Saturday, 9 February 2013
Nikmatnya Pergaulan Bebas
Rumah
besar bertingkat dua di ujung jalan tersebut terlihat sangat lengang
lewat tengah malam ini. Padahal beberapa jam lalu masih terdengar hingar
bingar suara house musik dan ketawa cekikikan khas anak-anak ABG
yang sedang berpesta di tempat itu. Satu persatu mereka meninggalkan
rumah besar tersebut, hingga hanya terlihat meninggalkan seorang anak
muda berambut agak pendek namun memiliki tubuh yang tegap berisi
cenderung atletis, sangat sesuai dengan wajahnya yang tampan.
Mario,
anak muda pemilik rumah besar tempat pesta itu dilaksanakan sedang
membereskan ruangan yang sangat berantakan sepertinya habis diterjang
gelombang tersebut. Samar-samar masih terdengar alunan lagunya Never Gonna Let You Go-nya Sergio Mendez itu, sangat kontras sekali suasana dengan beberapa jam lalu dengan hentakan house musik
yang mungkin membuat suasana menjadi hingar bingar. "Hhh...! Berantakan
sekali ruangan ini", desahnya sangat berat. Baru saja Rio berjalan
melangkah, kakinya langsung terhenti begitu matanya menatap sesosok
tubuh yang sedang tergolek di karpet beludru warna merah di ruangan itu.
Dia melangkah lebih dekat lagi untuk mengetahui lebih jauh siapa gadis
yang tertidur di karpet merah tersebut. "Kasihan..." desahnya lagi
seraya berlutut untuk membetulkan pakaian yang tersingkap itu.
"Santi...
San... bangun!" Rio mencoba untuk membangunkan gadis itu. "Hmm..."
terdengar gumaman kecil dari gadis itu. Kelihatannya dia mencoba untuk
bangkit berdiri, namun terasa kepalanya sangat berat sekali. "Ayo... aku
antar kamu ke kamar ya. Kamu pasti mabuk..." kata Rio sambil memapah,
membawa pergi gadis itu untuk meninggalkan ruangan yang berantakan
seperti kapal pecah itu. "Terima kasih Rio... tapi yang lain ke mana,
apakah pesta sudah selesai", cecar gadis itu kepadanya. "Sudah sejak
tadi. Sudah lama mereka pulang", sahut pemuda bernama Rio itu. Kemudian
Rio memapah gadis itu menuju ke kamarnya di lantai atas dan membawa
gadis itu ke ke kamarnya yang cukup besar, dengan sebuah ranjang di
tengah kamar tersebut. Rio membaringkan gadis bernama Santi itu di
ranjangnya. Dia bermaksud meninggalkan ruangan tersebut, namun sepasang
tangan halus mencekal tangannya dengan kuat. Dengan terpaksa Rio duduk
di samping ranjang dan memandang wajah cantik milik gadis bernama Santi
itu.
"Santi...
kamu tidur aja di sini. Besok pagi aku akan antar kamu, soalnya malam
ini aku harus membereskan ruangan di bawah", kata Rio kepadanya.
"Biar
saja, Rio. Besok aku bantu kamu untuk membereskannya. Sekarang ini kamu
di sini aja. Temani aku, Hmm..." desahnya lembut di telinga Rio.
"Bolehkan Rio..." pintanya sambil mengembangkan senyum manisnya yang menggoda kepada Rio.
"Kamu mabuk Santi..."
"Siapa
bilang aku mabuk? Ayolah Rio. Apakah kau tidak mau melewatkan malam ini
denganku Rio?" sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu.
"Hhh..." Rio menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa Rio? Kau tidak suka padaku Rio", kata gadis itu padanya.
"Kamu cantik sekali Santi..." ujar Rio.
"Lalu... kenapa kamu mau meninggalkanku Rio?" kata gadis itu lagi kepadanya.
"Bukan itu Santi... Aku cuma ingin membereskan rumah ini, sebelum orang tuaku pulang..." kata Rio kepada gadis itu.
