Tuesday, 5 February 2013
Tante-tante Kesepian
Pada
hari minggu, aku jalan-jalan ke pusat pertokoan di Jln. Sumatera.
Rencananya sih, aku mau membeli keperluan sehari-hari, kebetulan saat
itu aku ada sedikit uang. Sesampainya di pertokoan, tatkala aku sedang
melihat-lihat makanan ringan, tiba-tiba aku ditabrak oleh seorang wanita
cantik yang usianya kira-kira 35 tahun, sehingga barang-barang yang
berada di tanganku jatuh semua, lalu si wanita itu minta maaf kepadaku.
Aku hanya tersenyum karena menurutku nggak masalah karena yang
menabrakku adalah wanita cantik dan seksi. Lalu aku jongkok untuk
mengambil barang-barangku yang jatuh tadi tapi si wanita itu jongkok
juga sehingga kepala kami saling berbenturan tanpa disengaja. Sekarang
giliranku yang minta maaf tapi wanita tersebut hanya tersenyum saja.
"Sendirian Bu?" tanyaku.
Si ibu menjawab, "Sebenarnya berdua, tapi teman saya lagi ke toilet dulu."
"Borong nih?" tanyaku lagi.
Dengan tersenyum si wanita tadi menjawab, "Ahh, nggak juga."
Kemudian si wanita tadi bertanya lagi, "Di mana Adik tinggal?"
"Setiabudi", jawabku dengan singkat tapi pandanganku terarah pada wajah wanita tadi.
"Oh
kebetulan kita sama-sama satu arah, saya juga tinggal di Lembang,
bagaimana kalau kita sama-sama pulangnya nanti?" tanya wanita tersebut.
Saya
diam saja namun dalam hati ada juga rasa senang diajak oleh wanita
cantik. Tanpa diduga wanita itu membawa barang-barangku ke kasir
sekalian dengan miliknya untuk dibayar. Di situ saya bertemu dengan
temannya yang ke toilet tadi, yang ternyata bernama Ririn, usianya
sekitar 5 tahun lebih muda dari si ibu tadi. "Sudah Jeng?", tanya Ririn
ke pada ibu tadi. "Oh, sudah hanya sedikit kok." Lalu kami pergi ke
basement untuk pulang.
Singkat
cerita kami sudah dalam perjalanan pulang, ngobrol di mobil dari
kenalan sampai dengan masalah yang sangat pribadi. Ternyata si ibu
tersebut bernama Lela, mereka dari kalangan Borju yang suaminya bekerja
sebagai pengusaha yang jarang pulang ke rumah. Hari itu kurasakan sangat
indah di dalam mobil mewah bersama dua orang wanita cantik, apalagi
Ririn yang memakai rok mini dan baju transparan, sehingga BH dan pahanya
jelas terlihat. Lela sambil menyetir terus berusaha menggodaku. Tanya
pacar segala. Tak terasa aku hampir sampai di Setiabudi tapi Ririn yang
berada di sampingku mencegah.
"Jangan Dik, lebih baik main dulu ke villa kami di Lembang", ajaknya, "Ntar pulangnya diantar lagi."
Lela pun ikut nimbrung, "Iya Dik, kebetulan di rumah sepi dan juga kami butuh teman untuk ngobrol."
Ririn
yang mengenakan rok mini selalu bikin aku ngiler apalagi dia sengaja
menaikkan rok mininya sehingga pahanya yang putih mulus terlihat jelas.
Aroma wewangian yang dipakai oleh Ririn semakin menambah indahnya
suasana. "Dik, ngantuk nggak?" tanya Ririn. Terus dia mengalihkan
pertanyaannya. "Kalau ngantuk tidur aja di sini", sambil membuka lebar
pahanya sehingga terlihat jelas bagian yang sangat disukai oleh pria.
Belum lagi aku menjawab dia sudah menarik kepalaku ke pahanya. Aku tak
kuasa menolaknya lagi pula aku senang, untung kaca mobilnya gelap
sehingga hanya Lela dan aku yang mengetahui apa yang diperbuat oleh
Ririn kepadaku. "Dik kok kamu diam saja?". Aku pura-pura bego padahal
aku sudah mengerti, "What the hell she wanted."
