Sunday, 10 February 2013
Rumah Sakit Nikmat
Peristiwa
ini terjadi awal April 1990 yang lalu pada waktu penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah. Nah, waktu itu aku juga terkena
penyakit DBD tersebut.
Pagi
itu, setelah bangun tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh tinggi
dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Padahal kemarin siangnya, aku masih
bisa mengemudikan mobilku seperti biasa, tanpa ada gangguan apa-apa.
Keesokan sorenya, karena kondisi tubuhku semakin memburuk, akhirnya aku
pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit terkenal di
Jakarta. Ketika aku periksa darah di laboratorium klinik di rumah sakit
tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi hampir
separuh trombosit yang normal. Akhirnya karena aku tidak mau menanggung
resiko, sore itu juga aku terpaksa harus rawat inap alias diopname di
rumah sakit tersebut.
Aku
memperoleh kamar di kelas satu. Itu pun satu-satunya kamar yang masih
tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-kamar lainnya sudah penuh terisi
pasien, yang sebagian besar di antaranya juga menderita DBD sepertiku.
Di kamar itu, ada dua tempat tidur, satu milikku dan satunya lagi untuk
seorang pasien lagi, tentu saja cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal
jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-ngobrol aku dengannya, ketahuan
bahwa dia sakit gejala tifus.
Akhirnya,
aku menghabiskan malam itu berbaring di rumah sakit. Perasaanku bosan
sekali. Padahal aku baru beberapa jam saja di situ. Tapi untung saja,
teman sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi tidak terasa, tahu-tahu
jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di samping mata sudah
mengantuk, juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati
supaya istirahat. Aku dan teman baruku itu tidur.
Saking
nyenyaknya aku tidur, aku terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang
suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali, sekalipun tubuhnya
sedikit gempal tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang di depanku itu
suster. Aku langsung mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku tak
bermimpi! aku sempat membaca name tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung, namanya Vika (bukan nama sebenarnya).
"Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun", kata Suster Vika.
"Nggg..." dengan sedikit rasa segan akhirnya aku bangun juga sekalipun mata masih terasa berat.
"Sekarang sudah tiba saatnya mandi, Mas", kata Suster Vika lagi.
"Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya deh. Saya mau mandi di kamar mandi."
"Lho, kan Mas sementara belum boleh bangun dulu dari tempat tidur sama dokter."
"Jadi?"
"Jadi Mas saya yang mandiin."
Dimandiin? Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan waktu aku masih kecil oleh mamaku.
Setelah
menutup tirai putih yang mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika
menyiapkan dua buah baskom plastik berisi air hangat. Kemudian ada lagi
gelas plastik berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan sebuah mangkok
plastik kecil sebagai tempat pembuangannya. Pertama-tama kali, suster
yang cantik itu memintaku gosok gigi terlebih dahulu. "Oke, sekarang Mas
buka kaosnya dan berbaring deh", kata Suster Vika lagi sambil
membantuku melepaskan kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus
yang dihubungkan ke pergelangan tanganku. Lalu aku berbaring di tempat
tidur. Suster Vika menggelar selembar handuk di atas pahaku.
Dengan
semacam sarung tangan yang terbuat dari bahan handuk, Suster Vika mulai
menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu
perasaan aneh menjalari tubuhku saat tangannya yang lembut tengah
menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku, aku
merasakan gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku
menegang! Aku sudah takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat hal ini.
Uh, untung saja, tampaknya dia tidak mengetahuinya. Rupanya aku mulai
terangsang karena sapuan tangan Suster Vika yang masih menyabuni
perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan, lalu Suster Vika mulai
menyabuni punggungku, membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya,
siksaan (atau kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Vika mengeringkan
tubuhku dengan handuk setelah sebelumnya membersihkan sabun yang
menyelimuti tubuhku itu dengan air hangat.
"Nah, sekarang coba Mas buka celananya. Saya mau mandiin kaki Mas."
