Wednesday, 13 February 2013
Memperkosa Pria
Namaku
adalah Jenny, aku adalah gadis lugu yang dikawinkan oleh orang tua pada
usia 20 tahun. Aku memiliki seorang kekasih yang cukup mapan, namanya
William, dia seorang perwira ABRI di kotaku yang berpangkat kapten.
Hubungan kami sangat dekat dan kami hampir menikah. Namun orang tuaku
tidak menyetujuinya, tetapi saya malah dikawinkan dengan kakak William
yang bernama Ricky. Alasan mereka cukup rumit, katanya Ricky sangat
mencintaiku dan mereka kurang menyukai William yang anggota ABRI. Mereka
lebih suka bila aku menikahi Ricky yang cuma seorang pegawai negeri.
Andai dulu aku menikahi William, mungkin semua ini tidak perlu terjadi.
Akhirnya
kami menikah,tanpa dikaruniai seorang anakpun karena Ricky terlalu
sibuk bekerja dari pagi sampai malam, kadang-kadang melembur. William
tidak marah karena aku dinikahi Ricky, mereka adalah kakak beradik yang
saling menyayangi sejak dari masa kecilnya. Pada suatu hari William
ditugaskan ke Jakarta oleh atasannya, menurutnya dia akan kembali
setelah 6 bulan. Tugas ini sebenarnya adalah jebakan yang dipasang oleh
suamiku sekarang Pak Simon.
Aku
bekerja pada sebuah taylor di kotaku, pemiliknya adalah Ny. Win. Pada
suatu hari aku dipanggil oleh Ny. Win ke rumahnya. Menurutnya ada
langganan penting yang meminta desain jas yang hanya aku yang dapat
melakukannya. Waktu aku datang ke rumahnya dia bersama Pak Simon. Ny.
Win memperkenalkan aku kepadanya dan kami bercakap-cakap. Tak beberapa
lama kemudian Ny. Win tanpa alasan yang jelas meninggalkan kami berdua.
Tak
lama Pak Simon mulai bertanya, "Dik Jenny, katanya dik Jenny ini
istrinya si Ricky yang buruk itu, kok bisa sih padahal dik Jenny begitu
cantik?".
Aku sudah merasakan
gelagat yang tidak enak dari semula aku datang ke rumah Ny. Win, tapi
aku cepat menguasai diri dan menjawab, "Iya pak memang sudah takdir".
Kemudian
Pak Simon dengan cepat menjawab, "Ah..., masa dik Jenny mau
menghancurkan hidup hanya untuk laki-laki yang seperti itu, Saya sudah
banyak dengar tentang kamu, kalau kamu bisa memenuhi keinginan saya,
hidup dik Jenny akan saya buat lain".
Selasai
berkata seperti itu Pak Simon tiba-tiba memeluk saya dan mencoba
menciumi saya. Tentu saja saya meronta-ronta sampai tak beberapa lama
dia berhasil memagut bibir saya dan menciuminya dengan ganas. Wibawa Pak
Simon dan ciuman-ciumannya yang ganas membuat saya terangsang dan mulai
mengikuti permainannya. Dia mulai meraba buah dada saya yang membuat
hati saya berdesir, kemudian dia berhenti dengan bibir saya dan mulai
membuka baju yang saya kenakan, diciuminya bagian tengah dada saya,
sambil melepas tali BH yang saya kenakan. Kemudian dia mulai menggigit
gigit buah dada saya yang cukup montok, walaupun saya berada dalam
keadaan tidur. Setelah itu dia menyibakkan semua barang yang ada di meja
kerja Ny. Win dan merebahkan saya di situ. Dia melanjutkan aksinya
dengan terus-menerus menciumi, meraba dan menggigit kedua buah dada
saya. Sebagai istri yang jarang menerima nafkah batin saya dengan cepat
menikmati permainan ini, apalagi Pak Simon juga bukan laki-laki yang
terlalu tua. Dia masih cukup muda sekitar 35 tahun dan memiliki badan
yang kekar karena dia juga seorang ketua klub karate di kotaku. Sambil
meremasi buah dadaku dia melepaskan rok yang kukenakan dan meraba-raba
pahaku, jantungku makin berdesir dan saya makin terangsang.
Kemudian
dia membuka celana dalamku dan mulai menciumi dan menjilati cairan yang
keluar dari sana. Aku semakin mendesah dan dengan reflek kuraba-raba
sendiri buah dadaku. Sensasi yang timbul saat itu benar-benar sangat
luar biasa. Tidak pernah kurasakan hal seperti ini dengan suamiku
sendiri. Setelah itu Simon membuka celananya dan mengeluarkan penisnya
yang sudah berdiri tegak dan dia mencoba memasukkannya ke dalam liang
vagina saya. Setengah sadar saya berteriak memohon padanya untuk jangan
melakukan itu karena saya akan merasa bedosa, karena saya berprinsip
untuk mempersembahkan seks saya hanya pada suami saya. Tapi Pak Simon
tidak menghiraukannya dan memasukkan penisnya dengan kasar. Aku
berteriak kesakitan, sementara dia hanya mengeluh keenakan dan
memuji-muji liang vagina saya dengan berkata' "Ohh..,nikmat Jen...,
sempit sekali..., ohh..., sempitt sekali!". Akhirnya saya kembali
tenggelam dalam kenikmatan, tiap tusukan penisnya itu kunikmati dengan
erangan-erangan nikmat yang keluar dari mulutku. Sesekali dia memberikan
ciuman yang dalam kepadaku, yang benar-benar kunikmati. Akhir dari
semua itu adalah ketika aku mencapai kepuasanku.
