Sunday, 10 February 2013
Nikmatnya Seorang Perawan
Saya
lulus SMU tahun 1999, waktu itu saya masuk sebuah sekolah akademik
diploma 1 tahun di Bandung, dan ternyata semua mahasiswi-mahasiswinya di
sini lumayan cakep-cakep juga. Setelah 2 minggu lewat saya mulai akrab
dengan semua mahasiswa-mahasiwa sekampus, dan terus terang di jurusan
saya (Manajemen Informatika), perempuannya hanya sedikit sekali, dan
kampus ini juga baru berdiri jadi belum begitu terkenal.
Setelah
tiga minggu belajar di kampus ini, ternyata ada mahasiswi baru yang
cantik, putih dan bercahaya, pakaiannya juga biasa-biasa saja tetapi
semua laki-laki di kelasku, melongok melihat dia. Yaaa ampun, cantik
benar nih. Jam mata kuliah pertama selesai dan anak-anak laki-laki di
kelasku banyak yang kenalan tapi terus terang hanya saya dan temanku
berdua bisa dibilang cool, kami hanya keluar dan makan di kantin. Saya benar-benar belum punya nyali
untuk dekat dengan wanita-wanita di kampus waktu itu. Dan dengan si
mahasiswi baru itu pun kenalnya sangat lama sekali. Sebut saja nama
panggilannya Ani. Saya yang baru memasuki dunia baru di perkuliahan, dan
melihat cewek-cewek di kampus pun begitu menggebu-gebu nafsu birahiku.
Tapi saya hanya punya pikiran dan perasaan sama si Ani ini, mungkin
banyak cowok lainnya berpikiran dan berperasaan begitu juga, tapi saya
tidak PD, dan saya itu bisa dibilang pendiam dan rata-rata menurut
teman-teman, saya ini punya wajah lumayan ganteng. Yaaa... itu sih
menurut teman-temanku.
Waktu
perkuliahan pun terus berjalan, dan setelah 3 bulan lebih saya mulai
akrab dengan Ani ini dan mulai sering ngobrol (sebelumnya hanya kenal
senyum saja, ataupun hanya menanyakan tugas mata kuliah). Dan ternyata
Dia ini lagi cuti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta hukum
terkenal di Bandung, tapi saya lupa waktu itu dia semester berapa, yang
saya ingat waktu itu saya berumur 19 tahun dan dia berumur 22 tahun. Dan
ternyata dia sudah punya pacar. Waduh hatiku lemas, walaupun sudah
jarang ketemu tetapi statusnya masih resmi pacaran.
Saat kami berdua ngobrol, dia suka curhat
tetapi saya suka mencuri pandangan ke arah buah dadanya yang indah
menawan itu. Waduh pokoknya bulat tegap dan sedikit runcing, begitu juga
kulitnya tidak satupun bekas goresan luka, hanya putih mulus dan
pantatnya bulat menantang. Kalau dilihat dari belakang, waduh.. membuat
kemaluan saya berdiri tegap dan ingin kuremas-remas dan ditancap dari
belakang. Bayangkan kalau berjalan dia berlenggang-lenggok. Dia memiliki
rambut yang indah, hitam dan panjang, berhidung mancung, berbibir
tipis, alis dan bulu mata yang lentik (tapi seperti cewek bule). Dan
memang cewek ini anak seorang yang kaya raya. Dan kami pun menjadi dekat
dan akrab, tapi tidak tahu dia itu sukanya bareng dan jalan sama saya
saja. Padahal kan banyak teman cewek di kampus itu ataupun cowok yang
lain. Yaa.. tapi saya pun sangat senang sekali bisa jalan bareng sama
Ani, Dia pun sering mengajak saya main ke rumahnya. Namun itu tidak
pernah terjadi, mungkin saya tidak biasa main ke rumah cewek. Dan
akhirnya dia ingin main ke rumah saya, waduh saya juga bingung karena
saya juga belum pernah kedatangan teman cewek apalagi seperti dia, tapi
dia terus memaksa saya.
Suatu
hari di kampus, mata kuliah satu sudah selesai dan harus masuk lagi
untuk mata kuliah yang kedua, tapi waktunya sore hari, dan ketika sudah
selesai mata kuliah satu, kami pun merasa BT kalau di kampus
saja, dan Ani memaksa saya untuk main ke rumah saya, katanya ingin tahu
tempat tinggal saya dan sekaligus ingin curhat. Ya untungnya
rumah saya itu hanya ada saudara saya (karena saya tidak tinggal bersama
orang tua) dan rumah itu milik nenek saya. Oleh karena itu kehidupan
saya bebas dan saling cuek sama anggota keluarga lainnya di rumah itu.
Tidak ada saling curiga atau hal apapun, yang penting tidak saling
merugikan satu sama lain.
