Sunday, 10 February 2013
The Orgy Club: Welcome to the Club Read
Rumah
pasangan itu pun menjadi sepi, dan Surti punya banyak waktu
memilih-milih foto yang akan dipakai untuk membuat brosur pesanan sebuah
maskapai penerbangan dalam negeri. Entah berapa lama Bari tertidur
lelap. Surtipun semakin asyik bekerja di studionya, lupa waktu. Malam
telah menggelap, ketika tiba-tiba wanita itu teringat suaminya yang
ditinggal di ruang keluarga. Sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa
pegal duduk menekuni slide di atas meja observasi, Surti bangkit menuju
ruang tengah.
"Hei..., sudah bangun kasihku cintaku", sergah Surti karena ternyata Bari sudah bangun, walaupun masih bermalas-malasan.
Dengan
cepat Surti sudah berada di sisi suaminya, menciumi pipi lelaki
pujaannya itu dengan penuh kasih sayang sambil bertanya, "Mau makan
sekarang?".
"Makan kamu?", goda suaminya sambil mengacak-acak rambut Surti dengan gemas.
"Ah! Orang sudah letoy begitu, masih nantangin!", sahut Surti sambil balas mengacak-acak rambut suaminya.
"Eh...,
jangan memandang rendah kekuatan seorang pria, ya!" sergah Bari sambil
mencoba bangkit, tetapi tidak bisa karena Surti tahu-tahu sudah duduk di
pangkuannya.
"Bukan begituuu.."
sahut Surti serius, "Kamu memang kelihatan letih. Perlu di isi dulu
dengan makan malam yang sedap dan penuh energi!"
"Lalu...,
setelah di isi?" tanya Bari sambil mencoba bangkit lagi, tetapi gagal
lagi karena Surti malah menelungkup di dada suaminya.
"Ya...,
gimana nanti saja!" sahut Surti sambil memeluk erat-erat suaminya dan
menyembunyikan mukanya di leher orang yang sangat dicintainya itu.
"Ah, kamu ini memang suka ngatur..", sergah Bari sambil menepuk pantat istrinya dengan gemas.
"Kan, memang itu permintaan kamu tadi siang..., nanti malam kamu atur lagi, ya..., Ya, kan!?" sahut Surti tak mau kalah.
"Oke!., Oke!" Bari menyerah, "Sekarang, bagaimana kita bisa makan kalau aku di-kelonin terus seperti ini?".
Surti
tertawa, lalu bangkit dan menyeret suaminya ke meja makan. Mereka
menyantap ikan gurame goreng kering dan lalap aneka daun, plus sambal
terasi.
Selesai
makan malam yang telah betul-betul membuat Bari segar kembali, sepasang
suami istri itu duduk berdampingan menonton berita malam di televisi.
Seperti biasa, Surti manja merebahkan kepalanya di dada Bari yang
bidang, memeluk erat lengannya, dan menopangkan satu kaki di atas
pangkuan lelaki itu. Nyaman sekali rasanya berduaan seperti ini, di
malam sepi yang mulai ramai penuh suara unggas malam.
Berbagai
berita bermunculan di layar, tetapi Surti tak terlalu tertarik.
Baginya, suami yang pulang dengan sehat dan cerita, lebih penting
dibandingkan perang di sana-sini, persoalan politik di mana-mana, atau
selebriti dunia yang muncul tenggelam. Semuanya tidak relevan buat
Surti, sepanjang Bari ada di sampingnya, dalam pelukannya, dalam
jangkauan ciumannya.
"Aku besok mau cuti saja", celetuk Bari ketika acara siaran berita menjelang usai.
"Cuti bagaimana?", tanya Surti sambil memejamkan mata menikmati detak teratur jantung suaminya yang dekat sekali di telinganya.
"Ya
cuti..., artinya tidak masuk kantor..., Tinggal di rumah..., Satu hari
penuh..., Dari pagi sampai malam..." ujar Bari seperti orang membacakan
arti 'cuti' di kamus bahasa.
"Dan boleh begadang..", sambung Surti cepat-cepat.
Bari tertawa, "Ya. Betul..., boleh begadang. Tapi buat apa begadang, kalau tidak ada yang dikerjakan", katanya.
"Ngerjain aku, dong..." sergah Surti manja sambil memeluk lebih erat.
