Kini
aku tahu bahwa masalah yang dihadapi suamiku selama ini adalah beban
psikologis. Fantasi seksualnya telah membebani pikiran suamiku
sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi kualitas hubungan seksual kami
sebagai suami-istri. Memang aku merasakan akhir-akhir ini suamiku
sering menjadi gelisah sendiri dan tidak tahu apa yang harus diperbuat
dan merasa sangat letih sekali baik fisik maupun mental. Hal tersebut
berpengaruh juga terhadap kualitas hubungan seks kami. Aku merasakan
gairah suamiku menjadi agak menurun. Suamiku sering mengalami prematur
ejakulasi dan telah mencapai puncak ejakulasi hanya dalam beberapa detik
saja begitu dia melakukan penetrasi, bahkan kadang-kadang telah orgasme
sebelum sempat melakukan persetubuhan sama sekali. Oleh karena itu
suamiku mulai rajin mengkonsumsi vitamin dan makanan yang dapat
meningkatkan potensi laki-laki, akan tetapi sejauh itu hal tersebut sama
sekali tidak membantu.
Di
lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus
terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan
suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi
yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami
melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara
sempurna. Hal ini dimaklumi oleh suamiku karena dia tahu bagaimana
kualitas hubungan suami-istri kami belakangan ini. Oleh karena itu
suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu
mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan
kepuasan dalam hubungan suami istri. Pada mulanya aku memakai alat itu
sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama
kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian
di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan
semakin meluap-luap.
Rupanya
fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi
saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi
suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau
membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau
tidak mau membicarakan hal tersebut, tidak jarang akhirnya kami terlibat
dalam suatu pertengkaran yang hebat. Malahan bukan itu saja. Gairah
seks-nya pun semakin bertambah turun. Hal ini lama-kelamaan membuatku
menjadi agak khawatir juga, aku takut suamiku akan menderita impotensi.
Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun konsekuensi yang
aku khawatirkan akan terjadi. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji
akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada
suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.
"Aku
telah mengundang Syamsul untuk makan malam di sini malam ini", kata
suamiku di suatu hari sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata
suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk
mewujudkan niatnya bersama dia, karena Syamsul adalah salah seorang yang
sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya
cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya dan kebetulan
saat itu semua anak-anak sedang libur bersama kawan-kawannya ke luar
kota sehingga tinggal aku dan suamiku saja yang berada di rumah.
Memang
selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku
sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan
hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Syamsul. Akan tetapi
sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku
tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik
untuk itu. Syamsul adalah salah seorang kawan dekatnya dan aku pun kenal
baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan
Syamsul tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis
dari tubuh suamiku.
Aku
berpikir tidak ada lagi gunanya aku berargumentasi dengan suamiku.
Kehendaknya agar aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain
sedemikian kuat. Hal itu sebenarnya membuatku agak tersinggung juga.
Karena hal ini hanya biasa dilakukan oleh seorang wanita penghibur atau
dengan kata lain seorang pelacur dan suamiku menghendaki aku
melakukan hal seperti itu walaupun dengan alasan lain. Namun mengingat
kehendak suamiku itu merupakan suatu akibat dari gejala psikologi, maka
aku kesampingkan masakah harga diri itu. Aku hanya berpikir bagaimana
aku dapat membantu suamiku mengatasi masalahnya. Selain itu aku pun
mengharap bahwa dengan aku penuhinya fantasi seksualnya itu malam ini,
maka suamiku tidak akan lagi mempunyai fantasi semacam itu karena secara
psikologis keinginannya telah tercapai.
Ketika
Syamsul datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak
seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari
cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak
ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat
dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit
daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya
aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk
tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan
seimbang, tidak dipenuhi oleh lemak sebagaimana ibu-ibu rumah tangga
lainnya yang seumurku. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih
sangat kenyal dan padat berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan
agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal.
Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat
keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat
sempurna.
Melihat
penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul
naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu
aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian
terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini
memang menggiurkan selera kaum pria.
Setelah
makan malam suamiku dan Syamsul duduk mengobrol di taman belakang
rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang
dicampur dengan arak ginseng dari Cina. Tidak berapa lama aku pun ikut
duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami
bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang
telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika
hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba
suamiku berbisik kepadaku.
"Aku
telah bicara dengan Syamsul mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam
ini dia akan menginap di sini!. Tapi walaupun demikian kau tidak perlu
memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang
suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu
sepenuhnya kepadamu!" bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan
suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau
menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar
nekat menantang kemauan suamiku itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya
nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia
nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain?
Atau setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia
telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Apalagi bila dalam
rahimku nanti akan tersebar benih laki-laki lain selain dari benih
suamiku sendiri.
Tidak
berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur.
Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH
sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika
aku keluar kamar, baik suamiku maupun Syamsul agak terhenyak untuk
beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali
dan suamiku langsung berkata kepadaku.
"Syamsul
baru saja cerita bahwa dia telah mempelajari pijat refleksi Siatzu. Aku
rasa kau harus coba! Apa benar dia bisa! Kau mau kan...?" tanya suamiku
kepadaku.
"Boleh saja...!"
jawabku sambil agak merapatkan leher baju tidurku sehingga siluet puting
susuku kini tercetak dengan lebih jelas.
"Ah
sebenarnya aku tidak terlalu mahir...!" kata Syamsul, "Tapi bila mau
dicoba boleh saja. Nanti setelah pijat Siatzu, saya juga akan memberikan
pijatan dengan tehnik kucing mandi", katanya lagi.
"Oo ya... tehnik apa itu?" aku bertanya agak heran.
"Susah diterangkan sekarang, nanti saja deh kalau pijat refleksinya sudah selesai."
"Ayo..!" kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur.
Dengan
berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas
tempat tidur untuk siap dipijit. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih
tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan
hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan
tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku
dapat terwujud dengan baik.
Mula-mula
Syamsul memijit sekitar bagian punggungku dengan lembut kemudian secara
perlahan-lahan terus turun ke bawah menelusuri bagian pinggulku.
Sementara itu aku terus berusaha sekuat tenaga menekan perasaan risih
dan malu dengan melepaskan pikiranku dari kedua hal tersebut dan
berusaha menikmati pijitan Syamsul itu yang sebenarnya lebih tepat
dikatakan rabaan dan sentuhan di tubuhku. Rupanya usahaku itu berhasil
dengan baik, akan tetapi lama-kelamaan secara tidak langsung aku jadi
terbawa oleh semacam arus sensasional yang menjalar dalam tubuhku.
Apalagi ketika tangan Syamsul tiba pada bagian belahan pantatku yang
gempal lembut kemudian meremas-remas dengan halus pinggul serta daging
pantatku yang hanya ditutupi oleh gaun tidur nylon yang tipis maka
terasa adanya suatu gejolak hangat dalam diriku. Aku menjadi pasrah dan
benar-benar mulai menikmati pijitannya itu.
Selanjutnya
kurasakan tangan Syamsul mulai lebih berani lagi menyentuh tubuhku
dengan sentuhan-sentuhan yang semakin lama semakin nakal. Bahkan dia
kini berusaha membuka baju tidurku dan menelanjangi diriku dengan
seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa
ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku hanya dapat
memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak
dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri.
Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera
tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak
dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum
pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam
situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia
tubuhku yang tidak diketahui Syamsul.
Tidak
berapa lama kemudian tiba-tiba kurasakan Syamsul mulai melumat bibirku
dalam suatu adegan cium yang panjang dan berapi-api. Selanjutnya ketika
bibir kami terlepas Syamsul berbisik kepadaku bahwa sekarang saatnya dia
akan melakukan tehnik pijitan kucing mandi. Berbarengan dengan
itu dia mulai menjilati seluruh tubuhku yang telanjang dengan lidahnya
bagaikan seekor kucing yang sedang memandikan anaknya. Aku berpikir jadi
inilah yang dia maksudkan dengan tehnik kucing mandi. Aku menjadi
menggelinjang, entah karena apa. Tapi yang terang aku merasakan seluruh
pembuluh darah di tubuhku menjadi bergetar dan aku terlambung dalam
suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini. Apalagi sambil
menjilati tubuhku dia juga meremas dan menghisap buah dadaku dengan
lahap, menjilati liang kewanitaanku dengan rakusnya dan sementara itu
suamiku hanya menonton saja dengan asyiknya seperti orang dungu.
Suamiku
kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia
menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan
oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau
tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang
hebat. Jilatan-jilatan Syamsul di bagian tubuhku yang sensitif membuatku
bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah
kurasakan selama ini.
Tidak
berapa lama kemudian Syamsul berdiri di hadapanku melepaskan celananya
sehingga dia juga kini berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Saat itu
pula aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Syamsul yang telah
menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan panjang dari ukuran
alat kejantanan suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. Ukuran alat
kejantanan Syamsul hampir sebesar lengan bayi dan bentuknya agak
membengkok ke kiri.
Kemudian
dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Secara
reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam
telapak tanganku. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku
akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan
suamiku. Oleh karena itu aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin
bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan
perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh
seorang laki-laki lain. Dalam hatiku tiba-tiba muncul kembali perasaan
geramku terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat
kejantanan Syamsul itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya
dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.
Aku
merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu
dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan
hisapanku itu membuat alat kejantanan Syamsul yang memang telah
berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat
kejantanan Syamsul yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan
ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini.
Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang
kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar
membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat
kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi.
Kuluman
dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Syamsul tidak tahan
lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di
atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekad dan pasrah untuk
melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar.