Kemudian dia menyuruhku untuk mengerjai
bagian vitalnya, dan kuturuti saja kemauannya. Dia kini duduknya sudah
tidak karuan seperti orang ambeyen saja. Tiada keraguan lagi di dalam
benakku untuk mengerjainya. Pertama-tama kuraih kedua payudaranya yang
sebesar buah mangga, lalu kuremas dengan mesra dan dilanjutkan dengan
meraba pahanya yang mulus sehingga dia terengah-engah. Tidak puas dengan
meraba, maka kulanjutkan dengan menjilat bagian pahanya. Jilatanku
semakin panjang saja mulai dari lutut sampai ke paha lalu ke arah "bukit surganya"
yang masih terbungkus celana dalamnya. Tanpa perintah, langsung
kulepaskan celana dalamnya dan kini terlihat bukit kemaluannya yang
berwarna merah muda yang dikelilingi oleh rambut yang tidak begitu
lebat. Kerongkonganku tiba-tiba kering tatkala melihat pemandangan yang
begitu indah. Ririn merebahkan tubuhnya sambil membuka pahanya
lebar-lebar di atas jok. Tanpa buang waktu lagi kulanjutkan permainan
setan ini. Kujilati, kuciumi sambil kumasukkan telunjukku ke lubang
senggamanya. Ririn menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan sambil
menjambak rambutku dan mendesakkan wajahku ke arah alat vitalnya. Lela
hanya melihat perbuatan kami berdua sambil bersiul menirukan suara musik
dari tape mobil seakan tidak mempedulikanku yang bercumbu dengan Ririn,
ntar juga dia kebagian.
Sambil
terus menjilat, mencium, menyedot sambil kumasukkan jariku. Ririn pun
seperti orang kesurupan, menggeliat ke sana sini. Oh, indah sekali hari
ini. Sekarang kugunakan telunjukku untuk mengutak-atik onderdil yang ada
di dalam liang senggamanya dan ibu jariku kutekan-tekan ke klitorisnya.
Lalu jilatan-jilatan kuarahkan ke sekitar belahan-belahan memeknya.
Cara ini semakin membuat dia tersiksa kegelian tapi membawa kenikmatan
yang luar biasa. Rasa bau amis, mual dan asin bersatu dalam kenikmatan.
Aku memainkan dan menjilati liang senggama Ririn yang indah itu.
Hampir
20 menit aku bermain di daerah kemaluan Ririn. "Udah dulu Dik, Aku
sudah tidak kuat.." Kemudian Ririn bangkit dan memintaku supaya
mengeluarkan batang kejantananku. Dengan susah payah kukeluarkan milikku
dan akhirnya keluar. Kemaluanku yang sudah ereksi sejak pertama naik
mobil dipegang dengan mesra oleh Ririn, lalu dimasukkan ke dalam
mulutnya, sambil menjilati. "Oh, nikmat benget Mbak.. terus Mbak..
oughhh..." itulah kata-kata yang keluar dari mulutku. Ririn yang sedang
kesetanan terus-menerus memainkan senjataku yang berkepala botak itu.
Lendir yang keluar dari lubang pipisku pun terus dia jilati. Enak
sekail, tapi kalau aku konsentrasi ke sini terus lama-kelamaan aku bisa
keluar, maka kualihkan perhatianku pada persoalan yang lain.
