Sunday, 10 February 2013
Kurenggut Perawan Siswi SMU
Hari telah senja awan mendung pun mulai menyelimuti kota
metropolitan ini membuat suasana semakin gelap, di saat itu di sebuah
SMU Negeri terkenal di kota itu nampak gadis-gadis membubarkan diri dari
sebuah ruang aula olahraga. Mereka mengakhiri latihan rutin paduan
suaranya.
Tawa
dan canda khas gadis-gadis SMU mengiringi mereka bubar, satu demi satu
mereka keluar dari halaman sekolah yang telah gelap itu. Sementara itu
suara gunturpun terdengar pertanda hujan akan segera turun. Ada yang
dijemput oleh orangtuanya, adapula yang membawa mobil pribadi, dan ada
juga yang menggunakan angkutan umum.
Aku
sangatlah hafal dengan aktifitas anak-anak SMU ini, karena memang sudah
hampir sebulan ini aku bekerja sebagai tukang cat disekolah ini. Usiaku
memang sudah tidak muda lagi, saat ini aku berusia 48 tahun. Aku adalah
seorang duda, istriku sudah lama minggat meninggalkanku setelah
mengetahui aku tengah melakukan hubungan intim dengan keponakannya.
Reputasiku sebenarnya lebih banyak didunia hitam, dulu aku dikenal
sebagai seorang germo yang aku sambi dengan berdagang ganja. Namun
beberapa bulan yang lalu semua para wanita yang aku jajakan terkena
razia dan kemudian bisnis ganjaku hancur setelah kurir yang biasa
membawa ganja ditembak mati oleh aparat.
Cerita Sex | Kurenggut Perawan Siswi SMU 1
Di
sekolah ini aku tidaklah sendirian aku masuk bekerja dengan sahabatku
yang bernama Charles yang seorang residivis kambuhan. Usianya tidak
begitu jauh denganku yaitu 46 th, perawakannya tinggi besar rambutnya
panjang dan kumal. Kami berdua sengaja hidup berpindah-pindah tempat.
Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah ini, kami hanya mendapat order
untuk mengerjakan pengecatan kusen-kusen pintu-pintu kelas di sekolah
ini.
Kami
tidak dibayar mahal namun kami memiliki kebebasan untuk tinggal
dilingkungan sekolah ini. Maklumlah kami adalah perantau yang hidup
nomaden. Di antara gadis-gadis tadi, ada salah seorang yang paling
menonjol. Aku sangatlah hafal dengannya. Karena memang dia cantik,
lincah dan aktif dalam kegiatan sekolah, sehingga akupun sering melihat
dia mondar-mandir di sekolahan ini.
Adinda
Wulandari namanya. Postur tubuhnya mungil, wajahnya cantik dan
imut-imut, kulitnya putih bersih serta wangi selalu, rambutnya ikal
panjang sebahu dan selalu diikat model ekor kuda. Penampilannyapun modis
sekali, seragam sekolah yang dikenakannya selalu berukuran ketat, rok
seragam abu-abunya berpotongan sejengkal di atas lutut sehingga pahanya
yang putih mulus itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat
pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol, sampai-sampai garis celana
dalamnya pun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk pantatnya, tak
lupa kaos kaki putih selalu menutupi betisnya yang putih mulus itu.
Tidak
bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta kepadanya. Namun perasaan
cintaku kepada Adinda lebih didominasi oleh nafsu sex semata. Gairahku
memuncak apabila aku memandanginya atau berpapasan dengannya disaat aku
tengah bekerja di sekolah ini. Ingin aku segera meyetubuhinya. Banyak
sudah pelacur-pelacur kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati
gadis perawan muda yang cantik dan sexy seperti Adinda ini. Aku ingin
mendapatkan kepuasan itu bersama dengan Adinda.
Informasi
demi informasi kukumpulkan dari orang-orang disekolah itu, dari penjaga
sekolah, dari tukang parkir, dari karyawan sekoah. Dari merekalah aku
mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-orang itupun aku tahu bahwa
Adinda adalah seorang siswi yang duduk di kelas 2, umurnya baru 16
tahun. Beberapa saat yang lalu dia merayakan hari ulang tahunnya yang
ke-16 di kantin sekolah ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun
termasuk siswi yang berprestasi, aktif dalam kegiatan paduan suara dan
paskibra di sekolah ini. Dan yang informasi terakhir yang kudapat bahwa
dia ternyata adalah salah seorang finalis foto model yang
diselenggarakan oleh sebuah majalah khusus untuk remaja putri terkenal
di Negeri ini dan bulan depan dia akan mengikuti seleksi tahap akhir.
