Sunday, 10 February 2013
Suster Pesta Sex
Suatu siang di jalan Dharma Wangsa ke arah campus Airlangga sedang
terjadi keributan, ngga’ jelas siapa lawan siapa… saat itu aku melintas
dengan BMW M50ku sendirian dan sedang asyik dengerin radio Suara
Surabaya… cuek saja saat melintasi perkelahian itu sambil sedikit
menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang dikeroyok 4 orang
lawannya… dia dikejar habis-habisan dan mencoba menerobos kerumunan
penonton untuk mencari selamat.
Terbelalak
mataku bengitu sadar siapa lelaki yang sedang dikerjar tersebut…
ternyata dia Kakak temanku… namanya Anton. Yang ngga’ jelas kenapa dia
ada di sana dan dikeroyok orang segala, tapi aku sudah tidak sempat
berpikir lebih jauh… segera saja aku pinggirkan kendaraanku dan aku
turun untuk membantunya.
Aku
tarik dua orang yang sedang memukulnya karena Anton sudah jatuh
terduduk dan dihajar berempat… sekarang Anton mengurus dua orang dan aku
dua orang… memang masih tidak seiimbang… dalam perkelahianku aku
berhasil menangkap satu dari lawanku dan aku jepit kepalanya dengan
lengan kiriku sedang lengan kananku aku gunakan untuk menghajarnya…
sementara aku berusaha menggunakan kakiku untuk melawna yang satunya
lagi… aku tak sempat lihat apa yang dilakukan Anton… waktu seakan sudah
tidak dapat dihitung lagi demikian cepatnya sampai hal terakhir yang
masih aku ingat adalah aku merasakan perih di pinggang kanan belakangku…
dan saat kutengok ternyata aku ditusuk dengan sebilah belati dari
belakang oleh entah siapa… sambil menahan sakit aku merenggangkan
jepitanku pada korbanku dan berusaha melakukan tendangan memutar…
sasaranku adalah lawan yang di depanku. Namun pada saat melakukan
tendangan memutar sambil melayang… tiba-tiba aku melihat ayunan stcik
soft ball ke arah kakiku yang terjulur… ngga’ ampun lagi aku jatuh
terjerembab dan gagal melancarkan tentangan mautku… sesampainya aku di
tanah dengan agak tertelungkup aku merasakan pukulan bertubi-tubi…
mungkin lebih dari 3 orang yang menghajarku. Terakir kali kuingat aku
merasakan beberapa kali tusukan sampai akhirnya aku sadar sudah berada
di rumah sakit.
Aku tidak jelas berada di rumah sakit
mana yang pasti berisik sekali dan ruangannya panas… dalam ruangan
tersebut ada beberapa ranjang… pada saat aku berusaha untuk melihat
bagian bawahku yang terluka aku masih merasakan nyeri pada bagian
perutku dan kaki kananku serasa gatal dan sedikit kebal ( mati rasa )…
aku coba untuk geser kakiku ternyata berat sekali dan kaku. Kemudian aku
paksakan untuk tidur…
Sore
itu aku dijenguk oleh Dian adik Anton… Dian ini teman kuliahku… dia
datang bersama dengan Mita adiknya yang di SMA… katanya habis jenguk
Anton dan Anton ada di ruang sebelah…
” Makasih ya Joss… kalo ngga’ ada kamu kali Anton sudah… ” katanya sambil menitikkan air mata…
” Sudahlah… semua ini sudah berlalu… tapi kalo boleh aku tau kenapa Anton sampe dikeroyok gitu ?” tanyaku penasaran. ”
Biasa
gawa-gara cewek… mereka goda cewek Airlangga dan cowoknya marah makanya
dikeroyok… emang sich bukan semua yang ngeroyok itu anak Airlangga
sebagian kebetulan musuh Anton dari SMA, sialnya Anton saja ketemu lagi
dan suasananya kaya’ gitu… jadi dech di dihajar rame-rame” jawab Mita.
“Kak Jossy yang luka apanya saja ?” tanya Mita.
“Tau
nih… rasanya ngga’ keruan ” jawabku… ” Lihat aja sendiri… soalnya aku
ngga’ bisa gerak banyak… kamu angkat selimutnya sekalian aku juga mo tau
” lanjutku pada Mita.
“Permisi ya Kak” kata Mita langsung sambil membuka selimutku ( hanya diangkat saja ).
Sesaat
dia pandangi luka-lukaku dan mungkin karena banyak luka sehingga dia
sampe bengong gitu… dan pas aku lihat pinggangku dibalut sampe pinggul
dan masih tembus oleh darah… di bawahnya lagi aku melihat…. ya ampun
pantes ni anak singkong bengong… meriamku tidak terbungkus apa-apa dan
yang seremnya kepalanya yang gede kelihatan menarik sekali… seperti
perkedel. Sesaat kemudian aku masih sempat melihat kaki kananku digips…
mungkin patah kena stick soft ball.
Mita
menutup kembali selimut tadi dan Dian tidak sempat melhat lukaku karena
dia sibuk nangis… hatinya memang lemah… sepertinya dia melankolis
sejati.
“Mita sini aku mo bilangin kamu ” kataku…
Mitapun menunduk mendekatkan telinganya ke mulutku.
“Jangan bilang sama Dian soal apa yang kamu lihat barusan… kamu suka ngga’ ?” kataku berbisik.
“Serem ” bisiknya bales.
” Dian… kamu jangan lihat lukaku… nanti kamu makin ngga’ kuat lagi nahan nangis… ” kataku.
” Tapi paling tidak aku mo tau… boleh aku raba ? ” tanyanya…
” Silahkan… pelan-pelan ya… masih belum kering lukanya. ” jawabku.
