Sunday, 10 February 2013
Pengalaman Pertamaku
Aku
adalah seorang bujangan dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan kecil
di daerah Jakarta Barat. Pendidikanku hanya sampai SMA ditambah
beberapa kursus ketrampilan. Aku adalah orang awam di komputer dan
internet, jadi maafkan aku kalau aku kurang lincah dalam bertutur kata.
Umurku sekarang 30 tahun dan belum ada keinginan untuk menikah. Belum
adanya keinginan itu berkaitan erat dengan serangkaian pengalaman yang
akan kuceritakan kepada teman-teman pembaca semua dalam tulisanku.
Baiklah, aku akan mulai bercerita Pengalaman Pertama-ku
bersenggama dengan seorang wanita. Wanita yang telah melepaskan
keperjakaanku adalah tanteku sendiri. Dan kisah ini dimulai ketika aku
masih berumur 20 tahun dan saat itu sedang menjadi pengangguran (baru
lulus SMA dan belum dapat pekerjaan). Pada saat itu aku masih tinggal di
rumah orang tuaku di Jakarta.
Kebetulan
keluarga kami tinggal saling berdekatan dengan para sanak famili. Salah
satunya adalah keluarga Om Rudi dan Tante Yok. Om Rudi ini adalah
sepupu jauh dari ayahku. Om Rudi adalah seorang pengusaha dan punya
usaha di Surabaya sehingga dia sering pergi ke Surabaya untuk mengurus
bisnisnya. Om Rudi sudah berumur sekitar 43 tahun. Fisiknya cukup
ganteng meskipun rambutnya sudah tidak selebat dulu. Tante Yok sudah
berumur 38 tahun. Fisiknya masih menggairahkan, menurut pandanganku.
Rambutnya masih hitam dan panjang terawat. Kulitnya putih mulus.
Tubuhnya sendiri bisa dibilang sintal dan montok, meskipun memang ada
kecenderungan agak gemuk di bagian pinggang, seperti layaknya wanita
menjelang separuh baya. Buah dadanya tidak terlalu besar tapi
proporsional dengan tubuhnya yang tinggi, sekitar 170-an. Wajah Tante
Yok sendiri memang cantik, kalau anda suka nonton filmnya Suzana, nah
kira-kira muka Tante Yok itu seperti Suzana yang bersuamikan Clift
Sangra itu. Om Rudi dan Tante Yok punya 1 orang anak perempuan, umurnya
sekitar 15 tahun namanya Camelia dan dipanggil Lia.
Sewaktu
suami Tante Yok yaitu Om Rudi sering bertugas ke Surabaya maka Tante
Yok menjadi kesepian dan sering bermain ke rumahku untuk mengobrol
dengan ibuku. Susahnya di situ! Kadangkala Tante Yok lupa untuk duduk
secara sopan, kadangkala ia tanpa sengaja menyingkapkan roknya atau
bajunya sehingga beberapa kali terlihat pahanya hampir pada celana
dalamnya ataupun ketiaknya. Waduh.. waktu itu aku merasa terangsang
karena terus terang saja paha Tante Yok itu terlihat putih, mulus dan
padat menggairahkan. Ketiaknya ketika tak sengaja tersingkap
memperlihatkan bulu-bulu hitam yang sangat banyak.
Sejak
saat itulah aku mulai melamunkan dia, bagaimana ya rasanya jika aku
bersetubuh dengan dia, aku menelanjangi dia dan melihat seluruh anggota
tubuhnya tanpa dihalangi oleh apapun. Rasanya itu terus membayang di
mataku dan mulailah aku melakukan masturbasi dan selalu membayangkan
Tante Yok sebagai wanitanya. Aku hampir-hampir tidak bisa menahan
libidoku itu. Kalau ia berkunjung, aku kerap berusaha untuk mengintip
kalau-kalau dia open lagi. Gelas minuman yang disuguhkan
kepadanya sering kuminum lagi, aku mencoba mencari bekas bibirnya dan
mencoba merasakannya dan membayangkan bagaimana jika aku dicium oleh
Tante Yok.
