Tuesday, 5 February 2013
Gairah Nakal Wanita Karier
Saya
adalah seorang pria yang berusia 23 tahun dan saya baru saja selesai
kontrakku dengan salah satu perusahaan pelayaran luar negeri. Sekarang
saya adalah pengangguran sebab saya tidak punya rencana untuk kembali
berlayar setelah 2 tahun lamanya. Semua yang saya ceritakan dibawah ini
adalah nyata. Memang cerita ini terlalu bertele-tele bila dibandingkan
dengan cerita-cerita yang pernah saya baca di 17Tahun.com, namun inilah
cerita yang ingin saya ceritakan bagi pembaca juga penggemar
17Tahun.com.
Cerita
ini berawal dari seringnya saya pergi bolak-balik ke rumah sakit untuk
menjaga papa saya di rumah sakit swasta di daerah Jatinegara, Jakarta
Timur. Pada hari Minggu siang tanggal 5 November 2000, saya turun ke
bawah tempat merokok di rumah sakit tersebut, namun di saat saya
menikmati rokokku itu, di dekat tempat dudukku ada seorang wanita
setengah baya yang kira-kira berumur 30 tahun. Ia tampak sibuk sekali
menelepon sana-sini dengan handphone-nya untuk mencari jasa derek mobil
untuk mobilnya. Entah karena saya merasa terganggu atau ada keinginan
untuk membantu wanita itu, akhirnya saya beranikan diri untuk menawarkan
jasa saya sebab siapa tahu kerusakannya masih sepele. Setelah
mengumpulkan semua keberanian untuk menawarkan jasa saya akhirnya
meluncur juga dari mulutku untuk membantu dia.
"Eee.. maaf Tante, kalo saya boleh tau, mobil tante rusak?" tanya saya dengan ragu-ragu.
"Iya Dik", jawabnya singkat sambil tetap menghubungi seseorang dengan handphone-nya.
"Eee.. kalo boleh tau, Tante.. mobil Tante apa merk-nya?" tanya saya lagi.
"Honda, Honda Maestro", jawabnya dan kali ini dia melihat saya.
"Kalo
boleh, saya coba bantu Tante buat benerin mobilnya Tante, sebab siapa
tau saya bisa, Tante!" kata saya menawarkan pertolongan.
"Eee.. boleh-boleh.. Ayo ke mobil saya yuk", pintanya.
Setelah
itu kita berdua jalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke mobil
wanita itu, yang ternyata tidak jauh dari tempat merokok. Setelah saya
dibukakan pintu, saya coba starter mobilnya tapi hasilnya nihil. Dengan
kasus seperFi ini, saya katakan pada wanita itu bahwa ada kemungkinan
bahwa ini masalah dinamonya dan saya sarankan untuk mendorong mobilnya
sebab tidak ada masalah sehingga dia bisa tiba di rumahnya atau bengkel
sebelum kesorean dan tidak perlu memanggil jasa derek mobil karena
biayanya yang mahal. Dan sepertinya dia berpikir sejenak dan dia setuju
dengan saran saya, hingga akhirnya saya memanggil salah satu satpam yang
saya temui untuk meminta pertolongannya untuk mendorong mobil.
Agh, akhirnya mobil wanita itu nyala
juga danKseperti dugaanku bahwa masalahnya hanya masalah dinamo. Dengan
posisi wanita itu di dalam mobil dan saya di luar sambil memperhatikan
dia untuk meninggalkan saya, tiba-tiba dia memanggil saya dengan membuka
kaca jendelanya dan mengucapkan terima kasih kepada saya sambil
memberikan uang 2 lembar seratus ribu tapi saya tolak sebab
pertolonganku adalah dari hati nuraniku bukan untuk meminta balasan
namun dia tetap memaksa saya dan akhirnya saya ambil satu saja dan
satunya lagi tetap di tangannya sambil mengucapkan bahwa itu saja sudah
lebih dari cukup. Akhirnya dia mengalah karena saya tetap bertahan untuk
tidak mengambil sisanya tapi dia membuka tasnya dan mengambil kartu
namanya dan diberikan buat saya sambil menitip pesan bahwa kalau ada
sesuatu atau saya sedang senggang diminta menghubungi dia, dan saya
terima kartu namanya. Sebelum pergi, dia menanyakan nama saya sambil
menyodorkan tangannya dan saya jawab bahwa nama saya Willi dan dia
mengatakan bahwa namanya Lucy. Dan akhirnya ia pergi dengan mobilnya dan
saya tetap berdiri melihat mobilnya hingga hilang ditelan sebuah
tikungan ke kanan.