Dian
pun memasukkan tangannya ke balik selimut… dan mulai meraba dari dada…
ke perut… di situ dia merasakan ada balutan… digesernya ke kanan kiri…
terus ke bawahan dikit…
” Kok perbannya sampe gini… lukanya kaya’ apa ? ”
” Wah aku sendiri belum jelas… ” aku jawab pertanyaan Dian.
Turun
lagi tangannya ke pinggul kanan… kena kulitku… terus ke tengah… kena
meriamku… dia raba setengah menggenggam… untuk meyakinkan apa yang
tersentuh tangannya… tersentak dan dia menarik tangannya sedikit sambil
melepas pengangannya pada meriamku…
“Sorry… ngga’ tau…. ”
” Ngga’ apa-apa kok… malah enak kalo sekalian dipijitin… soalnya badanku sakit semua… ” kataku nakal.
“Nah…. Kak Dian pegang anunya Kak Joss ya ? ” goda Mita… Merah wajah Dian ditembak gitu.
Dian terus saja meraba sampe pada kaki kananku dan dia menemukan gips… ” Lho… kok digips ?”
” Iya patah tulangnya kali ” jawabku asal untuk menenangkan pikirannya…
Dian
selesai merabaiku… tapi tampak sekali dia masih kepikiran soal sentuhan
pada meriam tadi… dan sesekali matanya masih melirik ke sekitar
meriamku… sedang aku juga sedang menikmati dan membayangkan ulang
kejadian barusan… Flash back lah.
Tanpa
sadar tiba-tiba meriamku meradang dan mulai bangun sehingga tampak pada
selimut tipis kalo ada sesuatu perkembangan di sana.
“Kak
Joss… anunya bangun ” bisik Dian padaku sambil dia ambil selimut lain
untuk menutupnya… tapi tangannya berhenti dan diam di atasnya… ” “Supaya
Mita ngga’ ngelihat ” bisiknya lagi. Aku cuman bisa mengangguk… aku
sadar ujung penisku masih dapat menggapai telapaknya… aku coba
kejang-kejangkan penisku dan Dian seperti merasa dicolek-coleh
tangannya. “Mit… kamu pamit sama Mas Anton dech… kita bentar lagi pulang
dan biar mereka istirahat… ” kata Dian… dan Mitapun melangkah keluar
ruangan… ” “Kak Joss…. nakal sekali anunya ya ” bisik Dian… aku balas
dengan ciuman di pipinya.
“Dian… tolongin donk… diurut-urut itunya… biar lupa sakitnya… ” pintaku…
“Iya
dech… ” jawab Dian langsung mengurut meriamku… dari luar selimut… biar
ngga’ nyolok dengan pasien lain… walaupun antara ranjang ada
penyekatnya…
“Ian…
dari dalem aja langsung… biar cepetan…. ” pintaku karena merasa
tanggung dan waktunya mepet sekali dia mo pulang., Dian menuruti
permintaanku dengan memeriksa sekitar lebih dulu… terus tangannya
dimasukkan dalam selimutku langsung meremas meriamku… dielusnya batangku
dan sesekali bijinya… dikocoknya… lembut sekali… wah gila rasanya… lama
juga Dian memainkan meriamku… sampe aku ngga’ tahan lagi dan
crrooottt….. crot…. ccrrroooo..tttt…. beberapa kali keluar…
Tiba-tiba
Mita datang dan buru-buru Dian tarik tangannya dari balik selimut…
sedikt kena spermaku telapak tangan Dian… dia goserkan pada sisi ranjang
untuk mengelapnya…
”
Sudah Kak Joss… aku sama Mita mo pulang…. ” pamit Dian… ” Sudah keluar
khan… ” bisiknya pada telingaku… cup… pipiku diciumnya… ” Cepet
sembuhnya… besok aku tengok lagi ” Dia sengaja menciumku untuk
menyamarkan bisikannya yang terakhir.
“Eh… kalo bisa bilangin susternya aku minta pindah kelas satu donk… di sini gerah ” pintaku pada mereka.
Merekapun
keluar kamar dan melambaikan tangan… satu jam kemudian aku dipindahkan
ke tempat yang lebih bagus… ada ACnya dan ranjangnya ada dua. Tapi
ranjang sebelah kosong. Posisi kamarku agak jauh dari pos jaga suster
perawat… itu aku tau saat aku didorong dengan ranjang beroda.
“Habis gini mandi ya ” kata suster perawat sehabis mendorongku…
Tidak
lama kemudian dia sudah balik dengan ember dan lap handuk… dia taruh
ember itu di meja kecil samping ranjangku dan mulai menyingkap selimutku
serta melipatnya dekat kakiku. terbuka sudah seluruh tubuhku… pas dia
lihat sekita meriamku terkejut dia… ada dua hal yang mengagetkannya…
Yang
pertama adalah ukuran meriam serta kepalanya yang di luar normal… besar
sekali… Dan yang kedua ada hasil kerjaan Dian… spermaku masih
berantakan tanpa sempat dibersihkan… walaupun sebagian menempel di
selimut… tapi bekasnya yang mengering di badanku masih jelas terlihat.
“Kok… kayaknya habis orgasme ya ? ” tanyanya. Lalu tanpa tunggu aju jawab dia ambil wash lap dan sabun…
“Sus… jangan pake wash lap… geli… saya ngga’ biasa ” kataku.
