Sunday, 10 February 2013
Ronnie dan Julia
Edan! Teriakku seketika. Julia, pacarku minta three-some.
"Tenang, kamu kenal juga kok cewek ini." Lenny menenangkanku.
"Gila kamu! kamu panas atau apa?"
"Mas Ronnie, ayo donk. aku janji kalau kamu ngeliat dia bakal tegang deh! kalau nggak, aku turutin apa saja kamu mao deh."
"Emangnya
sapa cewek itu? Kapan maunya?" Tanyaku mulai antusias. Aku harap cewek
itu si Amy, cewekku punya cousin kalau bukan dia, si Monica, cousin
Julia dari keluarga lainnya.
Aku
masih ingat waktu baru jadian sama dia. Malam itu juga, aku hilangkan
dia punya keperawanan. Sejak itu pula, dia mulai gila seks. Pertamanya
sih dia berontak and bilang nggak mau. Tapi habis merasakan penisku
masuk vaginanya, langsung tiap kali ketemu minta penisku. Soal mengulum
pun begitu, dia mulanya nggak mau juga tapi akhirnya ketagihan juga dia
sama rasa spermaku. Kadang-kadang kalau aku nyetir keluar kota di
Indonesia barengan sama dia, aku harus berhenti di pinggir jalan
beberapa kali. Haus katanya. Minta spermaku terus tuh anak.
Malam
itu aku nggak bisa tidur memikirkan posisi-posisi dan kemungkinan yang
ada untuk pesta besok. Akhirnya, aku kalah juga dengan nature dan tidur
nyenyak malam itu. Pagi-pagi aku bangun dan masih ingat mimpiku. Aku
mimpi main bertiga, aku, Amy dan Julia. Aku siap-siap ke sekolah dan
berangkat naik bus. Aku murid di satu sekolah pria di Singapore dan
karena adanya krisis moneter, aku dilarang naik Taxi ke sekolah. aku
tinggal sendirian dan temanku banyak yang sering ke rumahku untuk nonton
BF atau bersenggama sama pacarnya. Sampai di skolah aku melamuni saja
apa yang bakal terjadi nanti malam.
"Ting
tong", belku berbunyi. Dalam hati aku tahu itu Julia. Makan malam yang
baru kubuat langsung kusimpan and aku "open the door". Benar juga
dugaanku, itu si Julia.
"Kok sendirian Jul, mana teman kamu?" aku tanya.
"Wah,
Mas Ronnie sudah ngebet yah? Tenang Mas, dia setengah jam lagi dateng,
dia bakal bawa teman loh", Dia tersenyum nakal. Siapa lagi yang bakal
ikutan. kalau yang ikutan cowok, malas ah pikirku.
"Cowok atau cewek sih yang bakal sama dia?"
"Rahasia
dong! Ntar kamu tahu sendiri deh. Eh mana dinnernya?" aku keluarin
dinnernya dan kami makan malam. Pas, aku habis cuci-cuci bel pintu bunyi
lagi. aku bukakan pintu.
Gila!
pikirku. Semua yang bakal kusetubuhi ini malam cewek-cewek impianku
deh. Di depan pintu ternyata Amy dan Monica. Body Amy yang aduhai bikin
aku ngiler, tapi muka cewekku si Julia memang paling cakep dari mereka
bertiga, sementara si Monica ini kaya dua orang punya kelebihan digabung
saja. Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Aku cuma tercengang bengong
melihati mereka berdua. Julia muncul dari belakang dan mempersilakan
mereka masuk. Sambil menutup pintu, Julia mengelus penisku yang mulai
keras. "As I told you Ron, you'll be fucked happy tonight." Katanya
setengah berbisik.
Gimana
mau tahan? Mereka berdua pakai baju ketat banget, apa lagi si Amy, gila
dia punya breast, gede banget, si Monica pun juga gede tapi masih kalah
sama 36D-nya Amy. Cewekku punya sih biasa saja, 33C. Si Monica pasti at
least 35C. Tanganku mulai gatal, jadi aku permisi mau ke WC dengan
alasan mau buang air besar. Sampai di WC, penisku langsung kukeluarkan
dan aku langsung saja mengocok. Sambil mengocok kututup mata
membayangkan bersetubuh sama tiga cewek ini. Tiba-tiba saja, pintu WC-ku
kebuka. Tiga cewek keren itu memperhatikan penisku menyemprot sperma ke
lantai WC. Aku shock dan malu. Langsung saja aku buru-buru sembunyikan
penisku ke dalam celana dalamku. Rupanya si Julia mengambil kunci serep
WC dan membuka pintu WC ini.
