Sunday, 10 February 2013
Tukar Pasangan
Nama
saya Dikky, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu
perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal
dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich
demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab
dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu
bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan
yang bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita
teman-teman istri Richard, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik
dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood. Aku sendiri
belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Richard, hanya melihat
fotonya yang terletak di meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang
foto saya berdua denga Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan
berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto
itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula
saya mengamati kalau Richard sering melirik ke foto itu, apabila
kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.
Suatu
hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya
untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri
masing-masing.
"Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam".
"Lho, ada acara apa boss?", kataku sok akrab.
"Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu".
"Okelah!", kataku.
Sesampainya
di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak
segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk
berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah
kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia,
akhirnya Nina mau juga pergi.
"Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?".
"Tau, katanya sih, ada proyek apa...., yang mau didiskusikan".
"Oooo...,
gitu ya", sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit
pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul,
soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu
senam so..., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat
kencang.
Pukul
19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah
Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai
stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan
apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang
berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita
bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi
sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.
"Oh Dikky dan Nina yah?,silakan..., masuk..., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard".
Ternyata
Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan
lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan
agak tergagap, aku menyapanya.
"Hallo Mam..., kenalin, ini Nina istriku".
Setelah
Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk
menyiapkan makan malam, sementara Richard mengajakku ke teras balkon
apartemennya.
"Gini lho Dik...,
bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini..., ini...,
dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu".
"Kenapa
nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor
semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!".
Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.
Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.
"Eh Dik..., gimana Lillian menurut penilaian kamu?", sambil bisik-bisik.
"Ya..., amat cantik, seperti bintang film", kataku dengan polos.
"Seksi nggak?".
"Lha..., ya..., jelas dong".
"Umpama..., ini umpama saja loooo..., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?".
Mendenger
permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung,
perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.
Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, "Nggak ada paksaan
kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti..., udah deh
pokoknya kalau kau setuju..., selanjutnya serahkan pada saya..., aman
kok!".
Membayangkan
tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan
lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya
bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak
kalau membayangkan Nina dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata
yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa
menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi,
"Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?".
Tanpa
aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, "Dia tidak suka
style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau
vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!".
"Wow...,
aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau
khas wanita terpancar dari situ..., itu membuat saya sangat
terangsang!", kata Richard.
"Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job" lanjutnya.
Mendengar
itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian
bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.
Kemudian
lanjut Richard meyakinkanku, "Oke deh..., enjoy aja nanti, biar aku
yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu
orangnya selalu terbuka dalam soal seks..., jadi setuju aja".
"Nanti
minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih
berani..., Oke..., yaa!", saya agak terkejut juga, apakah Richard akan
memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak
rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik
mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-cepat menambahkan, "Bukan obat
bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja", kemudian dia
menjelaskan selanjutnya, "Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya,
Nina di sampingku".
Selanjutnya
acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan
malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak
gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak
tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan
keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Richard
mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina, "Nin..., mari duduk
di depan TV saja, lebih dingin di sana!", dan tampa menunggu jawaban
Nina, Richard segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke
depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti
mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. "Dik, diliat aja dulu dari
sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok". Memang dari
ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai
bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap
halus. Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat
sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali
tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit
pundaknya.
Lillian
kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari
kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang
terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut.
Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan
trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing
terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil
kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya
terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, "Apakah Nina telah diberi obat
tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nina pingsan
atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?". Nina tampaknya
pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga
perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina
seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan
ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.
Melihat
apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena
merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan
perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di sampingku. Niat
untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera
menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah,
mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai
wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk
ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan
clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu,
"aahh..., aaghh..., aagghh", tubuhnya mengejang, sementara tangannya
meremas-remas payudaranya sendiri.
Sementara
itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nina,
terlihat Nina telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di
sofa. Badan Nina yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu
besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan
pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang
membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara
kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima
serangan-serangan selanjutnya dari Richard. Kemudian Richard menarik
Nina berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard
menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat
ekspresi wajah Nina, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan
dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang
melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka,
menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya
itu, apalagi ketika jemari Richard berada di semak-semak kewanitaannya,
sementara tangan lain Richard meremas-remas puting susunya, terlihat
seluruh badan Nina yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar
dengan hebat.
Saat
itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan
bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk
memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku
sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia
kutelanjangi. Wow..., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya
padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah
mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku
menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku
kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak
akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain
dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya
yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai
menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.
Kududukkan
Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku.
Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari
di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan
mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan
dengan suara keras, " Oooohh..., oooooohh..., ssssssshh...,
ssssssssshh". Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan
tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan
meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina
terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, "Oooh..., aaggghh!",
diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang
diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu.
Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya
terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha
Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara
kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard
sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina
menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard dengan
kuat.
Aku
sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus
menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,
"Ahh..., yaa..., yaa..., jilatin..., Ummhh". Desahan-desahan nafsu yang
semakin menegangkan otot-otot penisku. "Aahh..., Dik..., akuuu...,
aakkuu..., ooooohh..., hh!", dengan sekali hentakan keras pinggul
Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat
dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan
cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras,
saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat
tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut
dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku
untuk bertindak lebih jauh.
Ketika
aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti
posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat
menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina
bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas
bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Richard.
Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina
yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat
senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang
itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm
dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya
membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.




0 comments:
Post a Comment