Sunday, 10 February 2013
Hilangnya Keperawanan Adik Kelasku
Nama
saya James (samaran). Saya seorang mahasiswa di suatu universitas
swasta yang cukup terkenal di Bandung. Suatu hari menjelang ujian akhir
semester, saya diajak oleh adik kelasku untuk belajar bersama. Aku
menerima saja, karena dari dulu semenjak ia masuk ke jurusanku, aku
memang sudah ingin jadi pacarnya.
Perawakannya
cukup cantik, dengan tubuh yang ramping terawat, dan tentunya kulit
yang putih karena ia keturunan Cina. Laura namanya. Begitu Laura
mengajakku, tentu saja kujawab, "Mau.." "Jam berapa?" tanyaku. "Jam 3
sore, di rumahku, jangan terlambat soalnya nanti nggak selesai
belajarnya", jawabnya. Wah, kesempatan nih, pikirku. Setahuku, ia
tinggal berdua saja dengan pembantunya karena ayah dan ibunya yang sibuk
mencari nafkah di luar pulau Jawa.
Pulang
kuliah, aku langsung bergegas pulang, karena kulihat sudah jam 14:30
WIB. Dengan cepat kumasukkan buku yang sekiranya akan dipakai ke dalam
tas, karena takut terlambat. Sesampainya di rumah Laura, aku langsung
memencet bel yang ada di gerbang depan rumahnya, rumahnya tidak terlalu
besar, tapi cukup nyaman kelihatannya. Sempat aku bertanya, kok rumahnya
sepi banget. Kalau begitu berarti bonyoknya lagi pada pergi, jawabku
dalam hati.
Tak
lama setelah itu, Laura keluar membukakan pintu. Aku cukup kaget dengan
penampilannya yang menarik, kali ini dia memakai kaos yang cukup ketat
dan celana pendek ketat. Dia tersenyum lebar padaku, sambil
mempersilakan aku masuk. Ketika masuk, aku merasakan rumahnya
benar-benar sepi. "Langsung saja kita ke ruang tengah, yuk!" ajaknya.
Sesampainya
di ruang tengah, aku langsung duduk di karpet karena tidak ada sofa.
Ruang tengahnya didesain ala Jepang dengan meja Jepang yang pendek yang
disertai rak majalah di bawahnya.
"Tunggu
yah, aku mau mandi dulu", katanya, "Habis keringatan abis senam nih!"
Ternyata aku baru tahu kalau badannya bagus karena ia sering senam.
"Kamu mulai aja dulu, nanti terangin ke aku yah", katanya. "Kalo mau
minum, ambil aja sendiri, soalnya pembantuku sedang sakit, dia lagi
tiduran di kamarnya."
Cukup
lama aku belajar sambil menunggunya dan akhirnya aku bosan dan
melihat-lihat majalah yang ada di bawah meja di depanku. Kulihat
semuanya majalah wanita, mulai dari kawanku, kosmo, dan majalah wanita
berbahasa jepang. Tanpa sengaja, ketika kulihat-lihat kutemukan sebuah
majalah yang berisikan foto cowok bugil dengan otot-otot yang bagus di
tengah majalah bahasa jepang itu. Aku sempat kaget melihatnya. Bersamaan
dengan itu, ia keluar dari kamar mandi yang letaknya di sudut kamar
tengah di mana aku duduk. Dia keluar memakai kimono kain handuk putih.
Karena keasyikan, aku tidak sadar kalau dia mendekatiku. Kupikir dia
pasti masuk ke kamarnya untuk berpakaian terlebih dahulu. Aku sempat
grogi, karena aku belum pernah didekati oleh wanita yang hanya
menggunakan baju mandi, karena di rumahku tidak ada saudara perempuan,
jadi aku merasa tidak biasa.
"Ih, kamu, disuruh belajar malah liat-liat yang aneh-aneh."
"Ini
mah nggak aneh atuh", kataku, "Aku juga punya, dan badanku juga kayak
gini loh!" bisikku sambil menunjuk ke salah satu model cowok di majalah
tersebut.
Aku memang sudah ikutan
fitness sejak kelas 2 SMU, tak heran kalau aku lebih terkenal karena
badanku yang bagus dibanding kegantenganku.
"Ah, masa?" katanya, "Gua nggak percaya ah."
"Kamu kok tahan sih liat-liat kaya beginian?" tanyaku.
