Sunday, 10 February 2013
Mbak Lisna, Wanita Kesepian
Kisah
berikut ini adalah sebuah kejadian nyata dan merupakan pengalaman yang
tak mungkin dapat kulupakan seumur hidupku. Memang nama-nama tokoh dan
tempat di alam kisah ini sengaja kusamarkan, tapi urutan kejadiannya
bukanlah khayalan atau hasil rekaan imajinasiku semata. Ceritanya
mengenai hubungan affair-ku dengan seorang wanita bersuami sekitar tahun 1995 yang lalu dan berlangsung selama 3,5 tahun.
Ketika
itu usiaku 25 tahun dan aku bekerja pada sebuah perusahaan asing yang
beroperasi di luar Jakarta selama 24 jam sehari, sehingga ada bagian
tertentu di kantor pusat yang bertugas dalam 3 shift untuk memonitor
kegiatan operasi di lapangan dan aku adalah salah satu pegawainya.
Pada
suatu hari ketika sedang tugas malam, aku menerima telepon kesasar
sampai 3 kali dari seorang wanita. Akhirnya karena jengkel, timbul
keinginanku untuk iseng-iseng menggodanya serta mengajak berkenalan yang
ternyata ditanggapinya dengan antusias sampai tidak terasa kami
mengobrol selama 1,5 jam di telepon.
Wanita
itu memperkenalkan namanya sebagai Lisna (aku memanggilnya Mbak Lis),
berusia 34 tahun dan telah bersuami serta mempunyai tiga orang anak.
Suaminya seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah berusia 48 tahun
yang menikahi Mbak Lis ketika dia berusia 18 tahun dan baru lulus SLTA.
Anak pertamanya perempuan berusia 15 tahun.
Sejak
saat itu aku tidak pernah lagi merasa jenuh dan sepi bila sedang tugas
malam karena Mbak Lis sering meneleponku walau hanya sekadar untuk
mengobrol saja. Menurut pengakuannya, Mbak Lis merasa kesepian karena
sering ditinggal suaminya bertugas ke luar kota dan dia mengetahui
suaminya punya simpanan di luar.
Sebagai orang dewasa, pembicaraan kami juga sering menyerempet hal-hal yang agak miring.
Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Lis berubah menjadi
sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku enjoy
dengan kesendirianku di ruang kantor yang dingin ber-AC.
Tak
terasa tiga bulan sudah kami bertelepon ria tanpa pernah bertemu muka
dan selama itu selalu dia yang meneleponku ke kantor ataupun ke rumah
karena aku tidak pernah diberi nomor teleponnya (katanya dia takut
ketahuan suaminya).
Suatu
siang Mbak Lis menelepon ke rumahku dan mengajakku nonton film, mulanya
aku ragu karena merasa belum siap untuk bertemu. Aku berdalih bahwa
badanku masih letih karena habis tugas malam, tetapi Mbak Lis tetap
memaksa dan meminta bertemu sorenya supaya aku bisa istirahat dulu. Aku
lalu menyanggupinya karena tidak mau mengecewakan dia.
Jam
14:30 sehabis mandi, Mbak Lis meneleponku lagi dan kami janjian untuk
bertemu di sebuah bioskop dengan tidak lupa memberitahukan ciri
masing-masing. Sesampainya di bioskop aku sempat dibuat kesal karena
tidak kujumpai wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan Mbak Lis,
wah jangan-jangan dia mau ngerjain aku nih.
Setelah
hampir 1 jam menunggu, tiba-tiba aku merasakan sebuah tepukan ringan di
punggungku. Dan ketika aku berbalik, tampak Mbak Lis sudah berdiri di
belakangku dengan senyumnya yang membuatku terpana.
"Bayu ya?" sapanya sambil mengulurkan tangan.
"Ya,
mmm... Mbak Lis...?" aku balas bertanya agak tergagap sambil menyambut
tangannya. Ah, betapa halus dan lembutnya tangan itu.
"Maaf ya terlambat, soalnya macet sih..." katanya kemudian.
"Nggak
apa-apa kok Mbak, saya juga belum terlalu lama menunggu", jawabku
berbohong sambil mataku tak lepas menatapnya. Rasa kesalku segera hilang
setelah melihat Mbak Lis yang tampak anggun itu.