Kini
disaat sekolah telah sepi salah satu dari gadis-gadis anggota paduan
suara tadi itu tengah merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah gadis yang
terakhir kalinya masih tersisa di dalam sekolah ini, yang sedang asyik
bercanda ria dengan temannya melalui HP-nya, semetara yang lainnya telah
meninggalkan halaman sekolah. Beberapa menit yang lalu melalui sebuah
pergulatan yang tidak seimbang aku telah berhasil meringkusnya dengan
mudah, kedua tangannya kuikat dengan kencang kebelakang tubuhnya, dan
mulutnya kusumpal dengan kain gombal. Setelah itu kuseret tubuhnya ke
bangsal olahraga yang berada di bagian belakang bangunan sekolah ini.
Tidak
salah salah lagi gadis itu adalah Adinda, gadis cantik sang primadona
sekolah ini yang telah lama kuincar. Aku sangat hafal dengan
kebiasaannya yaitu menunggu jemputan supir orang tuanya di kala selesai
latihan sore dan sang supir selalu terlambat datang setengah jam dari
jam bubaran latihan. Sehingga dia paling akhir meninggalkan halaman
sekolah. Kini dia meringkuk dihadapanku, dengan tangisannya yang teredam
oleh kain gombal yang kusumpal di mulutnya.
Sepertinya
dia memohon-mohon sesuatu padaku tetapi apa peduliku, air matanya
nampak mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik itu. Sesekali
nampak dia meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan tali tambang yang
mengikat erat di kedua tangannya, namun sia-sia saja, aku telah mengikat
erat dengan berbagai simpul.
Posisinya
kini bersujud di hadapanku, tangisannya kian lama kian memilukan, aku
menyadari sepenuhnya bahwa dia kini tengah berada dalam rasa
keputusasaan dan ketakutan yang teramat sangat di dalam dirinya.
Kunyalakan sebatang rokok dan kunikmati isapan demi isapan rokok sambil
kutatap tajam dan kupandangi tubuh gadis cantik itu, indah nian
tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya sekal berisi.
Kunikmati
rintihan dan tangis gadis cantik yang tengah dilanda ketakutan itu,
bagai seseorang yang tengah menikmati alunan musik di dalam ruangan
sepi. Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan kesunyian bangsal
olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia meronta-ronta mencoba
melepaskan tali ikatan yang mengikat kedua tangannya itu.
Lama
kelamaan kulihat badannya mulai melemah, isak tangisnya tidak lagi
sekeras tadi dan sekarang dia sudah tidak lagi meronta-ronta mungkin
tenaganya telah habis setelah sekian lamanya menagis meraung-raung
dengan mulutnya yang telah tersumbat. Sepertinya di dalam hatinya dia
menyesali, kenapa Heru supirnya selalu terlambat menjemputnya, kenapa
tadi tidak menumpang Desy sahabat karibnya yang tadi mengajaknya pulang
bareng, kenapa tadi tidak langsung keluar dari lingkungan sekolah di
saat latihan usai, kenapa malah asyik melalui HP bercanda ria dengan
Fifi sahabatnya. Yah, semua terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat
ini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada dirinya.
"Beres Yon.., pintu pagar depan sudah gue tutup dan gembok", terdengar suara dari seseorang yang tengah memasuki bangsal.
Ternyata Charles dengan langkah agak gontai dia menutup pintu bangsal yang mulai gelap ini.
"OK.. Sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake aja..", ujarku kepada Charles sambil tersenyum.
Kebetulan
malam ini Pak Parijan sang penjaga sekolah beserta keluarganya yang
tinggal di dalam lingkungan sekolah ini yaitu sedang pulang kampung,
baru besok lusa mereka kembali ke sekolah ini. Mereka langsung
mempercayakan kepada kami untuk menjaga sekolah ini selama mereka pergi.
Maka
tinggallah kami berdua bersama dengan Adinda yang masih berada di dalam
sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami gembok
sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak ada aktifitas atau
orang lagi di dalam gedung ini. Pak Heru sang supir yang menjemput
Adinda pastilah berpikiran bahwa Adinda telah pulang, setelah melihat
keadaan sekolah itu.
Kupandang
lagi tubuh Adinda yang lunglai itu, badannya bergetar karena rasa
takutannya yang teramat sangat di dalam dirinya. Hujanpun mulai turun,
ruangan di dalam bangsal semakin gelap gulita angin dinginpun bertiup
masuk ke dalam bangsal itu, Charles menyalakan satu buah lampu TL yang
persis diatas kami, sehingga cukup menerangi bagian disekitar kami saja.