"Mana ada yang tahan sih?" balasnya.
"Tadi
lagi nunggu kamu dateng ke sini saja aku sempet liat-liat dulu majalah
itu lho! Jadi kamu tau khan, kenapa saya lama mandinya?" jawabnya sambil
tersenyum mesum.
"Ihh, kamu ini!" balasku, "Ternyata suka juga ya sama yang gituan."
"Iya
dong, tapi, James katanya kalo maen langsung lebih enak ya dibanding
masturbasi?" tanyanya. Saya sempat kaget ketika dia tanya hal yang
begitu dalamnya.
"Kata kamu, kamu mirip ama yang di foto majalah itu, buktiin dong."
Wah, kupikir ini cewek sudah horny banget. Aku sempat grogi untuk kedua kalinya, aku cuma bisa tersenyum.
"Iya sih katanya, tapi khan..."
Belum selesai aku bicara, dia langsung mencium bibirku.
"James,
tau nggak kalo aku tuh sebetulnya udah seneng banget ama kamu semenjak
aku ketemu kamu", bisiknya sambil mencium bibirku. Aku kaget dan
responku cuma bisa menerima saja, soalnya enak sih rasanya. Terus terang
aku belum pernah dicium oleh cewek sampai seenak itu, dia benar-benar
ahli.
Tanpa
sadar, posisinya sudah berada di atas pangkuanku dengan paha yang
menjepit perutku. Sambil menciuminya, kuelus-elus pahanya dari atas ke
bawah, dan dia mendesah, "Akh... enak sekali!" Kuteruskan aksiku sampai
ke kemaluannya, kuraba klitorisnya, dan kugosok-gosok. Desahannya
semakin keras, dan tiba-tiba dia berhenti. "Wah, kok berhenti?" aku
bertanya dalam hatiku. Langsung saja kubisikkan padanya bahwa aku juga
betul-betul menginginkannya jadi pacarku sejak awal bertemu. "Lalu
mengapa kamu nggak bilang ama aku?" tanyanya. "Karena aku takut kalau
perasaan kita berbeda", jawabku. Dia sempat terdiam sejenak.
Langsung
timbul pikiran kotorku. "Udah tanggung nih", pikirku. Batang kemaluanku
betul-betul sudah bedenyut-denyut sejak tadi. Langsung saja kubuka baju
mandinya, dan kukulum dan kuhisap buah dadanya. Dia menerima saja,
malah merasa keenakan, hal ini terlihat dari ekspresi wajahnya.
Putingnya menjadi mengeras dan tak lama kemudian, dia mendesah,
"Aakh..." saat kupegang liang kewanitaannya yang mulai basah.
Aku
semakin terangsang, batang kemaluanku benar-benar sakit rasanya.
"Sayang, boleh kan kalau aku menjilati lubang keramatmu?" Dia mengangguk
tanda setuju. Langsung saja kujilati liang kewanitaannya terutama
daerah klitorisnya. Lumayan lama aku menjilatinya sampai aku merasa
mulutku kering sekali. Akhirnya dia mendesah panjang, "Aakhhh... aku mau
keluar James..." Terlihat cairan putih keluar dari liang senggamanya,
baunya amat merangsang dan rasanya jauh lebih merangsang lagi.
"James, maen beneran yuk?" ajaknya.
"Wah, gila juga nih cewek", pikirku.
Karena
batang kemaluanku sudah sakitnya bukan main, langsung saja aku iyakan.
Lalu kubuka semua baju dan celanaku. Kubaringkan dia di lantai
berkarpet, dan kulipat kakinya, kunaikkan ke bahuku, dan mulai
kumasukkan batang kemaluanku yang sudah tegak itu. Sempit sekali, hampir
tidak bisa jalan. Kutekan lebih keras. Dia menjerit kesakitan, "Stop
James, sakit tau." Aku tidak menghiraukannya dan terus menekan batang
kemaluanku sampai rasanya kepala batang kemaluanku menabrak sesuatu.
Lalu aku mulai memaju-mundurkan badanku ke depan dan ke belakang.
Laura mulai merasa enak, dia sudah tidak menjerit lagi.
"Tuh enak kan", kataku.
"Iyah", jawabnya, "Bener! enak sekali.. lebih cepet dong James."
Kupercepat permainanku, dan dia mendesah, "Ah.. ah.. ah.." karena merasa nikmat. Lama juga aku mengocoknya.
