Sunday, 10 February 2013
Tante Anne
Cerita
ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di
salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan Canada-Chinese.
Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese Indonesia. Kata
teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak
begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada,
tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskan ke Medan, Indonesia. Jadi
aku juga ikut, dan bersekolah di sana. Mula-mula terasa asing juga kota
ini bagiku. Tapi lama kelamaan aku juga dapat terbiasa. Terus terang,
pemikiranku lebih condong kepada pemikiran-pemikiran Timur, mungkin
karena didikan Mama yang keras. Biarpun di negara-negara Barat sudah
biasa terjadi hubungan seks remaja, namun aku belum pernah melakukannya
dengan pacarku, well... at least pada saat itu.
Hari
kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumah Tante Anne.
Rumahnya ter nggak jumpa. Wajahnya masih saja sama seperti yang dulu,
seakan dia tidak bertambah tua sedikitpun. "Oh yah... tuh supirnya
disuruh pulang saja Chris... ntar kamu bawa saja mobil Tante kalau mau
pulang", aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya.
"Wah...
besar sekali rumahnya yah Tante", kataku sewaktu kami memasuki ruang
tamu. Aku dengar dari Mama sih, katanya suaminya Tante Anne ini anak
salah seorang konglomerat Jakarta, jadi nggak heran kalau rumahnya
semewah ini. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan keadaan
Mama, Papa dan kakek. Tante Anne juga sudah lama tidak bertemu dengan
Mama. Lumayan lama kami ngobrol, setelah itu dia mengajakku untuk makan
malam.
"Makan dulu yuk Chris...
tuh sudah disiapin makanannya sama si Ning", katanya menunjuk ke
pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan.
"Kita nggak nunggu Om Joe?" aku menanyakan suaminya.
"Oh... nggak usah, Om mu nggak pulang malam ini katanya",
"Oh...
ok deh", kataku sambil beranjak ke ruang makan. Rumah sebesar ini cuma
dihuni sendirian dengan pembantunya. Berani juga Tanteku ini.
"Kamu
berani pulang entar Chris? sudah malem loh ini", katanya sambil melirik
ke jam dinding yang sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit.
"Ah berani kok Tante..."
"Hmm... mending kamu tidur di sini saja deh malem ini... tuh ada kamar kosong di atas."
"Umm...
iyah deh... ntar aku telepon ke Kakek kalau gitu", dalam hati, aku
mengira bahwa Tanteku ini menyuruhku menginap karena dia takut sendirian
di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu
aku mengiyakan tawarannya.
Sehabis makan, aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memberitahu bahwa hari ini aku menginap di rumah Tante Anne.
"Oh iyah... kalau kamu mau mandi air panas, pakai saja kamar mandi Tante. Ntar kamu pakai saja bajunya Om Joe. Yuk sini!"
"He...
eh", aku mengangguk sambil mengikutinya. Kamar mandi yang dimaksud
terletak di dalam kamarnya. Kamarnya benar-benar mewah dan besar. Dengan
tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set,
dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan.
"Nih... coba... bisa pakai nggak kamu?" dia memberikan T-shirt dan celana pendek kepadaku.
"Bisa
kayaknya", aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi.
Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat Tante Anne.
Dia mengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur.
Kelihatan dengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH
di punggungnya. Terangsang juga aku melihat pemandangan seperti itu.
Kelihatannya ia tertidur saat menonton TV. TV-nya masih menyala. Aku
berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya. Melihat adegan panas yang
sedang berlangsung di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV. Kulihat
ke belakang, Tante Anne masih tidur. Aku berdiri menonton dulu, sekedar
iseng. 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu.
"Hey..."
saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba terdengar teguran halus Tante
Anne, diikuti oleh tawa tertahannya. Aku benar-benar malu sekali waktu
itu. Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu. Waktu aku
berbalik, kulihat Tante Anne sudah duduk tegak di atas tempat tidur.