"Ngga mau", kata Bari kalem, "Malam ini, kan kamu yang ngatur..., Aku sih, terima beres saja, kan?"
Surti
tertawa tergelak, "Kamu betul-betul ngga mau ngalah sama istri, ya!"
sergahnya sambil mencubit pipi suaminya dengan gemas, tetapi cepat-cepat
ia lalu mencium tempat cubitan itu ketika suaminya mengaduh.
"Memang begitu, kok, perjanjiannya...", kata Bari bersikeras.
"Ayo dong, ke kamar" sergah Surti, tetapi ia sendiri masih memeluk suaminya, masih merebahkan kepala di dadanya.
"Kamu yang harus bisa membuat aku mau ke kamar", jawab suaminya.
Surti
mengangkat mukanya, "Eh..., begitu ya? Jadi aku harus merayu, begitu?"
tanyanya sambil melebarkan kedua matanya yang indah itu.
Bari
menghindari tatapan istrinya, pura-pura tertarik menonton berita
terakhir. Surti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, lalu
bertanya, "Aku harus berbuat apa supaya kamu mau ke kamar?".
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, Bari menyahut kalem, "Bagaimana kalau kamu menari bugil..".
"Apa?", jerit Surti sambil lebih membelalakkan matanya, "Ih, pikiranmu jorok ah!".
Bari
terlonjak karena dicubiti oleh istrinya di pinggang, di perut, di paha,
di dada, di mana-mana. Lelaki itu tertawa-tawa kegelian, dan senang
karena bisa membuat istrinya terdesak dalam perdebatan. Sekarang ia
tinggal menunggu, maukah Surti melakukan apa yang dimintanya itu.
Setelah puas mencubiti suaminya, Surti berseru, "Baik! Jangan tinggalkan tempat..., Saya akan kembali sebentar lagi!"
Bari tersenyum enteng, tetapi sesungguhnya ia berdebar juga. Tegang sendiri memikirkan apa yang akan dilakukan istrinya.
Surti
menghilang ke dalam kamar cukup lama. Bari berkali-kali menengok,
kuatir jangan-jangan istrinya meninggalkannya tidur. Jangan-jangan ia
mempermainkan aku, pikirnya. Tetapi ia tidak beranjak dari kursi di
depan TV yang sudah menyelesaikan tayangan siaran berita, berganti
siaran musik. Ia masih menunggu, dan berharap akan benar-benar mendapat
"pertunjukan istimewa" dari istri tercintanya.
Lalu
tiba-tiba lampu ruangan mati. Bari tersentak, dan belum sempat menengok
mencari siapa yang iseng mematikan lampu, TV-pun ikut mati. Sialan!
sergah pria itu, istriku ternyata membawa remote control, dan pasti dia
yang iseng.
"Jangan becanda,
ah..." Bari hendak mengeluh, tetapi lalu lampu di pojok ruangan menyala.
Sinarnya hanya temaram, menimbulkan suasana romantis. Dan di sana...,
di depan pintu kamar tidur..., Surti berdiri dengan daster tipis yang
menampakkan bahunya yang putih mulus. Ada tali kecil yang mengaitkan
daster itu ke bahunya. Dalam sinar yang temaram, Surti tampak bagai
sebuah manequin di etalase toko. Daster itu terlalu tipis untuk bisa
menyembunyikan tubuhnya yang telanjang. Tetapi karena sinar temaram,
Bari tidak bisa melihat seluruh tubuh istrinya. Lelaki itu melongo.
"E-e-e..." Surti berbisik sambil mengacungkan dan menggoyang-goyangkan telunjuknya.
"Jangan beranjak dari tempat duduk..."
Bari
yang sudah siap bangun, kembali duduk, lalu tersenyum menikmati
pemandangan di depannya. Boleh juga gaya istriku! sergahnya dalam hati.
Mari nikmati saja pertunjukkan ini.
Surti
melangkah perlahan meninggalkan pintu kamar ke arah tengah ruangan.
Langkahnya gemulai, meniru Miranda di cat walk. Sudah beberapa kali
Surti menonton sahabat cantiknya itu beraksi. Ia sudah tahu bagaimana
berjalan agar terlihat seksi dan menawan. Bibirnya menyunggingkan senyum
tipis menggoda. Satu tangannya di letakkan di belakang pinggangnya, dan
satu lagi melenggang santai. Bari tersenyum lebar. Bravo! tukasnya
dalam hati, kalau dia sudah bosan memotret, bolehlah melamar jadi
peragawati!