Dunia
serasa terbalik, aku menangisi nasibku ini, tapi Pak Simon hanya bisa
menghiburku dan berjanji akan membereskan semuanya. Kemudian saya secara
resmi menjadi istri simpanan Pak Simon. Tiap kali Pak Simon
menginginkan saya, dia akan menelepon saya dan mengajak saya kencan di
hotel di luar kota. Tiap kali saya diberinya imbalah dua juta rupiah.
Suatu hal yang saya syukuri dan sekaligus aku merasa jijik, karena aku
merasa seperti seorang pelacur. Perlu diketahui bahwa Pak Simon ini
adalah seorang yang amat berpengaruh, dia berteman dekat
dengan--------dan-------(kedua jabatan ini disamarkan oleh Yuri) di
kotaku. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, bagaikan seluruh
kota itu miliknya. Pada suatu hari ketika aku sedang bekerja di tempat
Ny. Win, suamiku Ricky tiba-tiba menerjang masuk dan memaki-maki diriku
dan Ny. Win, aku hanya bisa menangis dan menangis mendengar makiannya.
Tapi pada akhirnya dia hanya diam dan berkata bahwa dia akan membunuh
Pak Simon. Sungguh suatu hal yang tragis ketika keesokan harinya aku
mendapat kabar bahwa suamiku sudah mati, mayatnya diketemukan di tepi
sungai. Polisi mengatakan bahwa dia mati karena mabuk dan jatuh ke
sungai. Tapi aku tahu pasti apa yang menyebabkan dia mati, Pak Simon.
Pak
Simon tidak cukup puas dengan membunuh suamiku. Untuk menjaga adik ipar
saya William dari berbuat sesuatu yang mengancam dirinya, dia sudah
mengatur untuk memenjarakan William. Sungguh suatu hal yang tragis bagi
diriku dan dia, karena dalam hatiku aku masih mencintai William. Hal
yang membuat diriku semakin sakit adalah Pak Simon tidak pernah
membiarkan aku menemui William. Kata-kata terakhir yang kudengar dari
William adalah bahwa dia menyesal kakaknya menikahi pelacur seperti aku.
Setelah
masa 100 hari kematian suamiku, Pak Simon mengawiniku sebagai istrinya
yang ketiga, hal yang menurutnya adalah penebusan dari dosa-dosa yang
dia lakukan terhadapku. Sebenarnya aku sudah ingin bunuh diri saja,
tetapi Pak Simon mengancam jika aku mati, maka William juga mati. Hari
demi hari berlalu dan kulewatkan sebagai istri Pak Simon. Aku adalah
istri favoritnya, sehingga tidak jarang aku mendapat perlakuan buruk
dari istri istrinya yang lain. Yang paling parah adalah ketika kami
bertemu di sebuah pasar swalayan, dan istri pertamanya Ny. Elis menjadi
kalap dan menjambaki rambutku, sambil mengatai aku sebagai pelacur. Aku
tidak melawan, karena aku sudah kehilangan harga diri serta
kehormatanku.
Pak
Simon tidak mempunyai seorang anakpun, tetapi dia mempunyai seorang
pegawai yang cekatan yang amat dipercaya olehnya, bahkan kemudian
diangkatnya sebagai anak angkat bernama Zachary.
Pada
suatu hari aku menerima sebuah surat dari William, dari suratnya dia
mengatakan bahwa dia menyesal mengatai aku sebagai seorang pelacur. Dia
berkata bahwa aku tidak mungkin melakukan hal senista itu karena dia
memahami sekali sikap dan kepribadianku karena dia pernah menjadi
kekasihku. Tetapi yang membuatku khawatir adalah karena dia berencana
akan membalas perbuatan Pak Simon yang telah memenjarakan dia dan
menyengsarakanku karena Pak Simon adalah orang yang sangat berpengaruh.
Surat itu kemudian kusimpan baik-baik di sebuah kotak perhiasan, karena
aku menganggapnya sebagai surat yang mengembalikan harga diriku. Suatu
hari surat itu hilang dari kotak perhiasan, aku sangat panik dan
mencarinya di semua tempat tapi hasilnya nihil.
Pada
suatu hari aku berpapasan dengan Zachary yang baru saja memeriksa
meteran air dan listrik di rumahku. Pak Simon membuatkan aku rumah
sendiri sejak peristiwa yang memalukan dirinya terjadi, ketika Ny. Elis
memukuli diriku di depan umum. Zachary menyapaku dan menanyakan tentang
kabarku, seperti biasa aku hanya meladeni basa-basinya. Tapi kemudian
dia bertanya kenapa aku terlihat gelisah akhir-akhir ini. Kembali
kujawab saja sekenanya, namun kemudian dia kembali menanyakan bila aku
kehilangan sesuatu yang penting misalnya surat. Aku segera menangkap
maksudnya dan memintanya untuk mengembalikannya padaku. Dia berkata
bahwa dia tidak membawanya dan akan mengembalikannya nanti malam karena
dia harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu.
