Wednesday, 13 February 2013
Bersama Teman Baik Saat Camping
Alam pun akan berputar tak akan berhenti,Bumipun pada saatnya akan
hancur’ini menandakan kiamat’,seperti apa yang dikishakan strat movie
“2012′yang membikin heboh dan kontrofersi banyak orang.Hi,,,”seram,film
ini menadakan bencana banjir bandang yang luar biasa hebatnya merenggut
banyak nyawa,tapi film ini ada sisi heronya”ada beberapa orang yang
lolos dari kejadian maut itu,Tapi saatnya meredam cerita horor.
aku
akan kembali untuk berbagi cerita dimana faedah dari kejadian ini
sebenernya harus bersyukur pada alam,tapi mengapa malah dengan panorama
alam yang indah ada suasana sex yang tidak bisa dihindarkan,Cerita ini
mengankat sisi kehidupan,Mengenal alam yang di ciptakan oleh Tuhan
memang begitu indah begitu besar isi dunia ini betapa kecil kala kita
memandang langit,hidup bersama alam membuat kita semua Tahu bahwa Tuhan
itu ada memberi didalam seluruh jagad raya ini.Sebagai manusia kita
harus mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan tanpa tidak merusak
dan memunahkan pemberiannya.Siapa yang wajip melakukan itu semua,selain
para generasi muda yang berbudi luhur dan cinta terhadap Tuhan.Hal ini
bisa ditunjukkan sejak dini,misal dengan mengikuti kegiatan-kegiatan
yang bersifat alam dengan mengikuti ekstrakulikuler “lintas alam’.ekskul
ini biasa di lencanakan oleh lembaga-lembaga sekolah.Aku mau berbagi
kisah menarik soal pengalamna saat melakukan hal yang bernuansa
alam.Kejadian ini aku tulis dalam sebuah diari besarku yang akan ku
ingat selalu.Dan saat ini aku akan ceritakan kembali kepada para
pembaca.inilah ceritanya semoga kejadian ini bisa menjadi sorotan dan
hal rekomendasi dalam hidup.
Suatu
hari, kelompok PX mengadakan acara berkemah di hutan selama tiga hari.
Pesertanya selain anggota kelompok, juga klub pecinta alam di smu-smu.
Tapi untuk keselamatan mereka, kondisi badan mereka juga diperiksa
terlebih dulu. Selain itu, peserta dibagi dalam regu-regu yang
masing-masing terdiri dari empat anggota kelompok PX dan dua orang dari
smu. Sebelum berangkat ke lokasi, semua peserta berkumpul di sekretariat
klub kami untuk pembagian regu dan penjelasan mengenai medan yang
dilalui dan tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan tiap regu. Dalam
eguku, dari kelompok PX, ada Doni, Rima, Lydia, Mirna, dan aku. Di sana
aku berkenalan pula dengan dua anggota reguku dari peserta smu. Laila,
siswi kelas 3 yang cukup manis dan Johan, yang ternyata masih kelas 2.
Setelah mengepak perlengkapan dan meletakkannya ke dalam bis, kami naik
dan mulai menuju lokasi yang kurang lebih 230 km dari sekeretariat kami.
Johan ternyata memilih duduk disampingku. Ia tampak sangat antusias
mengenai perjalanan ini, ia bertanya banyak hal dan pembicaraan itu
cukup mengakrabkan kami berdua. Setelah beberapa lama, aku mulai
memperhatikan bahwa Johan bisa dibilang cukup berotot dibandingkan
remaja lain seusianya. Wajahnya cukup tampan dan kulitnya putih.
Rambutnya mengingatkan aku pada rambutku sendiri sebelum aku lulus dan
kupanjangkan sampai sebahu seperti sekarang. Pakaiannya menunjukkan
kalau dia anak orang yang cukup berada. Saat pandanganku mengarah pada
celananya, aku cukup terkejut karena tonjolan yang ada di tengah pangkal
kedua pahanya tampak lebih besar daripada punyaku sendiri. Padahal aku
cukup bangga dengan ukuran “Senjata”-ku yang bisa mencapai 18 cm.
