Saturday, 9 February 2013
Budak Nafsu
Nama
lengkapnya adalah Vita Anggraeni. Umurnya 24 tahun, dan sebagian besar
mahasiswa mengatakan Vita adalah gadis yang cantik, pintar sekaligus
berani. Rambutnya hitam legam terurai hingga bahu. Buah dadanya
berukuran sedang dan kenyal hingga mampu mengacung tegak walaupun ia
tidak mengenakan BH. Perut Vita rata, pinggulnya bulat, pinggangnya
ramping. Dan sepasang kaki yang ramping hasil fitness dan olah raga
tampak mempercantik tubuhnya. Selama perjalanan dari kantor polisi di
kotanya hingga penjara ini Vita masih dapat melihat jalan-jalan yang
dilaluinya. Penjara ini benar-benar terpencil, ia sendiri tidak
mengetahui ada penjara di tempat seperti ini. Dan ketika ia melihat
jarak yang ditempuh ternyata jarak penjara itu dengan batas kotanya saja
sudah lima puluh kilometer lebih dan penjara itu terletak di tengah
hutan.
Lamunan
Vita terputus ketika sebuah piring seng berisi makanan didorong masuk
ke dalam selnya lewat jeruji. Ia tiba-tiba tersadar bahwa dirinya belum
makan dalam waktu 24 jam ini, sejak ia dipindahkan dari kantor polisi ke
penjara ini. Ketika mengambil piring itu, Vita melihat makanannya hanya
nasi kering dan sebuah tempe goreng. Tapi karena perutnya yang
tiba-tiba terasa begitu lapar, Vita langsung menghabiskan makanan itu
dan kemudian ia dengan terpaksa meminum air di ember tadi untuk
menghilangkan rasa hausnya.
Tengah
malam ketika Vita tertidur ditutupi oleh selembar selimut, seorang
penjaga masuk ke dalam selnya. Sambil menarik selimut yang menutupi
tubuh Vita, penjaga itu lalu menarik dan menyeret Vita keluar dari
selnya. Vita berjalan sambil sesekali didorong-dorong oleh penjaga itu
menyusuri gang demi gang sampai akhirnya ia sampai di sebuah tanah
lapang yang dikelilingi tembok tinggi.
Di
tengah lapangan itu sudah berdiri lima orang pejaga lain dan seorang
tahanan wanita. Gadis itu tampak cantik sekali walaupun di sekelilingnya
nyaris gelap, hanya ada beberapa api unggun yang menerangi tempat itu.
Vita dengan tangan dilipat ke belakang oleh penjaga yang pertama tadi
didorong terus hingga ia berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari
gadis tadi.
"Buka
baju!" Perintah itu bagaikan tamparan keras di wajah Vita. Vita
ragu-ragu dan kaget setengah mati mendengar perintah tadi. Vita melihat
gadis di depannya sudah membuka kancing bajunya. Sebuah pukulan mendarat
di pundak Vita membuatnya terdorong maju.
"Gue
bilang buka baju!" Masih termangu tak percaya Vita melepaskan
satu-satunya kancing yang ada di bajunya dan melepaskan baju itu hingga
dengan sendirinya terjatuh di kedua kaki Vita. Vita sudah menyadari apa
yang akan terjadi pada dirinya. Ia akan diperkosa oleh keenam penjaga
itu. Ia pernah membaca berita tentang tindakan aparat keamanan yang
tidak senonoh kepada tahanan wanita, tapi waktu itu ia tidak percaya.
Tapi
sekarang Vita sudah berdiri telanjang ditatap dengan penuh nafsu oleh
para penjaga itu. Vita sendiri masih perawan, ia dan pacarnya belum
pernah berhubungan lebih jauh dari sekedar petting, dan sekarang Vita
berdiri gemetar berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dengan
tangannya. Gadis di depan Vita juga sudah telanjang bulat, dan Vita
melihat tubuhnya yang sempurna, jauh lebih terawat dari pada dirinya.
Gadis itu terlihat lebih tegar dan kuat daripada Vita, ia berdiri tak
bergerak di tengah para penjaga dan matanya tidak menyiratkan rasa
takut.
Penjaga yang membawa Vita berdiri di tengah mereka.
