Sunday, 10 February 2013
Saat - Saat Indah Bersama Anggie
Nama
saya Don, kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung.
Cerita ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah menyelesaikan
Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA Parahyangan.
Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di Stasiun Gambir, saya
langsung berjalan menuju halte bus di seberang stasiun untuk menunggu
bus Steady Safe ke arah rumah saya. Di halte bus, saya melihat seorang
cewek SMA yang seksi, putih mulus dan cantik sekali serta mempunyai
payudara yang bisa membuat setiap laki-laki menelan ludah. Pokoknya
boleh dibilang, cewek seperti dia di kampus saya tidak bakal ketemu deh.
Maklum deh, di kampus saya mayoritas mahasiswanya cowok, apalagi di
jurusan saya. Tanpa berpikir panjang, saya pun berkenalan dengan cewek
itu. Namanya Anggie, dan karena bus jurusan ke rumah saya sudah datang,
saya pun langsung memberi alamat kos saya di Bandung beserta nomer
teleponnya.
Keesokan
harinya saya bersama ibu dan adik saya berlibur ke Singapore selama 4
hari. Kami menginap di Orchard Parade Hotel. Di Singapore, karena
berbeda dalam hal selera berbelanja, saya berjalan sendiri, sedangkan
ibu dan adik saya berjalan berdua. Liburan itu hanya saya isi dengan
berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard sampai Bukit
Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami balik ke Jakarta,
dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk persiapan berangkat
Kerja Praktek ke luar pulau.
Pada
saat saya tiba di kos saya di Bandung, saya mendapat surat kiriman dari
Anggie, yang intinya menanyakan kapan saya main ke Jakarta lagi.
Keesokan harinya saya langsung balik ke Jakarta lagi, meskipun ibu saya
sampai bingung kenapa nih anak bolak-balik Jakarta-Bandung. Malamnya
saya menelepon Anggie dan kami janjian ketemu di depan sekolahnya di
kawasan Gambir.
Keesokan
harinya kami pun bertemu sesuai dengan janji kami. Langsung saja kami
meluncur ke Blok M Plaza. Dalam perjalanan itu, Anggie berulang kali
meletakkan tangannya di paha kiri saya. Saya pun langsung terangsang,
meskipun saat itu saya berpura-pura cuek saja. Karena saat itu saya
memakai jeans, ereksi tersebut membuat saya agak kesakitan. "Ntar lagi
dong, Nggie..., sakit banget nih". Anggie pun menghentikan rangsangannya
sambil tersenyum menertawakan sakit yang saya rasakan. Sampai di Blok M
kami pun berjalan keliling plaza sambil bergandengan tangan. Setelah
sekitar 2 jam, kami kembali ke mobil.
Sesampainya
di mobil, saya menyuruh Anggie agar dia duduk di kursi belakang saja
dengan alasan untuk bercerita dulu. Sambil bercerita tiba-tiba Anggie
meminta saya memangkunya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, langsung
saja tangan saya membelai rambutnya, meremas payudaranya, namun pada
saat tangan saya meremas kemaluannya, tiba-tiba Anggie berbalik dengan
agresifnya dan langsung saja tangan kanannya masuk ke dalam CD saya.
Kontan saja saya tak berdaya dibuatnya.
"Don, asyik nggak Don..?", bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
"Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..", balas saya sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.
Lalu
kedua tangannya membuka retsleting jeans-ku serta CD-ku sehingga saya
tinggal mengenakan T-Shirt saja. Merasa terpojok, langsung saja saat itu
juga saya "menggeledah" seragam SMA Anggie, mulai dari pakaian dan
BH-nya, namun saya masih ragu-ragu untuk membuka roknya. Tangan kami
saling berebutan meremas-remas "jantung pertahanan" lawan sedangkan
lidah kami saling berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan. Tanpa terasa
batang kemaluan saya mulai mengembang tegak penuh rangsangan. Don..,
jangan kasar dong..!", kata Anggie kepadaku.
Pada
saat tanganku masuk ke CD-nya, terasa mulai banyak cairan yang baunya
baru pertama kali saya rasakan. "Ehggg.., ehhggg.., Don.., saya ingin
jilat anu kamu Don.., cepet Don..!". Tanpa berpikir panjang langsung
saya arahkan batang kemaluan saya ke mulut Anggie dan dia pun langsung
menikmatinya meskipun agak kewalahan juga.
"Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih.."
"Ntar Don.., jangan dulu..", kata Anggie sambil menutup matanya.
