Tuesday, 12 February 2013
Mbakku Sayang, Mbakku Milik Orang
Bermula
kenalan yang tidak sengaja di atas bus patas AC, setiap pagi aku naik
bus dari terminal di kawasan Jakarta Timur. Sampai suatu hari ada
seorang wanita yang naik bersamaan denganku. Kalau diperhatikan wanita
ini tampak biasa saja usianya, kuperkirakan sekitar 35-an, tetapi dengan
setelan blazer dan rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras
dengan warna kulitnya yang putih. Hari itu dia naik bersamaku dan di
luar dugaanku dia duduk di sampingku, padahal ada bangku lain yang
kosong, tapi okelah kuanggap itu adalah wajar. Tapi sungguh aku tidak
berani menegur, kadang kala aku melirik ke arah pahanya yang putih dan
sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya. Hal ini membuatku
betah duduk bersamanya selain juga wanginya membuatku sangat bangga bisa
duduk berdampingan dengannya.
Begitulah
hingga hari ketiga hal yang sama terjadi lagi dan kali ini kucoba, mau
iseng-iseng berhadiah, maka kutegur dia, "Selamat pagi Mbak...!" "Pagi
juga..." si Mbak menjawab dengan senyum yang cantik di mataku, lalu
kubuka pembicaraan "Kayaknya sudah 3 hari berturut-turut kita sama-sama
terus... ya? Mbak mau turun dimana sih..?" dia jawab "Di Sarinah Mas..."
dan aku bertanya, "Apa Mbak kerja disana..?" lalu dijawab, "Oh tidak,
aku kerjanya dekat Sarinah..." Lalu terjadilah percakapan biasa meliputi
kemacetan lalu lintas sampai dia tanya balik, aku bekerja dimana, lalu
kubilang di komputer, dan dia bilang bahwa kantornya banyak pakai
komputer. Lalu dia berkata, "Boleh dong minta kartu nama", maka
kuberikan sebuah kartu nama, tapi waktu kuminta kartu namanya, dia tidak
kasih dengan alasan tidak punya. Rupanya hari ini hari baikku dan
segera kutahu namanya "YULI" (bukan sebenarnya), selanjutnya kami selalu
bersama-sama setiap pagi dan telepon pun mulai berdering dengan segala
basa basi.
Suatu
ketika aku tidak melihat dia selama 5 hari berturut-turut. Aku sempat
menunggu, sampai telat tiba di kantor. Kuhubungi telepon di kantornya
juga tidak masuk, akhirnya dia telepon juga, katanya sakit. Tepatnya
hari Senin aku kembali bertemu, kali ini tanpa mengenakan seragam hanya
memakai celana jean's dan kaos T-shirt sehingga dadanya yang montok itu
tampak jelas membuat perhatian orang-orang di sekitar kami, kali ini dia
mengajakku untuk bolos, "Mas aku butuh bantuan nih", katanya.
Lalu aku tanya, "Apa yang bisa aku bantu...?"
"Mas, kalau bisa hari ini nggak usah ke kantor temenin aku ke Bogor yuk... kalau Mas nggak keberatan lho..?"
Aku berpikir sejenak, lalu aku tanya lagi, "Memang kamu mau nggak kerja hari ini?"
"Aku sedang ada masalah nih, ya... agak pribadi sih, kira-kira bisa nggak Mas."
Aku
nggak pikir lagi lalu kujawab, "Ya... dech aku temenin...", dalam hati
sih, wah kasihan ini customer aku yang sudah pada janjian.
Dengan
alasan keperluan keluarga aku ijin tidak masuk, aku jalan-jalan sama
Yuli ke rumah temannya di kota Bogor. Setiba disana aku dikenalkan sama
temannya namanya Nia, mereka bicara berdua di belakang, sementara aku di
ruang depan seorang diri, setelah itu mereka kembali lagi dan kita
mengobrol bersama-sama. Rupanya si Nia punya janji dengan temannya kalau
mau pergi jadi kita tinggal berdua saja di rumah itu. Sambil mengobrol
di karpet dan nonton TV, dengan manja Yuli tiduran di pahaku, sambil
bercerita macam-macam dan aku menjadi pendengar yang baik, sampai dia
bertanya,
"Capek nggak Mas ditidurin pahanya gini..?"