"Tapi, Suster..." aku mencoba membantahnya.
"Celaka", pikirku.
Kalau sampai celanaku dibuka terus Suster Vika melihat tegangnya batang kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku ini.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-malu. Saya sudah biasa mandiin pasien. Nggak laki-laki, nggak perempuan, semuanya."
Akhirnya
dengan ditutupi hanya selembar handuk di selangkanganku, aku melepaskan
celana pendek dan celana dalamku. Ini membuat batang kemaluanku tampak
semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau, aku melihat perubahan
di wajah Suster Vika melihat tonjolan itu. Wajahku jadi memerah
dibuatnya. Suster Vika kelihatannya sejenak tertegun menyaksikan
ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku
menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Vika kembali akan
menyabuni tubuhku bagian bawah.
Suster
Vika menelusupkan tangannya yang memakai sarung tangan berlumuran sabun
ke balik handuk yang menutupi selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni
bagian bawah perutku dan sekeliling kemaluanku. Tiba-tiba tangannya
dengan tidak sengaja menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja
bertambah berdiri mengeras. Sekonyong-konyong tangan Suster Vika
memegang kemaluanku cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti di
wajahnya.
Aku
mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster Vika mulai menggesek-gesekkan
tangannya yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin
lama makin cepat. Sementara mataku membelalak seperti kerasukan setan.
Batang kemaluanku yang memang berukuran cukup panjang dan cukup besar
diameternya masih dipermainkan Suster Vika dengan tangannya.
Akibat
nafsu yang mulai menggerayangiku, tanganku menggapai-gapai ke arah dada
Suster Vika. Seperti mengetahui apa maksudku, Suster Vika mendekatkan
dadanya ke tanganku. Ouh, terasa nikmatnya tanganku meremas-remas
payudara Suster Vika yang lembut dan kenyal itu. Memang, payudaranya
berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi memang yang namanya payudara
wanita, bagaimanapun kecilnya, tetap membangkitkan nafsu birahi siapa
saja yang menjamahnya. Sementara itu Suster Vika dengan tubuh yang
sedikit bergetar karena remasan-remasan tanganku pada payudaranya, masih
asyik mengocok-ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku merasakan sudah
hampir mencapai klimaks. Air maniku, kurasakan sudah hampir tersembur
keluar dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster Vika
menghentikan permainannya. Aku menarik nafas, sedikit jengkel akibat
klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Vika malah tersenyum
manis. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.
Tahu-tahu,
ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang
kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya
tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian, batang
kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika. Mulutnya yang mungil itu
seperti karet mampu mengulum hampir seluruh batang kemaluanku, membuatku
seakan-akan terlempar ke langit ketujuh merasakan kenikmatan yang tiada
taranya. Dengan ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti kemaluanku,
seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku
terguncang-guncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan itu masih menyedot
dan menghisap alat vitalku tersebut.
Belum
puas di situ, Suster Vika mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat
kemaluanku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi
kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan kemaluanku dengan dinding
mulut Suster Vika membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya.
Apalagi ditambah dengan permainan mulut Suster Vika yang semakin
bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah. Namun sekali lagi,
Suster Vika berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya keheranan,
menduga-duga, apa yang akan dilakukannya.
Aku
terkejut ketika melihat Suster Vika sepertinya akan berjalan menjauhi
tempat tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda, ia menoleh ke arahku. Ia
menarik ujung rok perawatnya ke atas lalu melepaskan celana dalam krem
yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan pantatnya yang tidak begitu
besar namun membulat mulut dan kencang, membuatku menelan air liur.
Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Di bawah perutnya yang
kencang, tanpa lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun tubuhnya agak
gempal, kulihat liang kemaluannya yang masih sempit dikelilingi
bulu-bulu halus yang cukup lebat dan tampak menyegarkan.
