Sunday, 10 February 2013
Tiga Kali Sehari
Ada
saat-saat di mana Bari bukan main perkasanya. Entah apa sebabnya. Bukan
bulan purnama, bukan bulan mati. Bukan bulan muda, bukan bulan tua.
Tidak pula karena ia makan sate kambing, atau minum obat kuat. Bukan
karena sedang cuti, bukan karena mendapat bonus. Pokoknya, tidak ada
penyebab khusus. Surti pernah memikirkannya, mencari penyebabnya, karena
ia tentu saja ingin Bari sering-sering begitu! Tetapi akhirnya ia
menyerah, karena "fenomena bergairah" itu tidak pernah teratur. Tidak
ada polanya!
Misalnya
hari ini, hari Selasa di pertengahan bulan yang kebetulan sedang
kemarau. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi dan sarapan, Bari sudah
menelusup ke leher istrinya, mencium dan menggigit-gigit kecil untuk
membangunkan Surti. Sebetulnya Surti sendiri sudah terbangun sejak tadi,
cuma masih malas membuka mata. Ia memeluk erat-erat suaminya,
menggelinjang sambil tertawa kecil.
"Kamu tidur dengan pakaian lengkap, seperti mau upacara bendera!", protes Bari sambil meremas-remas bagian belakang tubuh Surti.
"Ya, ampun" keluh Surti, "Masak seperti ini disebut pakaian lengkap?".
"Lha, iya!" sergah Bari lagi, "Masak tidur memakai beha dan celana dalam segala".
Surti tergelak, dia selalu memakai keduanya. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Pasti ada maunya.
"'Makan',
yuk!", bisik Bari sambil menelusupkan kepalanya lebih ke bawah lagi, ke
antara dua bukit di dada istrinya. Hmm.., lelaki itu selalu suka
menghirup keharuman lembut dari sana.
"Aku
belum pingin.." goda Surti, tetapi sambil meraih ke belakang dan
melepaskan kait BH-nya. Sekejap kemudian ia menarik lolos BH itu dari
balik dasternya. Payudaranya segera terbebas.
"Memang aku yang mau makan kamu..", kata Bari sambil menarik turun daster istrinya.
Segera
dada Surti yang subur sekal segar itu terpampang. Cepat-cepat Bari
menelusuri bulatan sintal yang menggairahkan itu dengan hidung dan
mulutnya. Hmm..., tambah harum jika dicium tanpa penghalang seperti ini.
"Pelan-pelan, yaa..." bisik Surti sambil menggelinjang, "Nanti kamu tersedak".
Bari
menjulurkan lidahnya, menelusuri lembah di antara dua payudara
istrinya. Hmm..., agak asin karena ada sedikit bekas keringat di sana.
Tapi tambah asyik. Bari naik ke bagian atas, melingkari wilayah bulat
coklat hitam di pangkal puting Surti. Hmm.., di sini tidak begitu asin.
"Aah..., geli, Yang..", desah Surti, tetapi sama sekali tidak bermaksud memprotes.
Bari
berputar-putar lagi di tempat yang sama, dengan takjub melihat puting
yang tadinya tergolek lemah kini perlahan menegak tegang. Setelah tegak
sepenuhnya, tak tahan lagi, Bari memasukkan puting itu ke mulutnya.
Pelan-pelan disedotnya daging kenyal hangat itu.
"Aah..., geli sekali, Yaang.." erang Surti, sama sekali tidak memprotes, melainkan justru bermaksud menambah semangat suaminya.
Dalam
sekejap puting kiri Surti sudah basah dan berdenyut hangat. Warnanya
tidak lagi coklat semata, tetapi juga bertambah gelap dan agak merona
merah. Apalagi Bari juga kadang-kadang memainkan lidahnya di dalam
mulut, menekan-nekan puting itu ke kiri dan ke kanan.
"Yang satu lagi ngiri, Yaang.." desah Surti gelisah, sambil meremas sendiri payudaranya yang sebelah kanan.
Bari
melepaskan mulutnya dari payudara kiri, berpindah cepat ke payudara
kanan. Surti mengerang keras, menggelinjang gelisah, karena Bari kini
meremas payudara kiri yang telah ditinggalkan mulutnya. Kini kedua bukit
gairah sensual itu terasa geli belaka. Sambil mendesis dan mendecap
seperti orang kepedasan, Surti memejamkan matanya, menikmati sensasi
luar biasa di pagi yang segar ini!