Lalu
aku jawab, "Ah nggak apa-apa kok Mbak!" dalam hati sih pegel juga nih
sudah itu batang kemaluan aku agak sedikit bangun gara-gara aku
mengintip dadanya yang montok dan putih. Dia pakai BH yang cuma separuh
(atas lebih terbuka) jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol, di
luar dugaan dia tanya lagi. Tapi kali ini tanyanya nggak tahu lagi,
iseng barangkali,
"Burungnya nggak keganggu kan ditidurin sama aku?" lalu aku jawab sekenanya saja,
"Keganggu sih nggak, cuman agak bangun", eh dia tersenyum, sambil memegang batang kemaluanku,
"Biarin deh bangunin saja, pengen tahu, kayak apa sih!"
"Ya sudah bangunin saja", jawabku pasrah sambil berharap hal itu beneran,
"Ah yang benar Mas? kalau gitu buka dong biar aku bangunin",
"Jangan di sini Mbak, nanti kalau Mbak Nia datang gimana kita",
"Oh
tenang saja si Nia pulangnya baru ntar sore, dia teman baik aku, aku
sering nginap disini, dia juga suka nginap dirumah aku", terus aku diam
saja.
"Ayo dong di buka, katanya burungnya pengen dibangunin!"
Dalam
keadaan duduk dan menyandar di dinding di tambah lagi Yuli yang tiduran
tengkurap di kakiku, jadi agak repot juga aku buka jeansku, cuma aku
ploroti sampai batas paha saja. Begitu dia lihat batang kemaluanku,
langsung di genggamnya sambil berkata,
"Ini sih masih tidur,ya? biar aku bangunin!"
Lalu
mulai dikocok dan tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala,
membuatku merasa geli tapi nikmat. Lalu ketika batang kemaluanku mulai
mengeras, dia semakin mendekatkan wajahnya dan mulai menjilat dengan
ujung lidahnya di sekitar bagian bawah kepala kemaluanku. Sekali-kali
dia gigit-gigit kecil, hal ini membuat aku merem melek, akhirnya
kukatakan,
"Mbak buka T-shirnya dong!"
"Lho kenapa Mas?" katanya. Aku menjawab,
"Pengen lihat saja!"
Lalu
sambil tersenyum dia bangun dan mulai membuka ikat pinggang, kancing
celana dan retsleting celana jeansnya, sehingga perut bagian bawahnya
tampak putih dan sedikit tampak batas celana dalamnya, lalu dia tarik
T-shirt ke atas dan dilepaskan, sehingga dengan jelas aku lihat
pemandangan indah dari dadanya yang montok (BH no 36), dan selanjutnya
dia mulai menurunkan celana jeansnya, sekarang tinggal pakai BH dan
celana dalam saja. Oh... CD-nya yang mini sekali, betapa indah tubuh
wanita ini montok dan sekel setelah itu kembali dia tiduran ke
posisi semula. Tapi kali ini dia tidak hanya memainkan batang kemaluan
aku tetapi sudah mulai dimasukkan ke dalam mulutnya. Terasa lidahnya
bermain di atas kepala kemaluan aku dan oh... nikmatnya. Sambil membuka
baju, aku mencoba mengangkat pantatku agar lebih masuk, rupanya dia tahu
maksudku, dia masukan full sampai ke tenggorokannya, aku tidak pernah
mengukur batang kemaluanku sendiri tapi di dalam mulutnya batang
kemaluanku terasa sudah mentok dan masih tersisa di luar kira kira 2
ruas jari orang dewasa, sampai Yuli sempat tersendak sesa'at. aku pun
segera berputar lalu merebahkan badan sehingga posisi sekarang seperti
69.