Tidak
kusangka-sangka, tiba-tiba Suster Vika naik ke atas tempat tidur dan
berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu tangannya kembali memegang
batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah liang kemaluannya. Setelah
merasa pas, ia menurunkan pantatnya, sehingga batang kemaluanku amblas
sampai pangkal ke dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit
tersendat-sendat karena begitu sempitnya liang kenikmatan Suster Vika.
Tapi seiring dengan cairan bening yang semakin banyak membasahi dinding
lubang kemaluan tersebut, batang kemaluanku menjadi mudah masuk semua ke
dalamnya.
Tanganku
mulai membuka kancing baju Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang
dikenakannya, menyembullah keluar payudaranya yang kecil tapi membulat
itu dengan puting susunya yang cukup tinggi dan mengeras. Dengan
senangnya, aku meremas-remas payudaranya yang kenyal. Puting susunya pun
tak ketinggalan kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal
sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari telunjukku memuntir-muntir
serta mencubit-cubit puting susunya yang begitu menggiurkan.
Dibarengi
dengan gerakan memutar, Suster Vika menaik-turunkan pantatnya yang
ramping itu di atas selangkanganku. Batang kemaluanku masuk keluar
dengan nikmatnya di dalam lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut dan
bertambah basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh dinding kemaluan
Suster Vika yang terus membiarkan batang kemaluanku dengan tempo yang
semakin cepat menghujam ke dalamnya. Bertambah cepat bertambah nikmatnya
gesekan-gesekan yang terjadi. Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah
menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit khawatir kalau-kalau klimaksku
itu tertunda lagi.
Akan
tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika tidak mau membuatku kecewa.
Begitu merasakan kemaluanku mulai berdenyut-denyut kencang, secepat
kilat ia melepaskan batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan
pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku bertambah cepat datangnya karena
kuluman-kuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan...
"Crot... crot... crot..." beberapa kali air maniku muncrat di dalam
mulut Suster Vika dan sebagian melelehi buah zakarku. Seperti orang
kehausan, Suster Vika menelan hampir semua cairan kenikmatanku, lalu
menjilati sisanya yang belepotan di sekitar kemaluanku sampai bersih.
Tiba-tiba
tirai tersibak. Aku dan Suster Vika menoleh kaget. Suster Mimi yang
tadi memandikan teman sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo
melihat apa yang kami lakukan berdua. Namun sebentar kemudian tampaknya
ia menjadi maklum atas apa yang terjadi dan malah menghampiri tempat
tidurku. Dengan raut wajah memohon, ia memandangi Suster Vika. Suster
Vika paham apa niat Suster Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas
tempat tidur dan menutup tirai kembali.
Suster
Mimi yang berwajah manis, meskipun tidak secantik Suster Vika, sekarang
gantian menjilati seluruh permukaan batang kemaluanku. Kemudian, batang
kemaluanku yang sudah mulai tegang kembali disergap mulutnya. Untuk
kedua kalinya, batang kemaluanku yang kelihatan menantang setiap wanita
yang melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Mimi yang
tak kalah ganasnya dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot
kemaluanku. Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam
lubang anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai nikmatnya.
Merasa
puas dengan lahapannya pada kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri.
Tangannya membukai satu-persatu kancing baju perawat yang dikenakannya,
sehingga ia tinggal memakai bra dan celana dalamnya. Aku tidak
menyangka, Suster Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki payudara yang
jauh lebih besar daripada milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya.
Payudara yang sedemikian montoknya itu seakan-akan mau melompat keluar
dari dalam bra-nya yang bermodel konvensional itu. Sekalipun bukan
termasuk payudara terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara Suster
Mimi itu menurutku termasuk payudara yang paling indah. Menyadari aku
yang terus melotot memandangi payudaranya, Suster Mimi membuka tali
pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang besar menjuntai montok di
dadanya yang putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku menikmati payudara
itu.
