Wednesday, 13 February 2013
Bercinta Dengan Linda dan Rika
Aku bangun kesiangan. Kulirik jam
dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera
aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak
ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai
jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat. Istriku sengaja tidak
membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku
pulang kantor hampir pukul 4 pagi.
Yah, beginilah nasib auditor
kalo lagi dikejar tenggat laporan audit. Untung saja, ada anggota timku
yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Agnes tentunya, yang semalam
telah memberikan servis untukku. Baginya, bersetubuh dengan lelaki lain
selain suaminya bukan hal yang tabu, karena dia sendiri juga tidak
mempermasalahkan jika suaminya berkencan dengan wanita lain. Prinsip
mereka, yang penting pasangan tidak melihat kejadian itu dengan mata
kepala sendiri.
Aku tersenyum mengingat kejadian
semalam. Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi
ternyata aku dan Agnes sama-sama lagi horny. Akhirnya, terjadilah
seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny lagi.
tongkolku pelan-pelan mengangguk-angguk dan mulai mengacung.
“Walah…repot
bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah
tidak ada pembantu, karena istriku, Indah, lebih suka bersih-bersih
rumah sendiri dibantu kedua anakku. “Biar anak-anak gak manja dan bisa
belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku
setuju saja.
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang
tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet
tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan
tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku. Tampak
dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa
birahiku sudah memuncak. Aku pun teringat Linda, sahabat istriku.
Kebetulan Linda berasal dari suku Chinese. Dia adalah sahabat istriku
sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku.
Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya. Ya, aku memang sering
berfantasi sedang menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil, setinggi Agnes,
tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang
sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan
pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia
berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan
seandainya tubuh mulus Linda bisa kujamah, pasti nikmat sekali.
Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan
cairan bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Linda…seandainya aku
bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat
itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil
nonton bokep dan membayangkan Linda, terdengar suara langkah sepatu dan
seseorang memanggil-manggil istriku.
“Ndah…Indah…aku dateng,” seru suara itu…
Oh
my gosh…itu suara Linda…mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan
masuknya, kok gak kedengaran? Linda memang tidak pernah mengetuk pintu
kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan
keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Linda udah nongol di ruang tengah, dan…
“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”
“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku
tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur
jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba
muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan
telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
“Udah,
sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bf sendirian,lagi
ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.
“Yee...namanya
juga lagi horny...ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian
anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self
service,”sahutku.
“Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
“Dasar
kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana,
terusin lagi.” Linda beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Lin, ntar dulu lah...,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
“Bentar deh Lin. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gila
kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda protes sambil melotot. “Kamu jangan
macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya.
“Lin,”sahutku
tenang. “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma
minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.”
“Gimana?”
Linda tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.
Sejurus kemudian..
“Ok,
Lin. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu,
kamu juga buka bajumu dong...pake BH sama CD aja deh, gak usah
telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan
sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm...fine
deh. Aku bantuin deh...tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan
kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,”katanya. “Tapi, tunggu. Aku mau
tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”
”Yaaa...aku
berani-beraniin...toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian,
kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi colai sambil liat BF...lha ada
kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.
“Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya
kemejanya...dan...ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang
terbungkus BH sexy berwarna merah...menambah kontras warna kulitnya yang
sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa
membayangkan seperti apa isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip
celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan,
diturunkannya jeansnya...sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi
akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow...aku
terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari
yang pernah aku bayangkan. Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya
masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan Bhnya.
Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.
“Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”
Linda segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong...”
“Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?”protes Linda. “Nungging, gitu?”
”Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,”sahutku.
“Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.
“Kamu
duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana
dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.
“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Linda masih saja protes dengan permintaanku.
“Begini posisi yang kamu mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”
Sambil memandangi tbuh Linda,
aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku
nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau pemandangan langka ini
berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak menanggapi
omonganku.
“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum.
“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”
Linda
terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali
melirik ke arah tongkolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan
lendir dari ujung lobangnya.
“Pantatmu,
Liiiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena
tongkolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau
memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat
membuatnya terangsang.
Linda masih tetap diam, dan
tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti
orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku
menangkap sinyal kalo ternyata Linda juga mulai ternagsang dengan
aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas
sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun
mulai gelisah. Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya
turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Linda nampak ragu untuk
melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan
orang lain.
Kupejamkan mataku, agar Linda
tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja...setelah
beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Linda
meremas payudaranya dan owww...BH sebelah kiri ternyata sudah
diturunkan...