"Malam
ini kita punya program latihan buat kamu semua. Kamu berdua harus
melawan satu sama lain sampai salah satu dari kalian tidak bisa bangun
lagi. Yang menang boleh balik ke selnya. Yang kalah musti menghibur kita
di sini. Kalau kalian tidak serius, kalian berdua akan kena hukuman
masing-masing tiga puluh kali pecutan. Jelas!"
Vita
shock sekali mendengar perkataan itu sambil melihat gadis di depannya
menganggukkan kepala. Sementara Vita masih berdiri karena terkejut,
gadis di depannya sudah mendekat dan melayangkan pukulan ke perut Vita
sekuat tenaga. Nafas Vita terhentak keluar ketika ia tersungkur jatuh
berlutut sambil memegangi perutnya. Kemudian Vita melihat kaki gadis itu
terangkat dan mengayun kemudian menghantam dagunya, membuat kepala Vita
tersentak ke belakang dan tubuh Vita terjengkang ke belakang,
tergeletak di atas tanah setengah sadar. Vita mendengar para penjaga
bersorak-sorak ketika ia berguling ke atas perutnya dan berusaha bangun
dengan susah payah. Vita kemudian merasakan tubuh gadis itu menyergapnya
dari belakang dan melingkarkan tangannya ke leher Vita membuatnya susah
bernafas. Dengan satu usahanya yang terakhir Vita mendorong tubuh gadis
itu agar ia lepas dari tubuhnya.
Sekarang
mereka berdua berdiri berhadapan satu sama lain. Gadis itu lalu
langsung mendekat lagi sambil mengayunkan tinjunya, dan kembali
menghajar Vita tepat di dagunya. Pandangan Vita berkunang-kunang
berusaha keras menjaga keseimbangannya. Sebuah pukulan kembali mendarat
di perut Vita membuat ia jatuh terjengkang lagi. Gadis itu langsung
menindihnya dan terus mengayunkan pukulan ke wajah Vita sampai Vita
hampir tak sadarkan diri. Vita masih bisa merasakan penjaga menarik
gadis itu dari atas tubuhnya sementara ia sendiri terbaring tak berdaya.
Setelah itu gelap.
Vita
tidak mengetahui berapa lama ia tak sadarkan diri. Ia tersadar lagi
setelah penjaga menyiramkan seember air ke wajahnya membuat Vita bangun
terduduk dan tersedak. Keenam penjaga itu berdiri mengelilingi Vita.
Gadis tadi sudah tidak kelihatan. Ketika Vita melihat wajah
penjaga-penjaga itu, ia melihat wajah yang penuh nafsu dengan lidah yang
menjilati bibir mereka. Vita tersadar bahwa kekalahannya tadi hanya
merupakan awal dari mimpi buruknya malam ini.
Dua
orang penjaga memegangi tangan Vita dan menyeretnya kembali ke bangunan
utama. Setengah dipapah setengah diseret, Vita dibawa masuk ke kamar
mandi pria. Dengan tubuh penuh keringat dan lumpur Vita didorong di
bawah shower dan air sedingin es langsung menyembur membuat Vita
berjongkok sambil menggigil di depan penjaga tadi. Seorang penjaga
memasang sebuah borgol di tangan Vita dan mengaitkannya ke sebuah pipa
di tembok. Vita menatap dengan panik ketika keenam laki-laki itu mulai
melepaskan pakaian mereka. Ketika mereka telah telanjang bulat, dua
orang penjaga memegangi kaki Vita dan membuka lebar-lebar. Vita
meronta-ronta tapi tak berdaya. Penjaga yang lain mulai meremas dan
menarik buah dada Vita sementara yang satu lagi meraba paha Vita setelah
itu memasukkan jarinya ke lubang kemaluan Vita. Vita mengerang dan
menangis ketika tangan-tangan mereka terus meraba tubuhnya tanpa henti.
Kemudian
seorang penjaga berdiri di hadapan Vita, batang kemaluannya sudah
tegang dan keras ketika ia tersenyum menyeringai pada Vita. Sambil
meraih pinggul Vita dengan kedua tangannya, ia mengangkat tubuh Vita
sedikit dari atas lantai sementara ia sendiri menekuk kakinya
mengarahkan batang kemaluannya ke belahan kemaluan Vita. Dengan satu
dorongan keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang kemaluan
Vita. Tubuh Vita terasa tersobek-sobek terutama lubang kemaluannya
ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang senggamanya yang
kering dan sempit. Vita menjerit-jerit keras hanya untuk menerima satu
tamparan di wajahnya yang membuat Vita hampir tak sadarkan diri. Batang
kemaluan yang bergerak keluar masuk liang senggama Vita, terasa seperti
besi panas yang membuat nafas Vita terputus-putus.