Semakin lama aku semakin penasaran tentang ukuran sejatanya itu, tapi
aku belum berani menanyakan kepada Johan. Tidak tahu kenapa, senjataku
itu lalu pelan-pelan bangun. Karena kami berangkat kira-kira jam 9.30
pagi, jadi sesampainya kami di sana sudah cukup siang. Panitia
menjelaskan sekali lagi tentang tugas-tugas masing-masing regu.
Selanjutnya acara pun dimulai. Setiap regu mulai menelusuri rute yang
ditetapkan.
Setelah
hari hampir gelap dan kami telah menemukan tempat yang cukup luas, kami
kemudian membangun dua tenda, satu untuk perempuan dan satu untuk
laki-laki. Aku, Laila, dan temanku yang lain membuat api unggun dari
kayu bakar yang sudah dibawa dari sekretariat tadi. Setelah cewek-cewek
berganti baju, tugas mereka untuk memasak, sedangkan sekarang giliran
kami yang cowok untuk berganti baju. Saat Johan melepas bajunya, aku
bertambah yakin kalau anak ini sering berlatih beban, otot-ototnya tebal
dan membentuk. Aku masih mengawasinya, ia lalu melepas celananya dan..
Oh! ternyata ia tidak memakai celana dalam. Aku rasa itulah yang membuat
tonjolan yang tampak lebih besar dari punyaku. Kulihat penis Johan yang
sedang “Tidur”, ternyata sedikit lebih besar dari punyaku. Johan
telanjang bulat sekarang, sedangkan Doni hanya menggunakan celana dalam
saja. Aku sendiri sudah sering melihat tubuh Doni yang cukup seksi
telanjang saat berkemah dan kami cukup akrab. Tapi tidak terjadi
apa-apa, meskipun aku dengan susah apayah menahan nafsuku, setiap kali
Doni memperlihatkan perutnya yang rata. Yang sangat menarik perhatianku
kini adalah anak SMU ini.. Rambut hitam yang cukup tebal menghiasi
sekeliling penis Johan, demikian juga di ketiaknya. Ia tidak tampak
seperti bocah berusia 17 tahun, malahan.. sangat dewasa. “Lho, Mas Fer,
nggak ganti baju?” suara Johan mengagetkanku. “Oh, ya. Nanti saja”,
ujarku sambil mencari bajuku di tas. Aku baru sadar kalau belum membuka
selembar pun pakaianku. Rupanya aku terlalu sibuk memperhatikan tubuh
Johan. Kutunggu mereka semua keluar, dan saat mulai berganti bahu, aku
sadar bahwa ereksiku sudah penuh, dan dari luar celana jeans-ku tampak
tonjolan yang cukup besar. Aku jadi bertanya-tanya apakah Johan atau
Doni tadi menyadari bahwa aku sedang terangsang. Malam itu seperti acara
perkemahan yang lain, diisi dengan main musik, menyanyi, dan ngobrol.
Tapi semua tak berlangsung terlalu lama karena kami semua lelah dan
ingin segera tidur. Kami dapat telentang dengan cukup leluasa, karena
tenda kami hanya diisi tiga orang, sedang di tenda cewek diisi empat
orang. Di sebelahku Doni yang tidur dengan cepat sekali, dan di
sampingnya lagi Johan. Meskipun aku juga merasa sangat capai, tapi aku
hampir tidak bisa tidur karena teringat akan tubuh Johan yang putih
mulus dan berotot. Dari tempatku, aku tidak bisa melihat keadaan Johan,
hal ini lalu membuatku berfantasi yang bukan-bukan. Untunglah akhirnya
aku bisa juga tidur meskipun tidak begitu nyenyak. Esok paginya ternyata
aku dan Johan ketiduran, yang lain sudah mandi dan sedang makan.
