Wednesday, 13 February 2013
Kecanduan Kemaluan Pria
Hallo, nama saya Lilian. Saya mau
bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah
wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan
kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah
lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu
umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2
kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas
dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria.
Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan
lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya
sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah
benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa
memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap
merasa kurang puas.
Saya
yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di
lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan
rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan
nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan
siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya sampai
nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan
memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.
Di
komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit
menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin
juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar
pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada mas Agus, tukang
nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.
"Mas Agus, nasi gorengnya dong..." pinta saya.
"Lho,
mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake
apa-apa lagi..." sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa
sehelai benang pun di tubuh.
"Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?"
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini.
"Ngeliatin apa mas..?" kutanya.
"Ah ngga..." katanya gugup.
Lalu
mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng
pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya
sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak
tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya
jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang
kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan
alat vitalnya mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar
lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin mas Agus merasakan senang yang
tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya
juga menjilati dua telor mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya
benar-benar menikmati kejantanan mas Agus yang sekarang dia mulai
bersuara, "Mmmh... mmmh... uhhh..."
Kira-kira
15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tiba-tiba mas Agus
menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri
sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas
Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung
merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan
itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke
liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri.
Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah
benar-benar merasa keenakan.
"Uuuh... akkhh... akkh... akhhh..." saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.
"Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..." pinta saya.
"Udah mau keluar nih..." jawabnya.
Langsung
saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan
jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya
tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar.
Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati,
dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima
upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang
memang lezat.
"Crot.. crot.. crot..." semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.
Bertepatan
dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah
bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.
"Lho, mas Agus lagi ngapain..?" kata seorang bapak di situ.
"Ah ngga pak... mmm... ini mbak Lily..." jawab mas Agus malu-malu.
"Ini
Om, saya habis 'gituan' sama mas Agus..." saya jawab begitu nekat
dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah
saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.
Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.
"Adik ini tinggal dimana?" tanya salah satu dari mereka.
"Di sana, di blok F." jawab saya.
"Ayo pulang sudah malam..!"
Dan
saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai
saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal
digantung hidup-hidup.
Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, "Om, mau nyusu ngga..?"
"Jangan main-main kamu..."
"Ayolah Om.... saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?"
Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.
"Ayo dong Om... saya pengen banget lho..." saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.
Bapak
yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, "Ya udah, kita bawa ke
pos ronda aja pak Karim..." dan pak Karim pun setuju.
Setibanya
di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana,
termasuk bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali,
bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam.
Gila... beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam
ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan mas Agus, saya
langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka,
"Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini..."
Mereka
langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan
saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan
CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris
seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga.
Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu
senjata keperkasaannya bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil,
saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya
dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang
kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya pak Karim.
Setelah
selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka.
Lalu saya duduki batang kejantananmya bang Parli sampai masuk ke liang
senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, pak
Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya,
sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu,
saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama
saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa
saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa
kali saya sudah keluar karena orgasme. Ada pula saatnya ketika satu
senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata
lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan
secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena
merasakan kenikmatan yang benar-benar tiada tara.
Untungnya
mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya,
kalau tidak bisa hamil nanti saya... berabe dong..! Lagipula saya
berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya
tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka
mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka
masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima
batang kejantanan itu dengan lembut.
Akhirnya, "Crot... crot... crot... crot.... crot..." saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali.
Waktu
pulang, saya diantarkan bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di
depan rumah saya, sekali lagi bang parli membuka ritsletingnya dan
menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya
melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya.
Selama 10 menit saya dan bang parli melakukan senggama di depan pagar
rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya.
Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak.
Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar
sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya
langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah.
Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri
mereka masing-masing.




0 comments:
Post a Comment