Suster
itu mulai dengan tanganku… dibasuh dan disabunnya… usapannya lembut
sekali… sambil dimandiin aku pandangi wajahnya… dadanya… cukup gede kalo
aku lihat… orangnya agak putih… tangannya lembut. Selesai dengan yang
kiri sekarang ganti tangan kananku… dan seterusnya ke leher dan dadaku…
terus diusapnya… sapuan telapak tangannya lembut aku rasakan dan akupun
memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.
Sampe
juga akhirnya pada meriamku… dipegangnya dengan lembut…. ditambah
sabun… digosok batangnya… bijinya… kembali ke batangnya… dan aku ngga’
kuat untuk menahan supaya tetap lemas… akhirnya berdiri juga… pertama
setengah tiang lama-lama juga akhirnya penuh… keras…. dia bersihkan juga
sekitar kepala meriamku sambil berkata lirih
“Ini kepalanya besar sekali… baru kali ini saya lihat kaya’ gini besarnya”
“Sus… enak dimandiin gini… ” kataku memancing.
Dia diam saja tapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batangku… kaya’nya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan…
“Enak Mas… kalo diginikan ? ” tanyanya dengan lirikan nakal.
“Ssshh…
iya terusin ya Sus… sampe keluar… ” kataku sambil menahan rasa nikmat
yang ngga’ ketulungan… tangan kirinnya mengambil air dan membilas
meriamku… kemudian disekanya dengan tangan kanannya… kenapa kok diseka
pikirku… tapi aku diam saja… mengikuti apa yang mau dia lakukan…
pokoknya jangan berhenti sampe sini aja… pusing nanti…
Dia
dekatkan kepalanya… dan dijulurkan lidahnya… kepala meriamku dijilatnya
perlahan… dan lidahnya mengitari kepala meriamku… sejuta rasanya… wow…
enak sekali… lalu dikulumnya meriamku… aku lihat mulutnya sampe penuh
rasanya dan belum seluruhnya tenggelam dalam mulutnya yang mungil…
bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.
Lama
juga aku diisep suster jaga ini… sampe akhirnya aku ngga’ tahan lagi
dan crooott…. crooott… nikmat sekali. Spermaku tumpah dalam rongga
mulutnya dan ditelannya habis… sisa pada ujung meriamkupun dijilat serta
dihisapnya habis…
“Sudah
sekarang dilanjutkan mandinya ya… ” kata suster itu dan dia melanjutkan
memandikan kaki kiriku setelah sebelumnya mencuci bersih meriamku…
badanku dibaliknya… dan dimandikan pula sisi belakang badanku.
Selesai acara mandi….
“Nanti
malam saya ke sini lagi nanti saya temenin… ” katanya sambil
membereskan barang-barangnya. terakhir sebelum keluar kamar dia sempat
menciumku… pas di bibir… hangat sekali…
“Nanti malam saya kasih yang lebih hebat ” begitu katanya.
Akupun
berusaha untuk tidur… nikmat sekali sore ini dua kali keluar… dibantu
dua cewek yang berbeda… ini mungkin ganjaran dari menolong teman… gitu
hiburku dalam hati… sambil memikirkan apa yang akan kudapat malam nanti
akupun tertidur lelap sekali.
Tiba-tiba
aku dibangunkan oleh suster yang tadi lagi… tapi aku belum sempat
menyanyakan namanya… baru setelah dia mo keluar kamar selesai meletakkan
makananku dan membangunkanku… namanya Anna. Cara dia membangunkanku
cukup aneh… rasanya suster di manapun tidak akan melakukan dengan cara
ini… dia remas-remas meriamku… sambil digosoknya lembut sampe aku bangun
dari tidurku.
Langsung
aku selesaikan makanku dengan susah payah… akhirnya selesai juga… lalu
aku tekan bel… dan tak lama kemudian datang suster yang lain… aku minta
dia nyalakan TV di atas dan mengakat makananku.
Aku nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang ditayangkan… tanpa konsentrasi sedikitpun.
Sekitar
jam 9 malam suster Wiwik datang untuk mengobati lukaku dan mengganti
perban… pada saat dia melihat meriamkupun dia takjub…
“Ngga’ salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga ” demikian komentarnya.
“Kenapa Sus ? ” tanyaku ngga’ jelas.
“Oo… itu tadi teman-teman bilang kalo pasien yang dirawat di kamar 26 itu kepalanya besar sekali. ” jawabnya.
Setelah
selesai dengan mengobati lukaku dan dia akan tinggalkan ruangan…
sebelum membetulkan selimutku dia sempatkan mengelus kepala meriamku…
” Hmmm… gimana ya rasanya ? ” gumamnya tanya meminta jawaban.
Dan
akupun hanya senyum saja. Wah suster di sini gila semua ya pikirku…
soalnya aku baru kenal dua orang dan dua-duanya suka sama meriamku…
minimal tertarik… dan lagian ada promosi gratis di ruang jaga suster
kalo ada pasien dengan kepala meriam super besar… promosi yang
menguntungkan… semoga ada yang terjerat ingin mencoba… selama aku masih
dirawat di sini.
