Sunday, 10 February 2013
Indahnya Susan, Nikmatnya Tante Betty
Suasana
rumah Tante Betty petang itu masih lengang. Hanya tampak satu sepeda
motor milik Randy dan sebuah mobil Kijang terbaru yang baru saja
memasuki garasi. Randy dan kakaknya, Susan, berlibur di rumah Tante
Betty untuk mengisi liburan kenaikan kelas. Tante Betty sebagai wanita
karier sering merasa kesepian karena ia belum bersuami. Ia sangat senang
apabila ponakan-ponakannya berkunjung ke rumahnya, apalagi sampai
menginap lama seperti yang dilakukan anak dari kakak pertama dan
keduanya itu.
Susan
baru saja pulang dari rumah Nina saat waktu menunjukkan pukul setengah
delapan malam. Melihat suasana rumah sedang kosong ia segera masuk
kamar. Matanya tampak sembab menandakan ia baru saja menangis. Meskipun
jauh-jauh hari Susan sudah merasakan perubahan sikap Ari, namun tetap
saja kaget dengan keputusan kekasihnya itu untuk tidak meneruskan
hubungan mereka lagi. Apalagi di telepon tadi, Ari yang mengatakan bahwa
mereka tidak cocok seperti dibuat-buat saja. Tapi Susan juga bukan
gadis yang lemah. Baginya, tidak ada alasan baginya untuk menjadi gadis
yang cengeng diusianya yang telah menginjak delapan belas.
Pintu kamar Susan tiba-tiba saja terbuka. Kepala Randy muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
"Baru datang, Kak?", tanya Randy sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian. Randy berjalan acuh tak acuh.
"Iya…",
jawab Susan singkat. Pikirannya masih sumpek dengan kejadian tadi
siang. Segera saja direbahkan badannya di kasur setelah mengganti baju
perginya dengan daster tipis.
"Kok,
lesu gitu..., Kenapa?", Randy yang baru kelas dua SMP itu menghampiri
Susan. Ia juga kemudian merebahkan badannya disamping kakaknya tersebut.
Susan hanya diam saja seolah tidak mendengar pertanyaan adiknya.
Matanya menerawang melihat langit-langit kamar. Randy pun akhirnya
memperhatikan sepupunya tersebut. Susan memang benar-benar cantik.
Kadang-kadang ia merasa lebih senang kalau Susan bukan saudaranya.
Mungkin karena seringkali ia tanpa sadar mengagumi tubuh Susan. Entah
mengapa akhir-akhir ini minatnya terhadap wanita begitu meningkat. Ia
bahkan suka sekali melihat-lihat pose wanita di majalah kosmopolitan
milik kakaknya itu. Biasanya ia jadi terangsang dan onani di kamar
mandi.
"Sret...",
Sepersekian detik posisi tangan Susan bergerak memangku kepalanya
sendiri dan tanpa ia sadari belahan baju di dadanya menjadi terbuka.
Melihat hal demikian Randy jadi sedikit canggung. Ia kebingungan
sekaligus menyukai pemandangan itu. Randy agak berdebar-debar ketika ia
semakin jelas melihat lekuk buah dada kakaknya yang tampak ranum dan
indah. Apalagi tampak tonjolan puting di balik daster tipis itu. Batang
penisnya terasa sedikit mengeras.
Karena
dorongan hasratnya, Randy memberanikan diri perlahan-lahan mendekati
tubuh Susan. Ia merangkul pinggang kakaknya tersebut. Merasakan sentuhan
di tubuhnya, membuat rasa sedih Susan semakin mendalam. Air matanya
mulai keluar dan ia segera membalikkan badan membelakangi adiknya. Ia
tidak mau menangis di hadapan Randy. Posisi demikian membuat Randy bisa
merangkul Susan dengan leluasa dari belakang.
"Kamu
cantik deh..., malam ini..", ucap Randy tanpa sadar. Susan pun hanya
diam saja. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ada orang yang
menyayanginya.
Randy
kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Susan. Gadis yang merasa
sedang bersedih itu sedikit bergerak lebih mendekatkan badannya ke dalam
pelukan Randy. Ia ingin ada orang yang menghiburnya disaat-saat seperti
ini. Respon Susan ini membuat Randy berani menggerakan tangannya dengan
lembut untuk menyentuh bagian bawah buah dada sepupunya. Susan hanya
memejamkan mata saja. Posisi tubuh yang berhimpitan itu membuat pikiran
Randy semakin tidak menentu. Apalagi batang penisnya yang berhimpitan
dengan pantat Susan. Perlahan ia mulai meremas dengan halus buah dada
sepupunya tersebut.
Susan
pun dalam keadaan sedang sedih menjadi merasa sangat tenang karena
adiknya seperti mengerti kesedihannya. Ia tahan terhadap seorang sepupu.
Ia juga membiarkan telapak tangan Randy membelai-belai buah dadanya
yang memang tidak memakai beha. Belaian Randy pada bagian tubuhnya yang
sensitif tersebut membuat jantung Susan sedikit berdebar-debar. Tapi ia
segera menganggap wajar sentuhan kasih sayang sepupunya tersebut.