Bari
sendiri sangat terangsang kalau bermain-main di payudara istrinya. Ia
suka sekali menyedot..., mengulum..., meremas dan kadang menggigit pelan
kedua bukit lembut yang hangat dan harum itu. Rasanya seperti
bermain-main di suatu masa lampau, mungkin ketika ia masih kecil dulu,
dalam buaian Ibu yang memberinya susu penuh gizi. Mungkin semua lelaki
begitu, suka bermain-main di susu wanita karena terkenang masa hangat
bahagia di pelukan Wanita Mulia yang melahirkannya.
Surti
menelentangkan diri, membentangkan tangannya di atas kepala, sehingga
dadanya lebih bebas terbuka. Bari mengangkat badannya, naik menjelajah
payudara yang menjulang menantang itu dengan gairah yang semakin
membara. Lalu satu tangannya merayap turun sambil membawa serta daster
istrinya. Sekali tarik, daster itu lolos dari kedua kaki Surti, sehingga
kini tinggal celana dalam yang membungkus tubuhnya. Tidak sabar membuka
celana dalam itu, Bari menelusupkan tangannya ke bawah, meraih
selangkangan istrinya yang dengan otomatis membuka memberi jalan.
"Aah...!"
Surti mengerang keras ketika jari tengah Bari menerobos di antara dua
bibir di bawah sana. Rasanya seperti dibelah dua oleh kenikmatan!
Sambil
terus mengulum dan menyedot dan menggigit, Bari mengelus-elus lembut
lembah cinta istrinya yang mulai membasah. Sekali-sekali ujung jarinya
memutar-mutar di atas tombol cinta yang cepat sekali mengeras, terselip
di pojok atas bibir kewanitaannya. Surti mengerang-erang semakin keras
dan semakin gelisah.
"Buka
dulu piyama kamu, Yang.." desah Surti sambil mulai membukai
kancing-kancingnya. Cukup susah melakukan hal itu karena Bari tidak mau
lepas dari dada dan selangkangan istrinya. Tetapi bukan Surti namanya
kalau tidak bisa membuka baju suaminya dalam 5 menit.
"Enam
sembilan, Yang.." desah Surti gelisah, nafasnya memburu ingin segera
diciumi di bawah sana dan juga ingin menciumi suaminya.
Bari
tidak banyak membantah dan segera mengatur posisi sehingga kini mereka
bisa saling hisap, saling kulum, saling sedot, penuh gairah dan penuh
rasa kasih yang tak berbatas. Surti mengerang-erang dengan mulut
dipenuhi kejantanan suaminya. Bari mendesah-desah sambil menenggelamkan
mukanya di antara dua paha mulus istrinya. Decap dan desah saling
bersusulan ramai sekali. Erotik sekali.
Tidak
lama kemudian, keduanya tak tahan lagi. Seperti ada komando khusus,
keduanya saling memposisikan diri. Surti menelentang dan membuka kedua
pahanya lebar-lebar. Bari mengangkat tubuhnya dalam posisi push up di
atas tubuh istrinya. Lalu, sambil dituntun tangan Surti, lelaki itu
menekan dalam-dalam.
"Aah!" Surti
menjerit sambil memejamkan matanya erat-erat. Kejantanan suaminya yang
kenyal itu menerobos masuk dengan lancar, langsung membentur bagian yang
paling dalam..., langsung memicu orgasmenya. Cepat sekali!
Sambil
bertumpu di kedua sikunya, Bari menenggelamkan mukanya di leher Surti
yang sudah dibasahi keringat. Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil,
lelaki itu mulai menggenjot, mengeluar masukkan kejantanannya penuh
semangat. Surti mengangkat kedua kakinya, memeluk pinggang suaminya
erat-erat, mengunci tubuh yang juga sudah berkeringat itu kuat-kuat.
Perjalanan menuju puncak birahi.
"Ah..., yang keras, Yang!" desah Surti, merasakan orgasmenya sudah tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!
Bari
menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang ranjang seperti bergeser
diterjang tubuhnya. Pangkal kejantanannya membentur lingkar bibir
kewanitaan Surti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan
pamungkas.
"Aah!" Surti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, "Ngga tahan, Yang..., aah!"
Bari
terus menekan dan menghunjam, ia sendiri juga sudah ingin meledak
rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera mungkin.
Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan istrinya kini mencekal erat,
seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantanannya. Bari juga tidak
tahan lagi.
"Uuuh!" pria itu menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.
"Ah.., ah.., ah.., ah..!" Surti mengerang setiap kali enjotan mahadahsyat itu menerjang tubuhnya.