Jam
10an kira-kira aku mulai tertidur… aku mimpi indah sekali dalam
tidurku… karena sebelum tidur tadi otakku sempat berpikir jorok. Aku
merasakan hangat sekali pada bagian selangkanganku… tepatnya pada bagian
meriamku… sampe aku terbangun ternyata… suster Anna sedang menghisap
meriamku… kali ini entah jam berapa ? Dengan bermalas-malasan aku nikmat
terus hisapannya… dan aku mulai ikut aktif dengan meraba dadanya… suatu
lokasi yang aku anggap paling dekat dengan jangkauanku. Aku buka
kanding atasnya dua kancing… aku rogoh dadanya di balik BH putihnya… aku
dapati segumpal daging hangat yang kenyal… kuselusuri… sambil
meremas-remas kecil.. sampe juga pada putingnya… aku pilin putingnya…
dan Sus Annapun mendesah… entah berapa lama aku dihisap dan aku merabai
Sus Anna… sampe dia minta
“Mas… masih sakit ngga’ badannya ? ”
”
Kenapa Sus ? ” tanyaku bingung. “Enggak kok… sudah lumayan enakan… ”
dan tanpa menjawab diapun meloloskan CDnya… dimasukkan dalam saku baju
dinasnya. Lalu dia permisi padaku dan mulai mengangkangkan kakinya di
atas meriamku… dan bless… dia masukkan batangku pada lobangnya yang
hangat dan sudah basah sekali… diapun mulai menggoyang perlahan… pertama
dengan gerakan naik turun…lalu disusul dengan gerakan memutar… wah…
suster ini rupanya sudah prof banget… lobangnya aku rasakan masih sangat
sempit… makanya dia juga hanya berani gerak perlahan… mungkin juga
karena aku masih sakit… dan punya banyak luka baru. Lama sekali
permainan itu dan memang dia ngga’ ganti posisi… karena posisi yang
memungkinkan hanya satu posisi… aku tidur di bawah dan dia di atasku.
Sampe saat itu belum ada tanda-tanda aku akan keluar… tapi kalo tidak
salah dia sempat mengejang sekali tadi dipertengahan dan lemas sebentar
lalu mulai menggoyang lagi… sampe tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari
luar… dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba…
Kaget
sekali kami berdua… karena tidak ada alasan lain… jelas sekali kita
sedang main… mana posisinya… mana baju dinas Suster Anna terbuka sampe
perutnya dan BHnya juga sudah kelepas dan tergeletak di lantai. Ternyata
yang masuk suster Wiwik… dia langsung menghampiri dan bilang
“Teruskan saja An… aku cuman mau ikutan… mumpung sepi ”
Suster
Wiwikpun mengelus dadaku… dia ciumin aku dengan lembut… aku membalasnya
dengan meremas dadanya… dia diam saja… aku buka kancingnya… terus
langsung aku loloskan pakaian dinasnya… aku buka sekalian BHnya yang
berenda… tipis dan merangsang… membal sekali tampak pada saat BH itu
lepas dari badannya… dada itu berguncang dikit… kelihatan kalo masih
sangat kencang… tinggal CD minim yang digunakannya.
Suster
Anna masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar… aku lhat
saja dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar… lidah
suster Wiwik mulai memasuki rongga mulutku dan kuhisap ujung lidahnya
yang menjulur itu… tangan kiriku mulai merabai sekitar selangkangan
suster Wiwik dari luar… basah sudah CDnya… pelan aku kuak ke samping…
dan kudapat permukaan bulu halus menyelimuti liang kenikmatannya… kuelus
perlahan… baru kemudian sedikit kutekan… ketemu sudah aku pada
clitsnya… agak ke belakang aku rasakan makin menghangat.
Tersentuh
olehku kemudian liang nikmat tersebut… kuelus dua tiga kali sebelum
akhirnya aku masukkan jariku ke dalamnya. Kucoba memasukkan sedalam
mungkin jari telunjukku… kemudian disusul oleh jari tengahku… aku putar
jari-jariku di dalamnya… baru kukocok keluar masuk… sambil jempolku
memainkan clitsnya. Dia mendesar ringan… sementara suster Anna rebahan
karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan
dan kiri… suster Wiwik menyibak rambut panjang suster Anna dan mulai
menciumi punggung terbuka itu… suster Anna makin mengerang… mengerang….
dan mengerang…. sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan
orgasme… dan makin keras goyangan pinggulnya… sementara aku mencoba
mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya… karena dari
tadi aku tidak dapat terlalu bergoyang… takut lukaku sakit.
Suster
Anna mengerang…. panjang sekali seperti orang sedang kesakitan… tapi
juga mirip orang kepedasan… mendesis di antara erangannya… dia sudah
sampe… rupanya… dan… dia tahan dulu sementara… baru dicabutnya perlahan…
sekarang giliran suster Wiwik… dilapnya dulu… meriamku dikeringkan…
baru dia mulai menaikiku… batin… kurang ajar suster-suster ini aku
digilirnya… dan nanti aku juga mesti masih membayar biaya rawat… gila…
enak di dia… tapi….. enak juga dia aku kok… demikian pikiranku… ach…
masa bodo…. POKOKNYA PUAS !!! Demikian kata iklan.
Ketika
suster Wiwik telah menempati posisinya… kulihat suster Anna mengelap
liang kenikmatannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil di
sampingku. Suster Wiwik seakan menunggang kuda… dia goyang maju mundur…
perlahan tapi penuh kepastian… makin lama makin cepat iramanya…
sementara tanganku keduanya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung
indah… kenyal sekali rasanya… cukup besar ukurannya dan lebih besar dari
suster Anna punya… yang ini ngga’ kurang dari 36… kemungkinan cup C…
karena mantap dan tanganku seakan ngga’ cukup menggenggamnya.
