Saturday, 9 February 2013
Nikmatnya Tubuh Pacarku
Kisah
ini memang sangat dramatis dan sampai sekarang masih menyisakan
kenangan bagiku sehingga aku tidak bisa melupakannya. Gadis itu sebut
saja bernama Ayi Farida campuran Sunda dan Cina. Perkenalanku dengan Ayi
sebatas antara kakak kelas dan adik kelas. Dia angkatan 96 sebuah
perguruan tinggi swasta terkenal di Jogja, di jalan Kaliurang.
Waktu
itu, sekitar tahun 1997, saya mulai berkenalan dengan Ayi. Gadis ini
begitu mempesona. Mulailah saya melancarkan jurus-jurus untuk
mendapatkan dia. Kebetulan tempat kost-nya ada di seberang kost-ku
sekitar 100 meter. Saya mendengar kalau Ayi sebenarnya mahasiswa
panggilan malah sudah sejak SMA. Dia melakukan itu karena broken home.
Sampai akhirnya saya bisa berkenalan dengannya. Keluarganya pun
dikenalkannya. Seringkali kami pergi bersama dan berboncengan
mengendarai sepeda motor. Ketika naik sepeda motor sering tangannya
kupegang dan punggung saya gesekkan ke dadanya. Dia responnya besar
juga, memegang pahaku. Ini jalan menuju surga pikirku.
Suatu
hari, saya terserang flu berat. Dia datang ke kost-ku. Setelah masuk
kami ngobrol bareng dan pintu setengah tertutup. Selama ngobrol itu saya
melihat dadanya yang besar dan wajahnya tampak cantik peranakan
Sunda-Cina. Perlahan-lahan saya memegang tangannya. Dia juga merespon.
Dia mulai duduk dan langsung kupeluk. Dia tidak berontak. Ketika mulai
kurebahkan ke tempat tidur, dia tidak memberontak. Saya mulai memegang
dadanya yang tampak sudah tegang. Ukurannya BH-nya sekitar 34 dengan
merk triumph. Saya mainkan lidah dan tangan saya. Waktu tanganku
memegang liang kewanitaannya, tangannya menepis. Karena senjataku sudah
tidak kuat maka saya paksa. Dia terus memberontak.
"Mas apa-apaan kamu... jangan Mas."
Aku
tidak mempedulikan. Badanku yang besar membuat dia tidak berdaya. Aku
menarik lepas pakaiannya, dia memberontak. Akhirnya pakaiannya bisa
kulepas dengan perjuangan besar. Sambil kutindih, pakaianku kulepas satu
persatu. Dia masih memberontak. Karena sudah tidak kuat kumasukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya.
"Mas
jangan... Mas jangan.." Kupegang kedua buah tangannya dan kujepit
kakinya dengan kedua kakiku. Sambil tanganku sesekali menuntun batang
kemaluanku ke lubang kenikmatannya. Lubang surganya tampak merah dengan
bulu kemaluan yang kecil dan halus. Kupaksakan batang kemaluanku,
akhirnya masuk juga. Ternyata benar juga dia sudah tidak perawan lagi.
Kumasukkan dan kugoyang. "Mas jangan.. Mas.."
Lama-lama
pantatnya ikut bergoyang dan tangannya memegang sprei karena batang
kemaluanku besar sekali. "Ah Mas.. ah aduh sakit Mas.. pelan-pelan Mas..
aduh Mas aku mau orgasme..." Setiap kutekan masuk dia kesakitan dan
mengimbangi gerakanku dengan bergoyang. Sesekali lidahku menetek di buah
dadanya. Saat kami sedang asyik, tiba-tiba pintu kamarku dibuka oleh
temanku, Imam. Pada saat itu Ayi orgasme. Saya terkejut dan merangkul
Ayi sementara batang kemaluanku masih di dalam liang kewanitaannya.
"Eh pada ngapain kalian..."
"Mam, keluar sana.."
Imam
merasa tahu diri akhirnya pergi. Terpaksa saya mengulangi permainan
itu. Saya mulai menuruni ke bagian liang kewanitaannya. Saya jilati dan
sesekali tanganku kumasukkan ke dalam liang senggamanya. "Mas aduh Mas..