Randy
pun mulai berani menciumi bagian tengkuk leher Susan sambil memasukkan
tangannya ke dalam daster Susan. Perasaan Susan menjadi sedikit tidak
karuan. Ia mulai menyadari bahwa sentuhan sepupunya bukan lagi sentuhan
kasih sayang, tapi di satu sisi ia amat menikmati sentuhan itu. Terutama
remasan telapak tangan Randy terhadap puting susunya. Perasaan sedih
yang sedang ia alami seperti berganti dengan keinginan untuk terus
dibelai. Ia ingin menghentikan Randy, namun sentuhan itu membangkitkan
perasaan lain dalam kesedihannya. Sentuhan-sentuhan halus itu membuat
bulu tengkuknya berdiri. Buah dadanya pun menjadi agak mengeras oleh
karena sentuhan dan remasan lembut tangan Randy.
"Ran, mmh..., udah ah..., aku kegelian", akhirnya Susan berusaha menyudahi aktivitas itu.
"Ah,
aku kan sayang sama kamu", sahut Randy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia
masih saja merabai tubuh sepupunya. "Engh, badanku jadi lemas semua
nih", tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek. Kemaluannya
bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.
Randy
tidak menghiraukan perkataan sepupunya tersebut, ia masih terus
meremas-remas payudara Susan. Malah ia mulai memasukkan satu tangannya
ke dalam celana dalam sepupunya. Bulu-bulu halus di kemaluan Susan pun
terasa di telapak tangan Randy. Iapun menyentuh bibir vagina sepupunya
itu. Susan menggelinjang. Nafasnya mulai tidak terkontrol. Kesadarannya
pun mulai hilang. Sekilas ia hanya menyadari bahwa ia sedang dicumbui
oleh sepupunya sendiri. Kemaluannya sudah mulai berdenyut-denyut.
Randy
secara lembut namun penuh nafsu mulai merebahkan tubuh Susan.
Kemaluannya seperti ingin membutuhkan sesuatu. Ditindihnya tubuh
sepupunya dengan birahi yang mulai tidak terkontrol. Segera saja ia buka
kancing daster sepupunya. Tampak dengan jelas kedua belah buah dada
sepupunya yang indah itu dengan putingnya yang telah berdiri tegak. Ia
langsung mengulumi puting buah dada sepupunya tersebut.
"Ran...,
ngmhhnghh..., udah dong..., ssshh", ucap Susan ketika sekilas
kesadarannya datang. Namun Randy sudak asyik dengan aktivitas birahinya.
Lidahnya mempermainkan puting susu sepupunya dengan penuh perasaan.
Mata Susan terpejam dan tangannya membelai kepala Randy, merasakan
kenikmatan jilatan-jilatannya.
Randy
akhirnya mulai tak sabar, ditariknya turun celana dalam sepupunya
tersebut. Susan sudah benat-benar dikuasai nafsu. Ia tidak sadar ketika
celana dalamnya terlepas. Randy pun segera memelorotkan celana pendeknya
sendiri sampai batang penisnya terlihat tegak. Dikangkangkannya kedua
kaki Susan dengan perlahan. Kemualuannya segera ia arahkan ke dalam
pangkal paha Susan. "Sleep!", Setengah detik kemudian kemaluan Randy
mulai memasuki liang vagina Susan. Terasa hangat dan empuk. Sesaat Susan
seperti tersadar apa yang sedang terjadi, namun kesadarannya langsung
hilang ketika Randy mulai menggerakan pinggangnya naik turun.
Napas
Randy semakin ngos-ngosan tatkala tubuhnya mulai bergerak menindih
tubuh sepupunya yang mulus itu. Buah dada Susan bergoyang-goyang karena
gerakan sodokan Randy terhadap tubuhnya. Semuanya seperti tidak dapat
dihentikan begitu saja. Kesadaran Susan pun telah musnah berganti
kebutuhan untuk dicumbui. Ia akhirnya juga merespon gerakkan yang
dilakukan sepupunya tersebut. Kemaluannnya berdenyut-denyut ketika penis
sepupunya terus bergerak dalam liang kemaluannya. Pinggangnya bergerak
berputar-putar dan sambil merintih penuh rasa nikmat.
"Ran..., nghh enghhnak.., enghh terusshhssshh", rintih Susan dalam kenikmatan.
Desahan
Susan membuat nafsu Randy semakin menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak
menyadari bahwa gadis yang sedang ia setubuhi adalah kakak sepupunya
sendiri. Konsentrasi Randy hanyalah pada gerakan tubuhnya yang maju
mundur. Batang penisnya seperti dipijit-pijit di dalam lubang kemaluan
Susan. Ia semakin mempercepat gerakannnya karena terasa sesuatu yang
mendesak batang kemaluannya.
"Engghh...,
yang..., engghh lebihhss kerasssh..ssshh", Susan mendesah merasa saat
itu dirinya telah membubung tinggi. Randy semakin mempercepat
gerakannya. Bunyi kecepak-kecepuk menjadi semakin berirama. Randy merasa
kemaluannya seperti akan meledak. Gerakannya kini telah menjadi
hentakan-hentakan. Susan masih terus memeluk erat tubuh sepupunya sambil
matanya terus terpejam.