Astagaaa..!!!
Puting itu merah sekali...tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan
memiliki satu anak, kuakui, payudara Linda lebih bagus dan kencang
dibandingkan Agnes. Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya,
dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:”
Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali
memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati
rintihan-rintihan Linda.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu
yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku. Aku membuka mata
dan terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.
“Aku nggak tega liat kamu menderita, Ndrew,”sahut Linda sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang lembut.
My
gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai
dan dikocok dengan tangan Linda yang putih mulus. Aku mendesis dan
membelai rambut Linda. Kemudian secara spontan Linda menjilat tongkolku
yang sudah bene-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu. Dan…hap…!
Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku
masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Linda. Sedikit lagi pasti aku
memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
Tak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan Cdnya.
“Kamu
mau ngapain, Ndrew?” Linda protes sambil menghentikan hisapannya. Aku
tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan
montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
“Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.
“Terserah…yang penting kamu puas.”
Segera
kuremas-remas pantat Linda yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku
hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Linda terpampang dihadapanku.
Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Linda merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.
“Achh…Liiiinn…enak
bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan
hangatnya mulut Linda saat mengenyot tongkolku. Betul-betul
menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut
kepala dan batang kelelakianku. Hingga akhirnya….
“Liiinn….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aku…kach…aku…”
“Keluarin sayang…tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”
“I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff…..argggghhhhhhhhhh…..”
Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Spermaku
muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Linda. Tanganhalus Linda
tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis
cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…....my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Linda.
“Lin...kamu gak geli sayang...? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?”
Linda menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.
“Kamu baru pertam kali kan, mainin koto orang selain suami kamu?”
“Iya,
Ndrew. Tapi kok aku suka ya...terus terang, bau sperma kamu seger
banget...kamu rajin maka buah sama sayur ya?” tanya Linda.
“Iya...kalo gak gitu, Indahmana mau nelen sperma aku.”
“Aihhh....” Linda terpekik. “Indah mau nelen sperma?”
Aku
mengangguk. “Keapa Lin? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih
meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm...ccppp...ssllrppp....”
terdengar lidah dan bibir Linda mengecap spermaku. Dengan jarinya yang
lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian
dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm....akhirnya spermaku masuk kedalam
tubuhnya...
“Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
”Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?”
“Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Lin.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
”Benerkamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.
Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.
Kulihat meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm...Lin...meqi kamu masih basah...kamu masih horny dong...”tanyaku.
“Udah,
Ndrew....cepetan deh...nanti istrimu keburu dateng...Lagian aku
udah...Auuuwwww....!!!! Ohhh..Shhhhh.......”Linda memiawik saat lidahku
menari diujung klitorisnya.
“Ndrewwww...kamu gilaaa yaaa...”bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan
lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir
vagina Linda yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku,
mencari G-spotnya.
Akibatnya luar
biasa. Linda makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan
birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak
kusia-siakan. Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh
dari vaginanya. Ya…aroma vagina Linda lain dengan aroma vagina istriku.
Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat
kuhirup aroma kewanitaan Linda.
“C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”
Aku
paham, gerakan pantt Linda makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula
meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku.
“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.
“Mas…..mas Andrew….”suara wanita didepan memanggil namaku.
Sontak kulepaskan jilatanku. Linda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
“Ndrew..kok kyaka suara Rika ya…”Linda bertanya
“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan. “Udah Lin, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”
Segera Linda berjingkat masuk ke
kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada
kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena
Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika,
sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.
“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.
“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Rika menuju ruang tengah.
Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?
Kaos
ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat
berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya
menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku
berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis celana dalam mebayang di
spandexnya.
Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.
Kami
berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku
setel udah selesai, jadi Rika nggak sempat melihat film apa yang tengah
aku setel.
“Ini lho mas, aku mau
anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku
bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi
kesenangan.”
“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
“Ah, biasa aja lageee..hehehe”
Kami
berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika
nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat
istriku, selain Linda
.
Diam-diam,
akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita
yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm. Bandingkan dengan
tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan.
Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan
aku rajam memiawnya dengan tongkolku. Pasti dia merintih-rintih
menikmati hujaman tongkolku…
“Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Rika.
“Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…”
Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.
Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….
“Ya
udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu
ngeliatin melulu. Ngeri aku...ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy...”
Rika bergidik ambil tertawa.