Cerita
ini berlanjut terus. Ketika itu aku harus menjaga rumahnya karena Om
Rudi dan seluruh keluarganya harus pergi ke Surabaya. Jadi Om Rudi minta
tolong orang tuaku untuk membantu menjaga rumah mereka karena letak
rumah kami yang berdekatan (hanya sekitar 15 menit jika naik ojek).
Karena hanya aku yang bisa dipakai kapan saja pada saat itu, maka
orang tuaku menyuruhku untuk menjaga rumah Om Rudi dan Tante Yok. Waduh
kebetulan sekali, begitu pikirku waktu itu. Jadi aku bisa lihat-lihat
segala macam foto-foto keluarga mereka, tentu yang utamanya adalah foto
Tante Yok. Kira-kira sekitar 1 minggu aku bertugas jaga rumah mereka
ketika tiba-tiba pada hari ketujuh (kalau aku nggak salah hari Senin)
Tante Yok terpaksa kembali sendirian karena ternyata ia harus mengurus
sesuatu yang penting. Nah, waktu itu ia kembali sudah menjelang malam,
sekitar jam 7.00. Aku sedang nonton TV pada saat dia pulang. Terus
terang aku cukup surprise dan deg-degan juga karena aku hanya berdua
saja dengan perempuan yang sering jadi tamu mimpi ini.
Tante
Yok sendiri langsung memasak untuk menyiapkan makan malam dan aku
menawarkan diri untuk membantunya. "Boleh, makasih banget lho Barry.."
katanya. Waktu aku bantu tanpa sengaja ia sedang duduk untuk
membersihkan dan aku berdiri mencuci pisau dan segalanya. Bajunya
tersingkap sehingga aku melihat buah dadanya meskipun tidak sepenuhnya.
Buah dadanya ukurannya sedang dan putih dibungkus oleh BH berukuran
sedang. Aku rasanya naik melihat pemandangan itu. Buah dadanya
bergoyang seirama dengan gerakannnya. Aduh mak! Ketika aku lagi begitu,
ia menoleh dan tersenyum padaku, rasanya senyumnya adalah senyum yang
paling manis di dunia saat itu.
"Kenapa Barry ?" dia bertanya.
"Nggak apa-apa kok Tante", jawabku.
Kemudian
aku dan dia mandi (ruangnya terpisah lho). Aku selesai duluan dan
karena aku biasanya tidur di kamar Om Rudi dan Tante Yok maka aku ke
kamarnya untuk pakaian dan berhias sehabis mandi. Waduh nggak tahunya
dia baru selesai mandi dan cuma lagi memakai BH dan celana dalam, lagi
mau milih baju mana yang dipakai. Woww, rasanya darahku naik ke kepala.
Dia kaget dan agak menjerit dia berkata, "Aduh Barry, entar dulu ya,
Tante lagi pakaian nih!" tapi nggak ada nada marah dalam suaranya. Aku
keluar tapi aku tidak bisa melupakan apa yang kulihat tadi. Tante Yok
sedang berdiri di depan lemarinya yang terbuat dari kaca. Di kaca itu
aku lihat tubuhnya, buah dadanya yang tidak begitu besar tapi rasanya
aduh gimana gitu, menggantung ditutupi BH-nya. Ketiaknya yang berbulu
hitam dan sangat lebat tumbuh di sekitar pangkal lengannya yang putih.
Perutnya yang padat dan ranum, pusarnya yang masuk ke dalam. Pinggulnya
yang sedikit gemuk tapi masih sintal. Terus pahanya yang ditutupi celana
dalam coklat, mulus, putih dan padat. Aku tidak bisa lihat apa yang ada
di balik celana itu, tapi rasanya waktu tidak sengaja kulihat tadi ada
sebagian bulu-bulu hitam yang keluar dari celana dalamnya. Berarti
kayaknya bulu-bulu kemaluannya memang banyak banget, kayak bulu
ketiaknya. Waduh, aku tambah terangsang saja melihatnya.
