Saturday, 9 February 2013
Guru Praktek
Waktu
itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku
termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di
OSIS, musik, olah raga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar.
Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin
Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu
wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian
untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu. Mungkin karena cerita
sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan
sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah
mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang
bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa.
Suatu
saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan
menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru
praktek itu bernama Lisa. Dia begitu cantik, ah bukan... bukan cantik...
tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya,
aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi
semampai, mengecup bibirnya, dan... aku pun berkhayal sangat jauh, tapi
semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku
tidak berani, apalagi dengan Lisa.
Singkat
cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat
sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat Ibu Lisa. Aku memberanikan
diri menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa
dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya
tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap
sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung
setiap hari selama satu minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan
nantinya terlalu akrab.
Seperti
biasanya, aku mengantarkan Ibu Lisa pulang ke kost-nya. Anehnya saat
itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di
pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang
menuju ke kost Ibu Lisa. Dan ketika kupamit Ibu Lisa memegang tanganku
dan...
"Jangan dulu pulang, dong!" Ibu Lisa menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.
"Udah malam Bu, takut entar dimarahi..." Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.
"Jangan
panggil aku Ibu Lisa, coba tebak berapa umurku?" ternyata umurnya
terpaut lima tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.
"Panggil aku Lisa." Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu."
Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.
Sesampainya
di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan
pahlawan kesayanganku, McGyver. Lisa kemudian menghampiri lemari pakaian
di samping televisi.
"Aku punya tiga buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus."
Kujawab
dengan singkat, "OK!" lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku.
Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat
dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya,
jantungku berdebar keras. Lisa hanya menyisakan BH berwarna hitam dan
celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian
di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.
"Aku
tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?" Aku hanya terdiam
pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang
hanya tertutup kain tipis. Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga
aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya.
Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu
dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.
"Kamu kenapa, kok pucat", aku terdiam.
"Kamu takut ya?" Aku tetap terdiam.
"Aku tau kamu suka aku." Aku terdiam.
"Hey, ngomong dong." Aku tetap terdiam.
Dalam
kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak
sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan
bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi
mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku
dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa
yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah
dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya
yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat
merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai
bermain.
Tiba-tiba
dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas
karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Lisa membuka baju
tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan
CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke
karpet. Belum sempat aku bergerak, Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas
tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.
"Kamu
suka, ya?" aku mengangguk. Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku
mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan
kepalaku, aku heran. "Ke.. ke... kenapa Lis?" kataku terbata-bata. Dia
hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku
hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit
yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Lisa. Dia mulai membelai
pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi
celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku
memejamkan mata, aku pasrah, "Aku... aku... ah...!"
Aku
membiarkannya, ketika Lisa mulai membuka celana seragamku, mulai dari
ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih
batang kemaluanku dengan mesranya.
"Ah...
crot... crot... crot...!" Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya
yang mungil menyentuh kepala kemaluanku. Aku malu, malu setengah mati.
"Tenang, itu biasa kok."
Senyumnya
membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat
keberanianku muncul, "Ya aku berani, aku nekat!"
Aku
menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di
atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin
berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada
dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah
kutonton.
"Kamu mulai nakal, ya."
"Ibu guru tidak suka."
Aku
tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas
rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan
kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik
CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku
menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu
dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang
kami berdua. Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di
pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan
lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu
kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu
mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.
Tangan
kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan
sisa air mani yang baru saja keluar. Wow... batang kejantananku sudah
keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia
menarik kepalaku. "Buka celana kamu, semuanya...!" Aku menurut dan
kembali menindih tubuhnya. Setelah kepala kami berdekatan dia mencium
bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah
sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.
Dia
mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan
mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh
bibir lubang kemaluannya, "Crot... cret... creeett...!" Kembali aku
meraih puncakku, dia pun tersenyum. Hanya saat itu aku tidak lagi malu,
yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum
orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang
kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok
batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di
depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali
bernafsu.
"Pelan-pelan
aja tidak usah takut." Dia berbisik dan tersenyum padaku. Tak karuan
perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya
ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik
batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.
"Bles...
sss... sek!" Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya.
Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku
tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga
kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus
berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.
"Oh
Dig...!" Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh
sahabat-sahabatku. Selama ini Lisa hanya memanggil nama asliku seperti
yang tertera di dalam absen kelasku. "Dig, terus... kamu mulai
pintar..." Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun. Aku merasakan
batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Lisa.
Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya,
sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.
"Ah... ah... ah, ah... oh!" Nafasnya memburu.
"Ah
Dig... ah... ah... ooowww!" Dia berteriak kecil, matanya sedikit
melotot dan kemudian dia kembali tersenyum. Aku terdiam sejenak, aku
heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku
serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang
kemaluannya. "Ntar dulu ya Jedig Sayang." Dia mengangkat tubuhnya
sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin
kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain. "Eit... sabar dong,
kita belum selesai kok." Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian
nungging di depan mataku. Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan,
ya... seperti di film-film itu.
Aku
mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang
kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan.
Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia
menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku. "Blesss..."
Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak
lagi naik turun tetapi maju mundur. Kami berdua mendesah. Nafas kami
saling memburu. Terus dan terus lagi. "Ah... oh... uh... terus Dig...,
ah... oooww!" Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap
kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya. Benar saja
posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku
menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk
membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat
menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.
Kembali
aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang
benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki
kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus
menggerakan pinggulku.
Beberapa
saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu
di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang,
cepat, dan tidak teratur.
"Terus Dig, lebih cepat lagi... terus lebih cepat lagi Dig, terus."
Gerakanku
semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling
kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling
sambut menyambut.
"Terus Dig, terus... ah... uh... oh...!"
"Oban sayang... ah... dig... dig... dig... aaoowww!"
Saat
ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan
giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.
"Dig cepetan ya sayang...!"
"Aku capek."
Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.
"Ah... oh... Ufff... aaah...!"
"Crot... cret... cret...!"
Muncratlah
air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas!
Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku.
Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.
Beberapa
bulan setelah percintaanku dengan Ibu Lisa... Perpisahaan pun dimulai,
setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk
menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di
sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya.
Aku mencari Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.
"Lisa... hey...!" Lisa menengok dan matanya melotot.
"Ups... Ibu Lisa!" Aku lupa, dia kan guruku.
"Sampai
ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!" sambil menaiki tangga bus dia
menyerahkan surat padaku. Aku langsung membaca dan tak mengerti apa
maksud dari tulisan itu.
Akhirnya
bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak
akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Lisa.
Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu
berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan.
Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa
arti dari surat Lisa.




0 comments:
Post a Comment