Aku Cuma tersenyum.
“Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”
“Aku numpang pipis dulu ya.”Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
“Iya.”
Tepat saatRika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Linda keluar dari kamarku.
Aku
terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan.
Ternyata CD Linda ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu
sedang aku jilat memiawnya. Astagaaa...untung Rika nggak ngeliat...atu
jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan
menyelidik? Entahlah...
“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.
Linda mengangguk, segera menyambar Cdnya dan...
“Ceklek....!”
Pintu
kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut
melihat Linda berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana
dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Linda yang hanya
memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun
terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus
kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat
singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
“Linda…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
“Eh…anu…ini lho…”kudengar Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika. “Oo...aku tau...pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa...?”
“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
“Trus,
kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana
dalem lagi.” Udah gitu telanjang juga..Hayo!!!” Rika bertanya dengan
galak.
“Sini liat.” Rika menghampiri Linda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Linda, tanpa perlawanan dari Linda.
“Kok basah...?”Rika mengerutkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”
”udah
deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Linda. Belum sempet aku
ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Aku
menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.
“Kamu
tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja,
gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan
wajah merah padam.
“Terserah kamu lah...kamu mau laporin aku sama Linda ke polisi...silakan. Mau laporin ke Indah...terserah....”ucapku pasrah.
“Hmm...kalo
aku laporin ke Indah...kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke
polisi....ah...ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apa yang hendak
dilakukannya.
“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.
“Apa syaratnya, Rik?”
“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”
“Iya, apaan syaratnya?” Linda ikut bertanya
“Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
“WHAT?” aku dan Linda berteriak bebarengan. “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
“Ya terserah kamu.Mau pilih mana...?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Linda saling
berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan dan rambutnya. Linda
seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika.
Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Linda segera membuka kaosnya.
Sambil
terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Linda menuju sofa.
Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana
ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Linda dan Rika.
Aku
melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya
menegang seperti tegangnya tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya,
sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak memamerkan
kejantananku.
“Ayo, ndrew…cepetan deh…udah gak tahan, honey…”Linda merintih. “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”
“Enak aja kamu bilang.”sergah Rika. “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”
Aku menatap mata Linda yang
mulai sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya,
sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera kusosor
memiaw Linda yang sangat becek oleh lendir birahinya.
“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”Linda
menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak
keatas, mengikuti irama permainan lidahku.
Hmmm...nikmat
sekali. memiawnya berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat.
Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras,
seiring dengan makin kuatnya goyangan pinggulnya.
“Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg..
akh…akh…akkkkkuu…”Linda terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal,
seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
“Keluarin
sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus
mengocok memiawnya, dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat
keras. Baik itil maupun memiaw Linda sudah benar-benar berwarna merah,
sangat basah akibat lendirnya yang meleleh, hingga membasahi belahan
pantat dan sofa.
Segera aktivitas tanganku
kuganti dengan jilatan lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Linda menegang,
tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah
jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan
ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.
“ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Linda
menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan
kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.
Tak
kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan
semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Linda. Sedotanku
pada memiawnya membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Linda
terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.
“Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda menceracau sambil gemetaran.
“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…”
Kulihat Linda tersenyum dengan
wajah puas. Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan
kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara
Linda sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan.
Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi
sekarang puting merah itu benar-benar masih keras dan mengacung meski
pemiliknya barusan menggapai orgasme.
“Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….”
Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan
rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Linda mulai
mengejang lagi.
“Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda merintih. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhhhh……”
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda. Blessss…….
“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat
Linda tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya tongkolku di
mekinya. Kutekan tongkolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana.
Terasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut, walaupun tergolong super
becek.
“Ayo, nDrew.....gocek tongkol kamuh....akk....kkuuuu....udah mau...keluarrrrr...laggiiiihhh...”Linda merintih memohon.
Segera kugocek tongkolku dengan
ganas. “crep.crep...cplakkk....cplaakkkk...cplaakkkk....” suar gesekan
tongkolku dengan memiaw Linda yang sudah basah kuyup nyaring terdengar.
Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin
menikmati payudara dan putingnya.
Sesaat
kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya
dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
“AN...DREEEWWWW.......OOOOGGGHHHH...>AAAKKKKKKKKKKKK....”
Linda menjerit keras dan sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat.
Terasa di tongkolku denyutan memiaw Linda...sangat kuat.
Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk
segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek.