Kuhisap dalam-dalam rokokku dan setelah itu kumatikan. Mulailah kubuka
bajuku satu per satu, hingga akhirnya aku telanjang bulat. Batang
kemaluanku telah lama berereksi semenjak meringkus Adinda di teras
sekolah tadi.
"Gue dulu ya..", ujarku ke Charles.
"Ok boss..", balas Charles sambil kemudian berjalan meninggalkan aku keluar bangsal.
Kudekati
tubuh Adinda yang tergolek dilantai, kuraba-raba punggung gadis itu,
kurasakan detak jantungnya yang berdebar keras, kemudian tanganku turun
hingga bagian pantatnya yang sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan
lembut, kurasakan kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali
kutepok-tepok. Badan Adinda kembali kurasakan bergetar, tangisnya
kembali terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi
karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan aku tidak
memperdulikannya.
Dari
daerah pantat tanganku turun ke bawah ke daerah lututnya dan kemudian
menyelinap masuk ke dalam roknya serta naik ke atas ke bagian pahanya.
Kurasakan lembut dan mulus sekali paha Adinda ini, kuusap-usap terus
menuju keatas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih ditutupi oleh
celana dalam.
Karena
sudah tidak tahan lagi, kemudian aku posisikan tubuh Adinda kembali
bersujud, dengan kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih
terikat kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMU-nya sampai
sepinggang.
"Waw indah nian.. Gadis ini" gunamku sambil melototi paha dan pantat sekal gadis ini.
Kemudian
aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu, terlihatlah dua
gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih. Sementara Adinda
terus menangis kini aku memposisikan diriku berlutut menghadap ke pantat
gadis itu, kurentangkan kedua kakinya melebar sedikit. Dengan jari
tengahku, aku coba meraba-raba selangkangan gadis ini. Disaat jari
tengahku menempel pada bagian tubuhnya yang paling pribadi itu,
tiba-tiba tubuh gadis ini mengejang. Mungkin saat ini pertama kali
kemaluannya disentuh oleh tangan seorang lelaki.
Di
saat kudapatkan bibir kemaluannya kemudian dengan jariku itu, aku
korek-korek lobang kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan
kewanitaannya dari lobang kemaluannya itu. Tubuhnya seketika itu
menggeliat-geliat disaat kukorek-korek lobang kemaluannya, suara
desahan-desahanpun terdengar dari mulut Adinda, tidak lama kemudian
kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang dikeluarkan dari lobang
vaginanya.
Setelah
itu dengan segera kucabut jari tengahku dan kubimbing batang kemaluanku
denga tangan kiriku kearah bibir vagina Adinda. Pertama yang aku pakai
adalah gaya anjing, ini adalah gaya favoritku. Dan..
"Hmmpphh..", terdengar rintihan dari mulut Adinda disaat kulesakkan batang kemaluanku kebibir vaginanya.
Dengan
sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang kemaluanku masuk
kelobang kemaluannya. Rasanya sangat seret sekali, karena sempitnya
lobang kemaluan gadis perawan ini. Aku berusaha terus melesakkan batang
kemaluanku kelobang kemaluannya dengan dibantu oleh kedua tanganku yang
mencengkram erat pinggulnya.
Kulihat
badan Adinda mengejang, kepala mendongak keatas dan sesekali
menggeliat-geliat. Aku tahu saat ini dia tengah merasakan sakit dan
pedih yang tiada taranya. Keringat terus mengucur deras membasahi baju
seragam sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih terus tercium,
membuat segarnya aroma Adinda saat itu, rintihan-rintihan terdengar dari
mulutnya yang masih tersumpal itu.
Dan
akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan batang kemaluanku,
kini bobol sudah lobang kemaluan Adinda. Aku telah berhasil menanamkan
seluruh batang kemaluanku ke dalam lobang vaginanya. Kurasakan
kehangatan di sekujur batang kemaluanku, dinding vagina Adinda terasa
berdenyut-denyut seperti mengurut-urut batang kemaluanku.
Sejenak
kudiamkan batang kemaluanku tertanam di dalam lobang vaginanya,
kunikmati denyutan-demi denyutan dinding vagina Adinda yang mencengkram
erat batang kemaluanku. Selanjutnya kurasakan seperti ada cairan
mengucur mengalir membasahi batang kemaluanku dan kemudian meluber
keluar menetes-netes. Ah.. Ternyata itu darah, berarti aku telah
merenggut keperawanan dari gadis cantik ini.





0 comments:
Post a Comment