"Aah!"
Bari mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantanannya dan
bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh
tubuhnya.
"Oooh!", Surti mendesah
panjang merasakan cairah panas tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan
seperti memberi penyedap utama bagi geli orgasmenya.
Permainan
cinta pertama ini cepat sekali. Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi
dilakukan dengan sangat bergairah, sehingga setelah mencapai puncak,
Bari rubuh menubruk istrinya. Surti tersengal menahan tubuh suaminya,
dan menelentang tak berdaya dengan sendi-sendi yang seperti copot!
Diperlukan
cukup banyak ekstra energi ketika akhirnya Bari bangkit meninggalkan
ranjang untuk mandi dan bersiap ke kantor. Surti tinggal di tempat tidur
beberapa lama lagi, memejamkan mata, merasakan dan membiarkan cairan
cinta mereka perlahan-lahan merayap turun membasahi sprei. Biarlah!
sergahnya dalam hati, sudah waktunya sprei itu diganti.
Baru
setelah Bari terdengar selesai mandi, wanita itu bangkit dan mengelap
tubuhnya sebelum ikut masuk ke kamar mandi. Kemudian keduanya sarapan
pagi yang sesungguhnya, sambil tersenyum-senyum mengingat kegilaan
mereka pagi ini.
"Makan apa, sih, kamu tadi malam?", sergah Surti sambil menyuap nasi gorengnya.
"Nggak
makan apa-apa. Biasa saja, steak dan kentang goreng" sahut Bari,
teringat bahwa tadi malam ia memang makan malam bersama relasi kantor.
Tetapi tak ada yang istimewa di makanan itu. Bahkan sebetulnya ia tak
makan banyak karena masih merasa kenyang.
"Sering-sering, deh, begitu..", kata Surti sambil melirik nakal.
"Nanti kamu kewalahan, lho!" kata Bari sambil mencubit hidung istrinya.
"Hey..., siapa bilang!" sergah Surti, "Jangan-jangan kamu yang kewalahan".
Bari tersenyum sambil meneguk kopinya, "Nanti kita buktikan saja, lah!" katanya.
Dan
siang itu Bari menelepon mengatakan akan makan siang di rumah. Surti
masih sibuk di studio fotonya ketika Bari tiba dengan dua bungkus mie
goreng dan sebotol besar minuman ringan kesukaan mereka. Tahu-tahu
suaminya sudah ada di belakang, memeluk dan mencium tengkuknya.
"Sebentar,
ya, Yang..." kata Surti sambil membereskan kamera dan film-filmnya,
"Kamu duluan, deh. Nanti aku susul ke meja makan!"
"Ngga mau", kata Bari tetap memeluk dan menciumi kuduk Surti.
"Eh,
bandel, ya!" sergah Surti sambil terus bekerja membereskan mejanya,
sambil menggelinjang kegelian pula karena diciumi di daerah sensitifnya.
"Biar
bandel, asal ganteng!" kata Bari terus mencium, dan sekarang bahkan
memegang-megang dada istrinya yang cuma terbungkus kaos. Surti tertawa.
Siapa bilang suamiku jelek? katanya dalam hati, dia paling ganteng
betapa pun nakal dan bandel dan keras kepalanya!
"Di sini saja, yuk!" bisik Bari sambil menggigit cuping istrinya, membuat wanita itu menjerit kegelian.
"Aduuuh,
nanti ngga selesai-selesai, nih!", keluh Surti sambil sibuk menurunkan
tangan Bari dari dadanya. Tetapi begitu diturunkan, begitu cepat naik
lagi. Bahkan yang satu sudah masuk menelusup ke balik kaos, dan sudah
mengusap-usap. Celakanya lagi, dada yang diusap itu bereaksi positif!
"Nanti saja beres-beresnya", kata Bari lagi sambil menarik istrinya ke sebuah kursi panjang di dekat tembok.
"Eh,
apa-apaan..., Koq di sini makannya? Nanti studioku banyak semut!"
protes Surti ketika Bari tidak sabar lagi dan membopong istrinya menuju
kursi yang selama ini dipakai untuk tiduran kalau Surti ingin
beristirahat di tengah kerjanya.
"Siapa
yang mau makan di studio?", tanya Bari sambil dengan hati-hati
menurunkan Surti di atas kursi yang dilengkapi dengan bantal-bantal itu.
"Habis, kita mau ngapain?" Surti mengernyitkan keningnya, melihat suaminya membuka dasi.