Hampir
20 menit Ririn bermain dengan kemaluanku dan tak terasa kami sudah
sampai di villa milik Lela yang mewah. Ririn merapikan rok dan rambutnya
yang acak-acakan tapi celana dalamnya di masukkan ke dalam tas. Gerbang
terbuka secara otomatis lalu mobil masuk ke garasi, kami pun keluar
dari mobil dan masuk ke villanya. Ririn terus saja memelukku dari
belakang sambil menjilati leherku, kemudian Ririn membawaku ke kamar
Lela yang luas. Di dalam kamar tersebut, Ririn langsung membuka seluruh
pakaiannya. Begitu pula aku membuka seluruh pakaianku. Ririn pun kini
merebahkan tubuhnya yang telah polos tanpa selembar benang pun di atas
kasur yang empuk lalu dia menginginkan agar posisiku di atas tubuhnya,
dimana dia akan mengerjai alat vitalku begitu juga sebaliknya. Kemudian
kami pun beraksi. Yess, nikmat.. enak.. oughh.." itulah kata-kata yang
keluar dari mulut kami berdua diserta desisan.
Tak
lama kemudian Lela pun masuk sambil membawa segelas air susu, segelas
kuning telur bebek yang entah berapa jumlahnya dan dua botol
kratingdaeng. "Minum dulu Dik", kata Lela, "Lalu kita lanjutkan."
Kemudian aku mengambil segelas air susu, setelah itu gelas yang berisi
kuning telur bebek setelah habis baru satu botol kratingdaeng. Walaupun
perut ini sudah penuh tapi demi lancarnya daya dobrakku, ya kupaksakan
karena ini untuk kepuasan kita bertiga. Kemudian Lela memujiku, "Wah,
kamu mirip dengan aktor film x kesukaan Tante.. pasti kamu mainnya juga
hebat.."
Tante
Lela yang berparas ayu, bibir agak tebal dan mata sayu memandangiku
dari wajah sampai ke arah kemaluanku. Lalu kuraih kepalanya dan
kuarahkan ke wajahku. Lalu bibir kami saling berpagutan. Aku yang duduk
telanjang di tepi ranjang sedangkan Tante Lela berdiri. Ririn yang sudah
telanjang di belakangku tidak tinggal diam. Dia menghampiri burungku.
Okh, desahanku pun terdengar sambil bibir Tante Lela bertautan dengan
bibirku. Tanganku pun bergerilya melepaskan pakaian yang dikenakan Lela.
Sesudah pakaian terbuka, kutarik BH-nya dan terlihat buah dada Lela
lebih besar dibandingkan dengan milik Ririn. Ririn kini sedang melumat
kejantananku sementara tangan kanannya meremas-remas biji pelirku dan
tangan kirinya memegang celana dalamku. Benar-benar pengalaman yang
fantastik bisa bercinta dengan dua wanita sekaligus.
Lela
yang kini setengah telanjang meronta-ronta saat kujamah payudaranya dan
meremasnya mesra. Ini benar-benar hebat, suara gemercik air ludah Ririn
yang mengulum kemaluanku dan desahan Tante Lela kini mewarnai nuansa di
kamar yang terhitung luas, jauh bila dibandingkan dengan kamarku. Andai
aku tinggal di sini mungkin aku akan sangat berbahagia ditemani dua
wanita yang cantik, binal dan haus seks. Payudara besar milik Tante Lela
kuremas-remas dan yang satu kujilat, kulum dan kusedot-sedot sambil
tanganku berusaha melepaskan celana jeans Tante Lela yang ketat.
Akhirnya Lela membuka celana jeans-nya sendiri sedangkan celana dalamnya
saya lepas dengan menggunakan gigiku. Woww, indah sekali barang
milik Lela. Lela meronta-ronta. Tanganku mulai nakal bersamaan lidah,
tanganku pun ingin bermain dengan memek Ririn. Desah Lela pun terdengar
begitu memburu. Sementara itu Ririn pun masih sibuk bermain dengan
kejantananku. Rupanya Ririn pun sudah tak tahan ingin suatu proses
pengakhiran. "Ganti posisi dong..." bisik Lela sambil naik ke atas
ranjang.
"Woww,
Dik masukin dong.. udah nggak kuat nich.. pengin ngerasain punyamu..."
desah Ririn tertahan sambil membimbing batang kemaluanku menuju liang
senggamanya. Sementara itu Lela pun tidak ketinggalan, dia
mengangkangkan pantatnya kemudian dia dekatkan pada wajahku. Wow,
sungguh pemandangan yang indah tatkala liang senggama Lela tepat berada
di wajahku. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, kujilat mesra liang
senggama Lela yang membuat Lela menggelinjang tanpa ampun. Tak lama
kemudian Ririn pun mengikuti langkah Lela, mengarahkan lubang
senggamanya ke wajahku. Aku berada di bawah dua cewek yang haus seks.