Sesekali
kumainkan putingnya yang mulai mengeras… dia mendesis… hanya itu
jawaban yang keluar dari mulutnya… desisan itu sungguh manja kurasakan…
sementara suster Anna telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya…
kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang suster Wiwik dan
tuga memainkan rambutku… mengusapnya…
Kemudian
karena sudah cukup pemanasannya… dia mulai menaiki ranjang lagi…
dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepalaku… setengah
berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepalaku…
dan kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjangku. Mulai
disorongkannya liangnya yang telah kering ke mulutku… dengan cepat aku
julurkan lidahku…. aku colek sekali dulu dan aku tarik nafas…. hhhmmmm……
harus khas liang senggama…. kujilat liangnya dengan lidahku yang memang
terkenal panjang… kumainkan lidahku… mereka berdua mengerang
berbarengan kadang bersahutan…
Aku
ingin tau sekarang ini jam berapa ? Jangan sampe erangan mereka
mengganggu pasien lain… karena aku mendengarnya cukup keras… aku tengok
ke dinding… kosong ngga’ ada jam dinding… aku lihat keluar… kearah
pintu… mataku terbelalak… terkejut… shock… benar-benar kaget aku…
lamat-lamat aku perhatikan… di antara pintu aku melihat seberkas sinar
mengkilap… sambil terus menggoyang suster Wiwik… meninggalkan jilatan
pada suster Anna… aku konsentrasi sejenak pada apa yang ada di belakang
pintu… ternyata… pintupun terbuka… makin gila aku makin kaget… dan deg…
jantungku tersentak sesaat… lalu lega… tapi… yang dateng ini dua temen
suster yang sedang kupuaskan ini… kaya’nya kalo marah sich ngga’
bakalan.. mereka sepertinya telah cukup lama melihat adegan kami
bertiga… jadi maksud kedatangannya hanya dua kemungkinan… mo nonton dari
dekat atau ikutan… ternyata….
“Wah…
wah… wah… rajin sekali kalian bekerja… sampe malem gini masih sibuk
ngurus pasien… ” demikian kata salah seorang dari mereka…
“Mari
kami bantu ” demikian sahut yang lainnya yang berbadan kecil kurus dan
berdada super… Jelas ini jawabannya adalah pilihan kedua.
Merekapun
langsung melepas pakaian dinas masing-masing… satu mengambil posisi di
kanan ranjang dan satu ngambil posisi di kiri ranjang… secara hampir
bersamaan mereka menciumi dada… leher… telinga dan semua daerah
rangsanganku… akupun mulai lagi konsentrasi pada liang suster Anna…
sementara kedua tanganku ambil bagian masing-masing… sekarang semua
bagian tubuhku yang menonjol panjang telah habis digunakan untuk
memuaskann 4 suster gatel…… malam ini… tidak ada sisa rupanya…. terus
bagaimana kalo sampe ada satu lagi yang ikutan ?
Jari-jariku
baik dari tangan kanan maupun kiri telah amblas dalam liang hangat
suster-suster gatel tersebut… untuk menggaruknya kali… aku
kocok-kocokkan keluar masuk ya lidahku… ya jariku… ya meriamku… rusak
sudah konsentrasiku…
Ini
permainan Four Whell Drive ( 4 WD )atau bisa juga disebut Four Wheel
Steering ( 4 WS )… empat-empatnya jalan semua… kaya’nya kau makin piawai
dalam permainan 4DW / 4 WS ini karena ini kali dua aku mencoba
mempraktekkannya.
Lama sekali permainannya… sampe tiba-tiba suster Wiwik mengerang…. kesar dan panjang serta mengejang…
Setelah
suster Wiwik selesai… dan mencabut meriamku… suster Anna berbalik
posisi dengan posisi 69… kami saling menghisap dan permainan berlanjut…
sekali aku minta rotasi… yang di kananku untuk naik… yang di atas (
suster Anna ) aku minta ke kiri dan suster yang di kiri aku minta pindah
posisi kanan.
Tawaran ini tidak
disia-siakan oleh suster yang berkulit agak gelap dari semua temannya…
dia langsung menancapkan meriamku dengan gerakan yang menakjubkan… tanpa
dipegang…. diambilnya meriamku yang masih tegang dengan liangnya dan
langsung dimasukkan… amblas sudah meriamku dari pandangan. Diapun
langsung menggoyang keras… rupanya sudah ngga’ tahan…
Benar
juga sekitar 5 menit dia bergoyang sudah mengejang keras dan
mengerang…. mengerang…. panjang serta lemas. Sementara tingal dua korban
yang belum selesai… aku minta bantuan suster yang masih ada di sana
untuk membantu aku balik badan… tengkurap… kemudian aku suruh suster
yang pendek dan berdada besar tadi untuk masuk ke bawah tubuhku….
sedangkan suster Anna aku suruh duduk di samping bantal yang digunakan
suster kecil tadi. Perlahan aku mulai memasukkan meriam raksasaku pada
liang suster yang bertubuh kecil ini… sulit sekali… dan diapun membantu
dengan bimbingan test…. Setelah tertancap… tapi sayangnya tidak dapat
habis terbenam… rasanya mentok sekali… dengan bibir rahimnya… akupun
mulai menggoyang suster kecil dan menjilati suster Anna. Mereka berdua
kembali mendesah…. mengerang…. mendesah dan kadang mendesis… kaya’ ular.
Aku
sulit sekali sebenarnya untuk mengayun pinggulku maju mundur…. jadi
yang bisa aku lakukan cuman tetap menancapkan meriamku pada liang
kenikmatan suster mungil ini sambil memutar pinggulku seakan
meng-obok-obok liangnya… sedangkan dadanya yang aku bilang super itu
terasa sekali mengganjal dadaku yang bidang… kenikmatan tiada tara
sedang dinikmati si mungil di bawahku ini… dia mendesis tak keruan…
sedang lidahku tetap menghajar liang kenikmatan suster Anna… sesekali
aku jilatkan pada clitsnya… dia menggelinjang setiap kali lidahku
menyentuh clitsnya… mendengar desisan mereka berdua aku jadi ngga’
tahan… maka dengan nekat aku keraskan goyangan pinggulku dan hisapanku
pada suster Anna… dia mulai mengejang… mengerang dan kemudian disusul
dengan suster yang sedang kutindih…. suster Anna sudah lemas… dan
beranjak turun dari posisinya….