"Mau bikin film matinee!" sergah Bari sambil duduk dan menciumi leher Surti.
Astaga!
Surti baru sadar apa yang dimaksud suaminya. Gila! Padahal tadi pagi ia
sudah mengajak bercumbu. Sekarang, belum lagi pukul 1 siang, dia sudah
bergairah lagi. Benar-benar surprise.
Surti
menjerit kegelian ketika Bari tiba-tiba menyingkap kaos, dan
menenggelamkan mukanya di antara kedua payudara yang memang tak tertutup
BH itu. Wanita itu tak bisa banyak bergerak karena di desak sampai ke
tembok, dan karena suaminya menindih tubuhnya dengan bergairah. Tetapi
tentu saja ia sebetulnya juga tidak mau banyak berontak! Ia suka
diperlakukan dengan penuh gairah seperti ini.
"Baju
kamu nanti lecek, Yang!" sergah Surti melihat suaminya seperti
kesetanan. Biarpun ia sedang kegelian, wanita itu masih sempat
memikirkan baju pria kesayangannya! Begitulah mulianya hati seorang
istri.
"Nanti ganti saja...", desah Bari tak peduli. Lelaki memang maunya praktis saja.
"Sabar,
Yaang..." bisik Surti sambil menahan tawa karena melihat Bari seperti
bayi kehausan mencari-cari puting susunya. "Masih ada waktu, kan?".
Bari
tak menyahut. Ia sibuk menelusup dan menelusur dada istrinya. Lalu
sibuk mengulum dan menyedot, membuat si empunya dada mengerang dan
menggelinjang.
"aah.." Surti
mendesah, mendorong dadanya ke depan sambil merengkuh leher suaminya.
Tadi ia bilang "sabar", sekarang justru dia yang tidak sabar!
Siang
ini Surti bekerja dengan kaos t-shirt dan celana pendek longgar. Kaos
sudah disingkap sampai ke leher. Maka, sambil menggeliat-geliat
merasakan mulut suaminya yang sangat aktif itu, Surti membuka celananya
sendiri, memelorotkan sekaligus bersama celana dalamnya. Nah, sekarang
ia sudah telanjang dari dada ke bawah. Sudah bebas diperlakukan apa saja
oleh suaminya.
Bari
memposisikan tubuhnya di sisi kursi panjang tempat mereka bercinta.
Lalu ia membuka ikat pinggang dan celananya sendiri. Keduanya seperti
sudah sepakat untuk saling membuka pakaian tanpa ada aba-aba sebelumnya.
Maklumlah, suami istri ini memang sangat kompak!
Tidak
lama kemudian keduanya sudah telanjang, walau Bari masih memakai baju
dan Surti masih memakai kaos di atas dadanya. Sambil terus mengulum dan
menciumi payudaranya, Bari menempelkan tubuhnya lekat-lekat ke tubuh
mulus Surti. Hmm..., di siang yang gerah seperti ini, nyaman sekali
rasanya bersentuhan kulit dengan orang yang terkasih. Walaupun
sebetulnya mereka berdua sudah mulai berkeringat, tetapi tetap saja
nikmat rasanya menempel seperti perangko dan amplopnya.
"Nggg..." Surti mengerang sambil merenggangkan pahanya, "Jangan dimasukkan dulu, Yang...".
Bari
tak menyahut, tetapi ia mengerti maksud istrinya. Biar bagaimanapun,
istrinya tentu belum siap menerima percumbuan tanpa rencana ini. Harus
ada sedikit upaya untuk membuatnya siap. Sedikit saja, tetapi harus!
"mm..."
Surti mendesah merasakan ujung kejantanan suaminya menelusur celah
sempit di antara kedua pahanya, menimbulkan rasa nikmat yang
perlahan-lahan menyeruak ke seluruh tubuh.
Dengan
satu tangannya, Bari menuntun kejantanannya naik turun di sepanjang
celah yang mulai membasah itu. Oh, geli sekali rasanya ujung
kejantanannya menyentuh lembah halus dan licin yang seperti kelopak
bunga terkuak perlahan. Sekali-sekali ia memutar-mutar ujung tumpul itu
di permukaan liang senggama istrinya, merasakan liang itu semakin lama
semakin lebar membuka, menyatakan kesediaan untuk di eskplorasi.
Sekali-kali ia naikkan kejantanannya, menggosok-gosok lembut bagian yang
tersempil menonjol di lipatan atas bibir kewanitaan istrinya. Itu
bagian paling sensitif yang dengan cepat membuat Surti mengerang dan
semakin merenggangkan pahanya.