Dua
hari setelah kejadian itu, papa saya meninggal dan saya sibuk
menyelasaikan segala urusan yang berkaitan dengan papa saya mulai dari
rumah sakit, rumah duka, dikremasi hingga jadinya Akte Kematian.
Setelah
semuanya selesai dan saya kembali pada kehidupanku yang hanya
menghabiskan hari demi hari saya dengan jalan-jalan dengan teman-teman
saya ke sana ke mari. Hingga pada suatu hari di bulan Desember 2000,
saya teringat kembali dengan wanita yang saya kenal di rumah sakit dan
saya cari kartu namanya dan akhirnya ketemu. Akhirnya saya hubungi
Handphone-nya walaupun di kartu nama itu ada nomor telepon rumah dan
kantornya.
"Hallooo?!" terdengar jawaban seorang wanita dari sana.
"Dengan Lucy-nya ada? ini Willi", jawab saya lengkap.
Sejenak
terdiam dan terdengar, "Iya ini Lucy sendiri dan saya ingat kalo kamu
yang nolong saya waktu saya di rumah sakit itu khan?" tanyanya yang
terkesan menebak.
"Iya.. ini saya Willi yang waktu itu", jawab saya.
"Eee.. gimana sekarang kamu, Will?" tanyanya.
"Lagi senggang nich", jawab saya.
"Kayaknya
untuk sekarang ini saya nggak bisa lama-lama ditelepon.. bagaimana
kalau malam ini kita ketemu, saya mau traktir kamu makan malem, apa
bisa?" sambungnya.
"Iya bisa. Saya nggak ada acara", jawabku singkat.
"Oke
kalo gitu kita ketemu di restaurant Tony's Romas deket Ratu Plaza aja
jam 7 malam ini, Oke? kamu tau khan?" jawabnya menjelaskan.
"Iya saya tau, Oke dech sampe nanti", jawabku.
Seperti
janjiku dengan Lucy, saya datang ke Restaurant Tony's Romas dan saya
tiba 10 menit lebih awal. Dan pilih tempat duduk yang kira-kira saya
bisa lihat kalau ada orang yang datang. Tepat jam 19.00, Lucy datang,
dan saya sangat terpana dengan pakaiannya yang begitu seksi. Dia
mengenakan baju terusan warna merah dengan strip warna biru dengan model
tali yang menggantung pada lehernya sehingga tampak dengan jelas
punggungnya dan berarti dia tidak memakai BH dan rambutnya yang
sepanjang bahu dia ikat ke atas sedang rambut depannya dibuat poni rata
dengan alis matanya tapi dengan tekukan ke atas. Dadanya yang lumayan
besar dan bulat seakan-akan mau keluar dari baju yang dia pakai. Wow,
saya begitu terpana dengan apa yang saya lihat, tapi saya tidak terlalu
terpana sebab saya harus memberitahu bahwa saya ada.
Saya
mengangkat tangan mengisyaratkan siapa tahu dia melihat. Ternyata ada
seorang waiter yang melihat dan sepertinya dia tahu bahwa saya memanggil
Lucy, dan waiter itu pun mengatakan sesuatu pada Lucy lalu menunjuk
pada arahku.
"Hi.. udah lama?" katanya membuka pembicaraan sambil duduk dan merapikan baju terusannya sepanjang mata kaki.
"Belum", jawabku singkat.
"Eee.. kamu udah pesen? kalo belum, kamu mau pesen apa?" tanya dia.
"Belum, saya belum pesen apa-apa",jawabku sambil membuka buku menu.