Berbarengan dengan itu kurasakan alat kejantanannya kini menghimpit
dengan tepat di liang surgaku dan selanjutnya secara perlahan-lahan
langsung memasuki dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku yang telah
menganga lebar dan licin dengan cairan birahi.
Aku
agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Syamsul itu
menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku
terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan
dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku
selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku
merasakan alat kejantanan Syamsul memang terasa lebih istimewa daripada
alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama
hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki
lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain.
Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat
berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena
itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan
menjepit pinggang Syamsul erat-erat untuk selanjutnya aku mulai
mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Syamsul.
Naskah
di bawah ini merupakan saduran dari kisah sebenarnya seorang ibu rumah
tangga, yang merupakan pengalaman dari para ibu rumah tangga yang saya
kumpulkan sejak tahun 1980 dalam satu buku berjudul "Benang Merah".
"Percayakah
kau bahwa dalam kehidupan seseorang disadari atau tidak dia pasti
pernah mempunyai suatu fantasi mengenai kehidupan seksualnya", kata
suamiku pada suatu saat ketika kami sedang bermesraan di tempat tidur.
"Aku tidak mengerti maksudmu?" jawabku.
"Begini..
apakah dia itu seorang pria atau seorang wanita, apakah dia dalam
status sebagai seorang suami atau sebagai seorang istri, suatu ketika
dia akan pernah mengkhayal atau setidak-tidaknya pernah mempunyai suatu
ungkapan imajinasi mengenai keinginan seksualnya yang dia harapkan",
kata suamiku selanjutnya.
"Ooo.. maksudmu suatu khayalan mengenai keinginan seksual?"
"Ya...!"
"Mungkin saja ada..."
"Kalau begitu apabila boleh aku tahu, apa yang menjadi fantasimu?"
"Ah, aku tidak pernah merasa mempunyai fantasi mengenai itu"
"Nah,
itulah masalahnya... kau bukan tidak mempunyai fantasi tetapi tidak
menyadari adanya fantasi tersebut. Seperti yang aku katakan tadi fantasi
tersebut sebenarnya terdapat pada semua orang, perbedaannya hanyalah
disadari atau tidak adanya fantasi tersebut oleh seseorang itu"
"Tetapi aku memang tidak pernah merasa atau memikirkan hal itu, apalagi mengkhayalkannya!"
"Boleh
saja seseorang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suatu fantasi
seksual, akan tetapi hal ini bukan berarti dia tidak dapat berfantasi.
Hanya saja ungkapan-ungkapan apa yang menjadi imajinasinya serta
bagaimana dia mewujudkan fantasinya, antara satu orang dengan lainnya
akan sangat berbeda. Hal ini tergantung dari pengaruh sifat pribadi,
taraf tingkat hidupnya, serta latar belakang pengalaman dan
pendidikannya serta lingkungan sosial di sekitarnya."
"Misalnya apa..?"
"Ya, misalnya contoh yang paling umum bagi setiap orang, dia selalu mempunyai idola mengenai type lawan jenisnya"
"Ah, itu kan biasa, apalagi untuk anak-anak muda. Kalau sekarang sih bukan waktunya lagi"
"Tapi
hal itu tidak terbatas pada saat remaja saja. Bisa saja secara tidak
disadari hal itu terjadi sampai seseorang itu sudah dalam kehidupan
perkawinan. Misalnya.. mungkin saja suatu saat seseorang mempunyai
pikiran atau bayangan bagaimana kiranya kalau melakukan hubungan seks
dengan orang yang menjadi idola kita, mungkin dia seorang bintang film
atau penyanyi pop yang menjadi pujaan kita. Atau secara umum bagi wanita
senang apabila suaminya memakai kumis, atau celana jeans. Demikian juga
bagi pria, misalnya senang apabila istrinya berambut panjang atau
memakai gaun warna tertentu"
"Ah kau tambah membingungkan saja.. hal itu kan memang wajar-wajar saja apabila seseorang mempunyai anggapan seperti itu"
"Memang
betul sekali.. karena fantasi seksual itu memang suatu yang wajar.