Bari
mengulang lagi. Dengan sabar ia terus menggosok-gosokkan kejantanannya,
menggunakannya sebagai alat pemicu birahi istrinya. Perlahan-lahan ia
mulai merasakan celah sempit di bawah itu mulai membuka dan basah. Kalau
ia membawa ujung kejantanannya ke liang kewanitaan Surti, terasa liang
itu seperti mau menangkap dan menarik kejantanannya masuk. Sekali-sekali
Bari memang menenggelamkan seluruh kepala kejantanannya ke dalam.
Surtipun mengerang setiap kali suaminya melakukan itu."mm..." Surti
mengerang penuh nikmat, "Dikit lagi, Yang... oooh", bisiknya.
Bari
mendorong masuk sedikit, sehingga seperempat kejantanannya melesak
masuk. Wow..., liang yang dimasuki itu masih agak sempit dan
berdenyut-denyut.
"Uuuh..." Surti mendesah sambil menggeliat, "Di situ aja dulu, Yang...".
Bari tertawa kecil sambil bergumam, "Kamu banyak maunya!".
Surti ikut tertawa, dan memprotes manja, "Jangan becanda, dong. Aku kan lagi serius, nih!"
Bari
menahan tawanya, sambil menciumi leher istrinya yang sedang terpejam
dan megap-megap merasakan nikmat. "Ada-ada saja istriku, masak bercumbu
saja pake serius-seriusan segala!", Tetapi Bari memang pernah juga
membaca, bahwa wanita memang lebih memerlukan keseriusan dalam bercumbu.
Wanita mudah terangsang kalau seluruh pikirannya tercurah untuk
percumbuan. Sedikit saja pikirannya terganggu, seorang wanita bisa
kehilangan gairah. Walaupun begitu, rasanya dengan Surti teori itu tidak
selalu berlaku.
"Aah..."
terdengar Surti mulai mendesah lagi, dan pinggulnya berputar-putar
gelisah, "Dikit lagi Yang..., tapi jangan semuanya..."
Oke
boss! ucap Bari, tetapi dalam hati. Pelan-pelan ia mendorong masuk
kejantanannya, menerobos liang yang semakin membuka tetapi juga semakin
berdenyut seperti mulut kecil yang sedang sibuk mengulum permen
kesukaan. Surti menggeliat dan menggerang lagi. Bari mendorong sedikit
lagi, sehingga kini tiga perempat kejantanannya terhenyak sudah.
"Oooh..."
Surti mengerang sambil memutar-mutar pinggulnya. Bari bertumpu pada
sikunya, berusaha menjaga agar kejantanannya tidak seluruhnya masuk.
Dengan gerakan-gerakan Surti, rasanya kejantanan itu seperti sedang
mengaduk-aduk sebuah wahana lentur dan kenyal yang basah dan licin. Bari
melihat ke bawah, terpesona memandang kejantanannya yang tampak sedikit
di atas cekalan bibir kewanitaan istrinya yang berputar-putar penuh
gairah.
Surti
memejamkan mata dengan nafas memburu, merasakan betapa nikmatnya
memutar-mutar pinggul dengan batang kenyal dan padat tertanam sedikit di
gerbang kewanitaannya. Gerakan memutar itu menyebabkan seluruh lingkar
luar liang senggamanya seperti diurut-urut, menimbulkan rasa geli dan
gatal yang menggairahkan. Inilah salah satu pemanasan..., permainan
awal..., yang disukainya. Dengan begini, ia akan segera siap menuju
langkah berikutnya.
"aah.." Surti mengerang keras, menggeliat gelisah, "Ayo masukin semua, Yang..."
Oke,
boss! ucap Bari dalam hati lagi. Pelan-pelan ia menurunkan tubuh bagian
bawahnya, dan pelan-pelan kejantanannya melesak masuk sampai ke
pangkalnya. Begitu terhenyak 100%, Surti mengerang keras dan
menghentikan gerakan pinggulnya. Wow! Bari merasakan dirinya tenggelam
dalam lubang dalam yang panas dan basah dan berdenyut. Merasakan ujung
kejantanannya membentur dinding halus nan licin bagai sutra dilapisi
cairan khusus. Sejenak pria itu diam saja menikmati sensasi luar biasa
di sepanjang kejantanannya.