Mas sudah Mas.." Saya pegang klitorisnya dan dia mengerang. Dia orgasme
lagi dan saya jilat air maninya. Wangi sekali.
"Mas
aku keluuuar..." Tubuhnya mengejang memegangi rambutku. Dia tampak
lemas. Saya belum keluar juga. Saking penasaran saya tarik pantatnya ke
pinggir ranjang. Saya jilati lagi liang kenikmatannya. Saya masukkan
buah ketimun pemberiannya ke liang kewanitaannya. Dia terkejut dan
berusaha menahan. "Jangan mas, sakit Mas". Saya terus memasukkannya,
karena penasaran kumasukkan dengan paksa. Matanya tampak merem melek dan
tidak bisa bersuara lagi.
"Mas..
Mas.. Mas sakit Mas... keluarin Mas". Semakin dia berteriak, semakin
keras kumasukkan ketimun ke dalam liang kewanitaannya. Akhirnya ketimun
itu mentok ke dalam liang kewanitaannya. Tapi kupaksa terus memasukkan
ke dalam liang kewanitaannya. Akhirnya dia tidak kuat dan mengejang.
"Mas aku keluuar... udah Masss." Dalam keadaan lemas, dia kusuruh berada
di atas sementara saya di bawah.
"Mas berhenti sebentar, capek nihhh.." pintanya manja.
"Tidak, kita main terus mumpung ada waktu", balasku bernafsu.
Dengan
ogah-ogahan akhirnya dia mau. Pelan-pelan liang kewanitaannya kutusuk
dengan batang kemaluanku. Dia bergoyang dan saya mendorong turun naik
memainkan batang kemaluanku. "Uh Mas.. uh pelan Mas sakit nich.."
Setelah
sekian lama bermain saya tak kunjung keluar, sedangkan Ayi sudah
keluar, langsung kuputar tubuhnya kusuruh menungging dan kumasukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. "Ah Mas, sakit Mass...
Jangan diterusin", katanya dengan nada merengek-rengek. Dengan tenaga
ekstra dan cepat batang kemaluanku kusodok-sodokkan ke dalam liang
senggamanya. Tidak lama kemudian saya merasakan batang kemaluanku panas
dan keluar air maninya. "Mas aku mau keluar.. cepat Mas.. aku keluar
Masss.." Kami pun keluar bersamaan. Tubuhku lemas dan merangkul
tubuhnya. Kami berhenti sebentar.
Tidak
berapa lama kemudian dia membereskan pakaiannya. Dia memakai baju dan
rok panjangnya yang berwarna indah. Sebelum keluar kamar dia berpamitan
dan aku mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba pikiranku untuk
menyetubuhinya mulai memuncak lagi. Waktu Ayi mau keluar, kutarik lagi
tangannya. "Mas udah Mas..." Saya paksa dan kutarik pinggulnya. Sambil
terus menggerayanginya, saya bersihkan meja dari buku-buku. Saya
letakkan Ayi di atas meja sedangkan kakinya menjuntai ke lantai. Saya
singkap roknya dan saya tarik celana dalamnya. Setelah itu saya hujamkan
batang kemaluanku ke liang kewanitaannya. Saya masuk keluarkan. "Mass
udah Masss.. udah mass.. udah nggak kuat nih..." Suaranya sudah tak
terdengar lagi, saya konsentrasi memasukkan batang kemaluanku ke dalam
liang kewanitaannya. Akhirnya dia tidak kuat. "Mas keluar Masss..."
Tidak berapa lama saya keluar juga, "Ahhh..." Kumasukkan air maniku ke
dalam liang kewanitaannya. Dia seperti menangis, entah merasa kesakitan
atau kenikmatan, setelah itu dia pulang. Sangat disayangkan kalau
pengalaman itu hanya terjadi sekali karena Ayi sudah tidak mau bertemu
lagi denganku. Kabarnya dia sekarang berhubungan dengan temanku. Pesanku
kepada seseorang yang merasa memiliki cerita ini, saya merindukanmu dan
celana dalammu masih ada di tanganku.




0 comments:
Post a Comment