Adanya suatu fantasi seksual dalam diri seseorang menurut Dr Andrew
Stanway, seorang pakar seksualogi dalam bukunya, "The Joy Of Sexual
Fantasy" adalah merupakan suatu hal yang normal. Fantasi seksual menurut
dia adalah merupakan suatu bagian yang kompleks dari pengalaman
seseorang, akan tetapi memang oleh kebanyakan ahli masih mempertanyakan
apakah fantasi tersebut merupakan bagian dari suatu mimpi atau merupakan
bagian dari suatu pengalaman nyata. Fantasi seksual secara umum
berfungsi untuk menyalurkan keinginan alam bawah sadar seksual seseorang
menjadi suatu kenyataan dalam suatu bentuk yang dapat diterima. Fantasi
seksual secara tidak langsung sebenarnya juga merupakan salah satu
mekanisme pembangkit gairah seksual seseorang, karena fantasi seksual
menyalurkan sejumlah besar informasi yang tersembunyi di antara alam
sadar dan alam bawah sadar seseorang yang berhubungan dengan kegairahan
seksnya. Oleh karena itu kadangkala fantasi seks tersebut dapat secara
tiba-tiba melanda diri seseorang. Apabila hal tersebut terjadi maka
secara tidak disadari seseorang akan mencari penyaluran sampai kepada
batas-batas alam kesadarannya. Oleh karena itu pula sangatlah penting
bagi kita untuk menyadari dan memahami adanya fantasi tersebut sehingga
dapat menyalurkannya sampai kepada batas-batas alam kesadaran kita
secara lebih terarah... kalau tidak mungkin saja seseorang itu akhirnya
bertindak yang aneh-aneh"
"Eh tiba-tiba kok kau jadi seorang ahli psikologi, dalam masalah seksualogi lagi, kapan kau belajarnya?"
"Kapan
aku belajarnya itu tidak penting... yang penting sekarang mau tidak kau
mengatakan atau mengingat-ingat kira-kira apa yang menjadi fantasimu?"
"Begini
saja.. sekarang kau saja dahulu yang mengatakan apakah kau juga
mempunyai fantasi tersebut, kau ingin berhubungan seks dengan siapa? Nah
ayo katakan!"
"Eh, jangan marah dulu, ya tentunya ada fantasiku itu tapi bukan seperti apa yang kau katakan!"
"Jadi seperti apa?"
"Kalau aku katakan apakah kau tidak terus marah?"
"Mengapa harus marah!"
"Baiklah..
memang selama ini aku merasakan adanya suatu fantasi seks yang
membayang dalam diriku, akan tetapi fantasi seks yang kurasakan
merupakan sebuah fantasi yang ganjil dan luar biasa", kata suamiku.
Kemudian dia diam sejenak.
"Ayo katakanlah... aku akan mendengarkannya, apa yang kau maksud dengan ganjil dan luar biasa!" desakku agak penasaran.
"Yah
karena fantasi yang kurasakan mungkin akan sangat sulit di pahami
karena berkisar kepada masalah hubungan seks antara kau sebagai istriku
dengan laki-laki lain sebagai pihak ketiga...."
"Aku tidak jelas akan maksudmu?"
"Begini
secara jelasnya... fantasi tersebut berupa suatu keinginan dalam diriku
bahwa aku ingin sekali menyaksikan istriku melakukan hubungan badan
dengan laki-laki lain!"
"Apa...! Aku harus melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?!"
"Ya
kira-kira begitu! Apakah hubungan itu dilakukan hanya oleh kau berduaan
saja dengan laki-laki lain tersebut dan aku hanya ikut menyaksikannya,
atau hubungan seks tersebut dilakukan bersama-sama secara bertiga, yaitu
antara kamu dengan laki-laki lain itu dan aku sendiri secara
bergantian, atau paling tidak aku ingin melakukan hubungan seks dengan
kau sebagai istriku sambil disaksikan oleh laki-laki lain"
"Memang aneh kedengarannya.. dan siapakah laki-laki lain yang kau maksudkan itu?"
"Siapa saja.. asal sehat dan kau senang menerimanya"
"Ah, itu fantasi gila namanya!" jawabku agak terhenyak.
"Nah, katanya kau tidak akan marah tapi sekarang marah", kata suamiku.
"Bagaimana
tidak akan marah... hal itu kan tidak mungkin.. bayangkan saja apa kata
orang kalau mereka tahu aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki
lain!"
"Ya jangan sampai orang tahu.."
"Oke, taruhlah orang tidak tahu, tapi kita kan terlibat dalam suatu lembaga yang disebut lembaga perkawinan."
"Ya betul, memangnya kenapa?"
"Kau
tahu tidak apa artinya itu? Yaitu dimana hubungan seks dengan orang
lain di luar pasangan dalam perkawinan kita dianggap sebagai suatu
penyelewengan, apalagi kalau itu dilakukan oleh seorang wanita yang
berstatus sebagai istri, maka hal ini akan dianggap suatu kesalahan yang
sangat besar sekali!"
"Justru
itulah sekarang aku bertanya kepadamu, karena aku tahu hal itu sangat
susah untuk diwujudkan kalau hanya aku saja yang berkeinginan, akan
tetapi sebaliknya hal itu tentu juga sangat mudah dapat dilakukan
apabila kita berdua sepakat. Nah, kalau kesepakatan ini ada, maka hal
ini berarti juga tidak ada penyelewengan!"
"Tidak ada penyelewengan yang bagaimana maksudmu?!"
"Ya sebagaimana yang kau katakan tadi!"
"Aku tidak mengerti maksudmu?"