"Esshh...,
Ahh..., ahh..ampirr..., ashh", Susan mendesah-desah. Ia merasa tubuhnya
sudah hampir mencapai puncak. Gerakan tubuh keduanya menjadi sangat
cepat.
Tiba-tiba
Randy menghentakkan badannya dengan keras dan lama ke dalam tubuh
sepupunya. Kedua tubuh itu tampak bergetar. Tangan Susan pun memeluk
tubuh Randy tak kalah eratnya. Keduanya telah sampai dipuncak
kenikmatan.
Adegan
kedua sepupu itu tanpa disadari sebenarnya dilihat oleh Tante Betty
dari balik pintu. Tante Betty benar-benar bingung dengan apa yang
dilihatnya. Ia sebenarnya ingin segera memasuki kamar itu namun ia
segera menyadari bahwa hal itu dapat memperburuk keadaan. Beberapa saat
kemudian Tante Betty melihat keduanya tampak tertidur. Kedua ponakannya
itu terkulai lemas dalam keadaan telanjang. Dengan perlahan ia memasuki
kamar itu dan mendekati ranjang tempat dua ponakannya tertidur lelap.
Ia
mulai menatap wajah kedua ponakannya dengan rasa galau. Mungkin karena
aku terlalu sibuk sehingga hal ini sampai terjadi ucapnya dalam hati.
Dengan perlahan ia mulai menaiki kasur dan mendekatkan badannya pada
tubuh Susan. Dipeluknya gadis ponakannya itu dengan penuh rasa kasih
sayang. Melihat tubuh gadisnya yang sintal dengan buah dada yang ranum
membuatnya tersadar bahwa Susan memang mungkin sudah saatnya dewasa.
Benar-benar kesalahanku, keluhnya.
Randy
yang merasa ada orang datang mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka
perlahan dan tampak tantenya memakai daster biru membelakanginya. Lekuk
tubuh tantenya tampak indah dalam keremangan kamar. Dalam keadaan
setengah sadar, ia masih merasakan kenikmatan yang baru saja dilaluinya
bersama Susan. Tak terasa beberapa saat kemaluannya menegang kembali.
Kebutuhan
yang mulai mendesak itu membuat Randy mulai salah tingkah. Tiba-tiba
saja ia ingin menyentuh tubuh tantenya yang berada di hadapannya.
Apalagi lekuk tubuh tantenya terlihat sangat indah. Namun ia sangat
takut apabila tantenya marah. Maka iapun berpura-pura tidur dan
memejamkan mata. Dalam keadaan yang mulai birahi kembali Randy memutar
otaknya agar dorongannya tersebut terpuaskan. Maka dengan pura-pura
dalam keadaan tidur Randy menggerakan badannya untuk dapat memeluk tubuh
tantenya.
Tante
Betty yang merasa tubuh Randy bergerak segara membalikkan badan dan
memeluk tubuh Randy. Buah dadanya yang hanya dibalut daster biru terasa
menyentuh bagian muka Randy. Tante Betty pun mulai membelai kepala Randy
dengan penuh kelembutan. Diperhatikan ponakan laki-lakinya dari atas
kepala dan turun ke bawah. Pasti banyak yang naksir, ucap tante Betty
dalam hati melihat kepolosan wajah ponakannya itu.
Tiba-tiba
wajah Tante Betty memerah. Tak sengaja matanya menyapu penis Randy yang
agak menegang. Ia berusaha menenangkan diri bahwa yang dihadapannya
adalah keponakannya sendiri. Namun jantungnya semakin berdebar-debar.
Apalagi diusia yang telah memasuki usia tiga puluh tahun ini ia belum
pernah disentuh laki-laki. Kebutuhan seksualnya selama ini ia alihkan
dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Sebagai wanita matang, selama
ini ia belum pernah melihat tubuh laki-laki dewasa dalam keadaan
telanjang. Tubuh Randy pun juga mulai mekar di usia enam belas tahun
itu. Tiba-tiba kepala tante Betty terasa agak berkunang-kunang.
Tanpa
sadar tangan Tante Betty mulai bergerak mendekati batang penis Randy.
Dengan perlahan-lahan agar Randy tidak terbangun, Tante Betty mulai
menyentuh batang penis Randy. Terasa hangat dan agak keras.
Dibelai-belai batang penis itu dengan penuh kelembutan. Ia membayangkan
andai saja batang penis itu mendesak-desak di lubang kemaluannya.
Matanya mulai terpejam. Tanpa sadar tangannya yang sebelah meremas buah
dadanya sendiri. Terasa ada cairan hangat mengalir di dalam kemaluannya.
Mau tidak mau Tante Betty mengakui bahwa ia mulai terangsang setelah
menyentuh batang penis Ponakannya.
Tiba-tiba
saja tangan Randy bergerak. Rasa kaget itu membuat Tante Betty
menghentikan sentuhannya. Ia memejamkan mata sambil berbaring dalam
keadaan memeluk ponakannya. Harapannya adalah Randy menganggapnya tidur.




0 comments:
Post a Comment