Aku
tekan lebih keras suster mungil ini…. sambil dadanya yang menggairahkan
ini aku remas-remas semauku… aku sudah merasakan hampir sampe juga…
sedang suster mungil masih mengerang…. terus dan terus… kaya’nya dia
dapat multi orgasme dan panjang sekali orgasme yang didapatnya…. aku
coba mengjar orgasmenya… dan…. dan…. berhasil juga akuhirnya… aku sodok
dan benamkan meriamku sekuat-kuatnya… sampe dia melotot… aku didekapnya
erat sekali… dan
“Adu…..uh enak sekali… ” demikian salah satu katanya yang dapat aku dengar.
Akupun
ambruk diatas dada besar yang menggemaskan itu… lunglai sudah tubuh ini
rasanya… menghabisi 4 suster sekaligus… suatu rekord yang gila…
permainan Four Wheel Drive kedua dalam hidupku… pada saat mencabutnyapun
aku terpaksa diantu suster yang lain…
“Kasihan pasien ini nanti sembuhnya jadi lama… soalnya ngga’ sempet istirahat” kata suster yang hitam.
“Iya dan kaya’nya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya’ malem ini ” sahut suster Wiwik.
“Kalo itu dibuat system arisan saja ” kata suster Anna sadis sekali kedengarannya. Emangnya aku meriam bergilir apa ?
Malam
itu aku tidur lelaap sekali dan aku sempat minta untuk suster mungil
menemaniku tidur, aku berjanji tiap malam mereka dapat giliran
menemaniku tidur… tapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Suster
mungil ini bernama Ratih dan malam itu kami tidur berdekapan mesra
sekali seperti pengantin baru dan sama-sama polos… sampe jam 4 pagi… dia
minta jatah tambahan… dan kamipun bermain one on one ( satu lawan satu,
ngga’ keroyokan kaya’ semalem ).
Hot
sekali dia pagi itu… karena kami lebih bebas… tapi yang kacau adalah
udahannya… aku merasa sakit karena lukaku berdarah lagi… jadi terpaksa
ketahuan dech sama yang lain kalo ada sesi tambahan… dan merekapun
rame-rame mengobati lukaku…. sambil masih pengen lihat meriam dasyat
yang meluluh lantakkan tubuh mereka semaleman.
Abis
gitu sekitar jam 5 aku kembali tidur sampe pagi jam 7.20 aku
dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh suster Dewi dan
sempat diisep sampe keluar dalam mulutnya… nah suster Dewi ini yang
kulitnya hitaman semalam. Nama mereka sering aku dapat setelah tubuh
mereka aku dapat.
Hari kedua
Pagi
jam 10 aku dibesuk oleh Dian dan Mita… mereka membawakan buah jeruk dan
apel… aslinya sich aku ngga demen makan buah… setengah jam kami ngobrol
bertiga. sampe suatu saat aku bilang pada Dian
“Aku
mo minta tolong Ian… kepalaku pusing… soalnya aku dari semaleman ngga’
dapet keluar… dan aku ngga’ bisa self service ” demikian kataku membuka
acara… dan akupun bercerita sedikit kebiasaanku pada Dian dengan bumbu
tentunya.
Aku
cerita kalo biasa setiap kali mandi pagi aku suka onani kalo semalemnya
ngga’ dapet cewek buat nemenin tidur… dan sorenya juga suka main lagi…
Dian bisa maklum karena aku dulu sempat samen leven dengan Nana temannya
yang hyper sex selama 8 bulan lebih… dia juga tahu kehidupanku tidak
pernah sepi cewek. Dengan dalih dia mo bantu aku karena hal ini dianggap
sebagai bales jasa menyelamatkan jiwa kakaknya… yang aku selamatkan
dari keroyokan kemarin… sampe akhirnya aku sendiri masuk rumah sakit.
Dia
minta Mita adiknya keluar dulu karena malu, tapi Mita tau apa yang akan
dilakukan Dian padaku… karena pembicaraan tadi di depan Mita.
Sekeluarnya Mita dari kamar… Dian langsung memasukkan tangannya dalam
selimutku dan mulailah dia meremas dan mengelus meriamku yang sedang
tidur… sampe bangun dan keras sekali… setelah dikocoknya dengan segala
macam cara masih belum keluar juga sedang waktu sudah menunjukkan pukul
10.45 berarti jam besuk tinggal 15 menit lagi maka aku minta Dian
menghisap meriamku. Mulanya dia malu… tapi dikerjakannya juga… demi
bales jasa kaya’ya… atau dia mulai suka ?
Akhirnya
keluar juga spermaku dan kali ini tidak diselimut lagi tapi dalam mulut
Dian dan ini pertama kali Dian meneguk spermaku… juga pertama kali
teman kuliahku ini ngisep punyaku… kaya’nya dia juga belum mahir betul…
itu ketahuan dari beberapa kali aku meringis kesakitan karena kena
giginya.