Akhirnya
setelah makan, aku dan Johan bertugas untuk mencari kayu bakar, karena
sudah habis untuk menghangatkan makanan kami. Teman-temanku menunjukkan
jalan untuk mencapai sungai, bila kami ingin mandi. Aku dan Johan
kemudian pergi ke dalam hutan. Kira-kira satu jam kemudian, kami sudah
masuk hutan cukup dalam dan kayu yang kami kumpulkan juga cukup untuk
hari itu. Aku mengajaknya kembali ke kemah, tapi Johan rupanya ingin
mandi dulu. “Memangnya kamu bawa handuk?” “Iya, tadi waktu Mas Ferry
ngambil parang, aku ngambil handuk. Ayolah Mas, sama-sama nanti
handuknya kan bisa gantian.” “Nggak lah, aku ngasih kayu ini dulu, biar
temen-temen nggak nyariin kita.” “Okelah, sampai nanti ya Mas!” Kami
berpisah di situ dan aku berbalik menuju kemah. Tapi setelah dua-tiga
menit aku baru sadar kalau Johan anak baru, jangan-jangan dia tidak bisa
kembali dan tersesat dalam hutan. Lalu aku tinggalkan kayu bakar di
sana dan kembali menyusul Johan. Ia sudah tidak tampak lagi, aku
langsung pergi ke sungai yang diceritakan temanku tadi. Di sana, aku
menjumpai Johan sedang berdiri di tepi sungai membelakangiku dan..
telanjang. Aku putuskan untuk mengamatinya dulu sebelum menyusul. Aku
ingin melihat seluruh tubuh Johan yang seksi sekali lagi. Semua ingatan
tentang Johan yang sedang melepas bajunya memenuhi ingatanku dan
pelan-pelan penisku ereksi. Tiba-tiba aku perhatikan, tangan kanan Johan
berada di depan tubuhnya sehingga tidak bisa kulihat, tapi aku yakin
kalau tangan itu sedang bergerak maju dan mundur dengan pelan.. Johan
sedang onani di depan mataku! Melihat pemandangan itu, aku pun tak sabar
lagi.
Nafsu
memenuhi diriku dan aku nekad. Aku berjalan menuju bocah seksi itu
sambil memanggil namanya. Johan menoleh ke arahku dan tampak sangat
terkejut. Aku bisa lihat kalau dia agak terengah-engah, dari dadanya
yang kembang-kempis. Saat aku sudah di sampingnya, aku lihat penisnya
masih tegang, bahkan pucuknya sudah berwarna merah tua. Yang
mengejutkanku, ukurannya berlipat dari kemarin, melebihi ukuran penisku
saat tegang, mungkin sekitar 22 cm. “Eh.. e.. Mas Ferry nggak jadi
kembali ya? Kenapa?” tanya Ferry dengan suara yang agak tersengal. “Iya,
soalnya badan nih rasanya gerah. Kamu nggak merasa gerah?” Aku lalu
mulai melucuti pakaianku sampai akhirnya bugil seperti Johan. Johan
sepertinya memperhatikan tubuhku, mungkin karena ini yang pertama
kalinya ia melihat aku bugil. “Johan, kok bengong? Gerah nggak?” “Oh,
oh.. iya gerah.” “Ya pasti, soalnya kamu habis main sih.” “Ma.. main?”
“Mas Ferry lihat kok tadi.” Aku melihat wajahnya, dia menunduk mungkin
malu ketahuan. “Udah, gitu aja dipikirin. Mas Fer juga sering kok main
sendiri. Tapi lebih seru kalau kita main berdua.” Johan tampak terkejut
dan sebelum dia mencerna lebih jauh ucapanku, aku mendekapnya dengan
erat. Johan berontak, tapi aku mendekapnya lebih erat lagi. Aku
merasakan penis Johan yang panas dan tegang menekan perutku. “Mas Fer,
lepas, Mas! Apa-apaan nih?” Johan setengah berteriak. “Sstt.. tenang
aja! Kita main. Pasti seru dan enak! Aku udah nggak tahan.. kamu terlalu
seksi!” “Mas, jangan!” Kini suara Johan lebih mirip erangan daripada
teriakan, dan ini membuatku semakin terangsang. Kucium dan kujilati
lehernya, aku ingin dia merasakan gejolak nafsu yang aku rasakan saat
itu. Dia terus meronta dalam pelukanku yang kuat sambil bergumam,
“Mass.., jangann.., Mass..!” Erangan Johan membuatku makin ganas,
selesai kujilati lehernya, aku ambil kepalanya dengan tangan kiriku
sementara tangan kananku masih mendekapnya. Kudekatkan wajahnya dengan
wajahku, dan kucium dia dengan penuh nafsu. Saat itu, aku sadar bahwa
Johan juga menginginkan “Permainan” ini, lidahnya dengan terampil
membalas ciumanku, sedang kedua tangannya membelai rambut panjangku,
menekan wajahku agar bibirku tetap menempel pada bibirnya. Kuputuskan
mengambil langkah lebih jauh, kupegang senjata Johan yang dari tadi
tegang dan menekan-nekan pusarku.