"Eh kita lagi nikmat-nikmat nonton kok di sembunyiin sih?" Tanya Amy dengan nada seksi.
"Iya
tuh." sambung Julia dan Monica bersamaan. Aku cuma bisa diam saja. Amy
masuk ke dalam diikuti sama Julia dan Monica. Aku berdiri, belum sempat
pakai jeans-ku, dan mau balik ke kamar, di-stop oleh Amy. Tangannya
masuk ke dalam celanaku dan mulai mengelus-ngelus penisku. Penisku
langsung saja bangun dan siap kerja. Mereka bertiga kelihatannya lumayan
terkesan dengan penisku. Sambil mengelus-ngelus pelan, Amy terkadang
meremas dengan lembut. Enak banget rasanya. Tiba-tiba saja, si Amy merik
penisaku dengan tujuan agar aku ikuti dia keluar. Genggamanya yang kuat
dan tarikannya yang tiba-tiba, membuatku merasa sedikit tidak enak.
Sampai
di kamar, dia langsung mendorongku ke ranjang. Si Amy sendiri mulai
melepas bajunya dan rok mininya. Ternyata dia nggak pakai BH atau celana
dalam. Gila, dia punya buah dada dan perut kencang sekali. Bulunya pun
dicukur habis, seperti anak kecil. Dia langsung tarik turun celana
dalamku dan mulai memberiku kuluman. Mulutnya bergerak naik turun, dan
badannya berada di atasku. Vaginanya ditaruh di depan mukaku seolah-olah
minta dijilat. Aku menoleh dan memandang ke arah Julia. Julia ternyata
sudah lagi 69 dengan Monica. Julia melirik ke arahku seolah mengerti
kalau aku minta persetujuan dia untuk menjilati dan 'menggitui' si Amy.
Dia nggak tanya atau apa-apa, cuma mengangguk dan meneruskan
pekerjaanya. Aku buka kaosku dan langsung menjilati si Amy. Pertama
mulai dari vaginanya, tapi dalam satu gerakan, aku sekaligus sentuh dia
punya clitoris. Dia sudah basah banget.
Amy
langsung saja mendesah, "Ohh Ron, lick me there, suck my cunt! Lick my
Clit! Make me cum!" tanganku yang dari tadi diam mulai main dengan
pentilnya. Efeknya nggak perlu menunggu lama-lama. Sebuah aliran deras
membasahi mukaku dan untuk sementara gerakan mulut Amy berhenti. Rupanya
Amy sudah klimaks. Amy kemudian melanjutkan blow job-nya, tapi aku
suruh dia berhenti. Aku suruh dia tiduran di ranjang sebentar. Aku pergi
ke lemari mencari kondomku tapi nggak ketemu. Aku langsung saja
berteriak, "Eh gimana nih, kondomku sudah habis."
Si
Amy cuma ketawa dan bilang, "Tenang saja Mas Ronnie kita-kita ini pakai
pil kok. Selain itu, kita-kita ini dijamin nggak ada penyakit loh." Aku
langsung saja balik ke ranjang dan menciuminya. Dia pun membalas
ciumanku dengan ganasnya. Tanpa perlu ku arahkan lagi, homing missile-ku
langsung kumasukan ke vaginanya, vaginanya yang basah dengan sedia
menerima penisku yang gede itu. Tapi baru masuk sedikit aku mulai
merasakan hambatan yang berada di dalam lubang cintanya itu.
"Kamu
masih perawan toh, kamu yakin kasih aku masuk." Tanya aku. Kalau dia
bisa jaga keperawanannya selama ini, aku salut dan menghargai keteguhan
imannya.
"Masukin donk Ron, aku
mohon. Yang lain pada kecil jadi aku nggak kasih masuk. Kamu punya gede
sih jadi pasti nikmat." Jawabnya dengan suara yang memelas.
"Siap yah, pertama bakal sakit loh."
"Iya iya, cepetan donk."