Spermaku ditelannya
habis… sesuai permintaanku dan aku bilang kalo sperma itu steril dan
baik buat kulit… benernya sich aku ngga’ tau jelas… asal ngomong aja dan
dia percaya… setelah menelan spermaku dia ambil air di gelas dan
meminumnya… belum biasa kali. Aku tengok ke jendela luar saat Dian ambil
minum tadi… ternyata aku melihat jendela depan yang menghadap taman
tidak tertutup rapat dan aku sempat lihat kalo Mita tadi ngintip
kakaknya ngisep aku…
Jam
11.05 mereka berdua pamit pulang… selanjutnya aku aku makan siang dan
tidur sampe bangun sekitar jam 3 siang. Dan aku minta suster jaga untuk
memindahkanku ke kursi roda… sebelum dipindahkan aku diobati dulu dan
diberi pakeaian seperti rok panjang terusan agak gombor. dengan kancing
banyak sekali di belakangnya.
Pada
saat mengenakan pakaian tersebut dikerjakan oleh dua suster shift pagi…
suster Atty dan suster Fatima, pada saat mereka berdua sempat melihat
meriamku… mereka saling berpandangan dan tersenyum terus melirik nakal
padaku… aku cuek saja… pada saat aku mo dipindahkan ke kurasi roda aku
diminta untuk memeluk suster Fatima… orangnya masih muda sekitar 23
tahunan kira-kira… rambutnya pendek… tubuhnya sekitar 159 Cm… dadanya
sekitar 34 B… pada saat memeluk aku sedikit kencangkan sambil pura-pura
ngga’ kuat berdiri… aku dekap dia dari pinggang ke pundak ( seperti
merengkuh ) dengan demikian aku telah menguncinya sehingga dia tidak
dapat mengambil jarak lagi dan dadanya pas sekali dipundakku… greeng…
meriamku setengah bangun dapat sentuhan tersebut.
“Agak tegak berdirinya Mas… berat soalnya badan Masnya ” kata suster Fatima.
Akupun
mengikut perintahnya dengan memindahkan tangan kananku seakan
merangkulnya dengan demikian aku makin mendekatkan wajahnya ke leherku
dan aku dorong sekalian kepalaku sehingga dia secara ngga’ sadar
bibirnya kena di leherku… sementara suster Atty membetulkan letak kursi
roda… aku lihat pinggulnya dari berlakang… wah… bagus juga ya…
Suster
Fatima bantu aku duduk di kursi roda dan suster Atty pegang kursi roda
dari belakang…pada saat mo duduk pas mukaku dekat sekali dengan dada
suster Fatima… aku sempetin aja desak dan gigit dengan bibir berlapis
gigi ke dada tersebut… karena beberapa terhenti aku dapat merasakan
gigitan itu sekitar 2 detikan dech… dia diam saja… dan saat aku sudah
duduk…. dan suster Atty keluar kamar…
“Awas ya… nakal sekali ” kata suster Fatima sambil mendelik. Aku tau dia ngga’ marah cuman pura-pura marah aja
“Satunya belum Sus,” kataku menggoda…
“Enak aja… geli tau ?” jawabnya sewot.
“Nanti
saya cubit baru tau ” lanjutnya sambil langsung mencubit meriamku… dan
terus dia ngeloyor keluar kamar dengan muka merah… karena meriamku saat
itu sudah full standing karena abis nge-gigit toket… jadi terangsang…
“Sus… tolong donk saya di dorong keluar kamar” kataku sebelum sempat
suster Fatima keluar jauh. Diapun kembali dan mendorongku ke teras
kamar… menghadap taman. Aku bengong di teras… sambil menghisap rokokku…
di pangkuanku ada novel tapi rasanya males mo baca novel itu… jadinya
aku bengong saja sore itu di teras sambil ngelamun aku mikirin rencana
lain untuk malam ini… mo pake gaya apa ya ?
Tiba-tiba
aku dikejutkan dengan telapak tangan yang menutup mataku… “Siapa ini ?
Kok tangannya halus… dingin dan kecil… Siapa ni ? ” kataku… Terus
dilepasnya tangan tersebut dan dia ke arah depanku… baru kutau dia Mita
adik Dian. Kok sendirian ?
“Mana Mita ?” tanyaku…
“Lagi ketempat dosennya mo ngurus skripsi” jawab Mita.
“Jadi ngga’ kesini donk ? ” tanyaku penasaran.
“Ya
ngga’ lah… ini saya bawain bubur buatan Mama” katanya sambil
mendorongku masuk kamar… dia letakkan bubur itu di atas meja kecil
samping ranjang.
Terus kami
ngobrol… sekitar 10 menit sampe aku bilang “Mit… ach ngga’ jadi dech… ”
kataku bingung gimana mo mulainya… maksudku mo jailin dia untuk
ngeluarin aku seperti yang dilakukan kakaknya tadi pagi… bukankah dia
juga udah ngintip… kali aja dia pengen kaya’ kakaknya… mumpung lagi
cuman berduaan…
“Kenapa Kak ?” aku tak menjawab hanya mengernyitkan dahi saja…
“Pusing ya ?” tanyanya lagi.
“Iya ni… penyakit biasa” kataku makin berani… kali bisa…
”
Kak… gimana ya ? Tadi khan udah ? ” katanya mulai ngerti maksudku… tapi
kaya’nya dia bingung dan malu… merah wajahnya tampak sekali.
“Mit…
sorry ya… kalo kamu ngga’ keberatan tolongin Kakak donk… ntar malem
Kakak ngga’ bisa tidur… kalo… ” kataku mengarah dan sengaja tidak
menyelesaikan kata-kataku supaya terkesan gimana gitu….
“Iya Mita tau Kak… dan kasihan sekali… tapi gimana Mita ngga’ bisa… Mita malu Kak… ”
“Ya udah kalo kamu keberatan… aku ngga’ mo maksa… lagian kamu masih kecil…”
“Kak…
Mita ciumin aja ya… supaya Kakak terhibur… jangan susah Kak… kalo Mita
sudah besar dan sudah bisa juga mau kok bantuin Kak Jossy kaya tadi pagi
” kata dia sambil mencium pipiku.