Setelah
kita berdua memesan makanan, dan sambil menunggu makanan kami
berbincang-bincang sana-sini dan akhirnya dia menanyakan bahwa mengapa
saya ada di rumah sakit saat itu, dan saya jelaskan dan saya katakan
pula bahwa papa saya sudah meninggal dan dia tampak kaget dan minta maaf
kalau dia membuat saya sedih.
Acara
makan malam saya bersama Lucy berlangsung lancar dan kita berdua mau
pulang, dia memaksa mengantar saya pulang sebab selain hemat biaya
lagipula ternyata rumah Lucy searah dengan saya, dia tinggal di daerah
Kelapa Gading dan saya yang menyetir dengan ijin dia terlebih dahulu.
Dalam
perjalanan, tanpa saya tanya, dia mengatakan bahwa dia sudah cerai
dengan suaminya sejak anaknya berusia 6 bulan dengan alasan mantan
suaminya itu punya simpanan. Saat dia menceritakan itu, saya tidak tahu
apa yang harus saya lakukan sebab rasanya kalau diterus-teruskan mungkin
akan membuat dia sedih dengan pengalaman pahitnya, hingga pada akhirnya
mengatakan bahwa sebaiknya tidak perlu diteruskan sebab mungkin akan
membuat dia ingat dengan masa lalunya itu tapi dia mengatakan bahwa dia
ingin saya tahu dengan siapa yang dia kenal (maksudnya dia sendiri).
Dari ceritanya, dapat saya simpulkan bahwa dia wanita karier yang
lumayan bagus dengan kariernya.
Setelah
dia selesai menceritakan semuanya, kita terdiam sejenak dan hanya
tembang-tembang Ebiet G Ade yang kita dengar. Tapi dengan tiba-tiba dan
membuat saya kaget, Lucy mendekatkan kepalanya dan menyandar diantara
bahu dan ujung jok mobil. Saat itu saya tidak tahu harus bagaimana, jadi
saya diam saja. Namun yang menambah kurang konsentrasinya saya dengan
jalan adalah, setiap saya mengganti persneling, lengan saya bersentuhan
dengan dadanya yang lumayan besar dan ini tidak mengubah cara dia duduk,
dia tetap dengan posisinya. Setiap kali bersentuhan saya minta maaf
padanya dan hati serta kemaluanku tegang. Rasanya saya teramat salah
tingkah sebab selain menggangu pikiran saya, saya pun menikmati apa yang
terjadi. Sampai pada akhirnya Lucy memecahkan kesepian pada saat itu
dengan mengatakan, "Will, kamu sudah pernah bercinta?" Wah, rasanya
seperti disambar geledek dengar pertanyaan Lucy. Setelah terdiam
sebentar karena kaget, saya jawab pertanyaannya itu dengan jujur bahwa
saya sudah pernah bercinta dan saya jelaskan pula bahwa itu dengan pacar
saya. Lalu dia bilang, "Eee.. kayaknya kamu sekarang sudah terangsang
ya dengan posisiku kayak gini ini?" sambil tangan kirinya dengan cepat
meraba daerah kemaluan saya. Saya benar-benar terhenyak dengan sikap
Lucy dan saya biarkan tangan kirinya meraba-raba dengan halusnya
kemaluan saya dari celana panjang saya sebab selain inilah yang yang
inginkan, saya pun lagi-lagi dalam posisi sulit.
Saya
tidak tahu berapa lama dia meraba-raba kemaluan saya hingga pada
akhirnya dia membuka reitsleting celana saya dan makin berani sehingga
sekarang dia meraba-rabanya di celana dalam saya. Sambil meraba-raba dia
bilang (dengan nada nakal dan manja), "Will, punya kamu ini besar ya?!
panjang lagi.. dan kayaknya udah pengen maen nich." Namun saya tidak
memberi jawaban sebab selain saya tidak tahu harus menjawab apa, saya
merasa sedang terbang.