Aku
langsung tancapkan masuk aku punya penis. Mukanya menunjukkan rasa
sakit. Kubiarkan penisku beristirahat di dalam lubang cinta itu sesaat
untuk membiarkan Amy terbiasa dengan penisku dulu. Sementara itu aku
mulai menciumi dan memencet serta memainkan payudara si Amy. Si Amy
mulai mendesah keenakan. Mukanya yang penuh sakit sudah hilang.
Sementara itu erangan Julia dan Monica pun semakin keras dan dalam waktu
sekejap erangan berganti dengan teriakan-teriakan "I'm cumming", "Enak"
"Aku climax", dan sebagainya, akhirnya mereka pun diam. Aku pun mulai
maju mundurkan pinggulku. Gerakanku itu membuat Amy mendesah "Oooh...
nice... wonderful..." semakin cepat tempoku, semakin keras juga
erangannya. Aku menurunkan bagian atas badanku untuk menciumi buah
dadanya yang indah. Amy menaruh kedua tangannya di belakang kepalaku.
Dalam posisi begitu, kuangkat dia dan seluruh berat badan dia bertumpang
di pantatnya yang kupegang. Kudorong badannya ke dinding dan penisku
masuk ke vaginannya sambil berdiri. Kakinya memeluk perutku. Dalam
posisi ini, gravitasi pun membantu gerakan kami dan penisku serasa masuk
semakin dalam. Setelah lima menit berlalu, aku merasakan bakal nggak
lama lagi klimaks, aku langsung kasih tahu Amy. Jawabannya cuma, "Ron,
Fuck harder... kerasan donk... tancap gas Ron... fuck me like a slut
Ron." Mendengar kata-kata kotornya, aku semakin bergairah. Gerakanku
semakin cepat dan akhirnya aku merasakan otot-otot vaginanya mulai
kencang, kupercepat gerakanku dan akhirnya aku merasakan gelombang deras
menabrak penisku. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku mulai
menyemprotkan spermaku. Semprot demi semprot masuk ke dalam lubang cinta
Amy.
Kami
berdua kelelahan dan akhirnya berbaring di ranjang beberapa untuk
istirahat. Belum puas beristirahat, Monica datang, rupanya setelah main
69 dengan Julia tadi dia masih belum berpakaian. Melihat badannya yang
aduhai dan mukanya yang manis, membuat darahku mendidih penuh nafsu.
Dengan sebuah elusan mesra, penisku yang sudah capai akhirnya bangun
lagi.
"Burung yang hebat!" komentar Monica.
"As I said!" balas Julia.
Setelah
itu dia langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dan seperti
vacuum cleaner, penisku disedotnya. Aku cuma bisa mendesah kecil.
Kemudian dia langsung bilang, "Fuck me in the ass." Aku langsung ke
lemari mengambil baby oil, aku olesi baby oil di penisku dan di
pantatnya. Pelan-pelan kumasukan penisku ke lubangnya dengan osisi doggy
style. Setelah penisku masuk semuanya, aku mulai menyetubuhinya
pelan-pelan. Dengan irama yang pelan, buah dadanya yang keren itu
bergesekan dengan permukaan mejaku. Setiap kali buah dadanya bergesek
dengan meja, otot-otot vaginanya semakin kencang. Aku biarkan begini
terus untuk lima menit. Akhirnya dua tanganku memainkan buah dadanya.
"Ooh... ooh... yes baby... do it yes... pinch my nipple... oh yes...
Ron, I'm cumming soon." Tangan kiriku mulai main dengan clitorisnya
sementara tangan kananku memainkan pentil dan payudaranya, sementara aku
fuck dia di pantatnya dengan lebih cepat. Akhirnya dia teriak "Yesss!
I'm Cumming!" Setelah itu dia langsung mengemut penisku sekali lagi.
Sesekali dia menghisap seperti vacuum cleaner. Amy dan Julia sambil
menonton, mereka finger fuck each other.
Melihat
pemandangan yang erotik ini aku langsung mulai merasakan tanda-tanda
mulai akan klimaks. Kucoba kasih tahu Monica, tapi dia diam saja dan
tetap menghisap penisku. Akhirnya semprotan demi semprotan ditelannya
dan sampai penisku mulai lemah pun masih dia hisap, seolah-olah seperti
cerutu saja di mulutnya. Akhirnya Julia dan Amy pun mencapai klimaks.