Samar-samar terlihat puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis.
"Kirain Tante sudah tidur... hehe", kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar.
"Chris...
bisa tolong pijitin badan Tante? Pegel nih semua", terdengar suara
helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai. Saat aku berbalik
hendak menjawab, kulihat Tante Anne sudah kembali tidur tengkurap di
tempat tidur, tapi kali ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang masih
dikenakannya adalah celana dalamnya.
"Ya..."
hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Aku pun berjalan ke arah
Tante Anne. Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya.
"Engghh..." terdengar dia mengerang perlahan.
"Om Joe kapan pulangnya Tante?" kuatir juga aku ketahuan oleh suaminya.
"Emm...
mungkin minggu depan... nggak tau deh... kalau Om mu sih... jarang di
rumah. Mungkin seminggu pulang sekali", dalam hatiku merasa kasihan juga
kepada Tante Anne. Pantas saja dia merasa kesepian. "Fhhuuuhh..."
kembali terdengar helaan nafas panjang. "Kamu sudah punya pacar Chris?"
tanyanya memecah keheningan.
"Yah... di Medan."
"Hehehe...
cantik nggak Chris?" Tante Anne memang dari dulu senang bercanda.
Sangat berbeda dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, Tante
Anne adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab
pertanyaannya. "Turun dikit Chris!" aku pun menurunkan pijatanku dari
bahu ke punggungnya. "Kamu duduk saja di atas pantat Tante... supaya
bisa lebih kuat pijitannya."
Aku
yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di
atas pantatnya. "Unghh... berat kamu", mendengus tertahan dia waktu
kududuk di atasnya.
"Hehehe...
tapi katanya suruh duduk di sini", cuek saja aku melanjutkan pijatanku.
Penisku sudah terasa menegang sekali, sesekali kutekan kuat-kuat penisku
ke pantat Tante Anne. Walaupun aku masih memakai celana lengkap, namun
sudah terasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya.
"Iiihh... nakal ya... bilangin Mama kamu lho", katanya sewaktu merasakan penisku menekan-nekan pantatnya.
"Sudah belom Tante? sudah cape nih", kataku setelah beberapa menit memijat punggungnya.
"Iyah...
kamu berdiri dulu deh... Tante mau balik", aku berdiri, dan Tante Anne
sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik
dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak di
hadapanku. Puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu
menantang. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya.
"Hey... pijit bagian depan dong sekarang", katanya.
Aku
duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya. Lalu
kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku. "Ihh... geli...
hihihihi..." dia cekikikan. Aku benar-benar sudah tidak bisa
mengendalikan nafsuku lagi.
Sekarang
ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan Tante Anne,
memberinya kepuasan yang selama ini jarang ia dapatkan dari suaminya.
Rasa kasihan akan Tante Anne yang telah lama merindukan kehangatan
laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang sudah menggelora. Aku
menarik celana dalamnya dengan agak kasar. Kulihat dia hanya diam saja
sambil memejamkan matanya pasrah. Kuakui inilah pertama kalinya aku
melihat wanita telanjang secara nyata. Tapi agaknya aku tidak begitu
canggung, sepertinya aku melakukan semuanya dengan begitu alamiah. Tante
Anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas.
Kulihat dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur
dengan rapi membentuk segitiga di sekitarnya. "Sudah sering beginian yah
kamu Chris?" tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap.
"Ehh...
nggak kok... baru sekali Tante", nafasku sudah memburu, kata-kata pun
sudah sulit kuucapkan dengan tenang. Kulihat nafas Tante Anne juga sudah
mulai memburu, berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan
diri. "Jilatin dong Chris!" katanya memelas. Mulanya aku ragu-ragu juga,
tapi kudekatkan juga kepalaku ke vaginanya. Tidak ada bau tidak enak
sama sekali, Tante Anne rajin menjaga kebersihan vaginanya aku kira.
Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar. Beberapa menit
aku bermain-main dengan vaginanya. Tante Anne hanya bisa mengerang dan
menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat ia meremas sendiri buah
dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Aku berdiri
sebentar, melepaskan semua pakaianku. Bengong dia melihat penisku yang
18 cm itu. Aku cuma tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati
vaginanya. Beberapa saat kemudian ia meronta dengan kuat.
"aahh...
ohh God... aargghh..." bagaikan gila, dia menjepit kepalaku dengan
pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke
vaginanya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.
"Lagi...
arghh... clitorisnya Chriss... ssshh... yah... yah... lagi...
oooohh..." semakin menggila lagi dia ketika aku mengulum clitorisnya,
dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut. Aku memasukkan lidahku
sedalam-dalamnya ke dalam lubang vaginanya. Bau cairan kewanitaan
semakin keras tercium. vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia
menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di
vaginanya dengan cepat dan kasar. Lalu ia menegang, dan tenang. Saat itu
juga aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari
vaginanya. Aku jilati semuanya.
"Ohh...
God... bener-benar hebat kamu Chris... lemas Tante... aahh... nggak
kuat lagi deh untuk berdiri... shitt... sudah lama nggak begini", dia
terbujur lemas setelah 1/2 jam yang melelahkan itu. Aku cuma tersenyum.
Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya
selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang
terbuka lebar. Nampaknya ia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi
dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu ia
sadar penisku sudah menempel di bibir vaginanya.
"Ohh..."
ia cuma bisa menjerit tertahan. Lalu ia pura-pura meronta tidak mau.
Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam
vaginanya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan
mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin
bisa masuk pikirku. Tiba-tiba kurasakan tangan Tante Anne memegang
penisku dan membimbing penisku ke vaginanya.
"Tekan
di sini Chris... pelan-pelan yah... punya kamu gede banget sih", pelan
ia membantuku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Belum sampai
seperempat bagian yang masuk ia sudah menjerit kesakitan.
"Aahh...
sakitt... oooh... pelan-pelan Chris... aduuh...." tangan kirinya masih
menggenggam penisku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras.
Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul
tempat tidur. Aku merasakan penisku diurut-urut di dalam vaginanya. Aku
berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan Tante Anne
membuat penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik
tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian
kudorong penisku masuk sedikit lagi. "Aduhh... sakkkitt... ooohh...
ssshh... lagi... lebih dalam Chriss... aahh", kembali Tante Anne
mengerang dan meronta. Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa,
tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu
kudorong sekuatnya penisku ke dalam. Kembali Tante Anne menjerit dan
meronta dengan buas. Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang.
"Goyang dong Chris", dia sudah bisa tersenyum sekarang. Aku menggoyang
penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante Anne terus membimbingku
dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami
bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil
memejamkan mata.
Tiba-tiba
kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat. Tubuh Tante
Anne mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya
meremas-remas payudaranya sendiri.
"Ohh...
ooohh... Tante sudah mau keluar nih... sshh... aahh", goyangan
pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan. "Kamu masih lama nggak Chris?
Kita keluar bareng saja yuk.... aahh", tak menjawab, aku mempercepat
goyanganku. "Aahh... shitt... Tante keluar Chrisss... ooohh... gile",
dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi
pahaku. Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku
bakal keluar tidak lama lagi.
"Aahh... sshh..." kusemprotkan saja cairanku ke dalam vaginanya. Lalu kucabut penisku, dan terduduk di lantai.
"Kamu hebat... sudah lama Tante nggak pernah klimaks."
"aah... capek Tante."
"Mandi
lagi yuk... lengket-lengket nih jadinya", ia berjalan ke kamar mandi
dan aku mengikutinya. Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman
shower. Setelah mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman,
sambil ngobrol macem-macem. VCD porno yang tadi sudah habis rupanya.
