akibat pisang yang sangat
besar.
“Ah..”, teriak Cindy setiap kali pisang tersebut dikeluar-masukkan oleh Rinny.
Akhirnya Anton dan Herman sudah tidak tahan dan mengeluarkan sperma bersamaan di mulut dan anus Cindy.
Sementara Cindy tergeletak di tengah lapangan, Kepala Sekolah berteriak
“Upacara selesai”.
Sehingga para murid kembali ke kelas sambil tertawa.
Demikianlah hukuman untuk Ibu Guru Cindy yang masih muda dan cantik dari Tommy.





0 comments:
Post a Comment