Aku
benar-benar capai. Sewaktu Julia mendatangiku, aku cuma bisa geleng
kepala tanda tak kuat lagi. Tapi Julia tidak putus asa. Dia menciumi aku
dan mengikuti jejak Julia, mereka juga mulai menciumiku sambil
memainkan penisku. Setelah begitu sampai lima belas menit, mereka
akhirnya putus asa juga. Tapi Julia tersenyum nakal. Dia memanggil
cousin-cousinnya dan mengajak mereka keluar. Mereka kembali berpakaian.
"Julia pasti marah deh", pikirku. "Kenapa sih penisku nggak
bangun-bangun pikirku lagi. Lima menit kemudian, mereka bertiga masuk
lagi, kali ini mereka membawa satu CD. Aku mulai bertanya-tanya apa yang
mereka mau. Akhirnya setelah menyalakan CD, mereka mulai berdansa, dan
akhirnya mereka bertiga give me a strip tease show. Penisku yang sudah
loyo bangun lagi seperti Tugu Monas. Walaupun sudah melihatku ready,
mereka tidak stop dancing sampai akhirnya mereka telanjang lagi.
"Ron, kita bertiga sudah siapin rencana supaya kita berempat bisa fucking in one go. Mau nggak?" tanya Julia.
"Masih tanya lagi. Tentu saja mau dong!" jawabku dengan penuh antusias.
Mereka
semua mulai merunduk dalam posisi doggy style di tanah. Satu di
belakang satunya. Akhirnya paling belakang adalah Julia. Aku langsung
mengerti maksud mereka. Sewaktu aku fuck Julia, dia langusng lick Amy,
dan akhirnya Amy bakal lick Monica.
Aku
langsung siap dan langsung saja fuck Julia dari belakang. The chain
reaction pun mulai akhirnya kami berempat mengerang keenakan. Aku pun
menemukan vagina kesukaanku. Biarpun sudah sering kubobolin, tapi vagina
Julia yang satu ini memang benar-benar kencang. "Ahh... ohh..." kita
berempat terus menerus mengerang. Setelah 7 menit, akhirnya cewek-cewek
ini mendapatkan klimaks mereka. Amy dan Monica sudah 'KO'. Aku juga
melihat, kalau Julia sudah capai.
"Jul, kamu capau ya?"
"Iya nih, tapi kamu belon klimaks, terusin saja."
"Nggak deh Jul, ntar kamu sakit."
"Mas Ronnie memang baik deh. Gini saja Mas, aku kasih kamu breast fuck aku aje ok?"
Dengan
senang hati aku menerimanya. Aku mulai menyiram baby oil ke dada Julia
yang sedang rebah di ranjang. Badannya kini mengkilap oleh pantulan
cahaya lampu. Aku tekan dua buah payudara tersebut agar mendekat.
Akhirnya, di bawah sepasang payudara itu aku masukan penisku. Aku
sekarang maju mundur seperti kesetanan, Amy dan Monica pun mendekat.
Setiap kali penisku tembus, mereka pasti menjilat kepalanya. Setelah 8
menit, aku tidak tahan lagi, melihat gelagat ini Julia langsung berdiri
dan berusaha untuk menghisapnya. "Argh..." teriakku. Semprotan pertama
mengenai tenggorokannya dan semprotan kedua mengenai mukanya,
semprotan-semprotan berikutnya ditelan habis oleh Julia. Spermaku yang
tidak masuk ke mulutnya mulai turun ke payudaranya. Amy dan Monica mulai
membersihkannya sementara aku menciumnya dan merasakan rasa spermaku.
Akhirnya mereka semua menginap semalam di rumahku. Hari itu Jum'at
malam. Besoknya adalah hari libur. Apa saja yang terjadi besok pasti
keren deh.
Pagi
menjelang. Sinar mentari pagi menerangi kamarku yang berantakan karena
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di
ranjangku. Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Penisku langsung
tegak lagi. Enggak mau bangunin mereka, aku bangun dan terus ke dapur
untuk membuat makan pagi. Baru masuk dapur dan lagi mencari mie instant,
aku merasa ada tangan yang memainkan penisku dan melukku dari belakang.
Aku
langsung menoleh. Ternyata si Julia. Aku cium dia di bibir dan kasih
tahu dia aku mau masak. "Eh, aku sudah laper nih." Katanya dengan
senyumnya yang nakal.