Tante Anne menggantinya dengan VCD yang lain.
"Eh...
yang ini bagus loh Chris", lalu ia menghidupkannya. Filmnya tentang
seorang gadis yang diperkosa, sedikit sadis menurutku, tapi sangat
merangsang sekali. "Tante sudah lama kepengen coba yang seperti itu
Chris... kalau Om mu sih... nggak ada seninya... taunya cuman goyang,
nembak, tidur... susah juga hahaha... kamu mau coba nggak?" dia
tersenyum melihatku.
"Hehehe... terserah..."
"Ok!"
lalu ia berjalan ke lemarinya. Sewaktu ia membukanya, aku terkejut juga
melihat begitu banyak Sex Stuff seperti vibrator, tali, handcuff, dan
banyak lagi.
"Wah... banyak amat peralatannya Tante", kataku bercanda.
"He
eh... yah beginilah... soalnya Om kamu jarang pulang sih. Tante kan
butuh seks juga. Yah... terpaksa harus bermain dengan fantasi sendiri."
"Hehehe", aku cuma tertawa kecil. Kulihat ia mengambil tali dari lemari.
"Nih...
kerjain Tante seperti yang di film itu dong Chris!" ia melemparkan tali
itu kepadaku dan berjalan ke arah tempat tidur. Tempat tidur itu
bergaya Eropa pertengahan, mempunyai pagar rendah berjeruji di sisi atas
dan bawah. Ia memegang pagar berjeruji itu. Aku mengikat tangannya di
jeruji itu, ia sekarang membungkuk membelakangiku dengan tangan terikat.
Aku berjongkok dan mulai menjilati vaginanya untuk pemanasan.
"Sssh...
oouhh..." kembali kudengar erangannya. Setelah beberapa saat vaginanya
mulai basah. "Pakai vibrator Chris!" aku berjalan ke lemari dan
mengambil vibrator yang berbentuk seperti penis manusia itu. Hati-hati
kumasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya, lalu kugeser switch ke
posisi "low". Terdengar vibrator itu mulai berdengung halus.
"Ouuh... aahh..." kelihatannya Tante Anne sangat menikmati permainan.
Tempo
permainan sangat lambat kali ini. Ia menggelinjang sedikit mengiringi
dengungan halus vibrator. Sambil sebelah tanganku memegangi vibrator
supaya tidak lepas dari vaginanya, aku memberinya tepukan di paha,
memberinya tanda agar ia membuka pahanya selebar-lebarnya. "Jilat anus
Tante Chris!" kembali ia memberi komando. Aku mulai menjilati pahanya
yang putih dan jenjang, perlahan berpindah ke anus. Bosan menjilati
anusnya, aku berdiri, memeluknya dari belakang, dan meremas payudaranya
dengan sebelah tanganku yang masih bebas. Beberapa saat kemudian ia
orgasme. Lalu ia menyuruhku memasukkan penisku ke dalam lubang anusnya.
Aku sempat terkejut mendengarnya. Menurutku pasti akan sakit sekali
penisku dijepit oleh lubang anusnya. Tetapi Tante Anne terus-terusan
meminta dengan suara yang memelas.
"Tante sudah pernah nyoba?" tanyaku ragu-ragu.
"Pernah... pakai vibrator... cobain saja deh... lebih sempit loh di sini... Tante kepingin nyoba dimasukin 2 lubang sekaligus."
"Ok!"
aku kembali membungkuk, kujilat bagian sekitar anusnya untuk
melicinkannya. Kulihat Tante Anne merintih-rintih ketika vibrator
kugoyang agak cepat, tetapi ia tidak bisa banyak meronta karena
tangannya masih terikat kuat ke jeruji tempat tidur. Setelah merasa
jalan masuk cukup licin aku pun mengambil ancang-ancang,
kugesek-gesekkan dulu kepala penisku di sekitar anusnya.
