Tuesday, 12 February 2013
Burung Mudaku
Sebut
saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku
masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi
sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya
anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika
harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat
menyakiti isteri sahnya, jika ia mengetahui. Suamiku adalah seorang
perwira yang mempunyai kedudukan penting di sebuah propinsi (tidak
kusebut tempatnya). Usianya sudah mencapai 55 tahun dan aku sendiri baru
mencapai 27 tahun.
Fasilitas
yang diberikan dan ketakutanku lah yang membuatku sangat tak berdaya
untuk menentang keberadaanku. Aku dibelikan sebuah villa yang sangat
mewah yang terletak tidak begitu jauh dari kota tempat suamiku bertugas.
Semua fasilitas yang diberikan kepadaku sangatlah mewah bagiku, aku
mendapatkan sebuah mobil pribadi, telepon genggam dan perangkat
entertainment di rumah. Namun ini semua ternyata masih kurang, aku ingin
punya momongan, aku ingin dicintai dan disayangi. Kenyataannya aku
hanya tempat persinggahan saja. Belakangan kudengar bahwa suamiku juga
punya WIL lain selain aku, malahan kadang ia juga jajan kalau sedang
keluar kota, kabar ini kudapatkan dari isteri ajudannya sambil
wanti-wanti agar aku tutup mulut. Aku sendiri memang sudah kenal dekat
dengan keluarga ajudan suamiku, namun demikian sampai saat ini rahasia
ini masih tersimpan cukup rapi. Bagaimanapun juga aku kesal dan sedih
dengan kondisi seperti ini, sehingga timbul niatku untuk berperilaku
serupa.
Pada
suatu hari suamiku bertindak ceroboh dengan menitipkan anak bungsunya
kepadaku, beliau memperkenalkanku sebagai ipar ajudannya. Anak itu
memanggilku Mbak maklum dia masih SMP dan usinya pun masih 14 tahun.
Wajahnya, perilakunya persis bapaknya, nilai kesopanannya agak kurang
bila dibanding dengan anak-anak di kampungku. Maklumlah ia adalah anak
pejabat tinggi. Jam 21.00 bapaknya telepon, meminta Alex (sebut saja
nama anak itu begitu) untuk tidur di rumah karena bapak ada urusan. Aku
jadi curiga pasti dia ada kencan dengan orang lain. Alex pun belum
tidur, ia lagi asyik nonton televisi di ruang keluarga. Akhirnya timbul
niat burukku untuk memperdaya Alex, namun bagaimana caranya? aku
dihadapkan pada jalan buntu. Akhirnya spontan kumasukkan VCD-VCD porno
ke dalam player untuk saya hidangkan kepada Alex. Aku hidupkan oven
selama 3 menit yang kebetulan isinya adalah daging yang sudah masak
sejak siang tadi. Langsung saja kurayu dia untuk menyantapnya sehingga
kami pun menyantap daging panggang dan sambal kecap bersama-sama. Sambil
basa-basi kutanyakan sekolahnya, tampaknya kemampuannya di sekolah
biasa-biasa saja, terbukti dengan kekurang antusiasannnya bicara tentang
sekolah. Ia lebih suka bicara tentang video game dan balap motor.
Kupegang
tengkuknya dan kupijit sambil kukatakan, "Kamu pasti capek, sini Mbak
pijitin..." Dia pun diam saja, maklum dia adalah anak yang manja. Kuraih
remote control dan kutekan play untuk CD yang pertama, film-filmnya
adalah jenis vivid dengan tema seks yang cukup halus. Tampaknya Alex
sangat menyukainya, ah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sambil kupijit
sekujur tubuhnya, kuamati roman mukanya. Kukatakan tidak usah malu,
karena itu hanya film saja (tidak sungguhan). Muka Alex tegang, setiap
ada adegan orang berpelukan (cuma berpelukan) aku suruh dia telentang
untuk pijatan bagian depan. Sambil telentang Alex tetap memperhatikan
film yang tampaknya mulai disukainya itu. Kini acara di film mulai ke
adegan yang cukup panas, seorang wanita melepas pakaiannya sehingga
tinggal pakai celana dan BH dalam saja. Alex semakin tegang dan agak
kupercepat tanganku mengarah ke pangkal pahanya. Pura-pura kupijit
pahanya dengan menyentuh kemaluannya, dia terkejut ketika kemaluannya
yang tegang kesentuh tanganku. Pucat pasi mukanya, namun kunetralisir
dengan mengatakan "Tenang Alex, semua orang sama, adalah hal yang sangat
wajar bila seseorang terangsang. Karena semua orang mempunyai nafsu."
"Malu Mbak", jawab Alex. Kalau orang banyak malu, tapi Alex kan
sendirian cuma sama Mbak. Mbak nggak malu kok. Dengan berkata demikian
kubuka bajuku sehingga aku hanya pakai BH saja. Akupun heran juga kagum,
anak seumur dia juga bisa tegang dan tampak tidak berdaya, jauh dari
sikap sehari-hari yang agak arogan. Namun aku mulai menyukainya tanpa
memikir yang jauh ke depan mengingat bapaknya sendiri juga berbuat
serupa terhadap saya. Film terus berputar, tubuh Alex terasa hangat
malah aku khawatir kalau dia sakit, dia tampak pucat entah takut apa
bagaimana, aku tidak tahu.