Sekitar
tiga langkah di depan suaminya yang tertegun, Surti berhenti.
Perlahan-lahan wanita seksi itu memutar tubuhnya 360 derajat. Bari
berhenti tersenyum. Ia menahan nafas, melihat tubuh istrinya melintas
bagai film slow motion, menerawangkan kemulusan yang tak tertutup oleh
pakaian dalam. Payudara yang sintal dan tegak menantang itu terlintas,
perut yang datar dan dihiasi noktah pusar bagai lesung pipit, lembah di
antara dua paha yang samar-samar terlihat, dua bukit di pantatnya yang
padat berisi sungguh menggemaskan. Satu persatu pemandangan indah itu
melintas untuk ditatap sepuas hatinya.
Surti
melakukan gerakan memutar perlahan itu dua kali. Satu ke arah kiri,
satu lagi ke arah yang berlawanan. Setelah putaran kedua, Surti diam
sejenak menghadap suaminya dengan kedua kaki tegak agak terentang. Ia
menahan tawa melihat suaminya menelan ludah berkali-kali. Rasain!,
sergahnya dalam hati, biar dia betul-betul kepengin!
Lalu,
sambil tetap berdiri tegak terentang itu, Surti perlahan-lahan
mengangkat satu tangannya untuk diletakkan di belakang leher. Ketiaknya
yang bersih mulus segera terpampang, dan seberkas keharuman yang lembut
menyeruak penciuman Bari, membuat pria itu menghela nafas dalam-dalam.
Pria itu juga kemudian menahan nafas, ketika dengan perlahan-lahan,
menggunakan satu tangan yang lainnya, Surti menurunkan kait daster di
bahu kirinya.
Daster
itu merosot sedikit. Pelan-pelan bagian atas payudara kiri Surti
menyeruak. Bari menelan ludah. Bukit indah di dada istrinya itu terlihat
indah kalau hanya sebagian terkuak. Samar-samar ia bisa melihat puting
susunya yang kini menjadi satu-satunya penyangga sehingga daster itu
tidak merosot terus untuk menampakkan seluruh bola putih mulus. Ingin
rasanya Bari bangkit dan menarik daster itu. Tetapi ia tidak boleh
bergerak, bukan?
Lalu
Surti menggunakan tangan yang tertumpang di belakang lehernya untuk
melepaskan kait daster yang lain. Dan seperti sebelumnya, daster itu
merosot perlahan. Kini tertahan oleh tangan Surti yang berada di depan
dadanya, sedikit di bawah kedua putingnya. Dengan cara ini, Surti
menampilkan bagian atas kedua payudaranya yang ranum membusung menawan
itu. Bari menelan ludah lagi, sungguh seksi terlihat istrinya, dengan
dua bukit yang mengintip malu-malu dan bahu mulus terpampang bebas.
Ingin sekali ia membenamkan mukanya di sana. Ingin sekali! tetapi tidak
bisa, bukan?
Sambil
tersenyum menggoda, Surti menurunkan sedikit tangannya yang berada di
depan dada. Sedikit saja, sehingga kini sebagian dari putingnya tampak
mengundang selera. Lalu wanita itu melangkah mundur perlahan-lahan. Bari
mengernyitkan dahi agar bisa terus memandang jelas. Sialan! sergahnya
dalam hati, kenapa dia musti mundur?
Setelah
cukup jauh, dan bahkan hampir menyentuh tembok di seberang Bari, wanita
seksi itu berhenti lalu berputar membelakangi suaminya. Sambil menengok
dengan gayanya yang manja, Surti menggunakan satu tangannya untuk
menarik bagian belakang dasternya pelan-pelan ke atas. Bari terhenyak di
kursinya, merasakannya nafasnya cepat memburu, ketika melihat paha
istrinya yang mulus tersingkap sedikit demi sedikit. Kain tipis itu
terus naik, perlahan-lahan menampilkan bagian belakang tubuh Surti yang
indah dan menggemaskan. Bari menahan nafas, ketika seluruh bulatan seksi
pantat istrinya terpampang bebas. "Oh.., mengapa ia harus berdiri
jauh-jauh begitu!", keluh Bari.