Tak lama kemudian, "James.. aku mau keluar lagi."
"Sama", balasku.
"Sedikit
lagi, James... Aakkhhh... enak sekali James", bersamaan dengan itu, aku
pun keluar dan kukeluarkan seluruh spermaku di dalam liang
kewanitaannya. Batang kemaluanku terasa hangat dan nikmat bercampur jadi
satu. Kutarik batang kemaluanku keluar dan kulihat tetesan darah di
karpet. Aku sempat kaget, berarti dia masih perawan. Aku sempat merasa
senang banget waktu itu.
Laura
bangun dan dia kaget saat melihat batang kemaluanku yang cukup besar,
panjang 15,5 cm diameter 3,5 cm. Langsung dia kulum batang kemaluanku,
yang sudah mau tidur lagi. Begitu dikulum, batang kemaluanku berdiri
lagi karena enaknya. Dia mainkan lidahnya di kepala batang kemaluanku
dan menjilat seluruh bagian batang kemaluanku sampai masuk semua, sampai
akhirnya aku merasa ada dorongan yang kuat pada batang kemaluanku dan,
"Creeet.. creeet.. creet.." spermaku keluar, dia hisap dan sebagian
muncrat ke wajahnya. "Hmmm.. enak sekali James", terlihat ekspresi
wajahnya yang senang.
Kami
pun kelelahan, dan berbaring bersama di ruang tengah sambil berpelukan
dan mengucapkan kata-kata sayang. Tanpa terasa waktu sudah jam 6 sore.
Kami mandi bersama, dan setelah itu kami makan malam bersama. Aku
disuruhnya menginap, karena malammya kita mau mempraktekkan jurus yang
lain katanya. Aku mengiyakan saja. Lalu kutelepon ke rumah dan bilang
bahwa aku malam ini mau menginap di rumah teman, aku tidak bilang itu
rumah Laura, karena sudah pasti tidak boleh.
Begitu
selesai, kita sempat tertawa bersama karena kita tidak belajar malah
bermain seks. Tapi tidak masalah sekalian buat penyegaran menuju ujian.
Dia balas dengan senyum. Karena kehabisan pembicaraan, akhirnya kami
mulai terangsang lagi untuk berciuman. Kali ini aksinya lebih gila.
Sambil berciuman kami saling membuka baju. Sampai tidak ada satu benang
pun menempel di badan kita. Lalu di bicara, "James, kita ke kamarku yuk,
biar lebih asyik." Kugendong dia ke dalam kamarnya, dan kita lanjutkan
lagi dengan berciuman. Tak lama kemudian kupegang liang kewanitaannya,
sudah basah ternyata. Langsung saja kubalikkan badannya dan kumasukkan
batang kemaluanku dari belakang. Kali tidak sulit. Dia mendesah enak
ketika kumainkan batang kemaluanku di lubang senggamanya. Kumainkan
terus sampai aku dan dia mau keluar.
"Akkhhh..."
kami berdua sama-sama keluar, kukeluarkan spermaku di luar, karena
takut dia hamil. Tenyata Laura belum puas, dia membaringkan tubuhku di
kasurnya. Dia langsung berdiri di atas tubuhku dan mulai memasukkan
batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. "Ahhhh.. " desahnya, "Gini
lebih enak James.."
Aku
benar-benar lemas tapi karena permainannya yang begitu hebat, aku
sampai lupa. Dia teruskan sampai spermaku keluar, cuma sedikit kali ini,
tidak seperti sebelumnya. "James dikit lagi juga aku keluar", bisiknya
tertahan sambil menaik-turunkan tubuhnya di atas badanku. Akhirnya dia
keluar juga. Batang kemaluanku terasa pegal sekali, badanku benar-benar
lemas. Dia juga terlihat lemas sekali. Kami tertidur lelap sampai pagi
di kasurnya sambil berpelukan dengan tidak berpakaian karena pakaian
kami tertinggal di ruang tengah dan malas mengambilnya karena sudah
capek.
Besok
paginya, kami bangun bersama, mandi bersama, sarapan dan pergi ke
kampus sama-sama. Semenjak itu kamipun sering belajar bersama, walaupun
ujung-ujungnya berakhir di kasur airnya yang empuk. Tapi aku jarang
menginap, karena takut orang tuaku curiga, ini cuma rahasia kita berdua.




0 comments:
Post a Comment