Saturday, 9 February 2013
Hutan Nikmat
Sebenarnya
aku hanya mau jalan-jalan saja hari itu. Karena di rumahku suntuk,
akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan di hutan sekedar refreshing.
Setelah lama jalan-jalan dan hari sudah menjelang sore, hutan itu juga
sudah mulai gelap, aku melihat ada sosok yang sedang berjalan ke arahku.
Makin lama, semakin jelas ternyata dia wanita, kutebak umurnya tidak
lebih dari 15 tahun, malah mungkin kurang karena tubuhnya masih langsing
dan dadanya juga belum begitu besar. Dia memakai celana pendek dan
T-shirt.
Ya
ampun, pahanya yang putih itu membuatku menelan ludah. Pasti dia anak
orang kaya yang sedang berkemah atau menginap di salah satu villa yang
ada di sekitar hutan ini. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sampai masuk
hutan, sendirian lagi, yang jelas aku tidak tahan kalau harus melepaskan
kesempatan yang baik ini, karena aku kebetulan sudah lama tidak pernah
merasakan bagaimana nikmatnya tidur bersama anak di bawah umur.
Aku
cepat-cepat merunduk ke semak-semak yang ada sambil menunggu dia lewat.
Begitu dia lewat langsung kusergap dari belakang sambil menutup
mulutnya, soalnya biar sudah malam tapi kami masih ada di pinggiran
hutan, jadi aku tidak mau ambil resiko orang-orang mendengar teriakan
anak ini. Sambil meronta-ronta, kubawa dia masuk lebih jauh ke tengah
hutan. Kalau sudah masuk di dalam hutan, aku jamin tidak ada yang bisa
dengar teriakan dia, soalnya orang-orang di sekitar situ percaya kalau
hutan itu angker, padahal mereka tidak tahu kalau ada tempat seukuran
yang agak lapang tempat aku biasa menyepi. Ketika aku sampai ke tempat
pribadiku, ada sinar bulan purnama yang menerangi tempat itu, kebeneran
juga soalnya sekitarku sudah gelap gulita.
"Lepaskan!
Lepaskan! Jangan Om!" dia langsung berteriak-teriak ketika mulutku
lepas dari mulutnya. Om? Enak aja dia panggil aku Om, langsung saja aku
kepalkan tanganku dan kupukul keras-keras di perut. Dia langsung
tersungkur ke tanah sambil memegang perutnya dan mengerang. Tidak hanya
itu, langsung kutendang punggungnya sampai dia berguling-guling menabrak
batang pohon yang sudah roboh. Setelah itu kutarik rambutnya yang
sebahu sampai wajahnya dekat dengan wajahku.
"Sekarang dengerin anak kecil!" kataku pelan tapi pasti.
"Aku
bukan om elo, tapi elo sebaiknya jangan banyak tingkah, kalo tidak mau
mati! aku hanya pengen ngajarin elo kesenengan yang belon pernah elo
dapetin di sekolah elo! Tau?!" Dia hanya menangis sambil
mendorong-dorongku, tapi tenaganya sudah lemah gara-gara kutendang tadi.
"Jawab goblok!" bentakku sambil menampar pipinya berkali-kali sampai memerah.
"Ampuun,
ampun!" dia menjerit kesakitan karena tamparanku tadi. Aku langsung
saja tidak buang waktu, dia langsung kudorong ke batang kayu roboh tadi,
sambil kutindih, kutelanjangi dia. Mulai dari T-shirtnya terus celana
pendeknya, kutarik BH-nya sampai putus. Terakhir kulepaskan juga celana
dalamnya sekaligus sepatu dengan kaos kakinya. Akhirnya dia telanjang
bulat sambil meronta-ronta karena tangannya kupegangi dengan tangan
kiriku. Wow, kulitnya benar-benar putih mulus, dadanya belum begitu
besar tapi sudah membulat, kemaluannya juga masih jarang rambutnya. Dia
mengerang lemas ketika kuraba dan remas dadanya.
"Hei,
lo suka ya! Sabar aja entar aku tunjukin yang lebih enak!" aku melihat
sekelilingku, dan aku akhirnya menemukan cabang pohon dengan diameter
sekitar 5 cm. Dia sudah tidak bisa bergerak karena kesakitan gara-gara
pukulanku, tapi untuk amannya kupukuli juga perutnya berkali-kali sampai
perutnya membiru. Dia masih sadar tapi yang pasti dia tidak mungkin
bisa bergerak untuk lari dariku.
"Nah, enaknya aku mulai dari mana nih?" tanyaku pada dia.
"Dari depan atau dari belakang?" dia hanya bisa mengeluarkan desahan sakit, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mulai dari depan aja ya? Pasti lo masih perawan kan?"
Selesai
berbicara begitu, aku langsung mendorong cabang pohon tadi masuk ke
liang kewanitaannya. Karena sempit aku sampai harus melebarkan bibir
kemaluannya supaya cabang tadi bisa masuk sedikit. Dia merintih-rintih
ketika cabang tadi mulai masuk sedikit demi sedikit. Aku terus mendorong
cabang tadi sambil memutar-mutarnya. Dia langsung menjerit kesakitan
ketika kulakukan itu. Itu yang aku ingin dengar dari tadi, batang
kemaluanku langsung tegang sekali. Ketika dia menjerit sekeras-kerasnya
aku merasa cabang pohon tadi tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Lalu aku
mulai menarik dan mendorong cabang tadi sambil memutar-mutarnya, yang
pasti akan membuat dia lebih kesakitan kalau kudengar dari jeritannya.
Kepalanya mengeleng-geleng sampai terantuk-antuk ke batang pohon tempat
dia berbaring sampai memohon aku agar aku berhenti. Bodoh benar dia,
tentu saja aku tidak akan berhenti.
