Wednesday, 13 February 2013
Pesta Anak Muda
Malam
tahun baru 1998, saya diundang ke suatu pesta anak-anak muda kalangan
"the have". Pestanya diadakan di suatu villa di Curug Sewu, di kaki
gunung Salak, jalan masuknya cuma buat satu mobil. Kebetulan saya dan
teman saya Ferry datang yang paling belakang dan saya nggak menyangka
waktu saya lihat mobil-mobil yang parkir di situ. Opel Blazer DOHC saya
ternyata yang paling murah!
Kita
berdua langsung masuk ke villa yang paling besar, di sana sudah ada
beberapa orang tamu laki-laki dan perempuan, semuanya anak muda dengan
dandanan yang keren. Ferry langsung mengenalkan saya ke tuan rumahnya,
dia perempuan dengan tubuh yang aduhai. Umurnya kurang lebih 26 tahun,
namanya Elena. Menurut Ferry, dia adalah anak seorang bankir di Jakarta.
Nggak
lama kemudian, Elena membuka acara hura-hura ini. Sambil makan Ferry
bilang ke saya kalau nanti jangan kaget, dengan bisik-bisik dia bilang,
"Ndra, coba kamu itung jumlah cowok sama ceweknya sama nggak?" Selintas
saya hitung dan ternyata jumlahnya nggak jauh beda, saya langsung
bertanya, "Emangnya kenapa Fer?" teman saya ini menyahut dengan tenang,
"Tenang saja Ndra, pokoknya kamu puas lah!" Sehabis makan, saya mencari
kenalan buat ngobrol dan ada seorang wanita yang menarik perhatian saya.
Nama
wanita ini Vinda, tingginya sekitar 158 cm, kulitnya putih dengan
rambut sebahu. Dia memakai kaos yang ketat dengan belahan di dada yang
cukup menantang kejantanan saya, buah dadanya nggak terlalu besar tapi
bentuknya bagus. Yang paling bikin saya penasaran adalah pandangan
matanya yang memperlihatkan hasrat bercinta. Untuk beberapa saat, kita
berdua bicara kesana kemari dan akhirnya saya tahu kalau dia baru
berumur 22 tahun dan masih kuliah di suatu perguruan tinggi di daerah
Kalibata.
Tidak
beberapa lama, suara musik disco berkumandang dan Elena berteriak lewat
mikropon, "Dancing time, guys!" Kemudian beberapa orang langsung turun
berjoget, saya nggak tahan juga akhirnya. Saya tarik Vinda turun ke
lantai dansa. Ternyata dia seorang pe-disco yang hot, gerakan-gerakan
tubuhnya benar-benar membangkitkan kejantanan saya. Beberapa kali buah
dadanya di tempel dan digoyang-goyangkan di dada saya dengan sengaja,
seolah menantang saya. Kurang lebih 1 jam kita berjoget, akhirnya kita
memutuskan untuk break dulu. saya tawarkan dia mau minum apa dan dia
menyahut dengan nakal, "Gimana kalau whisky cola saja?" Wah, gila juga
nih perempuan. Habis kita minum-minum, ternyata lagunya diganti jadi
slow and romantic, dan Vinda langsung menarik saya untuk melantai. Dia
langsung memeluk saya, buah dadanya langsung terhimpit di antara kita
berdua, dan membuat kemaluan saya menegang. Saya pikir si Vinda pasti
merasa juga nih. Akhirnya saya beranikan mencium belakang telinganya dan
saya teruskan ke lehernya, sesudah itu tangan kanan saya meremas dengan
pelan pantatnya yang berisi dan Vinda cuma menggumam nikmat. Gerakan
itu saya ulang beberapa kali, dan terasa desah nafasnya semakin keras.
Akhirnya Vinda nggak tahan, bibir saya langsung di kulumnya. Saya
merasakan lidah kita beradu. Agar semakin terangsang, saya gesek-gesekan
kemaluannya pakai tangan saya.