Apalagi
kemudian perlahan-lahan Surti merenggangkan kedua kakinya dan
perlahan-lahan pula membungkuk sambil tetap menahan tepian daster di
pinggangnya. Bari semakin terhenyak di kursinya, memandang istrinya
pelan-pelan menungging. Pantatnya yang seksi pelan-pelan menjadi bagian
yang paling tinggi. Dan..., Wow..., kewanitaan istrinya terlihat indah
dari belakang, agak sedikit terkuak menampakkan bagian yang tersembunyi.
Bari menelan ludah entah sudah berapa kali, belum pernah ia melihat
istrinya begitu menggiurkan seperti ini. Tak sadar, kejantanannya
menegang membentuk sebuah tonjolan di depan celananya.
Untuk
beberapa jenak Surti tetap membungkuk memamerkan bagian paling sensual
dari tubuhnya. Setelah hitungan ke sepuluh, cepat-cepat wanita itu
menegakkan lagi tubuhnya, sekaligus melepaskan dasternya turun menutupi
kembali pantatnya. Terdengar jelas Bari mendesah kecewa, dan Surti
menahan tawanya. "Malam ini dia harus memohon-mohon untuk bisa
menjamahku!", sergah Surti dalam hati.
Lalu
Surti berbalik lagi menghadap suaminya. Masih dengan posisi kaki agak
terentang, ia melepaskan pegangan tangannya pada bagian atas dasternya.
Dengan cepat, karena sudah tak terkait lagi di bahu, daster tipis itu
meluncur turun. Tubuh yang menggiurkan, mulus tanpa cela, seksi,
sensual, erotis, menggemaskan, mengundang remasan, putih bersih halus.
Wow!., Bari berkali-kali menjerit kagum di dalam hati. Baru kali ini, ia
bisa betul-betul menikmati pemandangan tubuh istrinya, padahal sudah
seringkali mereka bercumbu bertelanjang bulat. Tetapi baru kali ini Bari
sadar bahwa istri tercintanya adalah sebuah keindahan yang tidak hanya
harus digumuli diremas, tetapi juga dipandang sepenuh kalbu.
Surti
menarik sebuah kursi di dekatnya. Pelan-pelan ia duduk, tanpa
sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Bari, tanpa berhenti tersenyum
tipis menggoda. Setelah duduk, perlahan-lahan Surti mengangkat satu
kakinya untuk ditopangkan di sandaran kursi. Pelan-pelan Bari melihat
selangkangan istrinya terkuak. Bari menahan nafas menunggu sampai lembah
cinta yang selalu nikmat untuk ditelusuri dengan jari atau lidahnya itu
betul-betul terkuak sempurna. Wajah Surti merona nakal dan genit
menggoda, ketika akhirnya kakinya tertumpang di sandaran kursi.
Selangkangannya terkuak sempurna. Terpampang sepenuhnya untuk dipandang
sepuasnya oleh sang suami.
Bari
bersiap untuk bangkit, tetapi gerakannya terhenti karena Surti cepat
sekali mengangkat telunjuknya dan berdesah seksi, "Ssst..., jangan
beranjak..., tetap di tempatmu..".
Bari kembali duduk, dan lalu membelalakkan matanya melihat apa yang sedang dikerjakan istrinya.
Surti
memasukkan satu jari tengahnya ke mulutnya. Pelan sekali, dengan gaya
seksi, wanita itu menyedot-nyedot jarinya sendiri, membuatnya basah dari
ujung sampai ke pangkalnya. Lalu, Surti menggunakan jari yang basah itu
untuk membuat sebuah alur. Pelan-pelan ia mengguratkan jarinya dari
dagu, turun ke leher, turun ke antara dua bukit payudaranya, berputar
naik ke salah satu putingnya yang segera bereaksi tegak lalu turun lagi
ke perutnya, berputar-putar di pusarnya lalu terus turun. Bari menelan
ludah dan menahan nafas. Jari itu terus turun ke selangkangan menyerong
sedikit untuk melintas cepat di lepitan pertemuan antara paha dan
pinggulnya lalu menyelinap di antara dua bibir kewanitaannya. Naik ke
atas sampai ke lepitan yang menyembunyikan tombol asmaranya berputar
sejenak di sana lalu turun lagi.