Surti
mengerang, mendesah dan merengkuh tubuh suaminya erat-erat. Kedua
kakinya membentang seluas mungkin lalu naik memeluk pinggang Bari,
mengunci tubuh mereka dalam sebuah persatuan yang menggairahkan. Sejenak
mereka diam saja, saling memeluk dan berciuman mesra, merasakan
persetubuhan di siang bolong yang terik ini. Keduanya sudah agak
berkeringat, dan kedua payudara Surti yang sintal sudah terhenyak rapat
di bawah dada suaminya yang masih memakai kemeja. Tak rela berpelukan
dengan baju, wanita itu cepat-cepat membuka kancing-kancing suaminya.
Sekejap kemudian keduanya mengerang karena akhirnya tak ada lapisan yang
membatasi pertemuan tubuh mereka. Kedua puting susu Surti terasa nikmat
di tekan dan di tindih oleh dada suaminya yang bidang dan kukuh itu.
Baripun merasa nikmat tertelungkup di atas hamparan lembut kenyal dada
istrinya.
"Begini
aja, yuk!" desah Surti sambil menciumi muka suaminya penuh kemesraan.
Ia senang sekali tertancap menjadi satu seperti ini.
"Cuma diam begini?" tanya Bari dengan nada lucu sambil membalas ciuman istrinya.
Surti tertawa kecil di tengah nafasnya yang memburu, "Boleh gerak, dikiiit..." bisiknya manja.
"Seperti ini?", tanya Bari sambil mulai menggerakkan pinggulnya memutar-mutar perlahan.
"Mmhh..." Surti menjawab dengan erangan. Aduh ini, sih, terlalu sedikit, pikirnya menyesal mengatakan "dikit" tadi.
"Atau
begini?", tanya Bari sambil menaik turunkan pinggulnya, pelan-pelan
saja."Aah..." Surti mendesah dengan nafas semakin memburu, "Dua-duanya,
Yang..., Oooh..., Aku suka dua-duanya, Yang!"
Bari
tersenyum dan dengan gemas mencium mulut istrinya, membungkam si
ceriwis yang menggairahkan itu. Segera pula ia mengerjakan "dua-dua"nya,
yakni menaik turunkan pinggulnya sambil memutar-mutar. Tetap dengan
gerak lambat namun mantap. Kejantanannya dengan perkasa menyeruak masuk
ke liang cinta istrinya yang kini sudah terbuka pasrah dan basah. Lancar
sekali otot pejalnya itu menerobos, menimbulkan suara-suara seksi
berkecipak ramai.
"Aah...,
Nggg..", Surti mengerang tidak karuan sambil megap-megap dan memejamkan
matanya, berkonsentrasi menikmati hunjaman suaminya yang perkasa. Bari
melepaskan ciumannya, karena Surti seperti ingin bicara. Lalu terdengar
wanita itu mendesah penuh permohonan yang manja, "Boleh lebih cepat...,
oooh..., Yang..., aku mau, Yang..., aah!"
Pura-pura
tidak mau, tahu-tahu paling mau! sergah Bari dalam hati sambil menahan
tawanya. Ia mempercepat hunjaman dan tikaman kejantanannya. Kursi
panjang tempat mereka bercumbu berderit-derit ramai, karena sebetulnya
itu bukan tempat bercumbu. Surti mengerang-erang sambil mencengkram
pinggang suaminya, ikut membantu menaikturunkan tubuh Bari. Padahal
lelaki itu tak perlu bantuan, tetapi mungkin dengan berpegangan ke
pinggang seperti itu, Surti bisa memastikan bahwa suaminya tidak akan
berhenti!
Setelah
kira-kira selusin kali menggenjot, Bari merasakan liang kewanitaan
istrinya menyempit dan mencekal erat. Itu pertanda awal orgasmenya.
Surtipun sudah mengerang-erang semakin keras dan menggeliat-geliat
seperti cacing kepanasan. Bari mengerti tanda-tanda ini sepenuhnya. Maka
ia mempercepat dan memperkeras gerakannya. Bahkan kadang-kadang ia
menghentak dan menghunjam dengan gerakan kasar, membuat kursi panjang
bergetar dan bergeser sedikit. Tetapi justru itu membuat Surti tambah
keenakan, dan setelah tiga empat kali "dikasari" seperti itu, wanita ini
mencapai puncak birahinya.
"mm..." ia mengerang panjang, lalu berteriak pendek-pendek, "Ah... ah... ah...!"
Bari menghunjam dalam-dalam, lalu memutar dan menekannya dengan sekuat tenaga.