"Begini,
kita harus lihat dahulu apa sih definisi dari suatu penyelewengan,
yaitu suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud.
Jadi penyelewengan dalam perkawinan artinya juga suatu perbuatan yang
menyimpang dari suatu tujuan atau maksud dalam perkawinan. Karena dalam
perkawinan itu terlibat kepentingan dari dua orang maka pengertian
penyelewengan dalam perkawinan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan
pengkhianatan, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pasangan
hidupnya secara diam-diam tanpa diketahui apalagi disetujui oleh
pasangan lainnya."
"Jadi apa hubungannya dengan yang kau maksudkan tidak ada penyelewengan di sini?"
"Ya
seperti yang aku katakan tadi, bahwa untuk melaksanakan fantasiku itu,
aku telah sepakat dan bahkan telah memberikan izin kepadamu sebagai
suami untuk melakukan hubungan seks dengan orang lain, jadi sudah barang
tentu unsur penyelewengan tadi tidak berlaku lagi karena kita sama-sama
menyetujui, bahkan dengan restu suami!"
"Nah,
sekarang kau juga telah jadi pokrol bambu! Bikin argumentasi seenaknya
saja! Masalahnya kan bukan sampai disitu saja, tapi ada konsekwensi yang
lain, terutama untuk aku!"
"Misalnya apa?"
"Taruhlah
aku mau melakukan hal itu, maka ada suatu konsekwensi yang akan aku
tanggung, yaitu apabila terjadi sesuatu hal terhadap perkawinan kita dan
terjadi perpecahan, maka kau akan dapat saja berkata kepada orang lain
bahwa hal itu disebabkan karena kesalahan dariku. Kau dapat saja
mengatakan aku telah menyeleweng berkali-kali dengan laki-laki lain dan
orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu sebenarnya kau yang
mengaturnya. Demikian juga seandainya laki-laki lain yang kau beri
kesempatan untuk berhubungan seks denganku pada suatu saat menceritakan
pengalamannya tersebut kepada orang lain, maka akan hancurlah diriku,
karena walaupun bagaimana orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya
itu justru atas permintaanmu sebagai suami, semua orang akan menuduhku
sebagai seorang istri yang serong"
"Akan
tetapi sungguh mati selama ini tidak pernah terlintas dalam benakku
untuk berbuat seperti itu. Aku meminta istriku untuk melakukan hubungan
seks dengan laki-laki lain bukan bertujuan karena ingin memojokkanmu
suatu waktu guna kepentinganku sendiri akan tetapi malahan sebaliknya
yaitu agar kehidupan perkawinan kami tetap bergairah dan langgeng,
karena aku akan mendapat kepuasan lahir dan batin hanya dari istriku
yang sekarang. Sehingga istriku yang sekarang ini benar-benar merupakan
teman hidup bagiku karena dia merupakan ibu dari anak-anakku, temanku
berdiskusi dan menumpahkan perasaan serta sekaligus merupakan teman
berkencan dalam menyalurkan hasrat seks!" kata suamiku agak terkejut.
Setelah
diam sejenak selanjutnya dia berkata, "Mengenai kemungkinan laki-laki
itu akan bercerita kepada orang lain memang ada, akan tetapi apabila
memang hal itu terjadi, maka akan sangat mudah sekali ditangkal karena
justru orang lain tidak akan percaya kepada cerita dia. Apalagi bila aku
memberikan kesaksian bahwa kesemuanya itu hanyalah karangan dia
semata-mata sehingga hal itu benar-benar merupakan suatu fitnah saja"
"Baiklah kalau begitu, yang penting kini aku juga ingin tahu mengapa sih kau mempunyai fantasi seperti itu?"
"Entahlah,
aku sendiri tidak tahu mengapa mempunyai fantasi seperti itu. Tapi yang
jelas aku merasakan adanya suatu rangsangan gairah birahi yang hebat
apabila aku melihat ada seseorang laki-laki yang tertarik dan
memperhatikan bagian tubuhmu yang secara tidak sengaja terbuka."
"Misalnya..."
"Ya,
misalnya ketika kita berlibur di pantai. Saat itu kau mengenakan
pakaian renang. Dan aku tahu saat itu ada beberapa laki-laki
memperhatikan bentuk tubuhmu. Mula-mula memang aku agak merasa cemburu,
akan tetapi lama-kelamaan hal itu menimbulkan semacam suatu imajinasi
dalam diriku. Apalagi apabila aku melihat kau bertelanjang bulat di
kamar."
"Lha, memangnya kenapa? Aku kan bertelanjang bulat di kamar sendiri dan yang lihat hanya kamu sendiri saja?"
"Justru itu yang merangsang imajinasiku."
"Kalau begitu aku tidak akan berbuat itu lagi!" kataku.