Ririn terlihat merem-melek, tatkala Lela mengangkat pantatnya untuk
berubah arah. Dia yang tadi membelakangi Ririn, kini mereka saling
berhadapan. Kemudian Lela pun menurunkan pantatnya ke arah wajahku,
memeknya seakan tersenyum kepadaku. Desisnya pun terdengar, "Woww, indah
sekali.. nikmat... enak.."
Dengan
tenaga yang masih tersisa saya menawarkan pada Ririn supaya berganti
posisi. Lima menit kemudian Ririn dengan tenaga sisa berusaha bangkit
lagi kemudian dia menggoyangkan pinggulnya, kini Lela dan Ririn saling
berhadapan di atas tubuhku yang di banjiri peluh, lalu mereka saling
berpelukan dan saling menjulurkan lidah masing-masing. Mereka ternyata
kalangan biseks tapi tidak masalah bagiku, ini merupakan pengalaman baru
bagiku. Ririn kini menggeliat dan seluruh tubuhnya kejang-kejang
pertanda Ririn akan mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya dan dia
pun berbaring di samping kiriku.
"Sekarang
bagianmu Lel.. kamu maunya posisi yang gimana...?" bisikku mesra.
Rupanya Lela menginginkan posisi doggy style. Sambil mengangkat kaki
kirinya, kupandangi liang senggama Lela. Kupermainkan dulu liang
kewanitaannya dengan jariku. "Ooukh..." desahannya pun terdengar dan aku
senang pertanda di sedang dalam keadaan siap tempur. Lela yang kini
menungging semakin membuatku tak sabar, kemudian kuarahkan batang
kejantananku ke liang senggama Lela. dan.., "Blesss..." tanpa halangan
yang berarti kejantananku menembus liang kemaluan Lela. Sambil
menyentakkan pantatku, kumainkan jariku di lubang pantatnya. Lela
mengeliat-geliat, rupanya letak kelemahannya terdapat pada lubang yang
mirip sumur itu. Ririn yang terkulai lemas hanya senyum-senyum saja, dia
mengakui bahwa aku yang terbaik dari lawan-lawan yang pernah dia pakai.
Hampir
30 menit kukerjai milik Lela, rupanya Lela pun sudah merasakan jenuh
dengan permainan ini, dan sekarang dia memintaku untuk memasukkan
kajantanaku ke lubang pantatnya. Lalu kuarahkan rudalku ke arah anusnya
tapi sebelumnya kujilati dulu untuk melicinkan jalannya penetrasiku.
Pertama belum berhasil, kemudian aku meminta bantuan Ririn yang sedang
terkapar di sampingku untuk melumasi rudal yang belum berhasil mendobrak
lubang pantat Lela. Ririn pun melakukannya, dia melumat rudalku dengan
lidahnya, kemudian dia mengulum dan menjilati batanganku sampai terlihat
licin lalu kucoba melakukan penetrasi lagi, kutekan pantatku. 1.. 2...
3... akhirnya aku berhasil menerobos lubang sumur Lela. Lela pun
merem-melek bagaikan anak yang sedang mengorek kupingnya dengan bulu
ayam, ini benar-benar luar biasa. Untung aku jalan-jalan kalau tidak,
mungkin yah takkan pernah merasakan gimana asyiknya bermain dengan dua
wanita sekaligus.
Hampir
24 menit kami melakukan anal seks, sampai akhirnya kami berada pada
puncaknya dan setelah itu kami pun tak berdaya. Aku dan Lela terkapar
lemas setelah menyemprotkan cairan nikmatku yang sangat banyak ke lubang
pantat Lela. Aku pun tertidur sambil memeluk kedua wanita setengah baya
tersebut.




0 comments:
Post a Comment