Saturday, 9 February 2013
Adik Tanteku yang Lugu
Sudah
menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk di bangku perguruan
tinggi. Apalagi kenyataan yang ada di kampungnya, masih dengan mudah
dihitung dengan jari orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan
tinggi. Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu
dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat sederhana dan
rata-rata berada digaris kemiskinan. Selain itu jarak antara perguruan
tinggi yang ada sangat jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil angkot minimal lima
kali, itu juga dengan bantuan kendaraan roda dua yaitu ojeg.
Sangat
beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA.
Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus
bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya
sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang
pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya
diceritakan di hadapan kedua orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana
menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan
kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan
alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.
Mendengar
antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Arie bertambah untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan
untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya
memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung
itu.
"Arie.."
sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa
ke kota. Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat
yang mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa anaknya
akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua
Arie sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie
sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan surat
penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk
sementara waktu.
Oomnya
yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang
terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan
mempunyai beberapa usaha dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah
surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.
Hubungan
antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Arie sebetulnya
tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Arie yang sering
memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti
istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya
tercecer di mana-mana. Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri
sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat
istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang
pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang
dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.
Anak
Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua tahun dan ia masih SMA
di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada diatas
limapuluh tahun.
Sesampainya
di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Arie langsung
masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu
disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan
diketahui namannya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.
"Selamat siang Pak," Tegur Arie kepada salah satu satpam yang ada dua orang.
"Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam yang bernama Asep.
"Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"
"Bapak
Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena melihat suatu
keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang
baru berumur dua puluh tahunan.
"Anu
Pak, apa ini PT. Rido," tanya Arie menyusul keraguan satpam. Karena
sebetulnya Arie juga belum pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu,
apalagi bisnis yang digelutinya.
"Iya..
Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini," tegas
satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.
"Adik ini siapa," tanya satpam kepada Arie, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
"Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang."
"Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.
Selang
beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Arie sambil
memberikan selamat datang di kota Bandung. "Arie.. Apa masih ingat sama
Bapak," kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.
Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.
"Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak," kata Arie sambil terus mengigat-ingat.
Pak
Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu sering mancing bersama
Tuan Budiman ketika Arie berumur kurang lebih lima tahun."
Arie jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun."
Selanjutnya
obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain
kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak
Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman
sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar
kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di
belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi
dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang
lebih baru berumur 35 tahun.
"Aduh
Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak
dapat menemani Dik Arie karena harus pergi ke Semarang untuk urusan
bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah,
sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu," sambung
Pak Dadi melihat ekpresi Arie yang sedikit kecewa karena ketakutan akan
tempat tinggal. Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,
"Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada masalah," tegur Pak
Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu
semunya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa
dibidang apapun.
Mendengar
itu Arie menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu
lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah
dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan
penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan Arie sebagai
keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya.
Ditambah lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah yang gagah
membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Arie
dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.
Mereka
tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan ia segaja duduk di
lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus
dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman.
Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk
perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah sampai-sampai lupa
waktu karena keasyikan cuci mata.
Keasyikan
cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan
mengendarai sebuah mobil sedan dengan merek Mesri terbaru, melaju ke
sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah
pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak
kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat mengah
dan dijaga oleh satpam.
Laju
mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman
yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya,
kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara
rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi
dan Istrinya. Jedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu
masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang
selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah
berhenti, dengan sigaJ Lang Ade membawa semua barang-barang yang ada di
bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah
barang-baranK yang dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil
menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.
Pak
Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada
di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om
Budiman. Pak Dadi meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi
Enung menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil tersenyum
menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie sambil terlebih dahulu
menyuruh menyiapkan air minum untuk Arie.
"Tante sudah menunggu dari tadi Arie," bisiknya sambil menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat datang.
"Sampai-sampai
Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante Rani yang pada waktu itu
menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan
uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh
perhatian.
"Tante sudah tahu
bahwa Arie akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman
tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk."
Obrolan
pun mengalir dengan punuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama
saling mengenal. Tante Rani dengan penuh antusias menjawab segala
pertanyaan Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat itu
memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie membuat Arie salah
tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan
gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik
CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Arie
pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur Kira-kira
35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.
"Nah,
itu Yuni," kata Tante Rani sambil membawa Arie ke ruang tengah.
Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah
itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah.
Sambil tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni. Mendapat
teman baru dalam rumah itu Yuni langsung bergembira karena nantinya ada
teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat
dikerjakan sendiri. "Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak." Mendapat
pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena yang memberikan
penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Arie. Adik
kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat
cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang meskipun sudah
besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar
keterangan itu, Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur
badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh hati pada Yuni
yang mempunyai wajah yang cantik dam putih bersih itu.
Setelah
selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante
Rani, Arie masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Yuni. Memang
di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi.
Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan Arie memilih
kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Yuni berhadapan dengan kamar
Arie.
Setelah
membuka baju yang penuh keringat, Arie melihat-lihat pemandangan
belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang
memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang
bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok.
Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang
belum dikeruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman,
Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya
tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.
Hari-hari
selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena
selain Tante Rani Yang ramah dan seksi, juga kelakuaan Yuni yang
menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri.
Arie semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya sangat
kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di
suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Rani dengan
mesranya menggandeng Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu
sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi yang
membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante Rani mengatakan bahwa ia
sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Arie kaget
setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani
menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta
dengannya.
Arie
tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak
mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering
menghanyalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam
kemaluan Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Rani
dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil terus bercerita tentang
kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini
baru Arie yang mengetahuinya.
Sambil
bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang di atas jok mobil
agak terbuka sehingga rok mininya melorot ke bawah. Arie dengan jelas
dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Rani
yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. Arie menelah ludah
sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi.
Ketika Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia
memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir
tantenya yang merekah meminta Arie untuk terus merabanya.




0 comments:
Post a Comment