Lagi
nikmat-enaknya kita ciuman, tahu-tahu musik di kembalikan lagi menjadi
disco. Bubar deh, rangsangan-rangsangan yang saya buat tadi. Sementara
saya dan Vinda melakukan slow dance, rupanya makin banyak minuman keras
yang beredar. Nggak lama ada seorang wanita naik ke atas meja dan
berjoget dengan gerakan-gerakan yang hot, dan lagi-lagi Elena berteriak
lewat mikropon DJ, "Inilah saatnya. hey, Finny, berani nggak kamu
telanjang!" Dan perempuan yang lagi joget di atas meja tadi langsung
melepaskan blusnya dan disusul dengan BH-nya, para laki-laki langsung
bertepuk-tangan dan bersuit-suit, sementara para perempuannya berteriak
histeris. Beberapa di antara mereka langsung mengadakan gerakan-gerakan
seks foreplay. Dalam hati saya berteriak, "Damn, ini yang dimaksud sama
Ferry tadi!"
Akhirnya
perhatian saya kembali ke Vinda lagi, yang sebelumnya saya peluk dari
belakang. Saya cium tengkuknya yang putih, yang dipenuhi dengan
bulu-bulu halus dan tangan saya mulai masuk ke balik kaosnya mencari
buah dadanya. Waktu saya mulai meremas buah dadanya, Vinda cuma
menggeliat senang di pelukan saya, dan dia berusaha memasukan tangannya
ke celana saya. Sesaat kemudian, dia berbisik, "Ndra, cepat dong
setubuhi saya. Saya sudah nggak tahan nih!" sesudah itu si Vinda menarik
saya ke salah satu kamar di lantai dua.
Begitu
pintu tertutup, Vinda langsung memeluk saya dan bibirnya langsung
melumat bibir saya kemudian tangannya langsung melepaskan ikat pinggang
dan celana saya, setelah itu dengan tidak sabar dia melorotkan celana
dalam saya. Akhirnya penis saya yang sudah berdiri dari tadi menongol
keluar dan Vinda dengan sigap menggenggam penis saya dan diarahkan ke
mulutnya. Dalam sekejap penis saya setengahnya sudah masuk mulutnya,
sementara itu saya melepas kemeja saya dan saya merasakan nikmatnya
penis saya dihisap dan diemut. Sambil membungkuk, saya buka kaos dan
BH-nya, ternyata badannya benar-benar putih mulus, buah dadanya bulat
penuh dengan puting yang berwarna merah tua dan si Vinda masih mengemut
dan menghisap penis saya dengan bernafsu.
Setelah
saya pikir, dia cukup menghisap penis saya, lalu dia saya bimbing dan
saya celentangkan di ranjang. Sesudah itu saya buka rok dan celana
dalamnya, saya melihat bibir kemaluannya tidak ditutupi rambut sama
sekali. Ketika jari saya mulai masuk ke vaginanya, saya merasa liang
kenikmatannya mulai basah. Sementara itu, mulut dan lidah saya mulai
bermain-main di buah dadanya, putingnya adalah sasaran yang
menggairahkan dan tangan saya yang satu nggak ketinggalan mulai
meremas-remas buah dadanya yang mulai mengeras. Si Vinda cuma
mendesah-desah dan menggeliat merasakan nikmatnya jari dan kecupan saya,
tangannya cuma bisa menarik-narik rambut saya.
Pelan-pelan
jari saya bergerak semakin dalam dan akhirnya tersentuhlah clitorisnya,
langsung saja si Vinda mendesah, "Uhghh, Ndra lagii, emmhh" dan bibir
saya merasakan buah dadanya makin tegang. Kecupan dan jilatan lidah saya
akhirnya menjelajahi kedua buah dadanya dan lembah di antaranya, dan
jari-jari saya tetap memainkan clitorisnya yang membuat Vinda semakin
menggelinjang-gelinjang dan desahannya semakin keras, "Ohh, Ndra.. Ufhh,
oohh." Vaginanya terasa semakin basah dan bibir vaginanya semakin
menggembung, tanda nafsu birahinya semakin menggelora.