Kuelus
pelan, dan kemudian aku genggam sebelum akhirnya aku kocok. Johan
tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, “Aduh,
Mas! Ahh.. uuhh..!” “Jangan, Mas! Ini.. ini..” “Ini nikmat khan Johan?
Hmm?” sambungku sambil terus memompa penis putih itu. “Ohh.. iya, Mass..
teruss.. enakk..” Kulihat Johan memejamkan matanya sambil menengadah,
menikmati betul-betul gesekan jariku pada senjatanya. Tampaknya kerjaku
sangat baik.. Perlahan kurasakan kedua tangannya turun dari kepalaku,
meyusuri punggungku dan sampai pada kedua pantatku. Johan
meremas-remasnya, seirama dengan kocokan tanganku pada penisnya.
Beberapa saat kemudian, Johan menggeliat, hampir lepas dari dekapanku.
“Mass.. bentar lagi nih.. aku.. nggak kuatt..!” “Agghh!” Crott.. crott..
crott..! Senjata Johan memuntahkan peluru maninya, membasahi tubuhku
dan tubuhnya sendiri pula, karena Johan belum lolos dari pelukanku. Air
maninya yang hangat terasa sangat nyaman di dada dan perutku. Tubuh
padat Johan menggelinjang, mengisyaratkan kenikmatan yang Johan rasakan.
Tubuhnya yang berotot dan dibasahi keringat, menggeliat dalam
pelukanku, memberiku pengalaman erotis dan membuat nafsuku bergelora,
wajahku terasa panas. Aku terus memompa penis Johan, aku ingin menguras
isinya. Dan satu tembakan lagi keluar.. menyentuh daguku.. Kuremas penis
Johan yang mulai lemas. “Mass.. ahh.. enakk.. enak bangett..!” Kulihat
wajah Johan yang tersenyum puas dan merona merah. Penis Johan terus
kuremas dan terasa semakin lemas.. “Aduhh.. Mas! Ampun! Enak banget!
Terusin..!” Kueratkan lagi remasanku pada penisnya, agar Johan
benar-benar puas. “Ohh! Ampun.. ahh!” dan akhirnya Johan jatuh terduduk
dihadapanku. Pasti seluruh tubuhnya lemas, sampai-sampai kakinya tak
mampu menopang dirinya sendiri. Johan masih tersengal-sengal, mencoba
mendapatkan udara lebih banyak, menghimpun tenaganya lagi.. Tapi aku
sudah tidak tahan. Penisku yang sedari tadi tegang, kuusapkan pada
pipinya, dan lalu kumasukkan dalam mulutnya. Kehangatan rongga mulut
Johan terasa sungguh nikmat.
Johan
terbelalak, nampaknya ia masih susah bernapas. Kurengkuh kepalanya, dan
kugerakkan maju mundur. Johan sudah bisa beradaptasi, lidahnya ternyata
juga terampil memanjakan batang kejantananku. Dia terus mengulum
kemaluanku, dan sekali lagi meremas pantatku. Aku memanjakan diriku
sendiri dengan memencet-mencet puting susuku. Dan aku meratakan sperma
Johan yang tadi membasahiku dengan tanganku yang lain. Ohh.. sungguh
nikmat. “Ahh.. Johan.. kamu pinter bangett.. Ayo.. terusinn..!” Beberapa
detik kemudian aku merasakan denyutan di zakarku. “Johann.. aku.. aku..
mau..” Johan semakin ganas dan dengan segera spermaku membanjiri mulut
dan tenggorokannya. “Oohh! Yess..! Ahh..!” Begitu banyak.. hingga
sebagian ada yang menetes keluar dari sudut-sudut bibirnya. Aku pejamkan
mata, merasakan betul kenimatan yang kurasakan, ketika Johan menjilati
pusarku dan terus ke atas, menjilati sisa-sisa spermanya sendiri.





0 comments:
Post a Comment