Sosok
tubuh Mbak Lis sedang-sedang saja, tingginya 158 cm, berat sekitar 45
kg, kulitnya kuning halus dan rambut hitam bergelombang sebahu. Wajahnya
ayu memancarkan kelembutan seorang ibu dan kalau berbicara ramah sekali
dengan selalu diiringi senyum yang tak pernah lepas dari bibir
mungilnya yang tipis. Dia tampak begitu anggun (dan seksi) dengan
setelan blus ketat sutra hijau muda berlengan pendek dan celana panjang
katun hijau lumut yang menampakkan bulu-bulu halus di tangannya dan
lekuk tubuhnya yang sintal. Aku rasanya seperti kehilangan kata-kata
untuk berbicara, sampai akhirnya Mbak Lis yang memulai lagi.
"Kita
makan dulu yuk, kamu pasti belum makan. Kebetulan di dekat sini ada
restoran ayam bakar yang enak lho", ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Kami
makan dengan santai sambil berbincang-bincang disertai gurauan yang
kadang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Kulihat Mbak Lis sudah
bisa berbicara lebih lepas sehingga suasana kakupun berangsur-angsur
hilang.
Sehabis
makan kami kembali ke gedung bioskop dan setelah membeli tiket kami
menyempatkan waktu untuk melihat gambar-gambar film yang ada di lobby
bioskop sambil tetap bergandengan tangan. Tapi kali ini Mbak Lis lebih
merapatkan tubuhnya ke tubuhku dengan cara memeluk lenganku bahkan
terkadang dia bersikap lebih berani dengan memeluk pinggangku, secara
refleks aku pun membalas dengan merangkul bahunya atau memeluk
pinggulnya.
Sentuhan
bagian depan tubuh Mbak Lis membuat naluri kejantananku tergugah,
apalagi ketika kulihat kancing paling atas blus yang dikenakannya sudah
terbuka (aku tidak tahu kapan dia membukanya). Tampak belahan sepasang
bukit yang mulus mengintip dari balik BH-nya membuat darahku berdesir
dan tatapan mataku seakan tak mau lepas darinya.
Ketika
pengumuman tanda dimulainya jam pertunjukan terdengar, kami pun
memasuki gedung bioskop untuk mencari tempat duduk yang sesuai dengan
nomor kursi yang tertera di tiket (sengaja aku memilih tempat duduk di
deret paling belakang). Mbak Lis duduk di sebelah kananku sambil tangan
kirinya menggenggam dan sesekali meremas tangan kananku.
Tak
lama kemudian lampu bioskop dipadamkan dan film dimulai, kami nonton
dalam keadaan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kira-kira 10
menit berlalu, Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku dan tangan
kanannya menarik tanganku ke wajahnya. Diusapkannya jari-jariku ke
pipinya, ke telinganya lalu ke bibirnya sambil memberikan kecupan ringan
di setiap jari-jariku. Ketika aku sedang menatap wajahnya yang
tertunduk menciumi jari-jariku, Mbak Lis menengadah dan balas menatapku.
Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, kemudian
kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis.
Mbak Lis diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas ciumanku,
bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi penasaran dan semakin nekat,
kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.
Akhirnya
Mbak Lis bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia membalas
ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Lis
menghentikannya sambil mendesahkan namaku serta meremas dan menarik
kembali tanganku ke bibirnya. Tapi kali ini Mbak Lis tidak hanya
menciumi jari-jariku, dia juga mulai memasukkan jariku ke dalam mulutnya
dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan gigitan
nakal.
"Mbak jadi gemas, Bay", bisiknya.
"Mbak
yang bikin gemas", bisikku sambil mengecup daun telinganya. Mbak Lis
menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi daerah
sensitif di sekitar telinga dan lehernya itu.
"Aaahh Bayu..." Mbak Lis mendesah lagi.
"Kamu bandel..."
"Tapi
suka kan...?" kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman
di bibirnya. Kali ini Mbak Lis membalas ciumanku dengan bergairah sambil
memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah kami saling
berpagutan. Tangan Mbak Lis mulai meremas dadaku. Aku pun tak mau kalah,
kuusapkan tangan kiriku pada daerah-daerah sensitif di telinganya,
lehernya dan terus turun sampai ke dadanya lalu menyusup ke dalam
blusnya.