Kubiarkan
dia mempermainkan kemaluanku, sementara aku ciumi paha bagian dalam
Yuli yang mulus dan putih, sambil meremas bagian pantatnya yang masih
tertutup celana dalam. Pelan pelan kutarik celana dalamnya, sampai
terlihat dengan jelas bulu lebat di sekitar kemaluannya sehingga kontras
dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya sampai ada bulu yang
tumbuh di sekitar lubang duburnya. Oh, indah sekali panorama yang ada di
depanku, dan aku pun mulai menjilat vaginanya yang wangi sebab
kelihatannya dia rajin pakai shampo khusus untuk vagina. Pada sa'at itu
terdengar suara merintih yang lirih. "Oh Mas aku nggak tahan nih.. ah",
dan dia tampak bersemangat. Lubang kemaluannya mulai berlendir, buah
dadanya mengeras, akhirnya aku bangun dan kubalikkan tubuhnya dan
kulepas BH-nya, sehingga tampak tubuhnya yang montok dalam keadaan
bugil. Kuperhatikan dari atas sampai bawah tampak sempurna sekali,
putih, mulus, bulu kemaluannya tampak lebat. Waktu kuperhatikan itu,
tangannya terus memegang batang kemaluanku, akhirnya kurenggangkan kedua
pahanya dan kuangkat sehingga tampak jelas lubang vagina dan anusnya.
Lalu
kutarik pelan-pelan batang kemaluanku dari mulutnya dan merubah posisi.
Kupeluk dia sambil menciumi bibir, leher, serta telinganya. Hal ini
membuat dia terangsang sambil berkata lirih, "Mas masukin saja Mas...!"
lalu aku bangun dan aku pandang dia, dan kuatur posisi kedua kakinya
dilipat sehingga pahanya menempel di dadanya. Lalu aku berjongkok dan
kupegang batanganku dan kuarahkan ke vaginanya lalu kutempelkan kepala
kemaluanku. Kutekan sedikit demi sedikit, dan dia mulai merintih,
tangannya mencekram tanganku dengan kuat, matanya memejam, kepalanya
bergoyang kiri dan kanan dan vaginanya basah hebat. Ini membuat kepala
kemaluanku basah, dan aku mulai berirama keluar masuk, tetapi hanya
sebatas kepalanya saja. Kini ia mulai mencoba menggoyangkan pinggangnya
dan mencoba menekan agar batang kemaluanku masuk total tapi aku
pertahankan posisi semula dan mempermainkannya terus. Akhirnya karena
tidak tahan dia pun memohon, "Mas... oh... masukin saja Mas, nggak kuat
nih... ohh... Mas", pintanya. Akhirnya aku mulai mendorong batang
kemaluanku perlahan tapi pasti. Dengan posisi jongkok dan kedua kakinya
berada di atas pundakku, aku mulai menciumi dengkulnya yang halus itu,
Mbak Yuli pun mulai menggoyangkan pinggangnya ke atas dan ke bawah,
kira-kira 10 menit kemudian dia mulai merenggang dan gerakannya tidak
stabil sambil merintih.
"Mas... oooh... Ssttt", dadanya dibusungkan, tampak putingnya menonojol.
"Ayo
Mas... akhh... terus... Mas..." aku pun mulai memompa dengan irama
lebih cepat, sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku mengenai
bagian klitorisnya. Hal ini yang menyebabkan Mbak Yuli "Orgasme" atau
klimaks, dan terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, tubuhnya
merenggang hebat.