"Yahh..
langsung saja Chriss", Tante Anne yang sudah tidak sabar,
memundur-mundurkan pantatnya agar penisku bisa segera masuk ke dalam
lubang anusnya. Kutarik vibrator yang masih saja berdengung itu dari
belakang, supaya pantat Tante Anne makin menempel ke kepala penisku.
Akibatnya vibrator itu melesak makin dalam ke vaginanya Tante Anne.
"Aahh... ooohh... sshh..." semakin menggila saja dia. Pelan kudorong kepala penisku ke dalam lubang anusnya.
Kepala penisku terasa sedikit pedih, aku menghentikan dorongannya sejenak. "Oooohh... yahh... terussss... deeper Chriss...."
"Sssshh...
oooohh..." aku hanya bisa mendesis menahan pedih yang bercampur nikmat
ketika penisku masuk kira-kira setengah bagian ke dalam lubang anusnya.
Menurutku masuk melalui lubang anus tidak begitu nikmat, karena tidak
ada cairan yang melicinkannya. Tapi kulihat Tante Anne bagaikan sedang
terbang sekarang. Nikmat sekali katanya. Kukira itu karena dua lubangnya
sedang terisi. Tante Anne terus saja menggoyang-goyang pinggulnya
kebelakang supaya penisku dapat masuk lebih dalam ke dalam lubang
anusnya. Aku tidak dapat menahan lagi goyangannya, kubenamkan sekuat
tanaga penisku ke dalam anusnya. Rasanya seperti penisku sedang di
massage dengan kuat di dalam. Tanpa sadar, karena menahan nikmat
tanganku menggoyang-goyangkan vibrator itu dengan kencang. Tempo
permainan berubah menjadi liar sekarang. Tangan Tante Anne mencengkeram
jeruji tampat tidur dan menggoyangnya karena nikmat yang tak terkira.
Aku mencoba menggoyang penisku di dalam anusnya. Memang sedikit pedih
karena kurangnya cairan pelicin di dalam anusnya, tapi aku tidak peduli
lagi. Sesekali kugunakan tangan kiriku untuk meremas payudaranya yang
tergantung-gantung itu. Beberapa saat kemudian aku merasa mau orgasme.
"Aahh... oouuhh... Tante sudah mau keluar belum?" tanyaku dengan nafas memburu.
"Engggh... sssssh... iyah..."
Kurasakan
Tante Anne semakin menggila menggoyang pinggulnya. Kemudian dia
tubuhnya menegang, kemudian terkulai lemas. Aku pun merasa maniku sudah
di ujung-ujungnya. Kupercepat goyangan, kuremas payudaranya dengan
kasar, dan kukocok vibratornya lebih cepat lagi. Kulihat Tante Anne
menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tangannya terikat
dengan kuat.
"Arrrgghh...
ooohh..." seiring dengan eranganku, kusemprotkan maniku ke dalam
anusnya. Kali ini kurasakan maniku keluar banyak sekali. Lalu kucabut
penisku dari dalam anusnya, dan kucabut vibrator dari vaginanya. Sekilas
kulihat vagina dan anusnya merah sekali dan sedikit membengkak. Kubuka
ikatan tangannya dan dia memeluk serta menciumiku. Lalu kami berdua
tertidur di lantai.
Pengalaman
ini tak akan pernah kulupakan. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih
melakukannya. Tante Anne benar-benar seorang seks maniak yang tak bisa
puas, setiap kali berhubungan selalu ada saja cara-cara baru yang ia
ajarkan. Kukira ini juga mempengaruhi tingkah laku seksualku. Sampai
sekarang aku senang melakukan hubungan seks dengan fantasi tinggi,
seperti menggunakan tali, cambuk, handcuff, dan sebagainya. Aku menjadi
senang menyiksa lawan mainku. Sepertinya puncak kenikmatanku sulit
tercapai kalau aku tidak melakukannya.




0 comments:
Post a Comment