Dia
mulai menghisap penisku yang dari tadi tegak. Aku langsung mundur
beberapa langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan
penisku ini. "Ohh.." itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya
yang imut terus naik turun dan dari pipinya bisa kelihatan kalau dia
lagi menghisap penisku dengan kerasnya. Lidahnya memainkan penisku. Ooh,
betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif pagi begini.
Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Kamu
orang jahat yah nggak bagi-bagi breakfast." Aku cuman ketawa kecil.
Puting mereka mengeras dan aku rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut
Julia mulai lebih cepat. Dari sudut mataku, aku melihat Amy dan Monica
sedang French Kissing dan Finger Fucking each other. Gila benar
cewek-cewek ini. Pagi-pagi sudah aktif banget. Mulut Julia tidak diam
naik turun, aku mulai mainkan puting dan payudara Julia.
"Jul,
kita 69 saja deh." Saranku. Julia melepaskan hisapannya dan aku
langsung rebahan di tanah. Julia mulai berada di atasku dan aku langsung
hisap vaginanya yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali kujilat
clitorisnya. Setiap kali kujilat clitorisnya dia langsung mendesah "Oh".
Akhirnya setelah lima menit begituan, lidahku mulai capai. Aku mulai
masukan dua jari ke dalam, teriakan "Ahh" terdengar, aku mulai jilati
clitorisnya dan maju mundurkan jariku. Dia sekarang cuma teriak, "Enak
Ron, terus Ron... kerasan dong... jilat terus." Aku cuma bisa jawab, "Eh
lidahku capek nih, jarang-jarang saja lidahnya." Setelah itu aku
mainkan clitorisnya pakai jempolku sementara kedua jariku nggak berhenti
maju mundur. Begitu tanganku yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!" Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posisi jadi 69 juga.
Setelah Julia mulai menghisap lagi, Mereka sudah klimaks, sebab kudengar
mereka teriak "I'm coming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat
dan dapat terdengar jelas. Aku yakin aku sebentar lagi mulai klimaks.
Aku coba tahan sebentar tapi aku nggak bisa. Sedotan mulut Julia memang
hebat. Tak lama kemudian kusemprot saja spermaku ke dalam tenggorokan si
Julia. Setelah itu, dia menciumku. Tanpa diduga, ternyata dia cuma
telan sebagian spermaku sebab sebagiannya dimasukan ke mulutku. Itu
pertama kali aku merasakan sperma. Rasanya agak aneh tapi lumayan nikmat
juga.
"Bagian breakfast kamu tuh. Enak ngga?" Aku cuma mengangguk saja.
"Kita orang yang buat breakfast deh, kamu mandi saja" lanjutnya.
Aku
akhirnya masuk kamar dan mandi. Setelah mandi, kita orang pergi
jalan-jalan ke Orchard Road naik MRT. MRT dari rumahku ke Orchard kurang
lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat kita semua saling
terombol. Baru mau sampai Newton, MRT-nya diam, lampunya pun mati.
"Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and
track failure. They are trying to fix the track at the moment and the
electricity would be back online in half an hour. We regret for
inconvenience caused." Suara dari speaker menjelaskan apa yang terjadi.
Tiba-tiba ada yang pegang penisku, aku telusuri mencari muka yang punya
tangan. Ternyata yang mainin penisku orang yang aku tak kenal. Dia mulai
masukan tangannya ke zipperku. aku juga tak mau kalah. Aku mulai
Masukan tanganku kedalam T-shirt-nya dan mencari payudaranya. Enggak
kusangka, payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya meninggalkan
penisku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka BH-nya dan
menanggalkan BH-nya. Rok mininya kusingkap dan ternyata dia nggak pakai
CD. Aku mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi
mainkan putingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak
kedengaran orang lain, aku French kiss dia. Lidah kami beradu dalam
mulut kami dan tangannya mulai mengocok penisku.
"It
is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu
sementara aku spread kakinya. Kuangkat dia sedikit dan karena agak
menyenggol penumpang lainnya, aku dengar beberapa gerutuan. Setelah
yakin tidak akan menyenggol orang lain, aku mulai masukan penisku ke
lubangnya. Aku dengar dia mendesah, "mm..." itu saja yang aku dengar.
Aku mulai French kiss dia lagi agar dia nggak teriak lebih keras. aku
mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan bercium,
akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
seks mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah aku tengok ke
samping, ternyata yang aku gituin tadi adalah guru mathematics aku. Dia
tersenyum nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah
menandakan untuk merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah
lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kami langsung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam.