"Oooh!"
Surti menjerit keras, meregang dan melentingkan tubuhnya, lalu
terhempas kembali ke bawah sambil bergetar kuat seperti orang yang kena
hukuman di kursi listrik. Kursi berderit-derit ramai, dan Bari menekan
tubuh istrinya kuat-kuat agar mereka berdua tidak terlempar ke lantai.
Bagi Surti, orgasme itu sangat dahsyat. Seluruh tubuhnya ikut tersaput
ledakan-ledakan kenikmatan yang bermuara di kedua pangkal pahanya. Dari
lembah basah yang tersumpal batang liat dan pejal itulah datangnya
gelombang besar yang melanda seluruh tubuhnya. Surti seperti merasa
berenang terapung dan terombang-ambing dalam lautan nikmat yang merasuk
ke seluruh pori-pori tubuhnya. Beberapa menit kesadarannya seperti
hilang dan tubuhnya lepas dari kendali, bergerak-gerak liar ke segala
arah.
Setelah
beberapa saat menggelepar dan meregang menikmati orgasmenya, Surti
berhasil menguasai diri, lalu mendesah dengan suara letih, "Aduuuh...,
gila kamu, Yang..., bikin aku ketagihan"
Bari tertawa kecil sambil menggigit dagu istrinya tercinta, "Ini mau protes atau mau bilang terima kasih?", tanyanya.
Surti
tak menjawab, melainkan meraih leher suaminya, menciumi mulut pria yang
sangat dicintainya itu. Mereka saling mengulum dan menggigit gemas.
Surti menumpahkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu. Ia ingin
berterima kasih..., ia ingin memuji..., ia ingin memuja..., ia ingin
menyatakan cinta. Tak ada pria lain yang ia cintai seperti pria yang
satu ini. Pria ini membuatnya lebih hidup dari sekedar hidup, lebih
bernafas daripada sekedar bernafas. Pria ini mengisi dunianya dengan
gairah baru setiap hari.
Lalu,
di tengah ciuman yang bergelora itu, mereka mulai bergerak lagi. Bari
mulai menggenjot lagi, mulai memicu kembali gairah Surti yang belum
sepenuhnya reda. Tak berapa lama kemudian mereka sudah tak sanggup lagi
berkata-kata. Nafas keduanya memburu dan saling bersusulan, disertai
erangan dan desahan yang tidak beraturan. Kursi panjang semakin bergeser
dari kedudukannya semula. Bantal-bantal berserakan tertendang atau
terdorong oleh gerakan-gerakan mereka yang semakin liar. Keringat mulai
membanjiri tubuh mereka, membuat kemeja Bari basah kuyup di bagian
punggung. Tubuh bagian bawah, terutama dari pinggang ke bawah, tampak
paling basah, berkilat-kilat seperti dilapisi lilin dan minyak.
Lalu
Surti mencapai orgasmenya yang kedua tanpa bisa ditahan lagi. Wanita
itu menggelepar dan mengerang-erang sambil memejamkan matanya erat-erat.
Wajahnya tampak berkonsentrasi dan merona merah mempesona. Mulutnya
terbuka dan nafasnya keluar dalam hempasan-hempasan pendek. Bari terus
menggenjot karena ia juga sudah mencapai tarap akhir pendakian asmara
ini. Ia tidak berhenti walau tampaknya Surti telah kewalahan menahan
rasa geli yang memuncak. Wanita itu berusaha memperlambat gerakan
suaminya, tetapi ia juga tak berdaya karena setengah dari tubuhnya ingin
tetap menikmati hunjaman-hunjaman Bari. Akhirnya ia menyerah saja,
menggeletak dan meregang-regang terus menikmati orgasmenya yang
sambung-menyambung.
Lalu
Bari mencapai puncak birahinya. Pria itu menggeram dan mengerang keras.
Seluruh otot di tubuhnya meregang seakan beramai-ramai mendorong keluar
cairan cinta dari pinggangnya ke kejantanannya. Lalu sejenak ia
terdiam, menanamkan dalam-dalam kejantanannya di liang cinta
istrinya..., dalam sekali, sampai melesak ke pangkalnya..., sampai
menyentuh langit-langit terdalam kewanitaan istrinya. Surti menguakkan
kedua pahanya seluas mungkin, merasakan kejantanan suaminya seperti
membesar sepuluh kali lipat..., sebelum akhirnya batang keras itu
melonjak-lonjak liar dan menyemprotkan cairan-cairan kental panas. oooh,
kewanitaan Surti seperti sebuah ladang kering yang tersiram hujan yang
dinanti-nanti sejak lama!