"Eh,
jangan salah sangka. Aku senang melihat itu semua. Malahan kalau kau
mau, boleh saja kau berkeliaran dalam rumah dengan bertelanjang bulat
seperti yang kau lakukan di kamar, karena terus terang hal itu
membangkitkan rasa birahiku. Aku merasa nikmat memperhatikanmu
berkeliaran di kamar dengan berpolos bugil. Dan dalam keadaan itu pula
kadang-kadang aku berpikir apakah laki-laki lain juga akan bangkit
birahinya apabila melihat keseluruhan bentuk tubuh istriku ini. Dan
bagaimanakah seandainya tubuh istriku yang segar berisi itu dinikmati
pula oleh laki-laki lain. Imajinasi itu akhirnya menimbulkan suatu
kenikmatan seksual yang lain bagiku. Apalagi bila aku membayangkan bahwa
ternyata laki-laki tersebut memang sangat terangsang oleh keindahan
tubuh istriku dan berusaha untuk menikmatinya di tempat tidur.
Imajinasiku itu selanjutnya terus berkembang yaitu apakah istriku ini
kira-kira juga tertarik untuk merasakan hubungan seks dengan laki-laki
lain dan bagaimanakah kiranya sikap istriku ketika melayani laki-laki
lain tersebut. Apakah dia juga akan menjadi sangat lebih bergairah? Dan
apakah dia akan mendapatkan kepuasan seks yang lebih besar lagi?" bisik
suamiku.
Lalu
ia menambahkan, "Kenikmatan seksual yang kurasakan akan menjadi lebih
hebat lagi apabila aku terus membayangkan bagaimana istriku dengan
tubuhnya yang dalam keadaan polos bugil bergumul dengan hebat dengan
tubuh laki-laki tersebut yang juga berada dalam keadaan berpolos bugil.
Terlebih lagi apabila aku membayangkan bahwa ternyata ukuran alat
kejantanan laki-laki tersebut jauh lebih besar dari pada ukuran alat
kejantananku sendiri, dan istriku benar-benar sangat tergiur akan
kehebatan alat kejantanan itu, sehingga ketika laki-laki itu menindihkan
tubuhnya ke tubuh istriku dan memasukkan alat kejantanannya ke liang
istriku, aku menyaksikan istriku menjadi bergelinjang dengan hebat
merasakan alat kejantanan tersebut tertanam dalam-dalam di liang
senggamanya. Kemudian aku pun membayangkan bagaimana ketika laki-laki
tersebut mulai mengayunkan tubuhnya di atas tubuh istriku dan istriku
menjadi tambah hebat bergelinjang sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya
mengimbangi gerakan turun-naiknya alat kejantanan laki-laki tersebut
yang memberikan suatu kenikmatan lain daripada yang pernah dirasakannya
dari alat kejantananku sendiri. Selanjutnya aku pun membayangkan
bagaimana ekspresi istriku dan laki-laki itu ketika mencapai dan
melepaskan puncak ejakulasi bersama dengan penuh kepuasan", kata
suamiku.
"Ah, sangat mengerikan sekali fantasimu."
"Tapi
ini kan baru fantasi... apabila menjadi kenyataan mungkin tidak
mengerikan lagi, tapi... mengasyikan!" kata suamiku sambil tertawa.
"Tidak lucu ah!" kataku sambil memukul punggungnya.
"Eh,
jangan jadi sewot! Diberi kesempatan enak malah marah. Jarang kan suami
yang sebaik itu yang mengizinkan istrinya boleh main dengan laki-laki
lain. Malahan bukan itu saja kadang-kadang aku juga sering membayangkan
bagaimana rasanya apabila aku mempunyai seorang istri yang hiperseks
atau seorang istri yang senang menyeleweng dengan laki-laki lain."
"Apa maksudmu dengan itu..? Jadi kau tuduh aku ini pernah menyeleweng?!" jawabku agak tersinggung.
"Bukan
itu maksudku, tapi itu adalah kelanjutan dari ungkapan imajinasi
fantasi seksualku, seperti yang kukatakan tadi, aku kan ingin sekali
melihat istriku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, sehingga
hal itu menimbulkan semacam imajinasi lanjutan dalam diriku mengenai
type istri yang bagaimana yang kira-kira kuinginkan, atau paling tidak,
aku kira-kira ingin mempunyai seorang istri yang berpandangan sangat
bebas mengenai masalah hubungan seks, tidak posesif dan memandang
masalah hubungan seks dengan laki-laki lain atau sebaliknya bukan
merupakan suatu masalah yang tabu melainkan sesuatu yang wajar dan dapat
dinikmati bersama", kata suamiku selanjutnya.
"Bilang
saja terus terang kau yang mau melakukan hubungan seks dengan wanita
lain!. Kalau begitu carilah type istri sebagaimana yang kamu idamkan...
karena bagiku tidak mungkin melakukan hal tersebut! Kalau mau, kau
lakukan sendiri saja! Jangan ajak-ajak orang!" kataku bertambah ketus.