Akhirnya kita orang pulang juga.
Sampai
di rumah aku langsung masuk kamar kecapaian menemani cewek-cewek yang
jago belanja ini. Rupanya cewek-cewek ini benar-benar edan. Aku sudah
capai begini masih minta seks. Untuk menakut-nakuti mereka aku usuli
permainan baru. Permainan kami adalah master and slave. Aku jadi master,
mereka jadi slave (budak). Di luar dugaanku, ternyata mereka setuju dan
kelihatan sangat berminat. Aku kasih tahu mereka, mereka cuma boleh
panggil aku bos, tapi aku boleh panggil mereka apa saja (termasuk perek,
cewek murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh atau memaksa mereka
melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan dengan seks. Mata
mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti semua
pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara
aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu aku keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Aku ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru
balik ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh,
kamu orang bertiga main bersama di lantai. Julia, kamu pakai ketimun
yang lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara kamu orang
jilatin Monica. Aku di sini bakal rekam kamu pakai handycam-ku."
Kulempar ketimun yang kubuat di sekolah pakai tanah liat ke Julia.
Mereka pertamanya agak nggak suka ideku pakai handycam tapi setelah aku
yakini bahwa videonya nggak bakal aku kasih lihat orang lain, akhirnya
mereka setuju.
Akting
mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka
juga mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main
mereka. Mereka juga terkadang bercium mesra. Penisku mulai nggak tahan.
Kuelus penisku lewat celana dalamku.
"Stop!"
Mereka yang lagi asyik main rupanya nggak denger aku. Aku teriak sekali
lagi "Stop!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak
mendengar perintah bos, aku suruh setiap orang ambil ketimun kecil di
kulkas dan masukkan ke dalam vagina mereka. Setelah itu kusuruh mereka
jalan-jalan dalam rumah dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum
puas dengan hukuman ini, kusuruh mereka pakai celana dalam dan kaos
panjangku (kurang lebih sampai lutut mereka). Pentil payudara mereka
yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh dibilang
lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Kusuruh mereka
mengikutiku ke Seven Eleven terdekat tanpa pakai celana maupun BH
mereka. Mereka mulai menawar tetapi aku bilang, "Kalau masih mau tawar
menawar, kita pergi ke supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka
akhirnya ikut aku ke Seven Eleven yang di depan rumahku. Monica hampir
lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan, dia mendapat klimaks
(ketimunnya kaya penis naik turun sewaktu dia lari). Penjaga toko Seven
Eleven melihati payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi tanpa
sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si
Julia membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya
yang basah karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang
aku lari balik ke rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan
ultimatum bahwa siapa saja yang sampai di rumah lebih dari dua menit
akan kena hukuman lebih berat. Langsung saja mereka lari ke rumah, Julia
di tengah jalan hampir lemas karena klimaks tapi memaksa diri untuk
lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam waktu yang ditentukan. Nafas
mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas dan penuh keringat,
tapi permainan baru dimulai, sebab penisku masih segar bugar. Apalagi
baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
"Ok,
kamu orang sekarang mandi dulu!" Mereka cuma diam saja dan mulai
beranjak menuju ke arah kamar mandi. Kuikuti mereka ke kamar mandi. Saat
mereka hendak menutup pintu kamar mandi, kudorong pintunya dan kusuruh
mandi di depanku sambil kurekam dengan Handycam-ku. Cara mereka mandi
memang agak kikuk dengan adanya aku di sana. Setelah mandi dan
mengeringkan badan, mereka mau pakai baju.
"Eh, gue kan sudah bilang, selama di dalam rumah nggak boleh pakai baju!"
"Iya bos", jawab mereka serentak.
Tiba-tiba,
"Ting-tong" bel rumahku berbunyi. Aku jadi pikir-pikir siapa nih, aku
jadi suruh cewek-cewek masuk kamarku. Ternyata yang datang si John. Aku
persilakan masuk dan kusuruh duduk. John adalah teman sekelasku. Aku
permisi sebentar masuk ke kamar.
"Eh kamu orang buatin minum untuk John. Jangan pakai baju atau apapun!"