Alex
hanya melirik buah dadaku tanpa berani menatap langsung, dia tetap
memperhatikan film dengan seksama. Saat kupegang lagi kemaluannya dia
hanya diam saja, tak kusia-siakan kesempatan ini kuremas kemaluan yang
berukuran agak kecil itu. Akupun sudah tidak memperhatikan film lagi,
kubuka celana Alex dan kuperhatikan kemaluannya. Tampak bersih dan mulai
ditumbuhi bulu-bulu halus, aku semakin bernafsu melihatnya. Langsung
kuterkam dengan mulutku dan kumulai menjilatnya, Alex hanya terdiam
sambil kadang pinggulnya bergerak menikmatinya. Kuhisap kemaluannya dan
dia pun teriak Uh.. Mbak.. kubiarkan anak kecil itu menggelinjang,
kubimbing tangannya ke payudaraku. Ah, dia malah meremas kuat sekali.
Kumaklumi dia sangat lugu dalam hal ini, aku tidak menyesal malah
menyukainya. Aku hisap terus, dia pun semakin bergerak tidak karuan
sambil teriak-teriak ah, uh, ah, uh. Kemudian dia teriak keras sambil
tubuhnya gemetar disusul oleh cairan hangat dari kemaluannya. Aku telan
cairan asin dan pekat ini tanpa rasa jijik sedikit pun, dan dia pun diam
lemas terkulai. Kupeluk dia, dan kubisikkan kata-kata, "Enakkan",
sambil aku tersenyum, dia balas pelukanku dan hanya bicara "Mbak.." Aku
bimbing dia ke kamar mandi dan kumandikan dengan air hangat, burung
kecilku masih tidur dan aku yakin nanti akan bangun lagi.
Kemudian
kami pun tidur bersama di depan televisi di atas karpet, dia tampak
kelelahan dan tidur pulas. Aku pun puas meski tidak sampai coitus.
Menjelang subuh aku bangun, dan kulihat dengan seksama tubuh Alex yang
sedang tidur telanjang. Nafsuku bangkit lagi dan kucoba membangunkan
burung kecil itu, ternyata berhasil dan kuulangi lagi perbuatan tadi
malam dengan pertambahan Alex meningkatkan variasi permainan. Tampaknya
Alex mulai mengikuti naruninya sebagai makhluk bernafsu, ia mungkin
meniru adegan film tadi malam. BH-ku dibuka dan dijilati, aku pun
merasakan kenikmatan dari anak bau kencur, kubayangkan anak dan bapaknya
mengerjaiku seperti sekarang, ah tak mungkin. Aku tuntun tangan Alex ke
kemaluanku yang sejak tadi malam belum tersentuh sama sekali. Kubimbing
tangannya menggesek-gesek kemaluannya dan ia pun memahami keinginanku.
Gerakan-gerakan Alex dan servicenya kepadaku masih sangat kaku, mungkin
perlu beberapa kali aku melatihnya. Tiba-tiba ia menarik paksa celana
dalamku dan BH-ku punJdHlucuti. Kubiarkan dia berkreasi sendiri, tampak
wajahnya masih tegang tapi tidak setegang tadi malam dan ia pun mulai
tidak sopan kepadaku, ah biarlah. Aku didorong hingga telentang, dan ia
pun langsung menindihku. Dicobanya memasukkan burung kecil itu ke dalam
kemaluanku, namun berkali-kali ia tidak berhasil. Ia pun semakin
penasaran, ah suami kecilku ini mesti banyak belajar dariku.
Kubimbing
kemaluannya memasuki kemaluanku dan ia pun menggesek-gesekkannya.
Terasa nafsuku merasuk ke sekujur tubuhku, kini penantianku tadi malam
hampir tercapai dan ah nikmat sekali, suami kecilku bisa memuaskanku
kali ini. Dengan cepat aku bangun dan kuhampiri burung kecil yang masih
menantang itu, kuhisap dalam-dalam, dia pun mengerang kenikmatan dan
terus menerus kuhisap hingga badannya bergetar dan lagi-lagi air liur
burung kecil yang hangat itu menjadi bagian dari dagingku. Hari sudah
terang, dan segera kami mandi air hangat bersama-sama. Aku merasa puas
dan Alex hanya diam saja, entah apa yang dipikirkan. Menyesalkah? aku
tidak tanya. Kenyataannya kisah ini masih berlangsung, sekarang Alex
sudah SMA dan masih tetap dalam bimbinganku.
Pagi
harinya bapaknya Alex (yang juga suamiku) datang dan dengan tanpa
menaruh curiga sedikitpun. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan burung
muda.




0 comments:
Post a Comment