Tapi
saya sudah tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Langsung saja saya
menggenjot batang kemaluan saya dengan kencang sehingga mobil tempat
kami "praktikum" bergoyang lumayan hebat. Untung saja orang dalam mobil
di samping sedang asyik berbelanja.
Pada
saat itu tangan Anggie langsung memeluk pantat saya, dan jari-jarinya
sekali-kali meremas biji peler saya. Saya pun terus menambah genjotan
saya sampai optimum sehingga Anggie terpaksa setengah menggigit senjata
saya agar tidak lepas. "Mmhhh.., mmhhh.., mhuuhhh..", seakan-akan Anggie
menelan ludahnya sehinga saya merasa semakin bergairah. Dan tak lama
kemudian, "Crot.., ccrrottt.., crottt.." Sperma saya keluar dan langsung
ditelan Anggie sambil menjilat-jilat batang kemaluan saya.
Kami
pun terkulai lemas untuk beberapa saat, karena melihat satpam Blok M
Plaza berjalan ke arah kami, maka kami segera memakai kembali pakaian
kami masing-masing, meskipun dalam hati kecil saya merasa belum puas
karena belum sempat mengulum payudara dan liang kenikmatan Anggie. Namun
Anggie merasa puas sekali dengan permainan yang baru kami lakukan. Kami
pun meninggalkan Blok M Plaza untuk mengantar Anggie ke arah rumahnya
di kawasan Jakarta Timur.
Dalam
perjalanan ke rumah Anggie, saya melihat ada satu kompleks perumahan
yang lumayan sepi. Langsung saja saya membelokkan mobil saya ke arah
kompleks itu, Anggie pun kebingungan. Kami berhenti di bawah sebuar
pohon yang rindang di daerah yang sepi dari kompleks itu.
"Nggie.., gue masih ingin Nggie..", bisik saya ke telinga Anggie.
Langsung
saja saja cium bibir dan pipinya, hingga pipinya kemerah-merahan akibat
saya cupang. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya sampai juga
di payudaranya.
"Toket loe oke punya Nggie..", ujarku.
Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar pujianku.
"Rudal kamu juga lumayan kok Don..!", balas Anggie.
Saat
itu kedua tangan Anggie hanya bisa memeluk punggung saya karena tidak
berdaya menahan ciuman dan bahkan sesekali gigitan saya.
"Nggie.., loe nungging deh Nggie..", ajak saya.
Anggie
pun menurut saja. Dari belakang saya arahkan batang kemaluan saya ke
liang kenikmatannya sedangkan tangan saya meremas kedua payudaranya dan
kaki saya menjepit kakinya. Tampak Anggie kegelian merasakan bulu-bulu
kaki saya yang menjepit kakinya yang mulus itu. Tangan Anggie pun tampak
tidak mau kalah, dia arahkan kedua tangannya ke punggung saya sehingga
kami berdua menyatu erat sekali.
"Oke Nggie.., udah siap say..?", tanyaku mengingatkan Anggie yang masih mendesah.
"Mulai aja Don.., sapa takut..", jawab Anggie penuh percaya diri.
Mulailah
saya lakukan gesekan-gesekan ringan yang membuat Anggie sesekali
mendesah keras. Mobil pun kembali mulai bergoyang hebat.
"Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..", rayu saya padanya.
"Iya Don.., saya tahan kok Don..", sahutnya.
Tanpa terasa keringat di punggung saya terasa begitu panas sehingga mengganggu "praktikum" kami.
Agar
bisa sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke belakang
sehingga kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu birahi.
Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya egois saya karena semua
onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie, sedangkan Anggie hanya
bisa berciuman, itu pun kepalanya berbalik arah. Sesekali agar Anggie
tidak mendesah begitu keras, saya cubit pahanya sehingga dia tersenyum
ringan.
"Ayo Nggie.., lawan saya Nggie", tantang saya sombong pada Anggie.
Anggie
pun seakan-akan tak mau kalah, payudaranya mulai mengeras dan liang
kenikmatannya mulai mengeluarkan cairan, namun ciumannya seakan-akan
mulai mengalahkan ciuman saya. Saya pun mulai kewalahan sekalipun posisi
badan saya lebih menguntungkan.
"Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..", bisik saya.
"Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..", teriak Anggie seolah-olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
Kami
pun bercinta dengan gaya kucing di dalam mobil. Genjotan yang saya
lakukan semakin bertambah keras dan kencang sehingga Anggie seakan-akan
sudah tidak berdaya lagi. "Ahhh.., ahhh.., ahhh.., auuhhh..", terdengar
sayup-sayup genjotan saya pada liang kenikmatan Anggie. Dan saya pun
mulai merasakan bahwa permainan sudah mau berakhir.