"Nah, lagi-lagi marah. Ini kan semua baru gagasan. Siapa tahu kau mau?" balas suamiku.
"Mau
apanya? Lagi pula sekiranya aku mau melakukan hal itu, aku lakukan saja
sendiri secara diam-diam", kataku dengan hati yang agak mendongkol.
"Bukan
itu maksudku... aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari istri
lain, akan tetapi justru kamulah yang aku inginkan menjadi type istri
sebagaimana yang aku idamkan", kata suamiku.
"Jadi aku harus menyeleweng dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, begitu maksudmu?"
"Ada benarnya dan ada tidaknya", kata suamiku.
"Benar dan tidak bagaimana?"
"Benarnya
memang aku ingin melihat kamu melakukan hubungan seks dengan laki-laki
lain, tidak benarnya adalah hal itu bukan berarti kamu harus
menyeleweng, karena seperti yang aku katakan tadi kesemuanya itu
berdasarkan persetujuan dan permintaanku sebagai suami, jadi unsur
penyelewengan di sini sekali lagi aku katakan sama sekali tidak ada...
tapi apabila kau lakukan secara diam-diam maka itu baru namanya
penyelewengan", kata suamiku.
"Benar-benar kamu tidak menyesal apabila aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?" kataku menegaskan.
"Malahan
sebaliknya... karena hal itu justru aku rasakan sebagai penambah
semangat dan gairahku terhadapmu. Mungkin kau merasakan bagaimana
keadaanku selama ini, aku merasa kehilangan gairah dalam bercinta dan
merasa sangat lelah sekali. Hal ini disebabkan aku merasakan fantasi itu
sedemikian membebani diriku", kata suamiku.
Tubuh
kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah
nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun
kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga
menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Syamsul. Melihat penampilan
suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih
demonstratif lagi kulayani permainan Syamsul sehebat-hebatnya secara
aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba
membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja
disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Syamsul,
akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah
dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku
berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan
sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi.
Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh
laki-laki lain selain suamiku.
Setelah
agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Syamsul menghentikan
gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan
tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi
dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum
merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah
dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat
kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Syamsul
menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya
untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton
diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri.
Suamiku
dengan segera menggantikan Syamsul dan mulai menyetubuhi diriku dengan
hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan
bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan
tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh
oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Syamsul, maka ketika
suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku,
kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan
otot-otot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat
kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Syamsul yang
berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang
senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke
dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan
tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah
diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.
Di
lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu
banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang
sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali
saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang
dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat.
Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang
kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya
agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak
sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah
kujub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung
terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.
Sementara
itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku
jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami
puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Syamsul. Oleh
karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku
itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali.
Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa
hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya
aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di
tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak
dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.
Aku
segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih
bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar
tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku.
Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba Syamsul yang masih dalam keadaan
bertelanjang bulat menyusul ke dalam kamar mandi. Dia langsung memelukku
dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara
bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir bak mandi
sehingga aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang
sedemikian Syamsul menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya
sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih
dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Syamsul menarik
alat kejantanannya dari liang sengamaku, kemudian dengan sangat brutal
dia segera menggarap lubang duburku. Aku jadi agak terpekik keras dan
bergelinjang dengan hebat ketika alat kejantanannya itu tiba-tiba
memasuki lubang duburku.
Tidak
dapat kulukiskan dengan kata-kata betapa perasaanku saat itu
mendapatkan pengalaman yang belum pernah kurasakan sama sekali. Selama
ini suamiku sendiri belum pernah menyetubuhi duburku sebagaimana yang
dilakukan Syamsul sekarang ini. Ketika kami sedang asyik melakukan anal
seks, tiba-tiba suamiku menyusul ke kamar mandi. Dia kelihatan tidak
senang kami melakukan hubungan seks di kamar mandi. Dengan nada suara
yang agak keras dia memerintahkanku untuk segera kembali ke kamar dan
melakukan hubungan seks di sana, di hadapannya.
Dengan
masih tetap berbugil aku kembali ke kamar tidur dan langsung merebahkan
diri di tempat tidur. Sementara itu suamiku mengikuti merebahkan diri
di tempat tidur tapi untuk selanjutnya dia tertidur kembali dengan
nyenyaknya. Rupanya suamiku benar-benar kelelahan disebabkan oleh suatu
tekanan ketegangan syaraf yang tinggi dan juga agak setengah mabuk
karena mengkonsumsi alkohol terlalu banyak. Sedangkan aku justru
sebaliknya. Seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang
kenikmatanku dan lubang duburku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan
liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami
selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah
mengalami orgasme di kamar mandi bersama Syamsul.
Dalam
keadaan yang sedemikian tiba-tiba Syamsul muncul di hadapanku. Dia
masih tetap bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku. Dengan tatapan
yang tajam dia menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur
bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh
suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Syamsul ke kamar
sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh
masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru
yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan
berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam
pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Syamsul terus-menerus
menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang
hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun sudah bersatu kembali
dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.