Setelah
aku keluar beberapa saat, mereka bertiga menuju ke arah dapur untuk
membuatkan John minuman. John yang melihat tiga cewek bugil berjalan ke
arah dapur langsung nyengir ke arahku.
"Ron, kamu kok bisa ada 3 cewek di rumahmu jalan bugil?"
"Itu mah, jangan dipikirin. Eloe mau ngewek sama salah satu dari pada mereka?"
"Sorry deh, nggak hari ini, kapan-kapan saja."
"John, ini minumannya." Mereka bertiga membuatkan John dan aku segelas sirup dan berjalan ke arah kamar.
"Kamu orang masa nggak ada aturan", sentak aku,
"Duduk sini temenin kita orang ngobrol dong."
Muka
mereka cuma menunduk dan duduk bersama-sama. Julia duduk di sebelahku
sementara Amy dan Monica duduk berhadap-hadapan dengan John. Tangan
mereka berusaha menutupi kemaluan mereka. John sendiri mulai merasa
kikuk. Setelah beberapa lama bercakap-cakap akhirnya mereka mulai ikut
tertawa dan mulai terbiasa dengan kebugilan mereka. Sebelum pulang, John
minta tolong agar aku menjaga anjingnya sementara dia pergi ke Malaysia
3 hari untuk urusan bisnis. Anjing John yang bernama Lassie, itu boleh
dibilang lumayan gede, tapi anjingnya nggak galak. Aku setuju saja.
Setelah
John pulang aku melirik jam. Ternyata sudah lumayan malam, jam 11 lebih
sedikit. Sewaktu aku masuk kamar, tiga cewek ini lagi bisik-bisik dan
waktu melihat aku masuk langsung diam. Lassie pun aku bawa masuk. Aku
ada rencana untuk mereka. Aku ikat mereka bertiga di ranjang dengan kaki
mengkangkang (dengan persetujuan mereka). Aku mulai mengelus-ngelus
cewek yang paling kiri, Julia. Aku maini buah dadanya dan lidahku mulai
menelusuri tubuhnya yang telanjang. Sewaktu lidahku menemukan
clitorisnya dan mulai menjilati vaginanya yang sudah basah, badannya
langsung bergerak-gerak dan erangan nikmat mulai keluar dari mulutnya.
Aku mulai masukan penisku ke dalam lubang vaginanya. Sambil mensetubuhi
si Julia, tanganku mulai maini lubang Monica, yang berada di tengah
ranjang. Kami bertiga mulai mengerang dan berteriak kenikmatan.
"Ooh... ohh... yes..." itu saja yang keluar dari mulut kami.
Sewaktu
aku merasakan Julia mulai mau klimaks, kutarik penisku dari lubang
vaginanya. Seperti kesetanan, dia memohon kepadaku agar aku masukan
penisaku lagi ke dalam lubangnya. Tapi aku ada rencana lain. Aku
tinggali dia dan mulai main dengan Amy. Kucium mulut Amy yang mungil,
dan tanganku mulai main dengan buah dadanya yang motok itu, sementara
tanganku yang satunya tetap memainkan lubang vagina Monica. Julia masih
berteriak minta digituin tapi aku 'ignore' dia punya permohonan. Aku
mulai mensetubuhi Amy dan Amy pun mulai mengerang keenakan.
"Ron,
gue tahu deh, kamu pasti pilih gue. Ohh ooh...." dia mulai mengerang.
Sambil kumainkan buah dadanya kugoyang dia dengan keras. Tanganku yang
main dengan Monica sudah mulai berhenti dan mulai main dengan buah dada
Amy. Sama seperti Julia, Amy pun kutinggalkan saat dia hampir mencapai
klimaks. Saat itu aku pun juga hampir mencapai klimaks. Setelah bermain
sebentar dengan Monica, penisku mulai menyemprotkan air maniku. Aku
tinggalkan juga Monica. Mereka bertiga sekarang mengerang dan berteriak
meminta penisku sebab tidak ada satupun dari mereka yang klimaks.
Aku
angkat Lassie keranjang dan kuarahkan kepalanya ke arah vagina Julia.