Akhirnya,
saya mengambil posisi 69, penis saya jatuh di atas mulutnya dan mulut
saya mulai bekerja dengan mengecup bibir vaginanya. Makin lama saya
tambah kekuatan kecupan saya, semakin lama dan semakin kuat, sekali-kali
lidah saya mendesak masuk ke sisi dalam dari vaginanya. Si Vinda hanya
bisa menggelinjang dan mengangkat pinggulnya, karena mulutnya lagi sibuk
menghisap penis saya. Nggak lama dia melepaskan penis saya dan
menjerit, "Ndra, ayo dong main.. please, saya nggak tahan lagi, please!"
Saya putar badan saya dan Vinda langsung membuka selangkangannya,
dengan dua jari saya buka vaginanya yang sudah menggembung itu dan saya
gesek-gesekan kepala penis saya ke bibir vaginanya dibagian dalam. Si
Vinda semakin menggelinjang dan mendesah-desah, setelah itu saya masukan
setengah penis saya ke vaginanya dan saya goyang maju-mundur tapi saya
jaga cuma setengah penis saya yang masuk. Nggak lama Vinda menjerit
lagi, "Ndra ayo masukin penis kamu semuanya yang dalem Ndra." Tapi saya
cuekin saja permintaannya itu, karena saya ingin membuat dia semakin
terangsang. Cuma kepala penis saya yang bersenggolan sama selaput dara
dan kadang-kadang saya merasakan clitorisnya di ujung penis saya.
Sementara itu goyangan saya semakin cepat dan membuat Vinda semakin
terangsang. Si Vinda semakin nggak tahan untuk disetubuhi, "Indra ayo
dong entot saya emmhh, masukin yang dalem Ndra." bujuknya manja. "Ok,
kalau kamu mau ngerasain panjangnya penis saya, kita ganti posisi saja."
Sesudah
itu, saya mengambil posisi duduk selonjor dan si Vinda saya suruh
berjongkok menghadap ke saya. Langsung saja penis saya digenggamnya dan
diarahkan ke vaginanya, sesudah itu dia menduduki pinggul saya dan penis
saya langsung terbenam di vaginanya yang basah dan lembab itu. "Ok, Vin
sekarang kamu goyang pelan-pelan naik-turun, gimana?" dan dia menyahut,
"Ndra, penis kamu benar-benar fit di vagina saya emm, ufhh." Lalu Vinda
bergerak naik-turun seperti orang naik kuda, gesekan penis saya dan
vaginanya memberikan kenikmatan yang luar biasa, semakin lama gerakannya
semakin cepat dan desahannya juga semakin keras, "Oghh... Ohh, emm...
ufghh." Dan saya juga merasakan penis saya dialiri cairan vagina yang
semakin banyak. Sementara itu, tangan saya mengelus-elus punggungnya dan
meremas buah dadanya, gerakan buah dadanya yang seirama dengan
naik-turun badannya benar-benar sensual. Kurang lebih setengah jam Vinda
berkuda di atas penis saya, dia menjerit kecil, "Ndra... ughh saya
orgasme.. Ohh, ohh", dan tiba-tiba saja badannya menegang dan
dijatuhkannya ke badan saya, dan saya juga merasakan penis saya
benar-benar basah sama cairan vaginanya.
Lalu
Vinda saya rebahkan di pinggir ranjang dan saya berdiri di atas lutut
saya, setelah itu saya buka kedua pahanya yang putih itu dan saya
masukan lagi penis saya ke vaginanya. Saya sandarkan kedua kaki Vinda ke
badan saya dan sambil memegang kedua kakinya, saya mulai menggoyang
pinggul saya maju-mundur. Saya bilang ke Vinda, "Sekarang giliran saya."
Awalnya saya goyang dengan lambat dan semakin lama semakin cepat, saya
merasakan kenikmatan yang diberikan vaginanya. Sementara itu, Vinda cuma
bisa melenguh, "Uhhg.. ohh.. lagi Ndra.. uufhh", dan meremas-remas buah
dadanya sendiri sambil menggelinjang-gelinjang. Nggak lama, saya
turunkan frekuensi goyangan saya jadi saya bisa sambil menciumi
betisnya. "Ndra ohhg, masukin yang dalem uuhhpp", dan saya sahuti, "OK,
sekarang lingkarin kaki kamu di pinggang saya, saya akan tancepin
dalem-dalem penis saya." Si Vinda menurut dan saya tarik penis saya
pelan-pelan setelah itu saya masukan lagi secepat mungkin dengan tenaga
penuh, jadi saya masukan penis saya dengan sentakan-sentakan bertenaga.