"Hmmm..." terdengar Mbak Lis menggumam dalam kuluman bibirku.
"Ouuhhh...
uuuhh..." desahnya sambil tangannya mencengkeram leher bajuku ketika
kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
"Masukin
tangannya, sayang..." kata Mbak Lis sambil membuka satu lagi kancing
blusnya. Kusingkap BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal, sementara
tangan kanan Mbak Lis mulai merambat turun ke perutku dan turun terus
sampai ke selangkanganku. Diremas-remasnya batang kemaluanku yang sudah
tegang dari luar celana sambil mengerang dan mendesah sementara bibir
kami terus berciuman dan mengulum lidah. Kupilin puting susu Mbak Lis
dengan jari-jariku sambil meremas dadanya. Ooh... ingin sekali rasanya
aku menciumi dada itu serta menghisap dan menjilati putingnya. Tangan
Mbak Lis pun makin bergairah mengusap dan meremas selangkanganku.
"Buka
dong Bay..." desah Mbak Lis sambil berusaha untuk membuka zipper
celanaku. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait ikat
pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Lis memasukkan tangannya ke dalam
celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih tertutup
celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk meremas
biji-biji kemaluanku. Uuhhh... nikmatnya.
Mbak
Lis lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana dalamku
ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung
seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya. Kurasakan
kehangatan tangan Mbak Lis ketika mencengkeram batang kemaluanku,
meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala batang
kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang mengalirkan nikmat
di sekujur tubuhku.
"Hmmm..."
kudengar Mbak Lis beberapa kali menggumam sambil memperhatikan dan
mengurut batang kemaluanku yang berkedut-kedut dalam genggamannya.
Kurasakan kepala Mbak Lis yang pelan-pelan bergerak turun untuk
menghampiri batang kemaluanku, rupanya Mbak Lis sudah tidak dapat
menahan keinginannya untuk memenuhi ajakan batang kemaluanku yang tegak
menantangnya. "Jangan Mbak..." bisikku sambil menahan gerakan turun
kepala Mbak Lis karena kusadari situasi di dalam bioskop tidak
memungkinkan kami untuk lebih dari sekedar melakukan pekerjaan tangan. Mbak Lis lalu menengadahkan wajahnya menatapku.
"Bayu...
please..." Mbak Lis mendesah meminta persetujuanku dengan tatapan mata
sayu sambil tangannya terus mengurut kejantananku.
"Jangan
Mbak... dikocok saja..." balasku sambil menaikkan kaki ke sandaran
kursi di depanku yang kebetulan kosong untuk memudahkan Mbak Lis meng-eksploitasi
batang kemaluanku. Kurengkuh wajah Mbak Lis dengan tangan kiriku dan
kucium bibirnya yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku
memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah
di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Lis semakin intens meremas dan
mengocok batang kemaluanku, sementara mulutnya sesekali menggumam dalam
pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif di
belakang telinganya.
Tangan
kiriku kini sibuk membuka kancing blus yang dikenakan Mbak Lis dan
menyusup ke dalamnya, meremas dadanya yang kenyal serta mempermainkan
puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Lis merubah posisi duduknya
dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang
kemaluanku ke tangan kirinya. Didekapkannya kedua tanganku di dadanya
sehingga aku lebih leluasa meremas kedua dadanya yang kini telah terbuka
karena BH-nya telah kusingkapkan ke atas serta memilin kedua puting
susunya yang telah mengeras.
"Aaahhh...
ooouuhh..." Mbak Lis medesah dan kemudian kulihat tangan kanannya
bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan kirinya
semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap kepala
kejantananku dengan ibu jarinya. Kurasakan aliran darah di
selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi kenikmatan
yang tak terbayangkan.
"Mbak
nggak tahan, Bayu..." desahnya sambil menarik satu tanganku ke mulutnya
dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh nafsu.
Akhirnya puncak sensasi itu datang juga ketika kurasakan kawah di selangkanganku menggelegar ingin memuntahkan laharnya.