Makan
malam kami biasa saja dan suasananya jadi kaku karena insiden tadi.
Kami jadi diam-diaman. Aku diam karena aku malu dan nggak enak karena
kejadian tadi. Dia juga diam aja tapi kadangkala curi pandang ke arahku.
Terus selesai makan aku bilang pada Tante Yok.
"Tante nanti jam sembilanan aku pulang dech."
"Oo,
kok buru-buru Barry, besok pagi aja, malam ini nginep aja di sini.
Tante juga di sini agak lamaan sekitar dua minggu", dia bilang begitu.
Aku takut semakin lama aku di situ semakin ngeres
pikiranku, jadi aku berkeras untuk pulang. Akhirnya dia menyerah dan
bilang oke. Malangnya (atau mestinya aku bilang pucuk di cinta ulam
tiba) keadaan bilang lain. Nggak tahunya tidak lama setelah kami makan
bersama, turun hujan deras sekali sampai hujan angin. Yah jelas aku
nggak mau sakit, jadi dech aku malam itu menginap lagi di rumahnya
bersama Tante Yok. Aku tidur di kamar Lia, sepupu jauhku dan dia tidur
di kamarnya. Saat malam hujannya bukan berhenti dan tambah deras, dingin
dech! Sebelum tidur kami mengobrol sambil dia bercerita bisnis Om Rudi
di Surabaya dan aku cerita rencanaku untuk ambil kursus supaya bisa
lebih siap untuk kerja. Ternyata Tante Yok lupa untuk duduk sopan lagi
sehingga pahanya tersingkap sampai agak jauh sehingga aku melihat
pahanya yang mulus, waduh rasanya gimana gitu, terus aku melihat badan
dia secara keseluruhan, terus mulai membayangkan kalau aku mulai
menindih dia dan bersetubuh sama dia, bagaimana ya?
Pas
malamnya hujan belum berhenti dan tetap deras, kami mulai tidur. Di
kamar aku nggak bisa tidur, aku terus memikirkan Tante Yok, bagaimana
rasanya Om Rudi kalau lagi bersenggama dengan dia, enak pasti! Untung
dech Om Rudi mendapatkan Tante Yok yang montok itu. Bodoh dia mau tugas
ke Surabaya meninggalkan isteri yang begini seksi dan merangsang birahi
ini.
Tiba-tiba ada suara gedubrak
dan aku kaget dengar jeritan Tante Yok, aku loncat dan memburu ke
kamarnya. Dia menjerit soalnya ada ular masuk ke kamarnya. Maklum,
lokasi rumah kami ada di daerah pinggiran Jakarta Selatan dan waktu itu
masih banyak tanah kosong. Ularnya sudah ada di tempat tidur, jadi cukup
dibayangkan bagaimana perasaannya Tante Yok saat itu. Panik sekali dan
sudah histeris. Lalu aku bergegas ke dapur mengambil golok terus
kupotong ularnya, lalu kubuang ke depan. Terus aku balik ke kamarnya,
kulihat rupanya itu ular sawer kena hujan angin yang memang lagi kencang
sekali.
Aku
duduk di sisi ranjang Tante Yok, dia lagi diam karena shock, lalu
kupikir bagaimana ya, kemudian seperti dalam film-film yang kulihat,
kupegang tangannya, "Tante, udah nggak ada apa-apa lagi, udah aman
kok...." Tiba-tiba saja dia meraup dan menyembunyikan kepalanya di
dadaku. Hep, rasanya aku kaget menerimanya, aku dengan sedikit berdebar
memeluk dia. Aku benar-benar agak nervous soalnya Tante Yok yang
aku impikan tadi kini ada dalam pelukanku. Aku bisa memegang badannya,
kuelus-elus punggungnya, aku bisa mencium wangi rambutnya yang harum dan
subur terawat dengan baik itu. Waduh rasanya aku nggak bisa berbicara
apa-apa. Aku terus menghiburnya dengan mengusap-usapnya, menenangkannya
dengan kata-kata pelan.