Vinda cuma bisa menjerit setiap kali penis saya memasuki vaginanya,
"Oohh uuhhpp.. uuhhpp Ndra lagiii ohh gilaa ouchh." Kedua tangannya
merenggut seprei keras-keras, karena dia merasakan sedikit rasa sakit
yang bercampur kenikmatan yang luar biasa, dan Vinda memejamkan matanya,
suatu tanda dia benar-benar menikmati penis saya. Nggak lama kemudian
saya merasakan kedua pahanya menegang dan menjepit pinggang saya dengan
keras, demikian juga dengan badannya yang menegang dan punggungnya
terangkat dari tempat tidur, membuat buah dadanya semakin menonjol.
Akhirnya dia menjerit lagi, "Ouchh Ndra.. Saya orgasme lagi.. Ouchh",
dan saya rebahkan badan saya di atas badannya sambil saya ciumi
lehernya, telinga dan buah dadanya yang menggelembung keras. Kemudian
saya suruh dia untuk telentang di tengah ranjang.
Sambil
saya remas buah dadanya, saya bisiki dia, "Satu ronde lagi yaa..." dan
dia menyahut, "Kamu benar-benar membuat saya gila Ndra." Dengan lutut
saya, saya buka lagi kedua pahanya dan untuk ke sekian kalinya penis
saya masuk lagi di vaginanya. Saya rebahkan badan saya menimpa badannya
dan saya merasakan kedua buah dadanya di dada saya, sementara itu kedua
tangan Vinda memeluk tubuh saya dengan erat. Saya cium bibirnya,
sehingga kita kembali merasakan lidah-lidah yang beradu dan saya mulai
menggoyangkan pinggul saya naik-turun. Dua puluh menit kemudian, Vinda
mulai menggelinjang dengan liar di bawah badan saya dan saya merasakan
kenikmatan yang lain yaitu buah dadanya semakin bergesekan dengan dada
saya. Setelah itu saya semakin mempercepat goyangan dan Vinda mulai
mendesah-desah lagi, "Ohhg.. Ufhhp", nggak lama kemudian dia menjerit,
"Ndra, saya mau orgasme lagi ouchh." Terus saya bilang, "Tahan bentar
Vin, saya juga mau keluar nih", dan semakin saya percepat goyangan saya.
Akhirnya Vinda menjerit kecil, "Ndra.. saya orgasme ohh..." dan saya
pun nggak tahan lagi. Badan kita berdua menegang dan untuk meredam
jeritan Vinda, saya bungkam bibirnya dengan ciuman. Setelah itu saya
merasakan gerakan air mani di dalam penis saya yang berarti sebentar
lagi air mani saya menyembur keluar dan dengan sigap saya keluarkan
penis saya dari vaginanya.
Akhirnya
air mani saya muncrat keluar tepat di atas dadanya dan dia membantu
mengurut-urut penis saya, supaya tidak ada mani yang ketinggalan.
Kemudian Vinda mulai menjilati penis saya dan akhirnya dikulum untuk
dibersihkan. Setelah itu kita berdua tidur berpelukan kelelahan dengan
rasa puas yang tak segera hilang.
Minggu
siang, kita berdua kembali ke Jakarta dan saya menghabiskan malam Senin
itu di apartemen Vinda di bilangan Prapanca. Kita berdua bersetubuh
lagi dengan nafsu yang menggelora. Karena Senin itu saya harus kerja,
saya tinggalkan Vinda yang masih tidur telanjang dengan pulas. Saya
tinggalkan pesan di meja riasnya, "Vin, thanks please contact saya di
indradeva@mailcity.com , bye!"




0 comments:
Post a Comment