"Don..,
enak Don.., tambah lagi Don.., lagi sayaang.., lagiii..!", teriak
Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, " Crot.., croott.., crooot..,
crooottt", keluarlah cairan yang begitu banyak sehingga permainan
berakhir sambil kami tetap terus berciuman. Kami pun tertidur lagi, dan
karena sudah lumayan malam saya mengantar Anggie pulang ke rumahnya.
Sampai
di rumah Anggie kira-kira jam 11 malam. Saya tidak tahu apa yang
dikatakan Anggie kalau orang tuanya menanyakan dari mana saja. Pakaian
seragam Anggie begitu kusut bahkan ada beberapa tetes sperma saya yang
mengenai rok SMA-nya. Saya pun pulang ke rumah dan tiba di rumah sekitar
jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu yang membukakan
pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, menangis tapi puas betul,
pokoknya semua perasaan bercampur baur.
Keesokan
harinya saya hanya menelepon Anggie, menanyakan kabarnya. Saya
berpamitan lewat telepon karena besok harus balik ke Bandung dan
selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie menanyakan jam keberangkatan
saya.
Keesokan
harinya tepat saat berada di lantai atas stasium Gambir saya kaget
setengah mati, ternyata ada cewek cantik berseragam SMA menunggu di
pinggir kereta Parahyangan. Anggieee..!
Kami
pun berciuman di depan umum, kontan semua orang heran melihat gelagat
kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.
Anggie
pun mengantarkan saya meletakkan tas saya di dalam kereta. Dan kami
hendak kembali ke luar kereta untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Saat
melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena melihat toilet kosong, otak
saya langsung "berpikir efisien" lagi. Segera tangan saya menyambar
tangan putih Anggie sehingga kami berdua masuk ke toilet yang sempit
itu.
"Nggie.., loe masih mau gue cium nggak Nggie", tanya saya.
"Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu", jawabnya.
Kami
pun berciuman di toilet itu lama sekali dengan tangan saling memeluk
mengingat keterbatasan waktu untuk bermain lebih lama lagi.
Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami berdua sangat panik.
"Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!", kata Anggie.
Kami
pun saling merapikan baju kami, dengan deg-degan kami keluar dari
toilet. Langsung saja si pengetuk pintu berteriak, "Busyet dah nih
orang.., ke WC barengan..!". Kami pun panik sambil pura-pura tidak
mendengar padahal banyak sekali orang yang melihat kejadian itu.
Kereta
pun berangkat ke Bandung. Kami hanya bisa saling memandang saat kereta
mulai bergerak seakan-akan masih belum puas atas hasil kerja keras kami.
Sesampainya di Bandung saya masih sering melamun di kamar kos bahkan di
kampus, seandainya saat ini Anggie menari bugil di depan saya. Kami pun
hanya saling telepon, terlebih lagi pada saat saya kerja praktek di
luar pulau.
Sekembalinya
kerja praktek, saya pernah hendak membeli koran di dekat tempat parkir
motor di kampus. Tanpa sengaja ada anak remaja cewek yang membeli sebuah
majalah remaja. Saya mencuri-curi melihat isi majalah tersebut saat
cewek itu sedang membaca majalah tersebut. Ya Tuhan.., ternyata Anggie
menjadi profil di halaman muka majalah itu. Malamnya saya interlokal ke
Jakarta menanyakan hal tersebut. Ternyata hal tersebut sudah berlangsung
lama, Anggie memang seorang model di majalah tersebut bahkan pernah
membintangi iklan bedak di televisi (sekarang tidak lagi). Saya saat itu
merasa bingung sendiri, mengapa baru tahu sekarang, maklumlah meskipun
di kos-kosan saya ada televisi namun kalau ada iklan saya tidak terlalu
memperhatikannya.
Sekarang
ini sudah setahun kejadian itu berlangsung. Kalau saya sedang di
Jakarta, seringkali saya menelepon Anggie dan menjemputnya, namun kami
tidak melakukan seperti yang sudah-sudah. Kami "hanya" beradu ciuman di
tempat parkir Mall (paling sering Pondok Indah Mall). Yang kalah dalam
adu ciuman harus mentraktir di sebuah restoran Itali di PIM. Skor sampai
dengan saat saya mengetik tulisan ini masih 3-2 untuk keunggulan
Anggie. Doakan agar saya dapat menyamakan kedudukan.




0 comments:
Post a Comment