Tiba-tiba
ia menengadah melihat kepadaku. Di tengah remang-remang cahaya lampu
kamarnya yang cuma 10 watt, aku melihat dia. Matanya sayu melihatku,
mulut yang sedikit terbuka, bibir yang ranum, merah, basah dan matang,
nafasnya yang hangat dan harum menderu di wajahku.
"Makasih Barry, Tante bener-bener kaget tadi... Aduh makasih banget ya?" Aku ketawa dan bilang,
"Nggak apa-apa kok Tante, aku juga kebetulan tadi belum pules banget..."
Aku
terus mau beranjak dan dengan agak menyesal aku melepaskan pelukanku
padanya, aku rasanya rugi melepaskan tubuhnya yang hangat dan
menimbulkan rangsangan aneh bagi diriku itu. Setelah aku benar-benar
melepaskan dia aku baru perhatikan dia, Tante Yok sangat cantik dengan
baju tidurnya yang berwarna lembut, tanpa lengan sehingga memperlihatkan
pangkal lengannya yang putih dan berisi, dan ketiaknya yang berbulu
hitam keriting lebat dan menebarkan aroma harum deodorant pula. Dengan
perasaan campur aduk aku mulai beranjak keluar kamar dan keluar. Terus
aku diam sebentar di balik pintu kamarnya dan aku merenung. Aku merasa
betul-betul jadi laki-laki yang paling beruntung di dunia ini tadi
ketika aku memeluk Tante Yok. Badannya begitu montok dalam bayanganku,
padat dan harum khas seorang wanita yang matang. Aduh coba saja aku bisa
menciumnya, menelanjangi dia dan mulai menyetubuhinya, hem rasanya...
Aku betul-betul iri sama Om Rudi yang bebas untuk bersetubuh sama Tante
Yok ini, ya soalnya istrinya sendiri.
Saat
aku sedang gila oleh pikiranku ini, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka
dan dia berdiri memanggilku pelan dan lembut "Barry...." Aku berbalik
dan aku sedikit tertegun. Tante Yok berdiri di depan pintu dengan
pandangan sayu menatap ke arahku, begitu cantik di mataku. Mukanya
terlihat putih dan mulus. Pipinya sedikit kemerah-merahan. Bibir yang
merah dan sensual. Rambutnya yang agak panjang terurai hingga hampir
mencapai pinggangnya. Semuanya terasa begitu indah dan alami di mataku
dan semakin menambah birahiku.
"Apa Tante..." jawabku.
"Tante
takut tidur sendiri, takut... nanti ularnya dateng lagi, kamu udah
tidur?" dia diam sejenak dan sambil menundukkan kepala ia bertanya,
"Kamu maukan temani Tante tidur di sini malam ini?" sambil berkata
demikian ia memandangku.
Waduh
rasanya saat itu aku nggak bisa berkata apa-apa, aku seperti kejatuhan
bulan saja. Bayangkan, Tante Yok yang sering aku gila-gilai ini kini
memintaku tidur menemani dia.
"Boleh
Tante, tapi kan tempat tidurnya cuma satu, jadi gimana dong?" Dia
tersenyum mendengar pertanyaanku, ya soalnya aku juga tahu sopan dong
masa aku tidur sekamar dan seranjang lagi dengan seorang perempuan,
perempuan dewasa dan menggairahkan lagi.
"Pokoknya
beres Barry, kamu nggak usah takut..." sambil berkata demikian Tante
Yok melemparkan senyum manis kepadaku dan mengedipkan sebelah matanya
kepadaku.
"Yuk, anginnya dingin... di kamar lebih hangat."