"Khan
mereka perginya seminggu Rio... ayolah Rio, kamu nggak usah cemas, aku
pasti bantuin kamu ngeberesin rumah ini", rajuk gadis itu padanya.
"Rio...
aku pengen banget berdua bersamamu malam ini", goda gadis bernama Santi
itu lagi kepadanya, sambil kedua tangannya memeluk leher Rio lebih erat
lagi.
Sambil
mendesah, menghembuskan nafasnya yang agak panas ke wajah Rio, gadis
itu langsung melumat bibir Rio. Sebagai pemuda normal, Rio yang cukup
berdarah panas dengan gemas langsung membalas ciuman gadis itu dengan
menekan kuat kepala gadis itu untuk menambah kuatnya gairah ciuman
mereka. Kedua tangan Rio yang tadinya memeluk badan dan bahu gadis itu,
salah satu turun ke bawah untuk meraba dan mengelus-elus pahanya yang
putih mulus itu. Desahan Santi yang sudah sangat terbakar gairahnya
semakin kuat saja. Tanpa malu-malu lagi Santi dengan tidak sabarnya
membuka pakaiannya yang model longdress dengan kedua bahunya yang
terbuka itu, secara aktraktif Santi membuka satu persatu pakaiannya
seolah penari streptease sampai ia telanjang tidak berpakaian lagi saat ini.
Kemudian
Santi memegang tangan Rio, untuk kemudian membimbingnya menuju bukit
kemaluannya yang sudah sangat basah oleh cairan gairahnya itu. Sedangkan
tangan Rio yang satunya lagi dibimbingnya menuju payudaranya yang
semakin membusung indah itu. Dengan gairah yang sudah sangat terbakar
itu, Rio meningkatkan aktifitas kedua tangannya yang bekerja di area
yang berbeda itu. Sambil terus berciuman dengan nikmatnya. Tangan kiri
yang berada di bukit kemaluan Santi yang semakin basah saja, terus
melakukan tugasnya dengan intens. Dengan jari-jari yang agak kasar, Rio
menekan-nekan jari tengahnya keluar masuk di bukit kemaluan Santi yang
memang sangat indah itu. Sedangkan tangan Rio yang satu lagi dengan
asyiknya memerah kedua bukit kembar yang sudah sangat tegang ke atas itu
dengan tidak lupa untuk memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan di
kedua putingnya. Santi yang memang sudah sangat bernafsu, tanpa
sungkan-sungkan lagi, mendesah-desah dengan sangat kuatnya.
"Rio...
please beri aku kepuasan malam ini Rio. Please, berikan aku kepuasan...
Rio... Hhh..." desahnya semakin berat saja. Rio yang mendengar
kata-kata vulgar yang diucapkan Santi, semakin terbakar saja nafsu
birahinya. Tanpa melakukan pemanasan yang lama, Rio membuka reitsleting
jeans-nya ke bawah dan kemudian mengeluarkan batang kemaluannya yang
sudah sangat keras dengan kepala kemaluannya yang besar yang sudah
berkilat-kilat kemerah-merahan pertanda sudah semakin banyak saja darah
terkumpul di sana. Tanpa basa-basi lagi Rio membuka bibir kemaluan dan
secara perlahan-lahan untuk tidak menyakiti Santi nantinya, Rio
menyeruakkan batang kemaluannya yang semakin tegang dan semakin besar
itu ke dalam liang kemaluan Santi yang semakin basah saja dengan cairan
gairahnya. Sedikit demi sedikit kepala batang kemaluan Rio yang cukup
panjang dan besar itu menyeruak, membuka rambut kemaluan yang hitam dan
cukup lebat itu dan bibir liang kemaluan Santi.
Sambil
diiringi desahan nikmatnya Santi, akhirnya dengan tekanan yang agak
kuat, batang kemaluan itu berhasil masuk seluruhnya. Cukup lama dia
memendamnya di lorong gelap itu.