Kami
pun berdua pergi ke rumah saya. Siang bolong, ketika sudah sampai di
rumah, Ani saya persilakan masuk ke kamar saya dan ternyata saya tidak
grogi atas kedatangan cewek cantik ini. Dan ketika baru mengobrol
sebentar lalu dia bicara, "Ted panas yaah hawa di Bandung sekarang ini."
"Iya nih!" sambil kubawakan minuman dingin yang sangat sejuk sekali.
"Ted... boleh nggak saya buka baju, kamu jangan malu Ted, saya masih pake pakaian dalam kok, habis panasss siiihh..."
Waduh memang saya merasa malu waktu itu dan sedikit deg-degan jantungku.
"Aduuh gimana kamu ini, emang kamu nggak malu sama aku?" bantahku.
Tapi
kan dia sudah ngomong kalau dia masih memakai pakaian dalam. Kemudian
saya keluar kamar sebentar untuk mengambil makanan ringan di lemari es,
dan ketika saya memasuki kamar lagi, ya ampun.. pakaian dalam sih
pakaian dalam tapi kalau ternyata kalau itu BH yang super tipis dan
kelihatan puting susunya. Waduh, saya sangat grogi waktu itu dan saya
pun sering memalingkan wajah, tapi tidak dapat dipungkiri, kemaluan saya
pun berereksi dan aliran darah saya pun mengalir tidak karuan, apalagi
hawa sedang panas-panasnya.
"Ayo sekarang kamu mau curhat lagi?" kataku.
"Nggak sih Ted, saya udah minta putus sama dia (pacarnya-red) dan dia setuju untuk resmi putus."
"Ya udah... abis gimana lagi", katanya.
Dalam
hatiku, asyik dia sudah putus, dan saya pun berpura-pura bersedih,
karena memang kasihan melihat wajahnya sedikit pucat dan sedikit
menangis. Dia memelukku sambil sedikit bicara kepadaku, tapi itu lho
anuku tidak bisa diam dan semakin panas saja suhu tubuhku. Ketika kuelus
rambut dan punggungnya, eh dia menciumku dan kubalas ciumannya dan dia
membalas lagi, semakin lama kami berciuman dan dia memasukkan lidahnya
ke mulutku. Waduh, ini benar-benar mengasyikan dan terus terang ini
adalah pertama kali bagiku. Dan dia pun mengeluarkan suara desahan yang
sangat lembut dan sensual, dan dituntunnya tanganku ke buah dadanya,
langsung saja kuremas-remas dan BH-nya pun kubuka. Wow, buah dada yang
sangat indah, putih, bulat berisi dan mancung serta puting yang bagus,
sedikit warna merah di seputar putingnya dan berwarna coklat di
puncaknya, sekali-kali kupelentir putingnya dan dia pun mendesah kuat,
"Ssstthhh ha.. hah.. aahh.. okhs Ted, bagus Ted, eeenakk", suaranya yang
kecil dan merdu. Dia membuka bajuku dan aku kini dibuatnya telanjang,
tapi aku hanya pasrah saja, tidak ada rasa malu lagi.
"Apa kamu sering melakukan ini sama pacar kamu?" kataku.
"Iya
Ted, tapi nggak sering.. aaksshhh..." kata dia sambil mendesah,
tanganku diarahkannya ke liang kemaluannya, dan langsung kuelus-elus
sambil lidahku menjilat putingnya yang indah itu. Sedikit-sedikit
kuselingi dengan gigitan ringan tepat di puncaknya, dan dia menggeliat
keenakan. Dan kemaluannya pun basah. Kubuka celananya dan celana
dalamnya secara perlahan.
Oh
iya, kami melakukannya di sofa kamarku tepat di depan TV dan
stereo-set. Dan kami lagi sedang mendengarkan lagu-lagu rock barat tahun
70-an, ketika kubuka CD-nya, yes.. dia memiliki kemaluan yang bagus,
bulu sedikit, dan memang dia masih perawan, dengan pacarnya juga hanya
melakukan oral sex. Tetapi saya belum berani untuk menjilat kemaluannya,
saya hanya mengesekkan tangan saya ke bibir kemaluannya. Eh ternyata
dia turun dari sofa dan menghisap batang kemaluanku, "Aaakshh... hsstt
oks!" dia menjilati biji pelerku dan dia mengisap kemaluanku lagi sambil
dipegang dan dikocoknya. "Waduuhhh... enak sekalii akkhhss..."
aliran-aliran darahku mengalir dengan serentak dan ingin kumasukkan
kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi apa dia mau? Beberapa menit
kemudian.. "Ted, kamu punya barang gede enggak, kecil enggak, panjang
enggak and pendek enggak, tapi bener Ted, saya sangat suka kamu punya
barang", katanya sambil berdiri dan lubang kemaluannya dihadapkannya ke
wajahku aku semakin tidak kuat saja.