Kutarik tanganku dari dada Mbak Lis dan kucengkeram tangannya yang
sedang mengocok batang kemaluanku. Serasa tak sabar, kubantu Mbak Lis
mengocok batang kemaluanku lebih kencang. Dan akhirnya... "Ooouuhhh..."
aku mendesah tertahan ketika kurasakan batang kemaluanku mengejang
kemudian berkedut-kedut memuntahkan cairan kenikmatan yang menyemprot
berkali-kali membasahi tangan kami.
"Ooouuhhh...
enak sekali Mbak..." kataku sambil melepaskan nafas panjang ketika
kurasakan puncak kenikmatanku mereda, batang kemaluanku telah berhenti
memuntahkan cairannya dan tinggal menyisakan lelehannya yang kemudian
diratakan oleh Mbak Lis dengan jari telunjuk ke seluruh permukaan kepala
batang kemaluanku.
Tanpa
mengucapkan kata-kata, Mbak Lis sejenak beralih dari pelukanku untuk
mengambil tissue dari dalam tasnya. Kemudian sambil kembali bersandar di
lenganku, dengan telaten disekanya batang kemaluanku mulai dari kepala
sampai ke batang dan pangkalnya. Ah, sejuk sekali kurasakan usapannya.
Lalu dilanjutkannya menyeka tanganku dan tangannya sendiri yang terkena
semprotan spermaku dengan lembar tissue lainnya.
Mbak
Lis lalu mengecup bibirku dengan mesra, tidak kurasakan birahi di
kecupannya yang begitu lembut. Seakan telah terlupakan terpaan hawa
nafsu yang baru kami alami bersama. Aku kagum padanya, begitu cepat Mbak
Lis menetralisir emosinya. Kami lama terdiam sambil berpelukan setelah
sama-sama merapikan pakaian yang acak-acakan.
Ketika
film berakhir dan lampu bioskop telah dinyalakan, kami saling
berpandangan seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilakukan. Segera
kami berdiri dan bersiap untuk meninggalkan gedung bioskop, sampai
kemudian Mbak Lis menahanku dan memandang geli ke arahku.
"Kamu
seperti ngompol..." katanya sambil tertawa kecil dan menunjuk celanaku.
Dengan penasaran aku menunduk dan ketika menyadari apa yang ditunjuk
oleh Mbak Lis, aku pun tersenyum kecut menahan geli dan malu. Ternyata
semburan spermaku begitu kuat sehingga ada yang kesasar keluar dan
meninggalkan noda basah di celanaku.
"Mbak sih... sudah ah, nggak usah dibahas", kataku sambil mencubit pinggang Mbak Lis dan mendorongnya perlahan keluar bioskop.
"Mbak antar kamu pulang ya?" kata Mbak Lis sesampainya kami di luar bioskop.
"Nggak usah Mbak, saya mau langsung ke kantor saja", balasku.
"Kalau
begitu Mbak antar kamu ke kantor boleh kan, please..." desak Mbak Lis.
Aku tak dapat menolak dan hanya mengangguk, Mbak Lis lalu menyerahkan
kunci mobil dan memintaku untuk mengemudikan mobilnya.
Di
dalam mobil kami tidak banyak berbicara, seakan terlarut dalam perasaan
masing-masing. Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memeluk
dan mengelus-elus lenganku. Tak terasa kami telah memasuki halaman
gedung kantorku. Sebelum aku meninggalkan mobil, Mbak Lis kembali
mencium mesra bibirku.
"Maaf Bayu, jangan kapok ya?" kata Mbak Lis sambil mengelus pipiku.
"Apanya yang kapok?" balasku sambil mengedipkan mata dan perlahan-lahan keluar dari mobil.
"Kamu bandel..." kata Mbak Lis mencubit lenganku.
"Nanti malam Mbak temanin ya?" Mbak Lis menyambung sambil menarik bajuku dan kami pun kembali berciuman di jendela mobil.
Itulah kisah perkenalanku dengan Mbak Lis yang juga merupakan awal dari affair-ku dengannya yang kemudian berlangsung lebih seru dan lebih panas.




0 comments:
Post a Comment