Wednesday, 13 February 2013
Break, Break.., Tante pun Didapat
Sejak
berada dibangku SLTA, saya mempunyai hoby merakit alat-alat
elektronika, yang salah satunya adalah alat komunikasi Handheld
Transceiver (HT). Setelah rampung merakit dan berhasil untuk digunakan
berkomunikasi kini hari-hariku terisi dengan membuang kejenuhan melalui
alat komunikasi tersebut. Sampai suatu saat ditengah malam, saya ngebrik
dengan seorang wanita di channel khusus yang hanya dapat kami
pergunakan berdua alias "mojok" dengan fasilitas symplex duplex. Asyik
memang sehingga tak terasa sudah larut malam.
"Mah..., udah larut malam nich, masak hanya ngobrol terus tanpa tindakan?", tanyaku agak manja.
"Emang Papa mau ngapain, kita khan cuma bisa berbicara aja", balasnya di seberang sana.
"Engg maksud Papa..., ehm ssth", suaraku sengaja mendesah merayu.
"Ach Papa, dadamu menggairahkan emm apalagi pen.., auh besarnya".
"Emmh mah, buah dadamu montok, bersih dan itu..., putingnya merah jambu..., Papa ingin mengulumnya mah".
"Ini pah silakan..., ahh..., aih..., terus pah auh...".
Demikian hangatnya komunikasi ini sampai tak terasa celana dalamku basah oleh lendir kental seperti susu milk.
"Mah saya udah keluar nich, Mama udah belum?, tanyaku.
"Mamah belum apa-apa tuh pah", jawabnya.
"Gimana pah kalau besok kita KOPDA (Kopi Darat)".
"Oke dech mah, tapi dimana?
"Emm
di Matahari Plasa lantai IV, tepatnya di Rumah Makan Dandaman, aku
disana pakai T-shirt hitam dan celana Jeans Biru. Cari aku disana
yah...".
"Oke deh,... Lalu jam berapa?".
"Ya..., jam 10 pagi, bisa nggak?
"Pasti bisa deh..., oke sampai ketemu besok ya..., daah cup ah cheerio mam."
"Cup ah juga pah sampai besok..., cerio".
Akhirnya
di pagi hari yang cerah, pagi-pagi sekali saya sudah mandi dan
berpakaian rapi. Dengan menggunakan Jeep Willys bak terbuka Saya
meluncur ke Matahari Plasa langsung menuju ke lantai IV. Disana saya
berjalan-jalan sambil melihat-lihat ke rumah makan Dandaman dan mencari
wanita berpakaian seperti apa yang dia katakan. Beberapa lama di sana,
di sudut ruangan mataku terbelalak melihat sosok wanita dengan ciri-ciri
yang kucari. Ternyata tubuhnya seksi dan dandanannya menunjukkan bahwa
dia bukan orang sembarangan. Karena apa yang saya cari sudah ketemu dan
ternyata tidak mengecewakan, maka saya langsung menghampirinya.
"Selamat pagi tante", sapaku dengan senyum ramah.
"Selamat pagi juga". jawabnya tak kalah ramahnya.
"Kenalkan nama saya Andy, tante".
"Emh nama tante Santy, Silakan duduk Ndik".
"Terima kasih tante", sambil saya mengambil tempat duduk di depannya.
"Jangan lagi panggil tante ah, panggil saja Santy. Oke?".
"Ya deh", jawabku sambil mengangguk.
Singkat
cerita kami berdua ngobrol tentang kami berdua, eh ternyata memang dia
bukan orang sembarangan. Dia istri pengusaha terkenal di Semarang.
"Kamu masih kuliah Ndik?
"Masih San, tapi mungkin semester ini saya ambil cuti".
"Lho kenapa?", tanya Santy.
"Yah
biasa masalah biaya. Saya harus menanggung buaya hidup dan kuliahku
dengan usaha sendiri. Sementara ini bisnis yang saya jalankan lagi sepi
San, Jadi yah cuti dulu nggak apa-apa lah", komentarku menerangkan.
"Andhik",
kata Santy sambil bergerak mendekatiku. "Ngapain harus cuti segala,
emang kamu nggak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan?".
"Emm nggak punya San, habis semua saudaraku berada jauh dari Semarang".
"Lalu kau anggap aku ini siapa? Tanya Santy mengejutkan. "Kamu butuh uang berapa?" lanjutnya.
Saya jadi gelagapan diberondong pertanyaan oleh Santy."Em..., anu..., ehg".
"Kamu nggak usah gugup Ndik, ngomong aja kamu butuh uang berapa".
Akhirnya saya ngaku juga "Anu San dua juta".
Setelah saya ngomong begitu, Santy langsung membuka tas kecilnya dan brak..., uang dua juta sudah di atas meja di depanku.
"San..., engh"
"Ala...,
nggak usah basa-basi, ambil saja Ndik"' Kata Santy tahu apa yang sedang
saya pikirkan. Lalu gimana saya harus mengembalikannya San. Nanti
gampanglah sekarang ayo habiskan makannya.
Setelah makanan di depan meja habis kusantap, Santy langsung membayarnya dan kami beranjak pergi.
"Kita mau kemana San", tanyaku.
"Kamu naik apa Ndik?" tanya Santy.
"Itu naik gerobak antik", kataku sambil menunjuk mobilku.
"Eng kalau begitu, kita naik mobilku saja", kata Santy. "Sementara biar mobilmu disini dulu, Oke?".
"Oke",kataku sambil naik ke mobil Santy.
Dalam
pikiranku pasti Santy akan mengajakku ke hotel dan..., ternyata mampir
dulu ke rumahnya. Dirumah mewah itu hanya ada perkakas Lux dan Interior
yang sangat indah. Halaman luas dengan taman yang indah juga.
"San..., kenapa rumah kamu sepi?".
"Iya memang hanya ada aku dan suamiku yang sering dinas keluar kota. Maklum sibuk dengan bisnisnya".
Akhirnya
di ruang tamu kami ngobrol sambil nonton VCD yang telah di on kan oleh
Santy. Sebuah CD karaoke dengan background seorang artis yang sensual
dengan memamerkan tubuhnya yang menggiurkan. Tangan Santy tidak terasa
meraba-raba tangan dan tubuhku. Kulirik buah dadanya yang menyembul
ingin keluar dari kaos "you can see" nya. Tanpa ragu saya juga membalas
gerakan-gerakan Santy. Semakin dalam semakin asyik saja dan tidak terasa
saya dan Santy telah telanjang bulat di sofa ruang tamu."Engh...,
ah..., Ndik", jerit Santy saat kujilati liang kewanitaannya sambil
kuremas putingnya.
"Terus Ndik..., augh..., nikmatnya augh..., Ndik aku nggak kuat".
Langsung
saja penisku, saya masukkan ke liang senggamanya dan kali ini jeritan
Santy semakin keras "Augh..., Andhik..., gila kamu..., terus Ndik...".
Dan akhirnya cret..., creett... saya puas dan Santy pun demikian.
Akhirnya
pengalaman ini terbawa hingga saya tamat kuliah dengan biaya seluruhnya
ditanggung oleh Santy. Kini saya sudah punya rumah, mobil, hand phone
dan pekerjaan yang semua berasal dari Santy. Kini Santy telah tiada
karena sakit jantung.
Mohon maaf Santy, semoga Tuhan mengampuni dosa kita berdua.




0 comments:
Post a Comment