Tetapi
tampaknya keinginan itu tidak terkabul. Setelah melepas celana
dalamnya, seperti yang telah dilakukan oleh Suster Vika, Suster Mimi,
dengan telanjang bulat naik ke atas tempat tidurku lalu mengarahkan
batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari
Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya
untuk kedua kalinya batang kemaluanku tenggelam ke dalam kemaluan
wanita. Memang, batang kemaluanku lebih leluasa memasuki liang kemaluan
Suster Mimi daripada kemaluan Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika,
Suster Mimi juga mulai menaik-turunkan pantatnya dan membuat kemaluanku
sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun langsung
dimasukkannya lagi.
Tak
tahan menganggur, mulut Suster Vika mulai merambah payudara rekan
kerjanya. Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah ular menjilati kedua
puting susu Suster Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi tidak
setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat, Suster Mimi memejamkan
matanya, menikmati senggama yang serasa membawanya terbang ke
awang-awang. Ia sedang meresapi kenikmatan yang datang dari dua arah.
Dari bawah, dari kemaluannya yang terus-menerus masih dihujam batang
kemaluanku, dan dari bagian atas, dari payudaranya yang juga masih asyik
dilumat mulut temannya.
Tiba-tiba
tirai tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa
nafsu birahi yang amat membulak-bulak tidak mengindahkannya. Ternyata
yang masuk adalah teman sekamarku dengan keadaan bugil. Karena ia merasa
terangsang juga, ia sepertinya melupakan gejala tifus yang dideritanya.
Setelah menutup tirai, ia menghampiri Suster Vika dari belakang. Suster
Vika sedikit terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi
terbuka lebar ditusuk batang kejantanan teman sekamarku dari belakang,
dan ia melepaskan mulutnya dari payudara Suster Mimi. Kemudian dengan
entengnya, sambil terus menyetubuhi Suster Vika, teman sekamarku itu
mengangkat tubuh suster bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat
tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak mengetahui lagi apa yang
terjadi antara dia dengan Suster Vika. Yang kudengar hanyalah
desahan-desahan dan suara nafas yang terengah-engah dari dua insan
berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku sendiri masih tenggelam
dalam kenikmatan permainan seks-ku dengan Suster Mimi.
Batang
kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan
Suster Mimi yang semakin cepat memutar-mutar dan menggerak-gerakan
pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian, kami berdua
mengejang.
"Suster... Saya mau keluar..." kataku terengah-engah.
"Ah... Keluarin di dalam... saja... Mas..." jawab Suster Mimi.
Akhirnya
dengan gerinjalan keras, air maniku berpadu dengan cairan kenikmatan
Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya, Suster Mimi
jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih
menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami sama-sama tertawa puas.
Sementara
dari balik tirai masih terdengar suara kenikmatan sepasang makhluk yang
tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Tepat
seminggu kemudian, aku sudah dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita
dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku menyesal, merasa akan kehilangan
dua orang suster yang telah memberikan kenikmatan tiada tandingannya
kepadaku beberapa kali.
Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan sedang asyik membaca majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah.
"Ting tong..." Bel pintu rumahku dipencet orang.
Aku
membuka pintu. Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu adalah dua
orang gadis rupawan yang selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika dan
Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini sama-sama mengenakan kaos oblong,
membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua yang memang indah menjadi
bertambah molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun beda
ukurannya, namun sama-sama membulat dan kencang. Sementara Suster Vika
dengan celana jeansnya yang ketat, membuat pantatnya yang montok semakin
menggairahkan, di samping Suster Mimi yang mengenakan rok mini beberapa
sentimeter di atas lutut sehingga memamerkan pahanya yang putih dan
mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang tentu saja
menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau membuang waktu, kuajak mereka
berdua ke kamar tidurku. Dan seperti sudah kuduga, tanpa basa basi
mereka mau dan mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca semua pasti
sudah tahu, apa yang akan terjadi kemudian dengan kami bertiga.




0 comments:
Post a Comment