Makin kuat kocokan tongkolku
didalam memiaw Linda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Linda
tertahan, seolah tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai
puncak kenikmatan.
Karena
denyutan memiaw Linda yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena
uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya
yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat
sangat.
“Ayo nDrew...keluarin pejuh kamu...keluarin dimemiawku....”Linda memohon.
“Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sambil terengah-engah.
“No problem honey...aku safe kok....”sahut Linda. “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”
LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku
merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Linda juga
mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH………..”
Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrroooooottttt…..tak
kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang
kusemprotkan ke rahim Linda, sampai-sampai ia tersentak. Kubenamkan
dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang
kedua.Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti
pejuhku langsung menggempur rahimnya.
Ohhh…nDrreeeww…enak
sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Linda merintih lagi.
“Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…” ucap Linda.
Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.
“Plllookkkkk….”
Kupandangi memiaw Linda yang
masih membengkak dan merah denganlubang menganga. Linda segera mengubah
posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Segera saja jemari
Linda meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak
tumpah kesofa. Akibatnya, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan
pejuhku yang telah bercampur lendir memiawnya. Dengan pejuh di telapak
tangan kanannya, Linda menggunakan jari tangan kirinya,mengorek memiawny
untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.
“Brani kam telen lagi?” tantangku.
“Idih...syapa takut....”Linda balas menantangku. “Nih liat ya….”
Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…
“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Linda nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.
“Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih.” Sahutku.
“Tenang, nDrew..sisanya buat...ini.” Sambil berkata begitu, Linda mengambil sebagian pejuhku dan mengusapkannya diwajahnya.
“Bagus lho buat wajah...biar tetep mulus...”sahut Linda sambil mengerling genit.
“Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.
“Kenapa…? Kaget ya?”
“Diem-diem, muka alim..tapi kalo urusan birahi liar juga ya..”
“Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok ditolak.”
”Tau gitu tadi aku semprot di uka kamu aja ya..” sesalku
“Iya
juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa
ngomong lagi...nahan enak sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan
pejuh kamu di memiawku.” Linda tersenyum
“Eh, Ndrew...ssstttt...coba liat tuh...jailin yuk.....”ajak Linda
Ya ampuuunnnn...aku lupa bahwa
aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa
kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok
sapndexnya, yang mulai membasah. Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar,
lebih besar dari yang kulihat diruang tamu. Pertanda bahwa Rika juga
telah dilanda birahi.
Linda mencolek tanganku, rupanya
ia ingin mengerjai Rika. Aku setuju. Sambil berjingkat, aku dan Linda
menghampiri Rika. Segera tangan Linda yang masih ada sisa pejuhku
dioleskan kemuka dan bibir Rika.
“MMppphhhh…..fffggghhh…..” Rika sontak terkejut dan menghentikan aktivitasnya. “apaan nih…kok kayak bau pejuh…?”
“Udahlah Rik….aku tau kamu juga ikutan horny, ngeliat aku dient*t sama mas Andrew.” Linda tersenyum-senyum genit.
“AH…aku…eeehh….anuu….” Rika gelagapan kehabisan kata-kata.
“Rik…gkalo kamu juga horny, gak papa kok…aku masih kuat.” Tantangku. “Tuh, kamu liat. Kon tolku masih bisa bangun.”
Ya,
walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali permainan, kon tolku
mash berdiri walaupun tak sekeras waktu ngent*tin Linda. Malahan
sekarang kon tolku berdenyut dan mengangguk-angguk, seolah menyetujui
usulku dan Linda.
“Tuhhh, Rik. Kon tolku manggutmanggut.”sahutku.
“Tapi nanti kalo Indah pulang gimana?” tanya Rika.
“Don’t
worry, honey. Kalo memang kepergok, nanti aku bantu jelasin ke Indah.”
Hibur Linda. “Soalnya, dulu-dulu aku pernah becandain Indah, gimana kalo
sekali-sekali aku minjem tongkol suaminya.”
“Trus, Indah bilang apa?” Rika penasaran.
“Mmmm.dia
sih gak bilang iya tapi juga gak bilang enggak.”jawab Linda. “Dia cuman
ngomong, ya kalo kamu gak malu sama Andrew, terserah kamu. Tapi kalo
Andrew ketagihan, resiko tanggung sendiri lho. Gitu kata Indah.”
“Oooo.....”
Rika terlongong mendengar penjelasan Linda. Aku pun terperangah.
Jadi......ternyata.....???? jangan-jangan mereka berdua memang sengaja
kesini...atas suruhan Indah....