"Mas
Ohh... psstt... akh..." nafasnya memburu, sesa'at kemudian dia terdiam
dan aku pun menghentikan goyanganku. Kutarik pelan-pelan batang
kemaluanku dan setelah dicabut tampak ada bekas cairan yang meleleh
membasahi permukaan vaginanya. Nafasnya tampak ngos-ngosan seperti orang
habis lari. Aku pun duduk terdiam dengan kemaluan masih tegang berdiri,
Mbak Yuli pun tersenyum. Sambil tiduran kembali di atas kedua pahaku
dan rambutnya terurai sambil dia pandangi batang kemaluanku yang masih
berdiri. Tangannya memegang sambil berkata,
"Mas ini nikmat sekali, diapaiin sih kok bisa segede begini." Lali kujawab,
"Ah ini sih ukuran normal orang asia", dan dia bilang,
"Tapi
ini termasuk besar juga lho Mas." aku hanya terdiam sambil mengambil
sebatang rokok, lalu menyulutnya, dan kulihat Mbak Yuli tetap
mempermainkan batang kemaluanku dan berkata,
"Kasih
kesempatan 5 sampai 10 menit lagi ya Mas, biar aku bisa nafsu lagi",
aku terdiam hanya menganggukan kepala. Ronde kedua dimulai, di rebahkan
badanku lalu dia ambil posisi di atas badanku, dia kangkangin kedua
pahanya, dipegangnya batang kemaluanku yang masih keras dan tegang lalu
dimasukan ke dalam lubang vaginanya, dan dia pun mulai melakukan gerakan
naik dan turun, seperti penunggang kuda. Kedua buah dadanya
berayun-ayun lalu secara reflek kupegang kedua putingnya dan kupilin
pilin, membuat Mbak Yuli terangsang hebat. Kira-kira hampir setengah jam
kemudian aku merasakan spermaku akan segera keluar. Segera aku balikkan
tubuhnya dan kupompa kembali vaginanya dengan nafsu, Mbak Yuli
merasakan aku akan melepaskan spermaku, dia segera berkata,
"Mas keluarin di luar saja, aku ingin lihat", aku diam saja sesa'at kemudian Mbak Yuli mulai merintih,
"Aduh
Mas ohh... nikmat... Mas... akhh... masss", akhirnya Mbak Yuli kembali
orgasme membuat vaginanya basah. Hal ini membuat aku semakin nikmat.
Akhirnya aku tak mau menahan lebih lama spermaku, terasa sudah di ujung
tak dapat kutahan lagi. Segera kutarik batang kemaluanku, tangan kananku
mengocok batang kemaluanku sendiri dan tangan kiri menekan pangkal
batang kemaluanku sendiri. Pada sa'at itu Mbak Yuli memasukan salah satu
jarinya kelubang anusku membuat spermaku muncrat banyak sekali
berhamburan di atas dada, perut, dan diatas rambut kemaluannya. Akupun
segera berbaring di sampingnya, istirahat sebentar, lalu kekamar mandi
untuk mandi bersama.
Dikamar
mandi kami saling menyabuni, sambil kuremas kedua buah dadanya yang
basah oleh sabun. Mbak Yuli pun memainkan batang kemaluanku yang masih
setengah tidur tapi masih saja mengeras. Lama-lama aku tegang lagi
karena permainan tangan Mbak Yuli dengan sabunnya, waktu aku tanya,
"Mbak tadi kok minta dikeluarin di luar kenapa?" dia hanya bilang senang melihat kemaluan laki laki lagi keluar spermanya.
"Mas ini bangun lagi ya?" Aku hanya mengangguk sambil tanya,
"Boleh dimasukin lagi nggak?" Dia mengangguk sambil berkata,
"Dari
belakang ya Mas!" sambil membalikan badan yang masih penuh sabun dan
posisi setengah membungkuk. Kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar
mandi dan kedua kakinya direnggangkan sehingga tampak jelas sekali
lubang vaginanya, juga lubang anusnya. aku jongkok dibelakangnya sambil
mempermainkan lidahku di sekitar vagina dan kedua pantatnya, lamat-lamat
kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak
mandi. Segera kuambil sabun sebanyak mungkin kugosok di batang
kemaluanku, lalu kugenggam batang kemaluanku dan kepala kemaluanku
kutempel di permukaan lubang vaginanya.
Terdengar
desahan dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur,
nikmat sekali dan Mbak Yuli pun tampak menikmati dengan menggerakkan
pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Kurang lebih 10 menit Mbak Yuli kembali
ke puncak kenikmatan. Lendir hangat kembali membasahi batang
kemaluanku. Aku bertanya,
"Keluar
lagi Mbak?" ia hanya menganggukkan kepalanya, lalu pelan-pelan kembali
kugerakkan batang kemaluanku maju mundur sambil menunggu Mbak Yuli
terangsang lagi, kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, lalu
kucoba masukan jari telunjukku ke dalam duburnya setelah aku beri
sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan,
"Sstt...
ah Mas pelan-pelan", rintihan yang membuat aku semakin nafsu, tiba tiba
aku ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang
kelihatannya masih "Perawan" itu, kutarik pelan batang kemaluanku yang
masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Mbak Yuli.