Untuk
meredam teriakan Vita seorang penjaga memasukkan segumpal kain ke dalam
mulut Vita. Sekarang yang keluar dari mulut Vita hanya erangan tak
jelas setiap kali penjaga yang sedang memperkosanya bergerak masuk.
Setelah beberapa lama, Vita merasakan tubuh penjaga itu mengejang dan
erangan nikmat keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itu menyembur
masuk sebanyak-banyaknya ke dalam lubang kemaluan Vita. Sambil
terengah-engah ia menarik batang kemaluannya yang berlumur sperma dan
darah perawan Vita keluar dari tubuh Vita.
Sebelum
sempat menarik nafas lagi, penjaga yang lain yang mengambil giliran
selanjutnya dan dengan kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk
ke liang sorga Vita yang meneteskan darah bercampur sperma. Rasa sakit
itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara penjaga
tadi tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang kemaluannya. Vita
memejamkan matanya berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan ngilu
yang menyerang seluruh tubuhnya. Penjaga yang lain mendekat dan kembali
meremas dan menarik buah dada serta puting susu Vita hingga nyeri. Suara
yang dapat didengar Vita selain erangannya sendiri hanya suara pinggul
penjaga itu yang menumbuk pantatnya ketika ia mendorong batang
kemaluannya keluar masuk kemaluan Vita.
Ketika
penjaga kedua selesai, Vita sudah bersiap untuk penjaga yang ketiga.
Tapi dengan mata terbelalak kaget dan ngeri, Vita merasakan sepasang
tangan membalikkan tubuhnya kemudian membuka belahan lubang kemaluannya.
Vita menjerit tapi tak ada suara yang keluar selain erangan. Vita
sempat merasakan kepala batang kemaluan penjaga itu menempel di liang
anusnya sebelum seluruh rasa sakit kembali menyerang sekujur tubuh Vita.
Vita tidak pernah merasakan rasa nyeri yang tak tertahankan seperti ini
sebelumnya. Penjaga itu bergerak dengan brutal merobek-robek liang anus
Vita, hingga ia pingsan kesakitan.
Sesaat
kemudian Vita kembali tersadar dan ia merasa gumpalan kain yang ada di
mulutnya ditarik keluar. Tetapi setelah itu seorang penjaga langsung
memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vita sambil menarik kepala
Vita kebelakang. Vita tersedak dan terbatuk ketika batang kemaluan yang
keras itu memotong aliran udaranya membuat ia tidak bisa bernafas.
Batang kemaluan di anus Vita masih terus bergerak keluar masuk dengan
keras sementara mulut Vita juga dimasukan oleh batang kemaluan yang
lain. Buah dada Vita terus disakiti oleh tangan keempat penjaga yang
lain. Tubuh Vita bergerak maju mundur seirama dengan gerakan batang
kemaluan yang keluar masuk di anus dan mulutnya.
Perkosaan
itu berlanjut terus, hingga keenam penjaga itu mendapat giliran
sedikitnya dua kali memperkosa Vita. Vita sekarang tergeletak tak
bergerak di lantai kamar mandi, dengan sperma mengalir keluar dari
lubang kemaluan dan mulutnya. Tubuh Vita kesakitan seperti baru saja
dipukuli selama berhari-hari. Ia mengerang lirih ketika dua orang
menarik tangannya berdiri dan melemparkan baju penjaranya.
Tak
berdaya berjalan sendiri, mereka menyeret tubuh Vita ke selnya dan
melemparkannya masuk ke dalam. Dari celah kecil di atasnya Vita dapat
melihat sinar matahari pagi mulai memancar. Ia merangkak menuju ember
berisi air dan dengan sekuat tenaga berusaha membersihkan dirinya.
Kemudian ia kembali merangkak menuju matrasnya dan tersungkur tidur.




0 comments:
Post a Comment