Siang
itu, Bari makan sangat lahap. Nyaris ia habiskan kedua bungkus mie
goreng yang tadi dibawanya. Nyaris pula ia meneguk habis minuman ringan
dingin dalam botol ukuran 1 liter itu. Surti tak henti-hentinya
memperingatkan agar suaminya makan lebih lambat. Wanita itu kuatir Bari
tersedak atau terserang kram perut.
"Duuh..., pelan-pelan, Yang!" sergah Surti sambil menyingkirkan jauh-jauh botol minuman yang tinggal seperempatnya.
"Tadi, waktu aku pelan-pelan, kamu suruh cepat-cepat.." sahut Bari sambil menyuap satu sendok penuh mie goreng yang lezat itu.
Surti
tertawa, mengerti apa yang dimaksud suaminya, "Lho, tadi itu, kan
perkara lain. Lagipula pada awalnya, kan juga pelaan..., sekali!"
katanya manja.
"Ah, kamu memang suka ngatur..." protes Bari sambil terus menyuap, padahal mulutnya belum kosong sekali.
Surti mencubit lengan suaminya dengan gemas, "Alaah..., Kamu juga suka kan, diatur kalau lagi begitu!" katanya membela diri.
"Oke,
nanti malam kamu atur lagi, ya" kata Bari sambil meraih botol minuman
yang sudah disingkirkan jauh-jauh. Tanpa gelas, ia meneguk isinya
langsung.
Surti membelalakan matanya yang mempesona itu, "Nanti malam? Ya ampun. Belum cukup juga, Yang?"
Bari
tertawa, hampir saja tersedak. Surti menggeleng-gelengkan kepalanya.
Benar-benar mengherankan, apakah ia begitu karena sebentar lagi ulang
tahunnya yang ke 32? pikir Surti sambil menatap suaminya lekat-lekat.
Kalau sedang tertawa, suamiku makin muda saja tampangnya. Makin cute dan
makin menggemaskan. Nanti malam, harus kuapakan dia?
Bari
pulang kantor dengan bersiul-siul. Jam baru menunjukkan pukul 5 sore.
Walau tampak riang, jelas juga terlihat bahwa pria itu agak letih. Surti
menyambut pasangan hidup terkasihnya di depan pintu, menerima tasnya,
dan membiarkan tubuhnya yang segar karena baru habis mandi, dipeluk oleh
suaminya.
"Hmm..., harumnya istriku", bisik Bari sambil menciumi leher Surti.
"Hmm...,
baunya suamiku", sergah Surti menggoda. Sebetulnya, Bari tak pernah
punya persoalan bau badan. Tetapi agaknya suaminya tadi rapat di ruang
penuh asap rokok. Bau kretek menyengat dan mengganggu.
"Iya, deh. Aku mau langsung mandi!", kata Bari sambil merengut merajuk dan melepaskan pelukannya.
Surti tertawa dan tidak mau melepaskan diri dari suaminya, ia merangkul leher pria kesayangannya dengan manja.
"Aku mandiin, yaa..." katanya sambil menciumi pipi Bari yang masih menyisakan sedikit harum after shave.
"Ngga
mau. Nanti ngga jadi mandi, malah tambah keringetan.." sergah Bari
sambil terus melangkah ke kamar tidur, menyeret serta istrinya yang
terus merangkul manja.
"Diganggu sedikit saja sudah ngambek!" sergah Surti sambil menggigit pelan cuping telinga suaminya.
Akhirnya
Surti melepaskan suaminya. Setelah berganti baju dan sejenak membaca
koran sore, Bari mandi sepuas-puasnya. Segar sekali mengguyur badan yang
penat dengan air dingin. Sementara Surti menyiapkan kopi dan makanan
kecil kegemaran suaminya. Tetapi rupanya Bari memang cukup penat hari
itu. Karenanya, pria itu tergolek tidur di kursi sebelum menghabiskan
kopinya. Surti terenyuh melihat suaminya terlena dengan wajah damai.
Sejenak ia berpikir untuk membatalkan semua rencananya malam ini.
Kasihan kalau ia memaksa diri, bisik wanita itu. Dengan hati-hati
diletakkannya bantal di bawah kepala suaminya. Lalu perlahan ia mencium
pipi lelaki itu. "Tidur nyenyak, sayang..", bisiknya dalam hati.




0 comments:
Post a Comment