Gak pake lama segera kulumat bibir Rika yang mungil.
“Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Rika
mendesah….”Andrewww…puasin aku sayang……guyur aku dengan pejuhmu kayak
Linda tadi….oooccchhhhh…..”
Aku
terus melumat bibirnya..lehernya yang jenjang dan mulus…kujilat pula
telinganya yang membuat Rika merinding dan tersengal-sengal. Ternyata
salah satu titik rangsangannya adala teling.
Linda
membantu melepaskan spandex Rika. Dan…oouuuwww…pantesan di selangkangan
Rika terlihat seperti terbelah. Rupanya dia memakai G-String yang
segitiganya hanya mampu menutupi itilnya. Selebihnya...terlihat bibir me
meknya sudah membengkak kemerahan dan basah kuyup oleh lendirnya.
Kulihat me mek Rika sama dengan Linda…bersih dari bulu jembut, sehingga
ha ini membuat kon tolku langsung tegak mengeras lagi.
Linda
turut membantu Rika melepaskan G-String, kaos dan Bhnya. Seolah Linda
tak ingin Rika direpotkan oleh aktivitas lain yang mengurangi kenikmatan
bercinta.
“Ohhh…nDreeww,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Rika
merintih-rintih sambil mennggelengkan kepalanya saat bibirku turun ke
putingnya. Payudara Rika lebih kecil dari Linda, mungkin hanya 34B,
dibandingkan milik Linda yang 36C. Putingnya berwarna coklat muda, tegak
keras mengacung, seolah menantangku untuk segera melahapnya.
Dan…hap….kusedot putting kiri, sementara tangan kananku meremas payudara sebelah kanan dan memilin putingnya.
“Auuuccchhhh..Anddreewwww…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Rika
berteriak menahan nikmat saat jari tangan kiriku menyusuri memiawnya.
Kumasukkan jari tengahku sambil jempolku menggosok itil Rika yang sangat
keras.
“Rik…kon tol Andrew
diusap dong…biar cepet keras…” ujar Linda. Segera tanpa diperintah dua
kali, Rika segera meraih kon tolku, mengusap dan mengocok bergantian.
“Uffff...Rika
sayaaanng...akhirnya kon tolku kena kamu yaaa...”aku merintih menahan
nikmat. Ternyata Rika sangat terampil dalam urusan kocok mengocok,
sehingga tak perlu waktu lama kon tolku sudah sekeras kayu lagi,
mengkilat kemerahan.
Tak sabar
segera kubalikkan tubuh Rika, sehingga posisinya sekarang nungging
didepanku. Lututnya bertumpu pada sofa panjang, sehingga punggungnya
meliuk, menambah sexy posisinya saat itu. Dengan pantat membulat, tampak
bibir me mek Rika merekah merah dan berkilat licin oleh cairan
birahinya. Tak tahan, kuserbu me mek Rika, kujilat itilnya dan kukorek
liangnya dengan jari-jariku.
“Arggghhh…Andrew….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnghhh….”Rika menjerit sambil tersengal. Napasnya memburu.
“Akk..kku…hammm..ppir
sampai, honey…”Rika terus merintih.Ah…ternyata Rika tak sanggupbertahan
lebih lama lagi. Terasa sekali dibibirku, suhu me mek Rika makin panas,
dan lendir cintanya bertambah banyak mengalir.
Segera saja kuarahkan batang kon tolku yang menunggu giliran, merojok me mek Rika.
“Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Andreeeewwww………”pantat
Rika tersentak menerima hunjaman kon tolku yang begitu tiba-tiba.Nikmat
sekali me mek Rika. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut, aku
merasakan sensasi lain dibandingkan me mek Linda.
Makin
lama makin terasa me mek Rika berdenyut-denyut. Tak ada suara yang
keluar dari bibir Rika, kecuali erangan dan rintihan. Kurasakan otot
disekitar pantat dan selangkangannya mengejang dan tiba-tia Rika menekan
pantatku sambil melolong....
“OOOOUUUWWWWWW….ANDREEEEEEEWWWW…..UUUUUUUFFFFGGGGHHHHHH…..”
Nafas
Rika tertahan, dan kupercepat hunjaman kon tolku, seolah menyerbu me
mek Rika bertubi-tubi. Ahh…..betapa hangat lendir birahi yang mengalir,
bahkan sampai meleleh membasahi pahaku dan paha Rika.