Tante
Yok kemudian masuk sambil melemparkan senyum kepadaku. Saat itu aku
merasa panas dan dingin, saat itu antara takut, senang, cemas kumpul
jadi satu. Takut soalnya ini pengalamanku yang pertama tidur sekamar dan
seranjang sama wanita yang bukan ibuku, senang karena aku dapat tidur
seranjang sama Tante Yok yang sering aku lamunkan itu, cemas karena aku
takut ketahuan sama Om Rudi.
Aku
nekat dan mulai membuka pintu dan melangkah masuk. Aku melihat Tante
Yok sedang berbaring pada sisi seberang jendela yang sawer tadi. Tempat
tidurnya ukuran besar sehingga aku dapat tidur pada sisi jendelanya.
Kamarnya sejuk karena ada AC yang disetel bercampur dengan udara hujan.
Aku membaringkan diri dengan perasaan campur aduk. Bayangkan, Tante Yok
yang selalu aku impi-impikan itu kini berada dekat sekali denganku dan
dalam situasi yang paling pribadi. Dia tidur menghadap ke tengah sedang
aku memunggunginya. Aku tidak berani melihat ke wajahnya, aku malu,
takut dan berbagai perasaan lain berkecamuk menjadi satu dalam benakku.
"Barry..." panggil Tante Yok lembut, tangannya meraih bahuku. Aku membalik dengan perasaan kacau.
"Ya Tante..." jawabku.
"Kamu
benar-benar lelaki yang hebat, berani sekali... Tante kagum sama kamu,
makasih ya Tante sudah kamu tolong..." Tante Yok tersenyum manis
kepadaku.
Aku tersipu mendengar
pujiannya. Lelaki yang hebat? Waduh asyik banget dia menjuluki aku
begitu. Aku cuma menunduk saja, ketika aku menaikkan pandanganku,
ternyata Tante Yok masih melihat kepadaku. Pandangannya agak lain dengan
pandangan seperti yang biasa kulihat kalau ia berkunjung ke rumahku.
"Malam
ini..." ia berbisik, "Kamu akan Tante kasih hadiah terima kasih dari
Tante karena kamu sudah menyelamatkan Tante dan bantu jagain rumah
ini..." ia diam sejenak. Aku tidak sabar dan berkata,
"Hadiah apa Tante?" Ia tersenyum dan menjawab,
"Apa yang paling kamu ingini untuk Tante berikan pada kamu?"
Lidahku
kaku, dalam hati aku menjawab, aku ingin menyetubuhi Tante, ingin
merasakan bagaimana rasanya memasuki tubuh Tante. Tapi tentu saja aku
tidak berani berkata demikian, hanya aku melihat dia saja bingung mau
ngomong apa. Ia mengelus kepalaku dengan sebelah tangannya yang bebas
dan berkata,
"Kamu sudah melihat Tante habis mandi tadi sore kan?"
Aku gugup dan menjawab, "Tapi aku nggak sengaja Tante, sungguh, aku minta maaf..."
Ia tertawa dan melanjutkan, "Tante sudah maafkan... Kamu senang ?"
Ia menggoda, Aku merasa mukaku panas tapi aku jujur menjawab, "Ya senang juga Tante.."
Tante Yok tertawa kecil dan kembali berkata, "Kamu mau lihat lagi nggak?"
Aku
melengak tidak mengerti, ia menjelaskan, "Kalau kamu janji tidak cerita
pada siapa pun termasuk orang tua kamu, Om Rudi, anak tante, kamu boleh
lihat lagi tante kayak tadi, mau nggak?"
Jantungku
berdegup kencang, rasanya kalau ada seribu guntur pun aku tidak akan
kaget, aku tanpa berpikir langsung mengangguk dan mengangguk.
Tante
Yok tersenyum melihat tingkahku, dan mendekatkan wajahnya kepadaku
sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum di hidungku.
"Kalau kamu mau janji, Tante akan kasih tahu hadiah yang Tante bilang
tadi..." ia diam sebentar dan melanjutkan, "Malam ini... Tante akan
ajarin kamu jadi laki-laki dewasa sebagai rasa terima kasih Tante..."