Setelah
beberapa kali tusukan, cabang pohon tadi mulai berubah jadi merah,
karena darah yang keluar dari kemaluannya. Ada juga yang meleleh keluar
dan mengalir turun lewat pahanya. Aku terus menusuk-nusuk liang
kemaluannya sampai sekitar 10 menit, sampai dia tidak bisa mengerang
hanya bisa mendesah dan mengigit bibir kesakitan. Kulihat ada darah juga
di sekitar bibirnya gara-gara digigit terlalu keras olehnya.
Akhirnya
aku tidak bisa tahan lagi, aku harus masukan batang kemaluanku.
Langsung saja kubuka celanaku, kemaluanku langsung bergoyang-goyang
tegang. Lalu kucabut cabang pohon tadi dari liang kemaluannya, kulihat
bibir-bibir kemaluannya langsung menutup lagi, diiringi tarikan nafas
anak itu. Karena aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kubalikkan
badannya yang sudah lemah lunglai itu sehingga pantatnya menghadap ke
arahku. Kubuka belahan pantatnya, kulihat lubangnya kecil sekali, wah
dia akan kesakitan kalau kumasukan batang kemaluanku, tapi aku tidak
perduli, yang jelas aku tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya
jepitan lubang itu. Sambil membuka belahan pantatnya kuarahkan kepala
kemaluanku ke lubang kecil tadi, lalu kupegang bahu anak tadi erat-erat
sambil mulai mendorong masuk.
Ya
ampun, sempit sekali, aku sampai meringis-ringis, dia juga mulai
meronta-ronta begitu sadar apa yang telah kukerjakan di pantatnya. Tapi
pelan-pelan, lubang tadi mulai membuka membuat batang kemaluanku mulai
masuk sampai kepala kemaluanku dan terus maju pelan-pelan. Ketika
kudorong kemaluanku, dia kembali merintih-rintih seakan-akan kehabisan
nafas.
Akhirnya
dengan dorongan terakhir yang keras masuk juga batang kemaluanku ke
lubang pantatnya. Lalu aku tidak menunggu-nunggu lagi, langsung saja aku
maju mundur. Aku tidak pelan-pelan lagi sekarang, kugerakan pinggulku
cepat dan keras. Sampai badan anak tadi terguncang-guncang, terdorong
maju mundur. Kulihat dada dan perutnya mulai berdarah-darah karena
bergesekan dengan kulit pohon yang kasar. Lama-kelamaan kemaluanku jadi
kemerah-merahan, selain gara-gara sempit sekali, ada juga darah yang
menempel ke batang kemaluanku. Sekitar 15 menit kugerakan pinggulku,
darah yang keluar sudah ada di mana-mana. Sampai meleleh turun lewat
pahanya ke tanah.
Aku
merasa aku akan keluar tidak lama lagi, begitu sudah hampir puncaknya,
aku langsung mencabut kemaluanku dan langsung kutarik rambut anak itu.
Dia langsung mengerang sakit, dan saat itu juga aku masukan kemaluanku
ke mulutnya yang terbuka. Dia langsung tersengal-sengal karena
kemaluanku masuk langsung masuk ke kerongkongannya, membuatnya sulit
bernafas. Dia berusaha menarik kepalanya tapi tidak bisa, malah
gara-gara gerakannya itu dan gesekan kemaluanku dengan lidahnya aku
tidak bisa menahan lagi. Sambil mengerang kukeluarkan spermaku ke
mulutnya langsung masuk lewat kerongkongan. Kulihat dia melotot ketika
ada cairan ketal masuk ke dalam kerongkongannya. Kutahan kemaluanku di
mulut anak itu sampai sekitar satu menit, sampai spermaku habis
kukeluarkan ke mulutnya, ada juga yang kulihat meleleh keluar, mengalir
lewat dagu, leher dan menempel di puting susunya.
Akhirnya
kutarik kemaluanku yang sudah mulai lemas dari mulutnya. Dia langsung
tersungkur ke tanah dan muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya.
"Dasar lu goblok tidak tau barang enak!" kataku.
"Muka
lu kotor tuh, aku bersiin ya?" sambil berkata itu aku langsung kencing
ke mukanya, air seniku membasahi seluruh wajah, rambut sampai dadanya.
Langsung saja dia muntah-muntah lagi sampai lemas tidak berdaya, karena
tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnya.
Jamku
sudah menunjukan jam 2 pagi, ketika aku kembali berpakaian. Aku hampiri
dia yang tergolek lemas, kulihat air matanya mengalir terus walaupun
dia tidak mengeluarkan suara tangisan.
"Lu mau lagi?" tanyaku.
Dia tidak bergerak hanya kulihat wajahnya yang pucat bertambah pucat lagi.
"Ah, tapi punya lu udah rusak gara-gara ini. Aku jadi tidak nafsu!" kataku.
"Lain kali aja deh!" kataku sambil menunjukan cabang pohon yang berlumuran darah ke wajahnya.
Setelah
selesai aku berbicara itu, langsung saja kupukul dadanya pakai cabang
pohon yang kupegang, kupukul punggungnya, pahanya, kemaluannya. Kadang
juga kutendang perutnya sampai dia tidak bergerak lagi, matanya melotot
ngeri. Kuraba nadinya, ternyata masih ada denyutan. Aku langsung berdiri
dan berjalan meninggalkan dia keluar hutan. Aku tidak peduli mau ada
yang menemukan dia atau tidak, kalau dia tidak kuat dia bakalan mati
juga. Lagipula siang nanti aku mau ke Jepang, jadi tidak ada yang bisa
menemukan aku.




0 comments:
Post a Comment