Rika
tetap menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga membuatku makin bernafsu
menggocek kon tolku dalam me meknya yang becek namun sempit.
“C’mon
honey...shot your sperm inside my mouth....,”Rika menoleh dan menatapku
dengan mata sayu seolah memohon agar kusemprotkan spermaku dimulutnya.
“Ohhhhh....aaaawwwgghhh....Rikaaaaa...me
mek kamu kok ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh....,”aku menceracau
sambil terus memajumundurkan pantatku. “Ngeliat pantat kamu yang bulet
..dddaannn...putih...eeegghhhh....bikinnhh....aakkk.....kkkuuuu....pengennnnhhhh
....ngecreettthhh.......aaarrrrggghhh....RIIIKKKAAAAAAAAAA......,”aku
berteriak keras sambil mencabut tongkolku. Serta merta Rika meraih kon
tolku, mengocoknya sambil mengisap kepala dan batangnya.
“C’mon...ayo Ndrew...keluarin pejuhmu.....”
“Aku pengen ngerasain pejuh kamu....”
Linda
pun tak tinggal diam. Ia berbaring telentang dibawahku dan menjilat
perineumku, seolah tau bahwa itu adalah daerah “mati”ku. Ya, aku paling
gak tahan kalo perineumku dijilat.
AAAARRRGGGHHHH....LINDAAAAAA....gila kamu....aaarrrghhhh.....nnnniiikk...mathhh..bangetttt.....”
“Aku gak tahan, Rikaaa...Lindaaa....sayangku cintaku.....”
Dan.....crrroooooottt....crroooootttt.....
“Haeeppphh...eeelllppphhhhh....hhhmmmppphhhhh.....”suara
dari mulut Rika. Tampak dia gelagapan menerima semburan spermaku, tak
kurang dari 5semburan kencang dan banyak...
“Aaaahhh.....ooouuffhh....auuww...ooouuww...udah
Rik...udah...udah...jangan diisep teruss...gelllliiii.....”aku meringis
kegelian karena Rika tetep mengisap tongkolku, seolah tak rela kalo
pejuhku tak keluar tuntas. Seolah ingin menikmati pejuhku hingga tetes
terakhir.
“Hmmm...udah puas kamu Rik?” tanya Linda sambil bibirnya mengecap-ngecap pejuhku yang menetes ke mukanya.
“Ahh...gila
juga si Andrew ya...”sahut Rika. “memiawku rasanya penuh banget. Mana
kon tol dia panjang lagi. Berasa mentok di rahimku kayaknya.”
“Liang kamu gak dalem sih Rik,” timpalku. “Tapi asyik kok rasanya. Ternyata memiaw kalian sama2 gak dalem ya...”
“Thanks banget ya buat kamu berdua, udah mau bantuin aku,”ucapku.
“No problem, dear Andrew,” sahut Rika dan Linda hampir bersamaan.
“Gimanapun, kamu kan suami sahabatku, boleh dong kalo saling bantu...”sahut Rika.
Kami
pun bercanda sejenak sekedar melepaskan lelah. Dan sambil masih tetap
bertelanjang, kupersilakan Rika dan Linda ke ruang makan untuk sekedar
minum minuman segar. Kulirik, jam menunjukkan waktu pukul 11.37 siang,
pertanda tak lama lagi istriku dan anak-anak akan segera datang. Mereka
berdua pun segera membersihkan diri dari sisa-sisa lendir dan sperma
yang membasahi me mek maupun wajah mereka.
"Ok Ndrew...aku pamit dulu ya...,"Rika pamit sambil mengecup bibirku. "Daaa, sayang..."
"Mmmuuaachh...,"Linda
memagut bibirku lama, seolah tak mau kehilangan momen yang sangat
dahsyat. "Bye, Ndrew...,"Linda juga berpamitan. "Salam buat Indah
ya...tapi jangan bilang lho, kalo kamu habis bagi-bagi pejuh...xixixi.."
Rika dan Linda cekikikan sambil berjalan keluar.
"Ok, hon...don't worry...thanks ya..."sahutku sambil melambaikan tangan dan mengantar mereka ke pagar.
Ah, betapa bahagianya aku,
ternyata dua sahabat istriku tak keberatan olah sex denganku, yang
selama ini hanya khayalanku, kini telah menjadi kenyataan.
Thanks buat Rika dan Linda...kuharap kalian gak bosen, karena akupun tak akan pernah bosan menikmati tubuhmu....




0 comments:
Post a Comment