"Boleh aku meneruskannya... San?" pinta Rio pada gadis itu.
"Yahh Rio... lakukan sayang... entot aku dengan kuat Rio... Hhh..." desahnya lagi semakin kuat.
Tidak
lama kemudian dengan kedua tangannya berada di kedua pantat Santi yang
bahenol dan bagus itu sebagai tumpuan, Rio menghujam-hujamkan batang
kemaluannya dalam-dalam, semakin lama semakin cepat. Akibatnya rintihan
dan desahan Santi semakin kuat saja, sambil kedua tangannya semakin erat
saja memeluk leher pemuda itu.
"Oh
Rio... tekan lebih dalam sayang... Hhh... Terus Rio.. terus... Entot
aku lebih dalam lagi sayang... Iya... iya gitu sayang... ohhh God... ini
enak banget Rio... Hhh..." desahnya semakin keras sambil bibirnya
menciumi wajah Rio dengan ganasnya.
Rio
yang mendengar desahan Santi hanya tersenyum sambil kedua matanya
menatap Santi yang matanya merem-melek sedang berkelojotan tidak tahan
akibat hunjaman-hunjaman batang kemaluan pemuda itu. Mereka melakukan
ini sambil berdiri, bisa dibayangkan bagaimana tubuh keduanya saling
berpacu cepat dan semakin cepat untuk mengejar kenimatan mereka
masing-masing. Cukup lama mereka bermain sambil berdiri, Santi sambil
memutar-mutar pinggulnya ibarat penari jaipongan, sedangkan Rio memacu
batang kemaluannya ibarat piston motor yang bergerak secara konstan di
dalam lembah kemaluan gadis itu. Tak henti-hentinya Santi mendesah-desah
sambil menyebut nama Rio untuk memacunya lebih cepat dan lebih cepat
lagi. Dan tidak beberapa lama kemudian, Santi yang memang sudah sangat
bernafsu itu, semakin mendesah-desah semakin keras pertanda dia akan
mencapai pendakian yang tertinggi itu.
Rio
yang mengetahui gadis itu akan mendapatkan orgasmenya, semakin memacu
batang kemaluannya lebih keras lagi, mengaduk-aduk isi kemaluan gadis
itu sambil menggoyangkan dan memutar-mutar pantatnya, Akhirnya...
"Oh Rio... a.. akk... kuu... mau... nyampe... sa... ya.. ang... Hhhh..." desahnya terputus-putus.
"Iya
sayang... keluarin aja sayang... akuu juga mao nyampe nih sayang...
aahhh.. sama-sama yah sayang... kita keluarnya barengan... yahh...
ohh... God..."
Sambil terus
memeluk kedua buah pantat Santi yang bahenol itu, Rio terus
menghujam-hujamkan batang kemaluannya. Terlihat Santi memeluk leher Rio
dengan sangat kuat dan mencium bibirnya dengan sangat bernafsu sekali.
Sedangkan Rio untuk melepaskan gairah kenikmatannya menekan pantat Santi
lebih kuat lagi dan menekan batang kemaluannya lebih dalam dan lebih
dalam lagi.
Tidak lama kemudian, "Rio... a.. aakuu... keluar... oh... hhh..."
"Aa.. ku.. juga sayang... hmmm..."
"Cratt...
crut.. cratt crat.." Akhirnya keduanya menembakkan cairan gairahnya
secara bersamaan, tubuh keduanya menegang dan berkelojotan saling
berpelukan erat sambil mengeluarkan erang-erangan yang menggairahkan.
Kemudian Rio menjatuhkan dirinya ke ranjang tidak jauh dari tempat
mereka berpacu gairah tadi, disusul kemudian oleh Santi. Kemudian
keduanya tertidur saling berpelukan lelah, letih dan nikmat setelah
melakukan pertempuran hebat tadi.




0 comments:
Post a Comment