Mulut
Surti terbuka sedikit, senyumnya menghilang. Gerakan ini sebetulnya di
luar rencana. Wanita sensual ini tadinya hendak menghapuskan gerakan ini
dari acting-nya. Tetapi entah kenapa kini ia ingin melakukannya. "Aku
akan mencobanya!", sergah Surti dalam hati. Mudah-mudahan bisa.
Nafas
Bari memburu keras. Ia sudah sangat terangsang oleh semua pertunjukkan
Surti, tetapi kali ini benar-benar nyaris tak tertahankan karena tahu
apa yang dilakukan istrinya. Wanita yang selalu menggiurkan baginya itu
melakukan hal yang tak terduga, merangsang dirinya sendiri di hadapan
suami. Betapa erotiknya pemandangan itu..., melihat seseorang yang
terkasih merangsang dirinya sendiri, terbuka tanpa tedeng aling-aling
menikmati jarinya yang lentik turun naik menelusuri lembah cintanya.
Dan
Surtipun merasakan darahnya berdesir cepat ketika perlahan-lahan
kenikmatan datang dari gerakannya sendiri. Ia sendiri tak kuasa lagi
mencegah gerakan tangannya, yang seakan-akan secara otomatis naik turun
sepanjang kanal senggamanya. Pelan-pelan kanal itu semakin basah, dan
semakin lancarlah perjalanan sang jari yang lentik.
Untuk
beberapa saat Bari ragu-ragu, apakah aku harus membantu? pikirnya.
Tetapi ia lalu memutuskan untuk duduk saja menonton gerakan-gerakan
erotis itu. Wajah Surti kini merona merah, dan matanya meredup sayup.
Mulutnya semakin terbuka, dan nafasnya mulai terdengar memburu.
Berkali-kali ia kelihatan menggeliat tertahan, terutama jika ujung
jarinya seperti tak sengaja menyentuh bagian atas kewanitaannya.
Surti
tak bisa menahan sebuah erangan keluar dari mulutnya. Sejenak ia
memejamkan mata, mengurut-urutkan jarinya agak lebih keras di kanal
cintanya. Beberapa kali ia melakukannya. Lalu ia membuka mata kembali,
memandang suaminya yang masih duduk dengan wajah terpesona. Ia tersenyum
manis. "Nah, apakah sekarang dia masih tidak mau ke kamar?", pikir
Surti sambil menghentikan kegiatannya. Sambil tetap tersenyum,
cepat-cepat ia bangkit dan melangkah menuju kamar. Gerakan ini dilakukan
tiba-tiba, karena memang dimaksudkan sebagai surprise.
Bari
tersentak ketika menyadari istrinya telah hampir sampai di kamar. Ia
ragu-ragu, apakah sudah boleh berdiri dan ikut ke kamar? Ia baru saja
hendak bertanya, ketika dilihatnya istrinya berhenti di ambang pintu dan
menengok ke arahnya dengan gaya manja campur genit. Lalu istrinya
berkata pelan nyaris berbisik, "Kalau mau masuk, ketok pintu dulu, ya!".
Belum
sempat Bari mencerna ucapan itu, Surti sudah menghilang masuk kamar dan
menutup pintu. Ketika terdengar suara kunci diputar, barulah Bari
terlonjak bangun. Cepat-cepat ia melangkah ke kamar, dan mengetuk. Satu
kali, tidak ada reaksi. Dua kali, hanya terdengar istrinya bergumam tak
jelas. Tiga kali, terdengar langkah menuju pintu. Empat kali, terdengar
suara Surti menggoda dari balik pintu, "Siapa itu?".
"Buka, dong, Yang..", ujar Bari dengan gaya memelas.
"Nanti dulu, saya pakai baju dulu.." kata Surti sambil menahan tawa.
"Aku nyerah, Yang..., Please jangan pakai baju lagi..." kata Bari betul-betul penuh dengan permohonan yang tulus.
Surti tertawa cekikikan mendengar ucapan suaminya. Tak tega, ia segera membuka pintu.
Apa
yang kemudian terjadi di kamar itu, tak usahlah diceritakan secara
rinci. Pokoknya, kegairahan suami istri itu muncul berkali-lipat lebih
besar daripada percumbuan pagi hari maupun siang hari. Bari melumat
habis istrinya, dan Surti megap-megap menikmat serbuan suaminya. Satu
jam lebih mereka bergumul. Silakan bayangkan sendiri apa yang mereka
lakukan!





0 comments:
Post a Comment