Dan
saya pun tidak tahu pasti berapa lama dia meraba-raba kemaluan saya
dari atas celana dalam saya. Hingga pada akhirnya dengan tiba-tiba
kepalanya seperti terjatuh ke daerah kemaluan saya dan dia
menjilat-jilat celana dalam saya dengan tangan kirinya yang tetap
meraba-raba rambut kemaluan saya yang mungkin sebagian keluar dari
celana dalam. Saya yakin bahwa celana dalam saya sudah basah dengan air
liurnya sebab rasanya sudah agak lama dia jilati. Tidak berapa lama
setelah saya berpikir seperti ini, dia membuka celana dalam saya dan
langsung menelan semua kemaluan saya. Wah, rasanya benar-benar
nikmat dan saya benar-benar harus membagi dua pikiran saya antara
kenikmatan yang sedang saya rasakan juga jalanan.
Karena
saya pun terangsang dengan kuluman Lucy, dengan berani saya memegang
dadanya dan meremas-remas kecil. Walaupun saya tidak melihat, namun saya
dapat membayangkan bagaimana rasanya apabila saya menghisapnya. Wah,
sulit dikatakan. Hingga pada saatnya, saya mengatakan pada Lucy bahwa
saya rasa saya akan klimaks, tapi buru-buru dia menghentikan kulumannya
dan mengambil posisi duduk normal. Dan dia bilang bahwa dia pun sudah
terangsang dan ingin berhubungan seks. Dia mengajak saya menginap di
salah satu hotel. Sebelum mengiyakan ajakan Lucy, saya katakan bahwa
saya harus memberitahu sama orang rumah bahwa saya tidak pulang agar
mereka tidak perlu menunggu saya.
Setelah
semuanya sudah beres, akhirnya mobil yang kita tumpangi saya arahkan ke
daerah Sunter, sebab saya tahu bahwa di situ ada hotel, walaupun saya
belum pernah menginap di situ. Akhirnya kami tiba di hotel yang saya
maksud dan saya beserta Lucy masuk dan mengurus urusan-urusan di Front
Office di hotel itu, dan setelah semua selesai dengan biaya yang
ditanggung Lucy, kami pun diantar ke kamar yang sudah dipilih dengan
Bellboy.
Setelah
mengecek sana-sini dalam kamar, akhirnya Bellboy meminta ijin untuk
keluar setelah menghidupkan TV dengan Channel MTV. Dan setelah terdengar
suara pintu kamar kami ditutup oleh Bellboy, saya dan Lucy dengan cepat
saling berpelukan dan berciuman sambil berdiri karena sama-sama sudah
tidak bisa menahan gairah seks masing-masing.
Lucy
memang kelihatan sudah terangsang berat dan pandai berciuman sebab saya
dapat merasakan permainan lidahnya yang sangat Hot. Sambil bermain
lidah, tangan Lucy dan tangan saya saling meraba-raba bagian terlarang
satu sama lain. Tangan kiri saya tetap memegang bagian belakang kepala
Lucy sedang tangan kanan saya mengelus-elus bagian punggung Lucy yang
terbuka dan mulus putih tanpa cacat, sesekali meraba ke bagian tekukan
bawah payudaranya. Sesekali tercium olehku aroma parfum yang dia
gunakan. Sedangkan tangan kiri Lucy menelusup ke bagian belakang celana
saya sedang tangan kanannya merabanya dari depan mulai dari kemaluan
saya hingga ke daerah pusar.
Lama-kelamaan,
tangan saya membuka sebagian baju bagian dadanya sehingga saya dapat
memegang dengan jelas bentuk payudaranya. Saya rasakan bahwa besar
payudara Lucy terasa mantap dengan posisi jemari saya seperti mau
mengambil payudaranya itu. Saya usap, elus dan mainkan puting susunya
yang terasa makin lama makin agak keras. Dengan tetap sambil berciuman,
memainkan lidah dan saling menggigit bibir bawah atau atas satu sama
lainnya. Sedangkan tangan Lucy sedang berusaha membuka celana saya
dengan membuka reitsleting celana dan berusaha membuka ikat pinggang
saya.




0 comments:
Post a Comment