Tante Yok tertunduk malu setelah berkata demikian. Ternyata perasaanku
tidak bertepuk sebelah tangan, Tante Yok pun menginginkan aku, membuatku
jadi laki-laki dewasa? Waduh istilahnya benar-benar merangsang.
"Gimana
Barry, kamu mau?" Tante Yok bertanya dengan pelan. Kini tanpa keraguan
meskipun rasa takut itu masih ada aku menganggukkan kepala.
"Aku mau Tante, tapi...."
"Tapi kenapa Barry?" Ia bertanya nggak mengerti sambil memegang bahuku.
"Aku masih hijau Tante, aku takut Tante hamil, takut kalo Om Rudi tahu, takut kalau ternyata aku nggak bisa memuaskan Tante..."
Tante
Yok merengkuhku dalam pelukannya sambil berbisik di telingaku,
pelukannya terasa hangat, bau harum dari badannya tercium. "Serahkan
semua resikonya kepada Tante, Barry. Pokoknya malam ini akan jadi malam
yang tak terlupakan buat kamu."
Lalu
ia melepaskan pelukannya dan berdiri memunggungiku sehingga
retsluiting-nya menantang untuk kubuka. Dengan memberanikan diri aku
mulai menyentuh kepala retsluiting-nya dan menariknya ke bawah... terus
ke bawah... dan aku baru sadari bahwa retsluiting yang hanya 40 cm saja
sangat panjang dalam situasi seperti ini. Aku bisa melihat punggungnya.
Punggung yang tadi aku lihat kini aku pelototi, begitu putih dengan tali
BH-nya masih terikat. Ketika aku memberanikan diri untuk menyentuh tali
BH-nya Tante Yok membalikkan badan, melihat kepadaku, tersenyum dan
meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Wajahnya sangat dekat denganku,
bibirnya mulai mengarah dan bibirku mulai mengarah tepat ke arah
bibirnya dan kami berciuman.
Aku
merasa seperti di dalam mimpi, aku berhasil mencium Tante Yok. Dunia
harus tahu aku telah berhasil mencium wanita yang begitu aku nafsukan
ini oh.. oh... oh... Mulutnya terasa hangat, basah. Bibirnya mulai
bergerak dengan liar mengulum bibirku. Lidahnya mulai keluar dari
sarangnya dan mencari lidahku. Hup! lidahku tertangkap, lalu dengan tak
kenal ampun dikulumnya lidahku, ditariknya masuk ke dalam rongga
mulutnya sehingga mulut kami seolah-olah telah menjadi satu. Aku mencoba
menarik lidahnya, ia mempertahankan, aku tarik, ia bertahan, bertahan,
"Aaahh!" dengan menjerit ia menyerah dan membiarkan aku mulai mengulum
lidahnya, menjilati langit-langit mulutnya, sementara bibirku dan
bibirnya saling melumat dan mengunyah. Entah berapa lama aku dan Tante
Yok berciuman, namun jelas itu merupakan ciuman yang tak terlukiskan
nikmatnya.
Ketika bibir kami berpisah dengan suatu bunyi yang sangat keras tanda bahwa kami telah mengelemnya
dengan sangat erat, Tante Yok memandangku dengan nanar. "Barry, bahkan
Oom Rudi pun nggak sanggup mencium Tante seperti itu.." ia merahupku
kembali dan kembali kami berciuman dengan ganasnya, saling menyerang,
mengulum, menjilat, menggigit. Kulumatkan bibirnya hingga Tante Yok
mengerang-ngerang. "Enghh... enghhh", ketika aku lengah ia yang menjadi
agresor dengan melumatkan mulutku dan intervensi dalam rongga mulutku.
Tiba-tiba ia menyemprotkan ludahnya kepadaku dan tanpa pikir panjang aku
langsung kumur-kumur dan aku telan. Duh.., ludahnya pun terasa begitu
hangat dan nikmat.




0 comments:
Post a Comment