Kutempelkan
kepala kemaluanku yang mengeras di permukaan duburnya, kupegang batang
kemaluaku sehingga kepalanya mengeras. Aku mencoba menekan batang
kemaluanku, karena licin oleh sabun maka kepala kemaluanku segera
melesak ke dalam, dia pun mengeluh,
"Akhh aduh masss.. ssstt ohh!" aku berhenti sea'at, dan dia bertanya,
"Kok dimasukin di situ Mas?" lalu kujawab dengan pertanyaan,
"Sakit
nggak Mbak?" Mbak Yuli diam saja, dan aku melanjutkan sambil berdiri
agak membungkukkan badan, tangan kiriku melingkar di perutnya menahan
badannya yang mau maju, dan tangan kananku berusaha memegang vaginanya
mencari klitorisnya. Hal ini membuat dia terangsang hebat, dan kutekan
terus sampai masuk penuh. Terasa olehku otot anusnya menjepit batang
kemaluanku, permainan ini berlangsung 1/2 jam lamanya, dan kembali aku
tak mampu menahan spermaku di dalam duburnya sambil kupeluk tubuhnya
dari belakang, kutekan batang kemaluanku sedalam mungkin, tubuhku
bergetar dan mengeluarkan cairan sperma dalam duburnya, kubiarkan sesaat
batang kemaluanku di dalam anusnya sambil tetap memeluk tubuhnya dari
belakang, dan tubuh kami masih berlumuran dengan sabun., Kami melepaskan
nafas karena kecapaian lalu kami selesaikan dengan saling menyirami
tubuh kami, lalu berpakaian dan duduk kembali menunggu Mbak Nia pulang,
Mbak Yuli pun tertidur di sofa karena kecapaian.
Ketika mulai senja kulihat Mbak Nia pulang dan aku membukakan pintu, dia bertanya,
"Mana si Yuli?" aku tunjukan dan dia berkata,
"Oh
lagi tidur, capek kali ya?" aku hanya diam saja dan Mbak Nia masuk
kamarnya, tiba-tiba aku ingin pipis dan aku ke kamar mandi melewati
kamar Mbak Nia. Secara nggak sengaja aku melihat dari antara daun pintu
yang tidak rapat, Mbak Nia sedang ganti baju, kulihat dia hanya
mengenakan celana dalam saja. Tubuhnya bagus, putih bersih dan sangat
berbentuk. Sesa'at aku terpana dan ketika ia mengenakan baju aku
buru-buru ke kamar kecil untuk pipis, dan waktu keluar dari kamar mandi,
Mbak Nia tengah menunggu di depan pintu, sambil tersenyum dia bilang,
"Tadi ngintip ya?" aku hanya tersenyum dan berkata,
"Boleh lihat semuanya nggak?" dia menjawab,
"Boleh
saja tapi nggak sekarang, nggak enak sama..." sambil menunjukkan
tangannya ke arah ruang tamu. Aku paham maksudnya, lalu dia masuk kamar
mandi sambil tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, aku segera
kembali ke ruang tamu dan membangunkan Mbak Yuli.
Akhirnya
aku dan Mbak Yuli sering melakukan hubungan seks dengan berbagai style
di motel, villa kadang-kadang di rumahku sendiri, dan ketika aku ingin
ke rumahnya beliau selalu melarang dengan berbagai alasan. Ternyata Mbak
Yuli ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak, ini membuatku sangat
kecewa. Di sa'at aku mulai benar benar mencintainya, dan Mbak Yuli pun
sebenarnya menginginkan hal yang sama, tapi beliau sudah terikat oleh
tali perkawinan. Hanya saja dia tidak pernah merasakan nikmatnya
hubungan seks dengan sang suami, dan sa'at jumpa dengan diriku dia cukup
lama mengambil keputusan untuk menjadikan diriku sebagai kekasihnya
(PIL), katanya bersamaku dia menemukan apa yang dia inginkan (kata dia
lho). Hubungan kami berlangsung setahun lebih sampai dia pindah bersama
suaminya ke Surabaya. Tapi aku yakin suatu hari aku pasti ketemu lagi.
Oh Mbak Yuli sayangku, ternyata kamu milik orang lain. Hingga sa'at ini
aku masih berharap ketemu lagi, setiap pagi aku masih setia menunggu
kamu, walau tidak ketemu tapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku.




0 comments:
Post a Comment