“Iya dech… sini Kak cium kamu ” kataku dan diapun pindah kehadapanku.
Dia
membungkuk sehingga ada kelihatan dadanya yang membusung… aduh…. gila…
usaha harus jalan terus ni… gimana caranya masa bodo… harus dapet… aku
udah pusing berat.
Dan Mitapun
memelukku sambil membungkuk… aku cium pipinya, dagunya… belakang
telinganya kadang aku gigit lembut telinganya… pokoknya semua daerah
rangsangan… aku coba merangsangnya… ciuman kami lama juga sampe nafasnya
terasa sekali di telingaku.
Tangaku mencoba meremas dadanya… diapun mundur… mo menghidar…
“Mit… gini dech… aku sentuh kamu saja… ngga’ ngapain kok… supaya aku lebih tenang nanti malem ”
“Maaf
Kak… tadi Mita kaget… Mita ngerti kok… Kak Joss gini juga gara-gara Mas
Anton ” jawabnya penuh pengertian… atau dia udah kepancing ?
Diapun
kembali… mendekat dan kuraih dadanya… aku remas…dan dia kembali
menciumku… dari tadi tidak ada ciuman bibir hanya pipi dan telinga…
saling berbalasan… sampe remasanku makin liar dan mencoba menyusup pada
bajunya… melalui celah kancing atasnya.
Tangan Mita mulai turun dari dadaku ke meriamku… dan meremasnya dari luar…
“Aduh… enak sekali Mit… terusin ya… sampe keluar… biar aku ngga’ pusing nanti ” kataku nafsu menyambut kemajuannya.
Lama
remasan kami berlangsung… sampe akhirnya Mita melorot dan berjongkok di
depanku dan menyingkap pakaianku… dia mulai mo mencium meriamku… dengan
mata redup penuh nafsu dia mulai mencium sayang pada meriamku.
” Masukin saja Mit… ” kataku.
Mitapun
memasukkan meriamku dalam mulut mungilnya… sulit sekali tampaknya… dan
penuh sekali kelihatan dari luar… dia mulai menghisap dan aku bilang
jangan sampe kena gigi…
Tak perlu
aku ceritakan proses isep-isepan itu… yang pasti saat aku ngga’ tahan
lagi… aku tekan palanya supaya tetap nancep… dan aku keluarkan dalam
mulut mungil Mita… terbelalak mata Mita kena semprot spermaku.
” Telen aja Mit… ngga’ papa kok ” kataku…
Diapun
menelan spermaku… lalu dicabutnya dari mulut mungil itu… sisa spermaku
yang meleleh di meriamku dan bibir mungilnya dilap pake tissue… dan dia
lari ke kamar mandi…. sedang aku merapikan kembali pakaianku yang
tersibak tadi.
Ada
orang datang… kelihatan dari balik kaca jendela… ” Sorry Joss… aku baru
bisa dateng sekarang… ngga’ dapet pesawat soalnya ” kata Bang Johnny
yang datang bersama dengan kak Wenda dan Winny…
“Iya ini juga langsung dari airport ” kata Kak Wenda.
“Kamu kenapa si… ceritanya gimana kok bisa sampe kaya’ gini ?” tanya Winny…
“Lha kalian tau aku di sini dari mana ?” tanyaku bingung.
“Tadi malem kami telpon ke rumah ngga’ ada yang jawab sampe tadi pagi kami telpon terus masih kosong” kata Kak Wenda.
“Aku
telpon ke rumahnya Donna yang di Kertajaya kamu ngga’ di sana… aku
telpon rumahnya yang di Grand Family juga kamu ngga’ ada, malah ketemu
sammy di sana” kata Winny.
“Sammy
bilang mo bantu cari kamu… terus siang tadi Donna telpon katanya dia
abis nelpon Dian dan katanya kamu dirawat di sini dan dia cerita panjang
sampe kamu masuk rumah sakit ” kata Winny lagi.
Mereka
tuh semua dari Jakarta karena ada saudara Kak Wenda yang menikah… dan
rencananya pulangnya kemarin sore… pantes Kak Wenda telpon aku kemarin
mungkin mo bilangin kalo pulangnya ditunda. Malah dapet berita kaya’
gini.
Mita keluar dari kamar mandi yang ada dalam kamarku itu kaget juga tau banyak orang ada di sana dan dia kaya’nya kikuk juga…
Setelah aku perkenalkan kalo ini Mita adiknya Dian dan kemudian Mita pamit mo jenguk kakaknya diruang lain.
Kamipun
ngobrol seperginya Mita dari hadapan kami. Winny memandangku dengan
sedih… mungkin kasihan tapi juga bisa dia cemburu sama Mita… ngapain ada
dalam kamar mandi dan sebelumnya cuman berduaan aja sama aku di sini.
Selanjutnya
tidak ada cerita menarik untuk diceritakan pada kalian semua… yang
pasti mereka ngobrol sampe jam 5.20 karena minta perpanjangan waktu dan
jam 5 tadi Mita datang lagi cuman pamit langsung pulang. Malamnya
seperti biasa… kejadiannya sama seperti hari pertama… mandi sore diisep
lagi… kali ini sustenya lain… dia suster Fatima yang sempet aku gigit
toketnya tadi siang. Dan malemnya aku main lagi… dan tidur dengan suster
Wiwik… suster Anna off hari itu… jadi waktu main cuman suster Wiwik,
suster Ratih dan suster Dewi…




0 comments:
Post a Comment