Langsung
saja kujilat liang kemaluannya. Wah agak bau juga nih, tapi bau yang
enak. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun
merintih-rintih kecil, "Uwuuhh ooo... sstt akhs... akhs... akhs...
ooohhh aahh... sstth", sambil tubuhnya agak bergerak nggak karuan,
mungkin jilatanku belum pintar tapi kulihat dia sedang keasyikan
menikmati jilatanku. Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di
situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat
di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya
ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Tapi saya memberanikan
untuk bicara.
"An, kamu masih perawan nggak?"
"Iya... aksshhh... ssstt... ssstt aakhs", katanya. Ternyata dugaanku benar.
"Tapi sama pacar kamu itu?"
"Iya tapi kalau aku sama dia hanya oral aja", kata Ani.
"Tapi Ted, gimana kalau kita ini sekarang..." dia tidak melanjutkan pembicaraannya.
"Okh...
ookh... okh... ssstt..." dia mencoba untuk memasukan batang kemaluanku
ke lubang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Dengan begitu, aku pun
berusaha untuk memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan
secara perlahan kugesekkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan
sedikit demi sedikit kumasukkan kemaluanku, tapi ini hanya sampai kepala
aja, dan... "Ooohh aaakksshh.. ahh.. ah.. aahh.. oohh... sset", dia
merintih- rintih. Aku terus menggenjot dia.
"Ted, ternyata pedih juga, aahhh!" katanya.
"Tapi teruskan saja Ted...".
Kulihat
wajahnya memang mengkhawatirkan juga, tapi yang kurasakan adalah
kenikmatan, meskipun itu masih tersendat-sendat dan sedikit kehangatan,
"Ookkhhss... sstt, aduh nikmatnya", kataku. Dan memang ada sedikit darah
di batang kemaluanku dan yes.. semua batang kemaluanku masuk, dan
benar-benar nikmat tiada tara, dan hilanglah perawannya dan perjakaku.
"Sssttt..
sssttt.." desahannya yang merdu dan menggairahkan apalagi didukung oleh
kecantikannya dan mulus kulitnya. Dan kami masih melakukan gaya
konvensional dan terus kugenjot naik turun, naik turun dan tumben, aku
masih kuat dan menahan kenikmatan ini, karena kalau aku sedang onani,
tidak selama ini. Di lantai itu kami melakukannya serasa di surga.
"Assh.. asshh.. aakss.. ooohh.. aksh.. sstt", dia menjerit-jerit tapi
biarlah kedengaran oleh saudaraku, yang lagi nonton TV di ruang
keluarga. Karena pasti suara jeritan Ani ini kedengaran. "Terus Ted,
aduhh Ted kok enak sih... aaksss ssttss..." katanya sambil merem melek
matanya dan bibirnya yang aduhai melongo ke langit dan langsung kujilat
lidahnya. "Duuhhh aaahss sstt duh An, aku mau keluar nih!" kataku.
"Uuhhsss ssttt jangan dulu dong Ted... bentar lagi aja", katanya. Tapi
memang saya waktu itu sudah nggak kuat, ehh ternyata... "Sss ooohh
akkhhss... ooohh, duh Ted boleh deh sekarang, kamu dikeluarinnya di sini
aja", sambil ditunjukanya ke arah payudaranya. Dan... "Creett...
cret... cret... crret" dan air maniku yang banyak itu menyemprot ke
payudaranya dan sekitar lehernya. Selesailah main-main sama Ani, dan
waktu pun menunjukan arah jam 5 lebih dan memang kami sudah telat untuk
pergi lagi ke kampus memasuki pelajaran Mata Kuliah kedua.
Kami
berdua terkulai dan ketiduran di lantai itu dalam keadaan masih
telanjang, dan lagu di stereo tape-ku pun sudah lama habis.
Bangun-bangun sudah hampir jam 19.00, kami pun bergegas berpakaian dan
aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesudah saya selesai mandi dia
juga mandi, dan akhirnya kami pergi jalan-jalan sekalian mencari makan.
Kami pergi ke daerah Merdeka dan makan. Sesudah itu kami nonton di
Bioskop. Di Bandung Indah Plaza (BIP), lupa lagi waktu itu kami nonton
apa. Sesudah selesai nonton Ani tidak mau pulang dia ingin menginap di
rumah saya. Waduh celaka juga nih anak, ketagihan atau dia lagi ada
masalah dengan keluarga di rumahnya. Setelah kami berbincang-bincang,
ternyata dia tinggal tidak bersama orang tuanya, sama seperti saya. Dia
tinggal bersama bibinya, dan memang tidak ada perhatian bibinya kepada
Ani. Dan kami berdua pulang ke rumah saya dengan membawa makanan ringan,
minuman (beer dan Fanta). Sesampainya di rumahku, kami berdua mengobrol
lagi sambil menonton TV, dan kusuruh dia tidur duluan, kamipun tidur
sambil berpelukan terbuai terbawa oleh mimpi indah kami berdua.
sejak
saat itulah kami resmi berpacaran, dengan begitu makin sering juga kami
melakukan perbuatan "nikmat" seperti yang telah kami lakukan
sebelumnya.




0 comments:
Post a Comment