Setelah membau-bau sebentar, dia mulai menjilat vagina Julia. Julia
berteriak, "Ron, tolong, jangan anjing dong Ron. Geli nih... Ron please I
beg you." Aku nggak gubris minta tolong dia. Kemaluan Lassie mulai
mengeras dan kuarahkan kemaluannya kearah lubang vagina Julia. Kontan
saja Julia mulai merasa jijik dan geli. Saat Lassie mulai maju mundur
menyodok kemaluannya, ekspresi Julia mulai berubah dari jijik dan geli
menjadi puas. Aku pun nggak mau kalah. Aku mulai setubuhi Amy dengan
posisi Doggy Style.
"Uuuhh
ahh..." aku dan Amy mulai mengerang sementara dari sebelahku,
erangannya agak lain. "Aahh ohh" dan "Warf warf auuu". Aku nggak tahu
berapa lama, tapi akhirnya Amy klimaks beberapa kali dan aku masih minta
terus. Aku akhirnya mencapai klimaks. Lassie dan Julia pun mencapai
klimaks dan Lassie telah tiduran di lantai. Sekarang tinggal Monica yang
belum klimaks. Penisku yang sudah loyo nggak bakal bisa main lagi apa
lagi waktu sudah tengah malam. Aku ambil botol bir dan mulai minum. Aku
kasih mereka bertiga sedikit. Julia dan Amy telah bebas dari ikatan dan
pergi ke dapur untuk buat telur karena perut lapar. Bir dalam botol
sekarang tinggal sedikit dan aku mulai ada cara untuk memuaskan Monica.
Aku
lepaskan ikatannya dan kubuka labianya dan memasukkan leher botol bir
sedikit lebih sedikit. Monica cuma bisa mendesah kecil. Kutuangkan bir
yang tersisa sedikit ke dalam kemaluannya dan dia mulai berteriak.
Rupanya alkohol dalam bir membuat lubangnya agak sakit. Aku mulai
menggerakan maju mundur dengan botol bir dan Monica kembali mendesah
keenakan. Aku juga mainkan clitorisnya dengan jempol. Buah dadanya aku
mainkan dengan mulut dan lidah. Mukanya makin memerah, rupanya pengaruh
alkohol yang tadi aku tuangkan. Setelah klimaks beberapa kali, ia dengan
agak mabuk mulai berteriak, "Ron, fuck me... I want to be a slut, your
slut.... Ron please dong... jangan pakai botol lagi, penis kamu lebih
nikmat..."
Penisku
mulai bangun. Tangannya mulai main dengan penisku dan akhirnya penisku
dihisap dan dikulum dengan ganasnya sementara tanganku nggak diam gituin
dia pakai botol. Akhirnya aku nggak tahan lagi. Kuambil baby oil dan
melumaskan penisku pakai baby oil. Lubang duburnya juga aku kasih
sedikit baby oil. Kusuruh dia siap dalam posisi doggy style dan aku
gituin duburnya sementara tanganku pakai botol gituin vaginanya.
"OOOh... Ahh Yess... Ron fuck me bad!"
"Ooohh Mon, kamu punya anus seret deh...."
Setelah beberapa menit, "Mon, I'm cumming nih...."
"Ron, fuck me in the cunt... Please dong... kasih aku feel kamu punya cock di cunt aku..."
Dengan
sedikit nggak seneng akhirnya kucabut juga dan aku siap untuk fuck her
cunt. Ternyata cunt dia mencengkram penisku dengan kencang. Penerobosan
penisku agak susah tapi setelah semuanya masuk penisku mulai maju mundur
dengan ganas.
"Mon, I really can't hold to long nih... kamu kalau mao klimaks cepetan donk..."
Monica
nggak jawab, jadi aku teruskan saja. Akhirnya aku mulai klimaks dan
semprotanku kali ini ternyata super banyak. vaginanya mulai mengeras dan
akhirnya dia pun klimaks lagi. Badanku keringatan. Akhirnya Amy dan
Julia balik masuk kamar dan kita pun tidur.
Besok
siangnya, kita bangun jam 1. Mereka semua akhirnya kembali ke kost
mereka untuk buat PR dan belajar sebab sudah hari Minggu. Aku duduk di
sebelah meja belajar dan merenung keluar jendela. Aku mulai berpikir,
kalau tiap minggu begini, aku bisa-bisa kehabisan sperma nih.
Sejak
weekend itu, setiap weekend mereka mulai ke rumahku dan untungnya nggak
ada yang hamil. Setelah lulus Sec 4 kami akhirnya kami berpencar menuju
Universitas masing-masing.




0 comments:
Post a Comment