Malamnya
dia datang lagi ke rumah, dan dia membawa surat itu. Dengan segera aku
memintanya untuk mengembalikan surat itu. Tetapi dia menolak dan
menanyakan bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya. Akupun
menangkap maksudnya dan menanyakan berapa imbalan yang harus saya
berikan kepadanya. Tapi dia berkata dia menginginkan saya.
Kemudian
dia memelukku dan menciumiku, dan mengatakan betapa dia mengagumi saya
yang berbeda dari semua gadis yang pernah dikencani oleh ayah angkatnya
Pak Simon. Aku kemudian melepaskan diri darinya dan menempeleng dia,
segera kuusir dia sambil memaki siapa dia kira dirinya itu. Kemudian dia
menceritakan dendamnya pada Pak Simon, betapa ayahnya yang dulu sahabat
dekat Pak Simon dan juga seorang pengusaha sukses terkena kasus dan
harus lari ke luar negeri. Namun setelah itu Pak Simon mengambil alih
harta keluarganya, dan ayah Zachary merasa tertekan dan bunuh diri. Dia
kemudian memaki Pak Simon yang katanya mengangkat dirinya sebagai anak,
namun dia merasa lebih diperlakukan sebagai anjing oleh Pak Simon. Aku
hanya terdiam mendengar perkataannya. Namun tak lama kemudian nafsu
gelapnya pun timbul dan dia kembali memeluk diriku, dan aku
meronta-ronta teringat dulu betapa aku diperkosa oleh Pak Simon. Kumaki
Zachary bahwa semua dia binatang, tapi dia hanya tertawa dan berkata
"Memang semua laki-laki binatang, tapi Simon adalah binatang terbuas di
dunia, kalau surat ini saya berikan padanya, menurutmu apa tidak mungkin
nasib adik iparmu akan sama seperti suamimu". Perkataan Zachary membuat
saya terdiam kaku dan pasrah. Kemudian dia berkata bahwa aku adalah
tipe wanita yang membuat pria selalu ingin memperkosaku, tipe wanita
yang selalu disukai pria.
Setelah
itu dia menceritakan betapa dia telah memasang kamera tersembunyi di
kamar mandi dan kamar tidurku, betapa dia selalu mengintipku melalui
kamera tersebut dan merekam semua yang kulakukan selama ini. Aku hanya
diam berdiri dan pasrah sampai akhirnya dia mulai melucuti baju yang aku
kenakan, dan melepas tali BH-ku. Matanya mempelototi buah dadaku yang
menyembul dan seperti Pak Simon dia segera menciumi, menjilati dan
menggigitinya, sambil mengatakan betapa beruntungnya Pak Simon memiliki
diriku.
Kemudian
dia membopongku ke atas ranjang dan merebahkan aku di situ. Aku hanya
bisa diam dan pasrah, membiarkan dia menikmati semua bagian dari
tubuhku, sama sekali tidak kurasakan kenikmatan dari perbuatannya ini.
Yang kurasakan hanya sakit hati dan perasaan jijik. Aku terpaksa
membiarkan dia melumati setiap centi dari tubuhku dan hanya bisa
menangisi nasibku yang malang ini. Kemudian dia memasukkan penisnya
dengan ganas dan menyetubuhi tubuhku berkali kali dalam berbagai posisi.
Sebenarnya aku sangat cape', atas apa yang dia lakukan itu, aku
memintanya untuk menghentikan perbuatannya itu. Tapi dia tidak puas dia
menindihku dalam berbagai posisi dari dog style, dan yang membuatku
sangat menderita adalah posisi ketika dia berdiri dan berjalan jalan
sambil menyetubuhi diriku, di mana aku harus merangkul dirinya yang
binatang itu. Aku merasa lega ketika dia mulai kecapaian dan kemudian
meninggalkan aku, setelah itu aku hanya bisa diam sambil merenungi
nasibku yang malang ini. Aku tidak bisa berbuat apa apa, namun waktu
telah menyelesaikan segalanya. Di mana semakin lama aku semakin haus
akan seks dan kekayaan, aku mulai sadar bahwa aku bisa menggunakan
tubuhku untuk mencapai apa yang kuiinginkan.
Sekarang
ini aku bukan lagi gadis lugu yang hanya bisa diam diperkosa. Aku mulai
sadar bahwa aku harus membalas pada Pak Simon dengan memperkosanya
kembali. Seiring dengan makin tuanya usianya yang menginjak 40 tahun,
dia semakin lemah secara fisik, apalagi dalam hubungan seks,
keperkasaannya sudah mulai luntur, dan hal ini membuatku merasa menang.
Sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, biarlah
nasib menentukan semuanya.




0 comments:
Post a Comment