Tidak
berapa lama kemudian Syamsul membalikkan tubuhku sehingga kini aku
berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat
kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan
tubuhku agak kuat ke tubuh Syamsul dan mulai mengayunkan tubuhku turun
naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi
lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil.
Sementara itu Syamsul dengan tenang telentang menikmati seluruh
permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat
dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku
menggerakkan tubuhku turun naik di atas tubuh Syamsul dan nafasku pun
semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh
laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi
terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku
langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Syamsul.
Setelah
beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Syamsul, tiba-tiba dia
bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia
menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi
kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah
kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar.
Selanjutnya Syamsul mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri
dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali
alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi
terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Syamsul mulai
menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur
maju dalam liang senggamaku. Aku pun kini semakin hebat
menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun naiknya
alat kejantanan Syamsul yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di
atas tubuhku.
Kami
bergumul bagaikan dua ekor binatang liar yang sedang bertarung, saling
hempas dan saling bantai tubuh masing-masing dengan sekuat tenaga tanpa
mempedulikan apa-apa lagi kecuali berlomba untuk menggali segala
kenikmatan dari tubuh masing-masing. Nafas kami semakin memburu
berdesah-desah dengan kencang yang kadang-kadang diselingi dengan
pekikan kecil di luar kesadaran masing-masing. Tubuh bugil kami yang
sedang bersatu padu itu pun basah dengan keringat. Aku merasakan betapa
liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan
melahap alat kejantanan Syamsul yang teramat besar dan panjang itu
sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan
rakusnya.
Selama
pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena mencapai
puncak orgasme berkali-kali, sementara itu Syamsul masih tetap tegar dan
perkasa mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku. Akan tetapi akhirnya
kulihat Syamsul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat
luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi
menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat
panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya
sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya
terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami
terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu.
Selama kami tergolek, alat kejantanan Syamsul masih tetap terbenam dalam
tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak
ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.
Setelah
beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Syamsul mulai bangkit dan
menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan
mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra
penuh dengan perasaan. Selanjutnya kubenamkan wajahku ke dadanya
mengecup puting susunya sambil menjilati permukaan dada yang bidang dan
penuh dengan bintik-bintik keringat. Aku tidak tahu mengapa aku
melakukan hal itu. Akan tetapi yang terang kurasakan keringat Syamsul
saat itu membuat semacam rangsangan yang lain dalam diriku.
Syamsul
agak memejamkan matanya menikmati sentuhan-sentuhan ujung lidahku itu,
sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana
seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya.
Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali.
Kulihat alat kejantanan Syamsul mulai kembali menegang tegak sehingga
secara serta merta Syamsul segera menguakkan kedua belah pahaku
membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.
Berlainan
dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan
persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini
kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang
romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan
tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra
bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku
pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Syamsul
sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung
sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak
ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan
langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak
dalam suatu kepuasan yang dalam.
Semenjak
pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal
fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu.
Hubunganku dan suamiku pun tetap berlangsung seperti biasa-biasa saja
seperti dahulu. Hanya memang sejak pengalaman kami malam itu kurasakan
gairah suamiku berangsur-angsur normal. Bila kami melaksanakan kewajiban
suami-istri, dia telah dapat melaksanakannya secara normal sebagaimana
lazimnya walaupun secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana
yang kualami bersama Syamsul.
Kuakui
malam itu Syamsul memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu
namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku.
Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa
hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun
telah beberapa kali menyetubuhiku, Syamsul masih tetap saja kelihatan
bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik
melakukan tugasnya keluar masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga
membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan
tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami
puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Syamsul masih
tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama
melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu,
aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam
waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.
Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam
itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.
Awalnya
di suatu pagi Syamsul berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah
berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta
tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya yang katanya sudah
beberapa lama tidak dapat terpenuhi dari istrinya berhubung kesehatan
istrinya yang sangat tidak mengizinkan. Mulanya aku ragu memenuhi
permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak
permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat
birahinya yang selama itu tidak tersalurkan dan kami melakukan hubungan
cinta kilat di ruang tamu sambil berdiri. Hubungan itu rupanya membawa
diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri.
Ketika
kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka
kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan.
Keadaan ini membawa hubunganku dan Syamsul semakin berlanjut.
Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Syamsul sering membuat suatu
pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di
luar rumah, baik dari satu kamar cottage ke kamar cottage lainnya
ataupun dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Kami saling
mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana
yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang
tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan
tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku. Sebagai wanita yang
sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku
malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan
seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari teman
suamiku, yang kini menjadi teman tidurku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 comments:
Post a Comment